data-ad-format="auto"

Tips Mendidik dan Mengasuh Anak

Temukan tips dan triks serta pengetahuan seputar cara mendidik dan mengasuh bayi, balita dan anak-anak disini. Tips-tips ini diharapkan mampu membuat bunda dan para orangtua dirumah terbantu dalam menjaga dan mendidik buah hati menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkualitas. 

15 Cara Mendidik Anak Usia 5 Tahun Yang Wajib Anda Lakukan

Mendidik anak memang diperlukan kesabaran dan juga kemampuan tersendiri bagi para orangtua terutama bagi anak usia 5 tahun. Pasalnya, rentang waktu usia tersebut menjadi tugas yang cukup berat bagi para orangtua dalam mendidik anaknya. Pada masa inilah peran sebagai orangtua sangatlah dibutuhkan.

Seringkali, para orangtua dibuat bingung dengan kelakuan dan sikap anaknya yang terlalu hyperaktif. Anak usia 5 tahun memang masanya mengenal dunia luar dan juga lingkungan diluar sana. Terkadang, anak usia 2 tahun memang memiliki kebiasaan dan juga kegiatan yang memang tidak dianjurkan oleh orangtuanya.

Mengenai hal ini, para orangtua dituntut untuk lebih ekstra dalam mendidik anaknya. Mendidik anak yang terlalu keras justru akan membuat anak tertekan dan bersikap lebih bandel dan juga sulit diatur jika dibandingkan sebelumnya. Pada waktu inilah, orangtua benar-benar harus mendidik anak usia 5 tahun dengan cara yang tepat. Untuk membantu Anda dalam mendidik si kecil, berikut ini kami sajikan beberapa tips dan juga cara mendidik anak usia 5 tahun yang tentu akan bermanfaat untuk Anda. Baca juga: Dampak Positif dan Negatif Homeschooling Untuk Anak

 

Mengetahui Periode Emas Anak Usia 5 Tahun

Sebelum kita membahas bagaimana cara mendidik anak usia 5 tahun, alangkah lebih baiknya jika kita mengenal terlebih dahulu perkembangan dan juga sikap anak usia 5 tahun pada umumnya. Pada perkembangan anak usia 5 tahun ini dapat disebut dengan periode emas bagi si kecil. Hal ini dikarenakan periode usia 1-5 tahun adalah masa pembentukan kepribadian seorang anak.

Pada masa inilah seharusnya para orangtua menanamkan pembentukan kepribadian yang akan dimiliki oleh si kecil kelak. Tentunya, setiap orangtua menginginkan anak yang memiliki kepribadian yang matang, mandiri, bertanggung jawah dan juga bijaksana di dalam kehidupannya. Anda jangan menyia-nyiakan periode ini karena pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung dengan cepat. Dengan begitu dibutuhkan tugas yang singkat namun berarti untuk kehidupan si kecil nantinya. Lihat juga: Saat Si Kecil Mulai Merangkak dan Segala Perkembangan Menakjubkan di Usia 8 Bulan

Pastinya terdapat beberapa syarat dan juga kewajiban yang harus dilakukan oleh orangtua agar periode emas si kecil tidaklah terbuang dengan sia-sia. Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi Anda sebagai orangtua:

1. Berikan rangsangan (Stimulasi)

Stimulasi memang sangat bermanfaat bagi si kecil karena dapat meningkatkan kemampuan baik motorik maupun kognitif. Dengan selalu memberikan rangsangan pada anak, maka sedikit demi sedikit perkembangan otak si kecil menjadi lebih maju. Tentunya, rangsangan yang harus Anda berikan bukan hanya rangsangan secara fisik, namun juga motorik. Berikut beberapa rangsangan yang dapat Anda berikan kepada si kecil, diantaranya:

Rangsangan fisik

Rangsangan fisik memang sangat mendominasi akan perkembangan otak anak. Dalam periode ini, Anda harus memberikan makanan yang bergizi dan juga bernutrisi untuk perkembangan si kecil. Rangsangan fisik yang diberikan dapat berupa kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak dan juga orangtua seperti bermain sambil belajar.

Rangsangan motorik

Berikan rangsangan yang dapat meningkatkan motorik si kecil. Hal ini tentunya harus melibatkan motorik kasar dan juga halus sesuai dengan perkembangan anak. Rangsangan motorik ini dapat dilakukan dengan kegiatan seperti berlari, mewarnai, memanjat dan juga meronce.

Rangsangan emosional

Pada anak usia 5 tahun, perkembangan emosionalnya belum terbentuk dengan sempurna. Cepat atau lambatnya, rangsangan emosional anak dapat dilihat dari sering atau tidaknya rangsangan emosional pada si kecil. Pada umumnya, anak usia 5 tahun hanya memperlihatkan keinginannya tanpa menunjukan atau melakukan sesuatu yang ia inginkan. Seperti ketika ia lapar atau haus, si kecil hanya akan menangis dan juga mengatakan keinginannya. Maka dari itu, sebaiknya Anda mulai mengajarinya untuk menunjukkan apa yang ia inginkan dan juga belajar untuk membawanya sendiri.

Rangsangan lingkungan

Penting bagi si kecil untuk mulai mengenal dunia luar untuk bersosialisasi dengan teman seusianya. Hal ini tentunya memebrikan kesempatan bagi si kecil untuk mulai mengenal dunia luar yang sesungguhnya. Dengan memberikan rangsangan lingkungan, maka si kecil akan sangat mudah untuk menghadapinya sehingga terhindar dari rasa takut ketika melihat dan bergaul dengan anak lainnya.

Rangsangan berpikir untuk melakukan sesuatu

Jika Anda ingin si kecil cerdas, maka Anda harus melatihnya dengan mengajarkan kegiatan seperti berbicara, bernyanyi dan juga mengenalkan bermacam-macam benda, tidak terkecuali namanya. 

2. Kematangan Fisik

Pada anak usia 5 tahun tentunya sudah mengalami kematangan struktur tulang dan juga syaraf otot yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti berjalan dan berlari. Sebaiknya, pada masa ini Anda harus rajin untuk melakukan kegiatan bersama si kecil agar kematangan otot menjadi lebih sempurna.

3. Minat

Mengenal keterampilan dan juga minat pada anak menjadi hal yang penting bagi Anda. Dengan mengetahui minat si kecil, Anda dapat dengan mudah mengarahkannya pada sesuatu yang akan mendukungnya dalam mengembangkan minat si kecil. Dalam memberikan rangsangan ini, sebaiknya Anda memberikan latihan-latihan kecil dengan cara yang menyenangkan dan biarkanlah dia yang melakukannya sendiri tanpa ada paksaan dan juga tekanan dari kita sebagai orangtuanya.

4. Latihan

Tentunya, jika kematangan otot dan juga tulang telah sempurna terbentuk. Hal yang harus Anda lakukan adalah melakukan latihan-latihan dalam mendukung kematangan si kecil. Biarkanlah si kecil melakukan aktifitas seperti berjalan dan juga berlari tanpa ada larangan.

5. Memberikan tes tertulis

Pada anak usia 5 tahun sebaiknya Anda memberikan bimbingan secara intensif pada si kecil. Dengan memberikan tes secara tertulis, tentunya Anda dapat mengenal karakter pada anak secara tidak langsung.

6. Mengamati kebiasaan di rumah

Kebiasaan yang terbentuk di dalam rumah akan sangat mempengaruhi kepribadian si kecil ketika di luar sana. Kebiasaan yang terbentuk di dalam rumah akan membanetuk kepribadian pada anak. Maka dari itulah, didikan orangtua sebagai penentu kebijakan dan pembentuk kepribadian pada anak.

7. Mengamati pergaulan anak

Tentunya, jika ingin mengamati bagaimana prilaku anak usia 5 tahun, terlebih dahulu kita harus mengamati pergaulan pada anak. Pergaulan pada anak usia 5 tahun memang tidak dapat dicegah terlebih ketika mereka memasuki lingkungan luar. Maka hal inilah yang harus diperhatikan dalam mengarahkan karakter pada anak.

Cara Mendidik Anak Usia 5 Tahun

Tentunya, cara mendidik anak usia 5 tahun memang tidak dapat disamakan dengan mendidik anak yang sudah mulai tumbuh besar. Tahap perkembangan anak usia 5 tahun harus dilakukan dengan sikap yang sabar dan harus disesuaikan dengan perkembangannya. Berikut ini beberapa cara mendidik anak usia 5 tahun yang harus Anda lakukan, diantaranya:

1. Curahkan kasih sayang

Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memberinya kasih sayang yang tulus kepada mereka ketika mendidiknya. Memberikan kasih sayang merupakan cara yang tepat bagi Anda dalam mendidik anak usia 5 tahun. Bersikaplah sabar ketika menghadapi anak yang rewel dan juga bandel. Jangan mudah marah dan juga memukul anak, karena hal ini akan mengakibatkan anak mengalami tekanan yang nantinya akan menghambat perkembangannya.

2. Berikan pujian ketika ia berhasil

Memberikan pujian tentunya bukanlah perkara yang sulit bagi Anda. Anak akan merasa dihargai ketika ia mendapatkan pujian setelah melakukan hal kecil sekalipun. Untuk itu, jika anak Anda melakukan sesuatu yang positif dan berhasil melakukannya, sebaiknya berikanlah pujian dan penghargaan kepadanya meskipun dengan acungan jempol dan juga perkataan pujian lainnya. Cara tersebut tentunya akan membantu anak Anda untuk mendapatkan kepercayaan diri di dalam dirinya. Satu kata pujian akan menjadi motivasi yang cukup besar bagi mereka dan akan selalu ingat sampai beranjak dewasa.

3. Ajarkan tentang agama

Ini dapat disebut sebagai poin yang sangat penting bagi Anda dalam mendidik anak usia 5 tahun. Pendidikan agama memang sangat penting dan menjadi pendidikan dan pembentukan karakter bagi anak. Meski usia yang masih terbilang sangat kecil, namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk sedikit demi sedikit mengerti akan prinsip agama yang diajarkan oleh orangtuanya. Dengan memberikan pendidikan agama tentunya memberikan arah yang positif bagi mereka. Orangtua dengan prinsip agama yang kuat serta mendidik anaknya dengan benar, maka secara otomatis akan melekat pada diri anak tersebut prinsip agama dengan kuat ketika ia mulai beranjak dewasa.

4. Berbicara dengan nada yang lembut

Seorang tentunya tidak ingin mendapatkan teguran dari orangtuanya meskipun ia telah berbuat salah. Untuk itu, penting bagi Anda untuk bersikap dan juga berkata lembut kepada anak ketika anak Anda melakukan kesalahan. Usahakan Anda untuk menahan emosi supaya tidak mengatakan sesuatu yang buruk dan juga jelek pada anak. Hal ini tentunya akan berdampak buruk pada anak Anda nantinya. Cara menegur anak yang tepat adalah dengan berbicara secara perlahan dan juga lemah lembut.

5. Berbicara dengan kata-kata yang baik

Jika Anda ingin anak Anda memiliki tingkat perkembangan yang memadai, sebaiknya cara berbicara dan juga perkataan di dalam keluarga harus menggunakan kata-kata yang baik dan juga positif. Jika Anda sekeluarga kerap berbicara dengan kata-kata yang tidak baik atau kasar, tidak menutup kemungkinan bahwa anak Anda kelak akan berbicara dengan kata-kata yang kasar. terlebih jika Anda ingin menyuruhnya untuk membereskan mainan, alangkah baiknya untuk selalu menggunakan kata-kata yang baik dan kalimat yang positif. Jangan berbicara yang akan terkesan seperti menegur atau menyuruhnya dengan paksa.

6. Tunjukkanlah perbuatan baik untuk orang lain

Orangtua dapat dikatakan sebagai cerminan sikap anaknya. Sangat penting bagi orangtua untuk menunjukkan perbuatan baik untuk orang lain. Ajarkan kepada anak bagaimana pentingnya berbuata baik kepada orang lain. Bersikap ramah serta tolonglah orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan. Panutan terbesar bagi mereka adalah orangtuanya sendiri.

7. Berikan dukungan kepada anak

Tahap perkembangan usia anak 5 tahun dapat disebut dengan masa dimana anak banyak melakukan eksplorasi dan juga rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya. Inilah saat yang tepat bagi Anda untuk memberikan dukungan kepada anak dengan melihat kemajuan dan perkembangan pada anak. Amatilah perkembangan pada anak. Jika si kecil sudah dapat melakukan hal-hal yang lebih dari masanya, sebaiknya Anda memberikan dukungan padanya supaya dapat mencapai perkembangan yang ia inginkan.

8. Ajarkan kedisiplinan pada anak

Pendidikan karakter yang satu ini memang harus Anda ajarkan kepada anak Anda. Hal ini sangat berkaitan dengan kebiasaan yang akan ia lakukan nantinya. Jika kita tidak mengajarkan sikap yang disiplin pada anak, kemungkinan ia tidak akan dapat menghargai waktu dan juga kesempatan dengan baik. Cara mengajarkan disiplin pada anak dapat dengan melakukan hal yang sangat sederhana seperti mengatur waktu bermain, tidur dan juga mandi pada jam yang sama. Dengan begitu mereka akan terbiasa melakukan hal tersebut ketika ia sudah beranjak dewasa.

9. Jangan menakut-nakuti anak

Satu kesalahan ini kerap dilakukan oleh sebagian besar orangtua ketika mendapati anak yang rewel dan juga bandel. Usahakan jangan menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang dapat membuatnya menjadi enggan untuk melakukan sesuatu. Banyak para orangtua yang menakuti anaknya dengan hantu, hewan dan juga semacamnya. Efek yang timbul dari suka menakut-nakuti anak kelak mereka tidak mempunyai rasa percaya diri dan juga takut untuk mencoba hal-hal baru.

10. Jangan memberikan ancaman

Sekalipun anak Anda bandel, janganlah sekali-kali untuk memberikan ancaman keras kepadanya supaya mereka menurut pada Anda. Memberi ancaman justru akan membuatnya sulit untuk mengembangkan pola berpikir yang cukup kritis dan juga anak akan takut untuk melakukan sesuatu apapun. Jika memang ingin membuat anak menurut pada kita, Anda harus tegas dan memberinya konsekuensi ketika ia melakukan perbuatan yang tidak diinginkan oleh orangtuanya. Misalnya, jika tidak mau makan atau mandi, maka jatah bermain akan dikurangi selama satu hari.

11. Jangan berbohong kepada anak

Anak adalah cerminan dari sikap orangtuanya. Hal ini tentu berlaku juga bagi Anda dalam hal berkata jujur ataupun berbohong. Jika Anda tidak ingin dibohongi oleh anak Anda, sebaiknya Anda jangan berkata bohong kepadanya, meskipun pada usia yang masih 5 tahun. Pasalnya, suatu perkataan yang dibicarakan oleh orangtuanya menjadi pegangan teguh baginya. Si kecil akan selalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh orangtuanya. Untuk itu, jika seorang anak bertanya namun tidak pantas untuk dijawab, maka jawablah dengan perkataan yang lemah lembut dan katakan bahwa Anda akan mencari jawabannya terlebih dahulu. Janganlah menjawab pertanyaan polos anak yang justru akan menjerumuskannya.

12. Ajaklah anak bermain

Anak akan lebih senang jika Anda mau mengajaknya bermain. Bermain dengan anak akan menjadi senjata yang jitu bagi Anda untuk mengajar dan juga mendidik anak. Mulailah ajarkan sesuatu yang baik pada anak, meskipun pada saat bermain melalui permainan kreatif dan juga mendidik. Dengan begitu, maka akan menimbulkan rasa semangat pada dirinya sehingga ia akan terus belajar.

13. Jangan menuruti semua keinginan anak

Sebagian besar orangtua kerap melakukan kesalahan ini dengan memanjakan dan menuruti semua keinginan anaknya. Ternyata, hal ini justru akan membuat anak Anda merasa lega karena orangtuanya akan selalu menuruti kemauan anaknya. Dengan bersikap seperti itu, seoarang anak akan ketagihan ketika ia ingin melakukan sesuatu, namun tidak sesuai jangkauannya. Ia akan berpikir bahwa orangtua pasti akan menuruti kemauannya.

14. Bersikap terbuka kepada anak

Ajaklah anak untuk bersikap terbuka kepada orangtuanya dengan selalu berkomunikasi dengannya. Jadilah Anda sebagai tempatnya bercerita, hal yang perlu Anda lakukan adalah janganlah sekali-kali menyela perkataan anak Anda, karena akan membuatnya enggan untuk bercerita lagi kepada Anda.

15. Ajari anak untuk meminta maaf

Tentunya, anak usia 5 tahun akan mulai bergaul dengan teman seusianya. Jika anak Anda melakukan kesalahan kepada temannya, mintalah ia untuk meminta maaf dan tidak akan mengulangi kesalahannya tersebut.

Itulah beberapa cara mendidik anak usia 5 tahun yang harus Anda lakukan. Dengan memahami perkembangan anak usia 5 tahun, tentunya Anda akan lebih tahu bagaimana cara bersikap dan juga mendidik anak Anda dengan baik. Semoga bermanfaat!

 

 

8 Cara Mengatasi Anak Rewel Yang Paling Ampuh

Tentunya, orangtua akan terpancing emosi saat menghadapi anak mereka yang sedang rewel. Anak yang rewel tentunya membuat orangtua geram dan kerap memarahi anaknya. Terkadang, sikap orangtua yang tidak dapat menahan emosi dapat melukai anaknya baik fisik maupun mental.

Tidak dapat dipungkiri, anak rewel memang sangat merepotkan bagi orangtuanya. Hal ini umum terjadi jika seorang anak batita maupun balita begitu rewel dengan tiba-tiba. Tak jarang, mereka dengan tiba-tiba menangis dan menjerit yang disertai dengan amukan yang tidak jelas. Ini membuat orangtua tidak dapat melakukan kegiatan sehari-harinya karena sepanjang hari mengurus anak yang rewel tersebut. Mungkin, diantaranya anak yang rewel tidak diketahui dengan pasti apa penyebab kerewelannya tersebut. Jika anak sudah sekolah, mungkin dia akan mengawali harinya dengan menangis terlebih dahulu.

Ketika hal tersebut terjadi, sebaiknya orangtua mengetahui dan memahami karakter anak yang tidak dapat kita tebak begitu saja. Anak-anak seringkali menampilkan karakter yang berbeda-beda sesuai pertumbuhannya kadang bersikap rewel dan selalu menangis.

Cara Mengatasi Anak Rewel

Mendapati hal tersebut, tentu orangtua sebaiknya bersikap tenang dan sabar dalam mengasuh anak serta jangan terpancing emosi yang pada akhirnya akan melukai anak Anda. Sebab faktanya bahwa anak batita dan balita cenderung bersikap rewel dan marah-marah kepada orangtuanya jika keinginannya tidak terpenuhi. Jika orangtua mudah terpancing emosi dan bereaksi berlebih pada anak-anaknya, maka akan meninggalkan mental yang cukup buruk pada perkembangannya nanti. Baca juga: Ketahui Dampak Buruk Sering Marahi Anak di Depan Umum

Sumber-Sumber Penyebab Anak Rewel

Sebelum melakukan tips dan cara mengatasi anak rewel, tentu Anda harus mengidentifikasi sumber-sumber penyebab anak rewel berikut ini:

Rewel karena sakit

Sumber yang pertama ini memang sangat umum  terjadi pada anak. Wajar jika anak bersikap rewel kala sedang sakit. Kerewelan tersebut dapat memicu Anda untuk bersikap spontan pada anak bahkan sampai melukai anak. Kondisi sakit tentunya membuat anak Anda tidak nyaman dan bersikap uring-uringan tidak jelas. Tentu, dengan kondisi badan yang tidak stabil dan tidak enak, maka semua itu akan mengubah sikap dan prilaku pada anak. Yang tadinya ceria dan aktif akan mendadak cengeng dan murunng tak jelas bahkan akan lebih bersikap manja kepada orangtuanya terutama ibunya.

Rewel ketika bertamu

Sikap rewel ini seringkali membuat orangtua geram saat mereka berkunjung kerumah sahabat atau kerabat. Tak heran jika balita seringkali merengek-rengekminta pulang saat bertamu kerumah orang lain. Sikap rengekan ini disebabkan oleh batita ataupun balita yang menganggap bahwa rumahku adalah surgaku.

Tentu, mereka merasa tidak ada tempat senyaman rumah selain rumahnya terlebih jika lingkungan tempat dia bertamu begitu asing dan tidak nyaman. Bertemu dengan sosok asing diluar rumah membuat balita tidak mau bersosialisasi dengan lingkungan luar.

Rewel karena ditinggal orangtua

Hal ini tentu menyebabkan anak akan rewel kala ditinggalkan oleh orangtuanya. Aktifitas orangtua diluar yang terlalu lama akan menyebabkan anak rewel hanya karena ingin bertemu dengan orangtuanya. Mungkin Anda sering mendapati ketika orangtuanya bekerja, seorang anak akan rewel karena selalu ingin bersama dengan orangtuanya.

Tentu, anak Anda akan merasa bahwa Anda adalah sosok yang sangat dekat dan paling dipercaya baginya. Maka, sulit bagi Anda untuk melakukan aktifitas diluar sana saat mendapati anak Anda yang rewel. Anak Anda akan merasa tidak aman jika bersama dengan oranglain.

Rewel ketika ditempat baru

Dinilai wajar jika perilaku anak Anak rewel dengan tiba-tiba saat berada ditempat baru. Seringkali hal ini membuat sebagian orangtua merasa kesal dengan reaksi anak tersebut. Anak rewel dapat disebabkan karena merasa sesuatu mengancam dirinya. Terlebih jiak Anak belum mengetahui kondisi sebelumnya dengan keadaan ligkungan tersebut. Untuk contoh, jika seorang anak diajak untuk berobat, mereka akan merasa aneh dengan tempat tersebut karena mendapati ruangan yang serba putih  serta peralatan yang membuatnya merasa takut seperti jarum suntik, mesin USG dan stetoskop. Lingkungan semacam ini tentu akan membuat anak Anda merasa sedikit ketakutan.

Rewel saat pagi hari

Kerewelan yang anak Anda tunjukkan setiap pagi atau setelah anak tidur dapat dibilang hal yang biasa pada setiap anak. Waktu dimana menjadi dinding antara bangun dan tidur yang menyebabkan sikap anak Anda sedikit tidak karuan. Terlebih jika seorang Anak mendapati pengalaman yang tidak mengenakan sebelum dia bangun. Mendapati pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut, hal ini akan berdampak pada mimpi buruk yang berbekas pada saat bangun tidur. Hal yang umum terjadi, seorang balita atau batita akan rewel setelah bangun tidur karena merasa terganggu dan merasa lelah oleh suara berisik yang ditimbulkan. Baca Juga: Sebelum Mendaftarkan Anak Pendidikan Usia Dini, Berikut Tips Persiapan yang Bisa Dilakukan

Rewel saat datang ke suatu acara

Acara orangtua terutama seorang ibu akan membuat anak merasa stress dengan lingkungan barunya. Tentunya, Anda akan mendapati suatu kondisi yang mengharuskan Anda untuk membawa buah hati Anda ke suatu acara tertentu seperti arisan, reuni atau belanja. Namun, Anda tidak jarang mendapati anak Anda yang cenderung rewel dan meminta pulang denngan segera. Jika Anda tidak menurutinya, maka Anak Anda akan cengeng dan menangis seketika juga.

Tentu, ini akan membuat sebagian orangtua merasa kesal dan bersikap spontan bahkan mencubit anaknya dengan tidak sadar. Padahl, sikap anak yang seperti itu terbilang wajar karena tentunya anak akan bersikap tidak menerima lingkungan baru dengan orang-orang yang baru pula. Bukan hal yang tidak mungkin, seorang anak akan menganggap bahwa acara tersebut tidaklah menyenangkan sama sekali sehingga akan menyulitkan Anda untuk membawa Anak tersebut ke acara tertentu.

Rewel ketika naik kendaraan

Kondisi ini tentu pernah Anda dapatkan ketika seorang anak rewel ketika diajak naik kendaraan. Sepertinya kendaraan merupakan suatu tempat baknya sebuah neraka bagi seorang anak. Penyebab anak tidak mau naik kendaraan karena merasa bosan berlam-lama diangkutan umum. Terlebih jika seorang anak suka mabuk kendaraan dan membuat anak tidak nyaman akan kondisi seperti ini seperti udara yang dingin, sesak dan penat ketika berada diangkutan umum. Tentunya, anak merasa aktifitasnya dibatasi karena dianjurkan untuk duduk dan tidak dapat berjingkrang-jingkrak dimanapun dia mau.

Rewel ketika diajak tergesa-gesa

Pada umumnya seorang anak tidak ingin merasa dirinya tergesa-gesa dengan sikap orangtua yang terburu-buru. Banyak orangtua yang merasa kesal dan pusing ketka mengajak anaknye pergi dengan tergesa-gesa. Anak yang tidak nyaman akan merasa dipaksa untuk melakuakn sesuatu seperti berganti pakaian, mandi, bahkan makan. Tentu, ini akan membuat  perasaan anak Anda tidak nyaman.

Rewel saat ingin meminta perhatian lebih

Seringkali Anda akan merasa risi dengan kerewelan yang terjadi pada saat anak Anda meminta perhatian yang lebih dari orangtuanya. Keberadaan ibu dianggap sebagai sosok yang sangat berharga dihidupnya. Ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya merupakah sikap yang wajar bagi seorang batita dan balita. Sepulang bekerja tentu seorang anak ingin mendapatkan perhatian yang lebih meskipun ibunya merasa sangat kecapaian.

Cara Mengatasi Anak Rewel Yang Tepat

Setelah kita mengetahui penyebab kerewelan pada anak, berikut ini kami sajikan tips dan cara mengatasi anak rewel yang bisa Anda lakukan ketika mendapati anak Anda yang rewel.

  1. Cara mengatasi anak rewel ketiaka anak Anda sakit. Bersikap sabarlah ketika menghadapi anak yang sedang sakit. Tentunya, anak Anda ingin mendapatkan perhatian yang lebih dari orangtuanya. Anak yang sedang sakit harus dimanja seperti mengusap-usap rambutnya, digendong, dan tanyakan mana yang terasa sakit. Jika anak meminta makan, suapi sedikit demi sedikit dan jangan paksa anak untuk makan jika dia tidak mau. Katakan pada anak jika minum obat adalah sesuatu yang sangat penting bagi tubuh.
  2. Cara mengatasi anak rewel ketika anak Anda ingin mendapatkan perhatian yang lebih. Ketika Anda mendapati anak yang rewel karena ingin mendapatkan perhatian. Tentu, Anda harus bersikap tegas dan konsisten untuk memberikan perhatian pada anak Anda. Bersikap lemah lembutlah dan selalu bertanya apa keinginan anak sebenarnya. Jika Anda merasa sedang cape coba pujilah Anak dan berikan penghargaan kepada anak Anda apa yang telah dia capai pada hari itu. Penghargaan tentunya bukan hanya berupa hadiah, namun pelukan dan ciuman seorang ibupun menjadi obat ampuh bagi si kecil.
  3. Cara mengatasi anak rewel kala bertamu kerumah seseorang atau datang ke lingkungan baru. Cobalah untuk jangan memarahinya didepan tamu karena hal ini akan membuat Anda merasa malu telah menegur buah hati Anda didepan orang lain. Anda bisa membujuk anak Anda untuk mengeksplorasi tempat barunya tersebut agar lingkungan tersebut merasa aman untuknya. Tentunya, ajari anak untuk bersosialisasi dengan orang lain tanpa merasa ketakutan sehingga mereka akan merasa percaya diri berada ditempat baru tersebut.
  4. Cara untuk mengatasi anak rewel ketika ditinggal oleh orang tuanya tentu menjadi moment yang sangat menyedihkan bagi seorang anak. Tentu untuk menghindari hal tersebut, Anda harus menghindari untuk pergi sembunyi-sembunyi dari seorang anak bahkan berbohong. Jika orangtua berbohong, maka Anda secara tidak langsung mengajarkan anak Anda untuk berbohong pula. Cobalah untuk mengatakan bahwa Anda akan segera kembali dengan cepat. Cepat atau lambat anak Anda akan mengerti dengan sendirinya.
  5. Cara mengatasi anak rewel saat naik kendaraan adalah hal yang sangat wajar dengan penyebab yang sudah Anda ketahui sebelumnya. Orang tua harus mampu mengajak anak untuk mengobrol tentang apapun yang tidak membuat anak Anda bosan. Karena, berkendara bagi anak adalah sesuatu yang sangat menjenuhkan bagi anak. Terlebih Anda akan harus membawa bekal makanan dan minuman selama perjalanan.
  6. Cara mengatasi anak rewel ketika Anda yang datang ke suatu acara tertentu seperti arisan bukanlah sesuatu yang sulit bagi Anda. Sebenarnya, ini hal yang wajar bagi Anda karena bertemu dengan orang asing dilingkungan tersebut. Mungkin, lingkungan tersebut menjadi tempat yang tidak menarik dan sangat menjenuhkan bagi anak Anda.

Itulah beberapa penyebab, tips dan cara mengatasi anak rewel yang bisa Anda lakukan saat ini pada anak Anda. Perlu Anda tahu menegur dan memarahi anak saat rewel bukanlah sesuatu yang tepat bagi Anda. Semoga artikel yang kami sajikan diatas dapat memberikan manfaat bagi Anda dalam mendidik anak dengan baik. Semoga bermanfaat!

 

10 Tips Pola Asuh Anak Untuk Membentuk Pribadi yang Peduli Terhadap Sesama

Untuk menanamkan pola pendidikan terhadap anak anda, maka sebaiknya dilakukan semenjak usia dini.

Kepribadian anak anda setelah dewasa tidak bisa lepas dari bagaimana pola pendidikan yang diterapkan orang tua kepada anak di usia dini. Dengan mengarahkannya semenjak usia dini, maka kemungkinan besar anak menjadi pribadi yang diharapkan oleh orang tua menjadi lebih besar, dan tentunya setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi pribadi yang sebaik-baiknya bahkan lebih dari orang tuanya.

Ada begitu banyak nilai-nilai kebaikan yang sebaiknya ditanamkan kepada diri anak, yakni kepedulian terhadap sesama. Seiring dengan berkembangnya waktu dan zaman, rasa kepedulian banyak manusia terhadap sesamanya mulai banyak berubah dan meluntur, sehingga dengan menanamkan rasa peduli terhadap sesamanya, maka di masa depan lingkungan anak anda tumbuh dan hidup tetap menjujung tinggi rasa kepedulian yang besar bagi sesama.

01

Berbicara lebih lanjut mengenai kepekaan serta rasa peduli terhadap sesama, maka berikut ini ada 10 tips yang bisa anda simak dan lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak anda yang diharapkan bisa tumbuh dan besar sebagai pribadi yang memiliki rasa peka dan peduli yang besar. Berikut ini 10 tips atau cara yang bisa ikuti, yaitu:

1. Memberikan Banyak Pilihan Kosakata yang Tepat Untuk Menggambarakan Perasaanya

Salahsatu bentuk kepedulian terhadap sesama dimulai dengan munculnya perasaan empati terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain yang kemudian akan dikeluarkan melalui sebuah ungkapan verbal yang tepat, maka dengan pilihan kosakata yang beragam dan tepat, anak anda bisa mengungkapkan perasaanya tersebut dengan baik. Salahsatu cara terbaik untuk membantunya memiliki perbendaharaan kosakata adalah dengan rutin membacakan dongeng untuknya.

2. Jadilah Contoh

Anak dikenal sebagai peniru yang ulung, sehingga penting bagi anda untuk menunjukan sikap yang baik kepadanya, mungkin terdengar agak klise tapi justru hal ini penting, sebab dengan sendirinya anak anda akan belajar mengenai kepedulian dari sikap yang nyata tanpa harus banyak berbicara. Tunjukan sikap dan kepedulian anda melalui aksi nyata yang di dalamnya anda juga melibatkan anak anda. Mungkin tidak harus selalu terlbat langsung, tetapi terkadang mereka juga bisa memperhatikan dan mengamati sikap-sikap dari orang tuanya.

3. Bersikap Sopan Pada Orang Tua

Pada umumnya anda mungkin masih memiliki orang tua yang berstatus sebagai kakek atau nenek bagi anak anda. Di titik ini sebaiknya anda menjaga nilai kesopanan dan menunjukan jika anda juga menghormati orang tua seperti halnya anda ingin dihormati oleh anak anda. Terkadang kondisi pikun atau sikap kekanakan pada orang tua anda mungkin menjadi tantangan terberat bagi anda untuk tetap sabar menghadapinya. Jangan pernah menunjukan kepada anak anda bahwa anda kesal dan marah terhadap orang lain terutama kakek dan neneknya.

4. Membina Hubungan Harmonis Dengan Pasangan

Pertengakaran anda dengan pasangan apalagi di depan anak sudah tentu menjadi sebuah hal yang harus anda hindari. Sebab umumnya anak anda akan melihat anda sebagai figur contoh, sehingga ketika kelak ia dewasa, ia tahu harus bagaimana cara bersikap yang baik terhadap lawan jenisnya. Cobalah untuk menjaga kerukunan baik di depan atau di belakang anak, jikalau memang sedang mengalami masalah cobalah selesaikan tanpa melibatkan anak dengan berdebat atau bertengkar di hadapannya.

5. Mengajaknya Bergaul Dengan Orang Dari Berbagai Macam Latar Belakang

Janganlah membatasi pergaulan anak sebab pada dasarnya dengan membatasi pergaulannya maka anda juga memberikan batasan pemahaman kepadanya mengenai perbedaan. Disukai atau tidak perbedaan merupakan hal yang nyata dan terdapat di kehidupan sehari-hari kita. Warna kulit, bahasa, agama dan berbagai isu rasial lainnya biasanya menjadi isu yang bisa menjadi masalah besar dan seringkali menghilangkan kepedulian di dalam diri seseorang. Sehingga penting adanya kita mengajarkan anak kita untuk mau bergaul dengan berbagai latar belakang dengan tetap memberikan pengarahan dan tindakan pengawasan karena tidak semua lingkungan juga memberikan impact yang baik terhadapnya.

6. Bermain dan Bergaul Dengan Anak yang Lebih Kecil

Memebiarkan anak kita bergaul dengan usia yang berbeda juga membuatnya berlatih untukmelatih kepekaan rasanya. Dengan bergaul dengan anak yang lebih kecil maka kepekaan akan rasa kasih sayangnya bisa muncul, sikap ingin melindungi dan juga mengayomi bisa muncul secara alami dari dalam dirinya. Lebih baik lagi jika ia bisa membantu anda menjaga adik-adiknya, anda bisa mengajarkan serta memberikan contoh kepadanya untuk menenangkan adik-adiknya di kala sedang menangis dan berbagai macam hal lainnya.

7. Anda Juga Harus Peka Terhadap Anak Anda

Sebelum anda berharap anak anda menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungannya, maka anda juga harus peka terhadap anak anda serta perasaan yang sedang dialaminya. Sepatutnya anda mengetahui bagaimana perasaan anak anda dari perubahan sikap dan juga raut wajahnya. Dengan mengetahui perasaan anak anda, maka setidaknya anda bisa tahu harus bagaimana bersikap dan mengambil langkah selanjutnya. Anda juga bisa mengajak bicara dari hati ke hati untuk menggali perasaan anak anda. Ingat! Jika anak dari orang tua yang peka cenderung juga tumbuh menjadi pribadi yang sama (peka).

8. Jangan Ragu Meminta Maaf Pada Anak

Sebagai manusia kita tidak luput dari kesalahan sehingga akhirnya melukai hati orang lain. Dalam hal ini tidak terlepas anda menyakiti perasaan anak anda. Bagi sebagian orang meminta maaf kepada anak merupakan hal yang tidak perlu sebab posisi orang tua yang harus dihormati menjadi sebuah gengsi besar yang harus diperthankan. Padahal dengan beraninya anda meminta maaf di kala salah,maka anda secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk berani mengakui kesalahan juga menjadi pribadi yang tidak pendendam.

9. Mainan Anak

Cobalah sesuaikan pilihan mainan anak anda, berikan mainan atau permainan yang setidaknya mengembangkan imajinasi serta kreatifitasnya dan cobalah sedikit menjauhkan anak dari mainan yang meluruhkan kepekaan dan ketidak pedulian sebelum waktunya benar-benar pas, salahsatunya ialah mainan senapan dan pistol, sebab mainan tersebut menggambarkan sebuah senjata yang dirancang untuk melukai makhluk hidup lainnya.

10. Ucapkan Terimakasih

Mengucapkan kata terima kasih merupakan salahsatu ungkapan paling sederhana namun memiliki makna dan juga impact yang tidak sederhana. Dengan menanamkan kebiasaan memberikan ungkapan terimakasih kepada orang lain ketika menerima bantuan dan juga hal lainnya menunjukan kepekaan terhadap anak jika sebuah aksi akan dibalas dengan sebuah reaksi. Ketika memberikan kebaikan, maka mereka juga bisa merasakan kebaikan tersebut juga di dalam dirinya.

Demikianlah beberapa tips yang bisa anda lakukan dalam melaksanakan pola pengasuhan anak yang baik dan lebih membuat anak anda bisa menjadi pribadi yang peduli terhadap sesamanya yang berada di lingkungan sekitarnya. Dengan pola pengasuhan ini, kepekaan anak anda akan semakin terasah dan berkembang.

Bagaimana? Apakah anda sudah siap melaksanakan dan melakukan pola asuh yang tepat agar anak anda menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap sesama? Mari latih anak anda menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap sesama.

Anak Anda Ceroboh? Simak Di Sini Cara Membantunya

Apakah anda termasuk kepada orang tua yang merasa jika anak anda masih termasuk ke dalam pribadi yang ceroboh?

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan anak-anak kita terkadang melakukan hal-hal yang kita anggap sebagai sebuah kecerobohan. Dari mulai hal-hal yang sederhana dan tidak terlalu berefek besar seperti seringkali menjatuhkan pensil, menabrak benda dirumah seperti meja makan, padahal benda tersebut sudah berada di lokasi tersebut sejak beberapa waktu yang lama.

Kecerobohan yang terjadi dan dilakukan oleh anak-anak di usia balita memang cukup bisa ditoleransi, sebab di usianya tersebut perkembangan motorik halus yang berkembang dalam dirinya belumla terlalu sempurna, namun seiring dengan waktu yang terus berkembang sebaiknya anda harusnya patut mencurigai jika perkembangan motorik anak anda tersebut tidak berkembang dan terlalu sering mengulangi kecerobohannya.

02

Ada beberapa faktor yang turut memicu anak menjadi pribadi yang ceroboh, yang paling mendasar mungkin faktor genetik. Faktor genetik ini tentunya bukanlah sbuah hal yang bisa anda atur, sehingga yang bisa anda lakukan adalah meminimalisir kecerobohan tersebut dengan melakukan tindakan pengobatan dan pembiasaan.

Lebih lanjut mengenai kecerobohan yang terjadi pada anak-anak anda, selain dengan karena faktor genetika yang milikinya biasanya hal tersebut dipengaruhi oleh kurangnya stimulus yang diberikan orang-orang diskitar, khususnya orang tua untuk membantu perkembangan motorik halus yang ada pada dirinya, sehingga hal yang bisa anda coba untuk membantunya menghilangkan kecerobohannya ialah dengan fokus melatih motorik halusnya. Perkembangan tubuh serta proses pembelajaran yang dimiliki oleh setiap anak tentunya berbeda dan di sinilah tugas anda sebagai orang tua dituntut untuk lebih baik dan maksimallagi dalam memahami perkembangan pada anak anda.

Berbicara mengenai kecerobohan yang dimiliki oleh anak anda, maka ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk membantunya mengikis dan menghilangkan kecerobohan yang dimilikinya. Silahkan simak langkah-langkahnya di bawah ini.

1. Meningkatkan Keterampilan Anak

Ada berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik halus yang dimiliki oleh anak anda. Dari sekian banyak hal faktor genetis dan juga rangsangan atau stimulus menjadi hal yang cukup besar pengaruhnya. Oleh karena itu, cobalah untuk merangsang dan memberikan stimulus dengan membiarkannya mandiri. Namun jika sudah menyangkut genetis mungkin hal tersebut dipandang sebagai pegecualian, meskipun demikian anda tetap harus merangsang dan menstimulus motorik halusnya agar tidak telalu tertinggal.

Selain dengan langkah tersebut anda juga bisa meningkatkan keterampilan lainnya yang membantunya melatih koordinasi gerakan motorik halus seperti belajar beladiri. Beladiri juga bukan merupakan olahraga tim sehingga mengurangi beban tekanan dari luar saat ia sedang berlatih. Selain dengan beladiri belajar menari dengan mengikuti alunan lagu bisa menjadi pilihan, sehingga anak anda bisa berlatih menyelaraskan perintah otak bersama dengan gerakan sesui irama lagu.

2. Menyadari Betapa Frustasinya Anak

Mungkin terkesan menyebalkan atau terkadang lucu melihat orang atau khususnya anak anda menjatuhkan benda, kemudian menabrak benda dan lainnya lagi, namun tahukan anda jika ia juga merasa hal itu sulit baginya, sehingga sindiran maupun teguran tidak sama sekali membantu, bahkan justru akan semakin meruntuhkan mentalnya sebagai seorang anak. Langkah yang paling tepat yaitu tetap memberikan support dan dukungan baginya dalam berbagai hal, baik aksi nyata maupun verbal sehingga motivasinya tidak hancur atau remuk hanya karena anda menjadikan hal tersebut sebagai bahan lelucon atupun justru malah memarahinya.

3. Tenang dan Sabar

Sikap tenang dan sabar bisa coba anda latih dan terapkan tidak hanya bagi anak anda, tetapi juga anda yang berada di sekitarnya. Tidak jarang karena kecerobohannya, anak anda memecahkan piring atau gelas, di lain hal malah menghancurkan barang yang penting, hal ini belum termasuk kecerobohan yang bisa membuatnya terluka. Oleh karena itu sikap tenang sudah semestinya anda tularkan kepada anak anda, pastikan anda memeriksa anak anda dengan baik seperti mengikat teli sepatunya dengan baik atau memakai pakaiannya dengan benar, sehingga dengan tenang setidaknya lebih mengurangi resiko yang bisa terjadi karena kecerobohannya nanti.

Sikap sabar juga mestinya anda tunjukan, jangan sampai kecerobohan anak anda justru menjadi pemicu emosi anda sehingga meledak-ledak dan membuat anak anda ketakutan. Tunjukan sikap mengayomi dan tetap tenang saat beraktivitas, sehingga membuat anak anda tetap nyaman dan tidak merasa jika kecerobohannya tersebut menimbulkan sesuatu yang buruk dan menjadi sebuah hal yang .

4. Doronglah Anak Anda Agar Terus Mencoba

Perlu anda ketahui jika motorik halus yang berkaitan dengan kecerobohan anak bukan hanya terkait dengan masalah flesibiltas dari tangan serta jari jemari saja, namun juga dari seluruh anggota tubuh lainnya khususnya pada bagian oral, seperti bibir, lidah dan bagian-bagian lainnya. Selain itu tidak ketingalan bagian lainnya seperti kaki dan perpasuan atau singkronisasi dari berbagai bagian tersebut.

Mengetahui jika anak anda kurang dalam bagian-bagian tersebut maka salahsatu cara yang yang bisa dilakukan ialah dengan terus mencoba dan berlatih untuk memantapkan singkronisasi dari beberapa bagian tubuh yang berkaitan dengan kurangnya motorik halus.

5. Membagi Kegiatan dan Latihlah

Dari berbagai jenis pelatihan serta program motorik yang bisa anda berikan kepada andak anda, maka cobalah untuk membaginya ke dalam beberapa tahapan serta rangkaian yang lebih mudah. Cari tahu apa kegiatan yang dikuasainya dan mana yan gkurang dikuasainya, kemudian setelah itu silahkan untuk mencoba membaginya ke dalam pola latihan yang sederhana dan bertahap sehingga anak anda tidak terlalu tertekan dan frustasi ketika sulit untuk melakukannya. Dengan program yang baik dan dilakukan bertahap akan mempermudah anak anda untuk terus berkembang.

Mulai Membiasakan Hidup Mandiri

Sebagai orang tua pastinya anda ingin perkembangan terbaik untuk anak anda, dan salahsatu yang terbaik adalah ketika ia mampu untuk mandiri dan melakukan berbagai yang berkaitan dengan kebutuhan dirinya seorang diri. Meskipun demikian banyak juga orang tua yang justru terlalu memanjakan anaknya dengan menyediakan kebutuhannya seorang diri, seperti mengantikan bajunya kemudian memberikan makan dengan cara menyuapinya, padahal jika dilihat secara lebih dalam hal tersebut justru tidaklah terlalu baik.

Melihat dari hal tersebut, maka sebaiknya anda sebagai orang tua mulailah membiasakan anak anda untuk menjadi pribadi yang mandiri, selain melatih menjadi pribadi yang bertanggungjawab dengan membiasakan anak anda untuk mandiri, maka sedikitnya bisa membantu anak anda mengembangkan motorik halusnya dengan lebih baik dibadingkan jika anda hanya membiarkannya manja dan selalu anda layani.

Bagaimana? Sudah sedikit mendapatkan gambaran yang bisa anda ambil mengenai anak anda yang dianggap ceroboh dan bagaimana cara membantunya keluar dari masalahnya tersebut? Dengan menjalankan beberapa cara di atas maka setidaknya anda bisa membantunya dan sedikit demi sedikit menghilangkan dan mengikis kecerobohan yang selama ini seringkali dilakukannya.

Cegah Anak Cedera di Rumah dengan Perhatikan Beberapa Barang Berikut Ini

Kegiatan mengasuh dan bermain bersama dengan balita memang menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Apalagi saat balita anda sudah mulai bisa berjalan, merangkak atau bahkan kini sudah mulai bisa berlarian kesana-kemari. Rasanya, rasa senang dari kejutan-kejutan baru yang diberikan oleh si kecil akan membuat kita orangtuanya semakin bangga dengan buah hati kita.

Akan tetapi, jangan sampai kegiatan menyenangkan ini berubah menjadi bencana ketika si kecil menjangkau beberapa perabotan atau properti yang berbahaya dirumah anda. Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk melakukan kegiatan mengasuh bayi, berubah menjadi mimpi buruk saat anda tak teliti menaruh beberapa peralatan rumah tangga yang akan beresiko untuk si buah hati.

Nah, jika sebelumnya kita sudah pernah membahas beberapa tempat dan sudut dirumah yang bisa berbahaya untuk si kecil di artikel "Daerah-Daerah Berbahaya" Di Rumah Bagi Balita, kali ini kita akan bahas beberapa peralatan yang bisa berbahaya untuk si kecil ketika mereka di rumah.

cegah anak cedera dirumah

Ya, pada dasarnya sikap anak-anak balita memang aktif. Apalagi saat kemampuan belajarnya yang baru seperti berlari, berjalan, merangkak baru saja mereka dapatkan. Untuk dapat melatih kemampuan baru tersebut, maka tak heran jika anak balita akan sangat aktif dengan pergi kesana-kemari dengan begitu riang. Selain itu, anak-anak umumnya belum paham betul mana derah yang berbahaya yang tidak boleh mereka dekati dan mana yang tempat yang bisa mereka eksplor dengan baik.

Disamping itu, rasa ingin tahu pada si anak pun begitu besar, sehingga tidak heran jika semua hal yang ada didekat mereka yang bisa mereka jangkau akan mereka raihnya dengan mudah. Tidak jadi masalah memang, jika peralatan tersebut adalah properti yang aman, namun bagaimana jika perabotan tersebut adalah peralatan yang berbahaya? Hal ini tentu saja akan beresiko untuk balita anda bukan? Untuk itulah, sebagai orangtua anda dituntut untuk lebih teliti pada semua peralatan dan perabotan yang anda letakan dirumah. ( Baca juga: Nama Anak Laki-Laki )

Anak balita bisa begitu aktif di usianya. Gerakannya akan betul-betul lincah dan begitu cepat. Masalahnya, hampir setiap waktu ia bisa jatuh dan terkadang saat jatuh ini sesuatu bisa mengenai kepalanya. Meski sudah berusaha dengan begitu keras untuk membuat rumah seaman mungkin, akan tetapi ada saja hal yang membuatnya terjatuh. Namun tak memungkinkan juga untuk anda terus memegangi si kecil dan menggendongnya setiap saat bukan? Salah-salah si kecil malah tidak akan bisa untuk mengeksplorasi lingkungannya yang pada kahirnya hal ini bisa membuatnya menjadi tidak mandiri.

Nah, kendati sulit mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang akan dapat membuat anak berada dalam bahaya, maka penting sekali bagi orangtua untuk berada satu langkah di depan si anak. Artinya, orangtua harus bisa jeli dan teliti mengamati hal apa sajakah yang akan mengundang bahaya atau memberikan resiko pada buah hati anda. Untuk itulah, beberapa barang-barang dibawah ini sebaiknya anda perhatikan agar keselamatan si kecil tidak dipertaruhkan. Apa sajakah, beberapa barang-barang yang bisa membahayakan keselematan si bauh hati saat mereka berada dirumah? Yuk, kita simak dibawah ini.

1. Karpet atau Keset

Meski terlihat sebagai benda yang sepele dan tidak akan membahayakan keselamatan siapapun, termasuk buah hati anda. Namun jangan salah, bentuknya yang tidak rata dengan permukaan lantai akan mungkin membuat si anak tersandung atau bahkan terpeleset. Dampak yang ditimbulkan pada si kecil bisa saja membuat mereka mengalami lecet, terluka atau bahkan dikondisi yang terparah adalah membuat tulangnya patah. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan tulang dan persedian si kecil masih begitu rapuh, sedikit benturan saja, maka fatal akibatnya. Untuk itu, jelilah dalam merawat dan menjaga buah hati anda. Pilihlah karpet atau keset yang memiliki bagian anti-slip agar keselamatan anak-anak bisa lebih terjamin.

2. Jendela atau Tirai

Adalah sifat yang umum pada anak-anak jika ketika mereka menemukan hal yang baru yang dianggapnya menarik, anak-anak akan langsung mendekati sumber tersebut dan memainkannya. Termasuk memainkan tirai atau bahkan memajat jendela. Hal-hal seperti ini tentu saja akan membahayakan, apalagi mengingat jendela dan tirai jangkauannya bisa sangat tinggi. Selain itu, anak-anak akan cenderung melakukan segala hal untuk bisa melakukan sesuatu hal.

Bayangkan ketika anak ingin menggapai tirai atau memanjat jendela yang tinggi, lalu mereka memaksakan diri hingga naik ke jendela, sementara anda tidak anda disamping mereka, maka apa yang terjadi? Tepat sekali, bencanalah yang akan anda dapatkan. Untuk itulah, pastikan jika anda tidak menempatkan kursi dipepetkan pada jendela atau mungkin memasang tirai yang menjuntai hingga ke lantai yang akan membuat anak tertarik untuk bermain peralatan ini.

3. Meja Kaca

Ketika balita anda sudah mulai dapat berjalan atau merangkak, biasanya mereka akan lebih sering terantuk ke meja kaca. Jika orangtua tidak berahti-hati, maka hal ini tentu saja akan membahayakan buah hati anda. Untuk itulah, tidak ada salahnya melapisi bagian ujung meja dengan menggunakan busa pelindung atau sesuatu yang tumpul yang akan tidak akan membuat si anak terluka saat mendekati sumber peralatan ini.

4. Bathtub dan Shower Mandi 

Kegiatan mandi untuk si kecil bisa sangat berbahaya bila dilakukan dengan tidak hati-hati. Apalagi jika di kamar mandi anda menggunakan fasilitas bathtub untuk mandi. Ketahui, karakter dari banthtub jika bersentuhan dengan air dan sabun akan bisa sangat licin. Jika anda tidak berhati-hati, si kecil bisa saja tergelincir atau terggelam atau mungkin kepala dan tubuhnya tersentak ke bathtub.

Bukan hanya itu, perhatikan pula jika anda menggunakan shower panas dan dingin. Jangan sampai, tanpa sepengetahuan anda si kecil memainkan air keran dan mengeluarkan air panas dari dalamnya. Untuk mencegah hal ini, anda bisa memasang regulator pengatur air panas agar anak tidak cedera karena air panas yang digunakan.

5. Lemari Laci

Si kecil yang begitu aktif dengan berlarian kesana kemari akan dapat membahayakan keselamatannya jika anda tak berhati-hati. Apalagi jika di rumah terdapat lemari laci yang bisa ditutup dan dibuka dengan mudah. Ketika si kecil bermain dengan lemari ini bisa jadi mereka terjepit atau bahkan rel dari laci yang jangkauannya tinggi bisa jadi mengenai kepala si kecil. Untuk itu, pastikan jika anda selalu mengunci lemari laci saat setelah digunakan. Hal ini tentu saja untuk menghindari dimainkan oleh si buah hati dan menghindari ceder yang mungkin dialaminya.

6. Pintu Garasi Elektronik

Kontruksi rumah-rumah modern saat ini memungkinkan pemiliknya memiliki pintu garasi eletronik yang bekerja secara otomatis. Berbeda dengan jaman dulu, ketika anda akan menutup atau membuka pintu garasi akan terdengar bunyi yang keras dan diperlukan usaha keras untuk melakukannya. Dengan menggunakan pintu garasi elektronik, anda hanya perlu menekan tombol dan dengan mudah pintu akan terbuka dan tertutup dengan otomatis.

Memang mudah dan lebih praktis menggunakan fasilitas ini. Akan tetapi, jika anda tidak berhati-hati. Alat yang satu ini bisa sangat berbahaya untuk si buah hati. Balita anda yang baru bisa merangkak atau belajar berjalan dan mendekati alat ini kemudian menjangkau tombol yang bisa mengontrol pintu, maka bukan tidak mungkin si kecil akan terjepit dan cedera.

Untuk itulah, sebaiknya buat tuas atau tombol pengontrol pintu ini dengan jangkauan yang tinggi agar sebisa mungkin tidak bisa dicapai oleh si buah hati.

Mengasuh buah hati dirumah adalah kegiatan yang menyenangkan. Akan tetapi, terkadang ada saja beberapa barang dan property yang bisa membahayakan si buah hati. Untuk itulah, mencegah dan memperhatikan segala kemungkinan buruk adalah awal yang baik untuk menghindari resiko yang bisa terjadi pada si buah hati.

Ketahui Dampak Buruk Sering Marahi Anak di Depan Umum

Diberkahi dengan buah hati dalam keluarga kecil yang kita miliki adalah anugerah besar yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita.

Apalagi, jika keinginan ini sudah kita nantikan sejak dulu, namun baru saat ini Tuhan mendengar doa kita dan mengabulkan mimpi kita menimang buah cinta kita bersama dengan pasangan.

Ketika si anak baru lahir, melihat lugu wajahnya, polos matanya dan mungil tubuhnya, membuat kita begitu terpukau dan tersentuh sehingga rasa cinta kita kepada si buah hati teramat sangat besar. Berlanjut ke masa dimana si buah hati sudah bisa berjalan dan baru bisa melapalkan beberapa kosakata, rasa senang kita tak terbendung dan mengharapkan si anak segera besar agar kemampuannya semakin terasah dan tergali. Kemudian, si anak sudah mulai bisa berlarian kesana-kemari, ia pun kini sudah mulai bisa mengungkapkan rasa senang, sedih, kecewa bahkan kekesalannya terhadap kita. Salah sedikit saja, orangtua akan langsung dihadapkan pada kekesalan anak.

ketahui dampak buruk marahi anak depan umum

Perilaku yang ditunjukan oleh si buah hati pun beragam. Ada anak yang menunjukan kekesalannya dengan ngambek kecil dan adapula anak lain yang menunjukan sikap ini dengan amarah dan tangisan keras yang akan membuat bunda kewalahan menghadapi sikapnya ini. Alhasil, bunda akan dibuat pusing dan merindukan akan si buah hati ketika masih kecil dimana ia akan menurut dan tidak melakukan pemberontakan apapun pada sikap yang bunda berikan. Bahkan kini, rasanya si kecil yang dulunya lugu telah berubah menjadi begitu nakal dan tak terkendali.

Tak jarang si kecil bisa berlarian kesana-kemari, berteriak, mengamuk atau bahkan menjahili anak-anak lainnya. Tak tanggung pula, aksinya ini mereka lakukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, saat perilaku bandelnya "kambuh", ia akan membuat masalah dan onar.

Nah, jika sudah begini apa mau dikata, tak jarang bunda pun akan dibuat malu, kesal dan merasa tak enak hati dengan orangtua temannya si anak yang dijahili. Alhasil, bunda akan cenderung dengan spontan memarahi si buah hati saat itu juga. Tak peduli berada di tempat umum, maupun dihadapan teman-temannya, amarah yang membendung dalam benak bunda akan bunda luapkan dalam waktu itu pula.

Lantas, sudah tepatkah sikap kita yang demikian? Apakah dengan begini si anak akan menurut? Tergantung.

Pribadi setiap anak berbeda-beda, ada anak yang akan langsung terdiam dan menyadari kesalahannya ketika dimarahi oleh orangtuanya dihadapan umum. Namun, adapula sebagian diantara anak-anak yang justru malah akan merasa kesal dan benci pada perilaku orangtuanya. Alhasil bukan menyelesaikan masalah, hal ini malah akan semakin membuat si anak melakukan tindakan tersebut dengan lebih parah lagi.

Selain itu, memaharahi anak didepan umum dengan melontarkan kata-kata kasar atau bahkan ancaman pada si anak saat teman-teman lainnya menyaksikan, akan berpengaruh buruk untuk perkembangan mental dan kejiwaannya. Untuk itulah, seberapa kesal dan besarnya amarah kita terhadap si buah hati sebaiknya hindari meluapkan amarah seketika dihari dan tempat yang bersamaan padanya.

Nah, berikut ini ada beberapa dampak buruk yang akan dialami oleh si kecil ketika anda memarahinya di depan umum. Yuk, kita langsung simak beberap halnya berikut ini.

1. Perasaan Minder Pada Diri Si Anak

Ketika anda mendapati si anak berulah dihadapan umum anda lantas melontarkan kata-kata kasar dan melakukan tindakan fisik pada si anak dengan menjewer atau memukulnya, tentu saja ini akan berdampak buruk untuk psikologis si anak. Meski masih berusia sangat kecil, akan tetapi sama halnya seperti orang dewasa anak-anak sudah memiliki rasa malu jika semua orang-orang yang ada disekitarnya tiba-tiba menatapnya saat mereka dimarahi oleh ibu atau ayahnya dimuka umum.

Apalagi untuk anak diusia yang sudah lebih besar, tentunya bukan hanya rasa malu yang akan mereka hadapi, namun juga kekesalan akibat amarah orangtua. Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi rasa percaya diri si anak di kemudian hari, dan juga bukan tidak mungkin hal ini akan dapat mempengaruhi rasa hormat si anak kepada orangtua.

Tentunya tidak ada anak yang suka dimarahi dan dipojokan. Jangankan dihadapan umum, tanpa ada oranglain saja anak-anak tidak akan suka dimarahi oleh orangtuanya.

Lagipula, pada umumnya kebanyakan orangtua yang melakukan hal ini pada anak-anak mereka dihadapan umum, bukan dilatar belakangi dengan tujuan agar anak bisa lebih disiplin. Akan tetapi, lebih kepada perasaan malu yang dirasakan oleh orangtua atas orangtua anak lainnya. Ketika anak-anaknya melakukan kesalahan, kebanyak orangtua takut bila dicap sebagai orangtua yang tidak bisa mendidik anak-anaknya.

2. Hilangnya Rasa Hormat Pada Orangtua

Menyambung poin yang diatas, tindakan orangtua yang begitu ekstrim dengan terburu memutuskan untuk memarahi anak-anaknya dihadapan umum akan membuat si anak melahirkan kekesalan dan kebenciannya terhadap orangtua. Hal ini tentu saja, dipengaruhi karena rasa malu pada diri anak yang dikarenakan oleh sikap orangtuanya. Jika anda menganggap hal ini akan dapat mendisiplinkan semua anak, anda keliru. Ingatlah, pribadi dan karakter setiap anak berbeda-beda.

3. Ketakutan Si Anak Untuk Bersosialisasi

Ketika anda melontarkan amarah dan mungkin saja anda secara tak sadar mengungkapkan "Dasar kamu bodoh!". Apa efek yang akan dirasakan si anak dari kemarahan anda tersebut? Betul, si anak akan merasa yakin bahwa dirinya adalah orang yang benar-benar bodoh.

Perhatikan setiap perkataan anda. Memberikan label "bodoh" pada si anak tidak sama sekali mendisiplinkan mereka dan membuat kenakalannya terhenti. Justru sebaliknya, hal ini akan membuat situasi semakin buruk.

Menghakimi anak dengan berbagai predikat tentu berdampak negatif untuk perkembangan dan pergaulan anak nantinya. Bahkan saat ia beranjak dewasa nanti, bukan tidak mungkin, anggapan bodoh ini akan terus melekat dalam diri anak, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi kehilangan rasa percaya dirinya dan takut untuk bisa bersosialisasi dengan oranglain.

Ketika Amarah Memuncak dan Ingin Memarahi Anak, Ingat Kembali Hal ini

Anak adalah pribadi yang polos dan masih belum mengerti banyak hal. Terkadang mereka melakukan hal tersebut tanpa tahu makna sebenarnya bahwa perbuatan tersebut adalah hal yang merugikan dirinya dan oranglain. Selain itu, anak adalah anugerah besar yang Tuhan titipkan dalam kehidupan kita. Yang mana sudah seharusnya dan semestinya kita menjaga, mendidik dan melindungi buah hati kita dengan tulus.

Bayangkan dengan orangtua lain yang mungkin saat ini tengah mengerahkan segala upaya dan usahanya untuk bisa memiliki anak. Untuk anda yang sudah diberkahi dan dianugerahi dengan buah cinta adalah tugas anda untuk membesarkan mendidik dan mencintai mereka dengan tanpa syarat.

Memang terkadang perilaku anak bisa sangat menyebalkan dan membuat kita kesal. Akan tetapi dengan rasa sabar yang tinggi dan kecintaan kita terhadap si anak akan dapat mengalahkan rasa kesal kita pada mereka. Selain itu, terimalah kondisi anak apa adanya, jangan pernah bandingkan mereka dengan oranglain. Karena sebaik-baiknya anak oranglain, tetap saja yang anda miliki adalah anak anda saat ini.

Kekesalan anda terhadap perilaku anak yang mereka lakukan didepan oranglain, terkadang membuat anda kesal dan malu. Namun tidak bijak pula melimpahkan kekesalan tersebut di muka umum sebab hal tersebut akan berdampak buruk untuk perkembangan psikologis si anak. Semoga beberapa hal diatas bisa mencegah anda memarahi buah hati di hadapan oranglain.  

Marah Pada Anak Tidak Selesaikan Masalah! Ibu Bijak Tahu Cara Mengatasinya

Saat ini kita hidup di era yang serab sulit.

Yang mana, tekanan semakin besar dan terus saja bertambah dari hari ke hari. Mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, kemacetan yang tidak ada habisnya, bos yang pelit dan masih banyak lagi. Tekanan yang besar pada diri kita seolah memancing amarah semakin besar, pada akhirnya mood dalam diri menjadi begitu tak terkendali dengan amarah yang sering kali meledak. Belum lagi saat pulang kerumah dan melakukan tugas dan kewajiban sebagai orangtua.

Perilaku anak-anak yang sulit diatur dan tak bisa dinasihati, terkadang bisa saja membuat amarah kita terpancing dan terluapkan dengan begitu saja. Ya, dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada saja hal-hal yang membuat kita sebagai orangtua dibuat stres dan frustasi. Di tengah-tengah kondisi yang memusingkan itu, muncul masalah dari si anak, mulai dari kehilangan kaus kakinya, atau mungkin teringat untuk membeli buku pelajaran yang diminta oleh si anak, sementara waktu yang dimiliki mendesak, atau mungkin juga si adik dan si kakak yang terus terjebak dalam pertengkaran sehingga akhirnya membuat amarah kita meledak.

marah pada anak tak selesaikan masalah

Nah, saat menghadapi masalah seperti ini, ketika jiwa kita sedang tenang, tentunya kita akan dapat mengendalikan amarah dan menghadapi si anak dengan lebih baik. Akan tetapi, kondisi beban pikiran yang begitu banyak, serta tekanan yang datang dari berbagai pihak membuat kita stres dan tak jarang kita pun seringkali membenarkan untuk melampiaskan amarah pada anak, terutama saat anak menjadi bagian dari sumber tekanan tersebut.

Lantas demikian, adilkah sikap kita menjadikan anak-anak sebagai sasaran empuk rasa kesal dan amarah yang kita rasakan saat mereka melakukan beberapa kesalahan yang sebenarnya tidak terlalu besar?

Walaupun perilaku si anak seringkali membuat kita begitu kesal, akan tetapi sesungguhnya bukanlah hal itu yang menjadi sumber amarah anda bisa meledak dan mencapai puncaknya. Ketika anda melihat si anak berperilaku tertentu seperti misalkan ia menykiti adiknya dan anda lantas menyimpulkan bahwa si anak nantinya akan menjadi seorang psikopat dan lantas kesimpulan tersebut membawa anda pada kesimpulan berikutnya bahwa anda telah gagal menjadi orangtua adalah hal yang tidak seharusnya anda pikirkan.

Pemikian semacam ini akan dapat memicu serangkaian emosi seperti rasa takut dan perasaan bersalah dalam diri anda, Ketika anda tak mampu menampung perasaan ini dengan baik, maka cara yang akhirnya akan dipilih adalah melampiaskan kekesalan tersebut pada anak.

Sadarilah, seluruh proses psikologis tersebut hanya memakan proses beberapa detik saja. Akan tetapi, hasil yang ditimbulkan pada amarah anda memberikan pengaruh yang besar yang akhirnya membuat anda meledak dan memaki si buah hati. Mungkin memang benar, si anak membuat anda kesal dan menguji kesabaran anda, namun pahami bukan anak penyebab munculnya respon kemarah anda.

Adapun cara mengatasi sebuah masalah adalah berasal dari apa yang sudah kita pelajari sebelumnya. Cobalah berkaca dari apa yang sudah anda alami dari orangtua anda terdahulu. Ketika anda masih kanak-kanak, orangtua anda mungkin akan melakukan hal yang sama ketika anda melakukan kesalahan dengan memaki dan memarahi anda. Akan tetapi, jelas anda rasakan bahwa hal tersebut sudah membuat anda mengalami "luka" psikologis akibat kesalahan dalam pola asuh yang diberikan oleh orantua anda saat anda masih kanak-kanak. Untuk itu, tidak bijak jika anda mengulang kesalahan yang sama terhadap buah hati anda saat ini.

Mengapa Kita Bisa Marah Terhadap Si Buah Hati?

Orangtua dengan anak memiliki hubungan yang begitu unik, dimana keduanya akan dapat saling memicu amarah bahkan karena hal-hal yang sepele. Sebagai orang dewasa, tak jarang kita akan dapat bertindak irasional saat sudah berhadapan dengan anak-anak. Dan bahkan kita pun bisa bertingkah begitu kenak-kanakan mengadapi mereka. Begitu pula sebaliknya dengan anak anda. Mungkin memang benar, buah hati anda bisa sangat menyebalkan dan begitu menguji kesabaran anda, akan tetapi sadari bahwa mereka adalah buah cinta anda yang begitu anda sayangi.

Seorang psikolog menyebutkan bahwa kondisi diatas adalah fenomena yang juga dikenal dengan sebutan "ghosts in the nusery", yaki keadaan dimana si anak bisa membangkitkan perasaan marah yang terpendam dari masa kanak-kanak orangtuanya. Dan hal ini secara tIdak sadar memBuat orangtua menujukan respon sedemikian rupa untuk "melawan" kemarahan tersebut.

Amarah dan rasa takut dari masa kanak-kanak ini sedemikian kuatnya membuat si orangtua mendapatkan tantangan tersendiri untuk bisa melupakannya. Nah, dengan memahami semua hal ini, maka akan dapat membantu orangtua untuk mengendalikan amarahnya. Dengan memahami bahwa kemarah dari orangtua bisa sangat "melukai" psikologis anak-anaknya, maka akan dapt membantu anda mengendalikan emosi anda pada mereka.

Cara Mengatasi Amarah Kepada Si Anak

1. Sadari Betul Akibat yang Akan Ditimbulkan

Ketika si anak terus membangkan dengan nasihat yang anda berikan pada mereka, maka mundurlah sejenak dari "pertarungan" yang anda hadapi bersama dengan si anak. Ambil langkah ke luar rumah atau menjauh dari si anak, tarik nafas dalam-dalam dan usahakan untuk memfokuskan diri pada bagaimana meredam amarah anda yang akan meledak.

Sadari betul dampak dan akibat yang akan ditimbulkan jika amarah anda meledak pada si kecil. Pada intinya jangan pernah terpengaruh dengan rengekan atau tangisan si buah hati yang akan membuat amarah anda semakin parah. Ingat kembali bahwa mereka adalah buah cinta anda yang sudah seharusnya anda lindungi.

Jika anda sudah merasa lebih tenang, maka barulah anda bisa kembali keluar dan bicarakan kembali bersama dengan si buah hati.

2. Temukan Alasan Amarah Anda

Ketika muncul kekesalan dan amarah dalam hati, segera ambil waktu anda untuk mencari alasan penyebab anda marah saat ini. Terkadang, saat seseorang merasa tertekan dengan pekerjaannya di tempat kerjanya, membuat mereka lebih mudah bergejolak dan pada akhirnya mereka akan melepaskan stres dan depresi yang dirasakannya pada si buah hati.

3. Minta Bantuan Oranglain

Umumnya, seseorang akan merasa lebih tertekan dan akan mudah marah saat mereka tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Dalam hal ini misalkan, seorang ibu pekerja yang lelah bekerja di kantor dan belum mendapatkan istirahat sementara dirumah mereka memiliki balita berusia 3 tahun yang seringkali rewel.

Dengan demikian, untuk menghindari amarah anda meledak pada si buah hati, jangan ragu untuk meminta bantuan oranglain seperti ibu anda, adik anda atau mungkin tetangga yang memiliki waktu luang untuk mengasuh si buah hati dirumah anda. Akan tetapi, jangan pernah menitipkan buah hati anda pada anak-anak yang masih kecil. Hal ini tentu saja akan membuat keselamatan si buah hati beresiko.

4. Refreshing

Keadaan stres, beban pikiran dan tekanan adalah beberapa sumber yang akan membuat amarah mudah meledak. Saat anda terlalu sibuk bekerja di tempat kerja atau di rumah, mungkin anda butuh refreshing atau rehat sebentar. Dalam hal ini, liburan yang bisa anda dapatkan tidak usah berbentuk liburan mahal dengan mengunjungi tempat-tempat mewah. Dengan duduk rileks di tempat yang berbau alam dengan pepohonan rindang, udara yang segar akan membuat anda merasa lebih rileks dan lebih tenang sehingga amarah akan bisa diredam.

Tidak bijak tentunya saat tekanan dan stress menyerang dalam diri dan membuat kita melampiaskan kekesalan pada kesalahan kecil yang dilakukan oleh anak. Untuk itulah, beberapa hal diatas diharapkan mampu membantu anda temukan solusi mengatasi amarah anda.

Tips Mempersiapkan Hari Pertama Anak Sekolah

Saat usia anak sudah cukup untuk memasuki usia pendidikan, sudah saatnya orangtua mengirim mereka ke sekolah untuk medapatkan pendidikan dan mendapatkan bimbingan agar bakat dan kemampuan si kecil bisa dikembangkan dengan baik.

Hari pertama anak masuk sekolah adalah momen berharga yang sebagian dari anak-anak akan menjalanai momen ini dengan lancar, tanpa halangan dan berjalan baik-baik saja. Akan tetapi, tidak semua anak merasakan hal serupa dengan anak-anak lainnya. Momen hari pertama masuk ke sekolah bisa menjadi momen yang mendebarkan untuk si buah hati. Tak jarang, hal ini pun akan membuat si orangtua, khusunya ibu akan sedikit cemas dengan kondisi si anak. Hal ini mungkin wajar dirasakan oleh oragtua, pasalnya selama ini si anak pergi kemana-mana selalu ditemani oleh sang ibu dan sekarang si anak harus terspisah untuk sementara waktu karena harus belajar bersama dengan gurunya.

tips mempersiapkan hari pertama anak sekolah

Akan tetapi, kecemasan pada orangtua ini tidak bisa dibiarkan demikian saja. Diperlukan usaha untuk segera mencari solusi untuk mengatasi kecemasan sebelum anak masuk sekolah di hari pertamanya. Selain itu, perasaan cemas pada anak pun perlu ibu redakan agar anak merasa lebih siap untuk pergi ke sekolah.

Mungkin saat ini ibu sedang membayangkan bagaimana si buah hati menghadapi hari pertama di sekolahnya. Kemarin-kemarin, si anak masih terlihat bermanja-manjaan dengan ibu dan masih merengek tak ingin jauh dari anda, makan masih disuapi, masih sering digendong dan lain sebagainya. ( Baca juga: Nama Anak Laki-Laki )

Akan tetapi, sekarang, tak terasa waktu berjalan seolah begitu cepat. Si buah hati sudah masuk sekolah dan akan disibukkan dengan kegiatan belajarnya disekolah, yang mana hal ini tentunya akan menuntutnya untuk bisa mandiri saat mereka tak bersama dengan anda. Akan tetapi, kekhawatiran yang seringkali muncul dalam benak kita adalah akankah si kecil bisa mandiri di sekolahnya?

Memang benar, tak jarang saat anak pertama kali masuk sekolah, mereka akan meminta anda untuk terus menjaga dan menunggui mereka hingga mereka pulang sekolah nanti. Si ibu harus terus stand by didepan kelasnya atau duduk termenung di kantin sekolah demi untuk menunggu buah hatinya selesai sekolah.

Hal ini tentu saja wajar, pasalnya di hari pertamanya masuk sekolah anak-anak masih merasa asing dengan lingkungan dan orang-orang baru yang mereka jumpai. Umumnya, si anak akan merasa belum memiliki keberanian sepenuh hati untuk jauh dari orangtunya. Anak juga terkadang merasa cemas saat harus memulai mengenal anak-anak lainnya atau bahkan meminta tolong guru di sekolahnya saat ia butuh bantuan, ada pula anak-anak yang merasa takut, bahkan pemalu. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada kesiapannya menghadapi hari pertamanya masuk sekolah.

Selain itu, orangtua umumnya akan merasa tak tega jika harus membiarkan dan melepaskan anak-anaknya demikian saja. Mereka kadang berpikir takut jika sesuatu terjadi pada anaknya, takut ada anak nakal yang menyakitinya, takut si anak rewel atau kesepian dan lain sebagainya.

Padahal, tidak semua sekolah, yakni preschool yang membolehkan orangtua untuk menunggui anaknya terus-terusan. Hal ini tentunya dimaksudkan agar si anak bisa terbiasa untuk mandiri saat jauh dari orangtuanya.

Dengan demikianlah, orangtua perlu mempersiapkan anak-anaknya sebelum menghadapi hari pertamanya masuk sekolah. Agar kecemasan ibu bisa diatasi dan si anak akan merasa lebih siap dengan harinya besok. Nah, lantas apa sajakah si persiapan itu, mari kita simak beberapa hal berikut ini.

1. Latih Kemandirian Si Buah Hati

Melatih kemandirian anak sebelum mereka berangkat dan menghadapi hari pertamanya masuk sekolah adalah hal yang penting. Hal ini dikarenakan, saat anak masuk sekolah mereka akan jauh dari orangtuanya, termasuk ibunya yang setiap hari selalu bersama dengan si anak.

Tentu anak harus belajar bagaimana melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orangtua, seperti saat hendak kencing, mengenakan sepatu, memasukan buku kedalam tas dan masih banyak lagi. Dengan demikian, pelajaran ini pun harus bisa dicontohkan pada si kecil saat mereka ada dirumah.

Ajarkan si anak untuk belajar bagaimana menggunakan toilet sendiri, mintalah mereka untuk memasukan peralatan sekolahnya dalam tas atau minta anak makan sendiri. Dengan mengajarkan anak beberapa hal ini, perlahan namun pasti ini akan tertanam menjadi kebiasaan sehingga ketika di sekolah si anak tidak akan terus-menerus bergantung pada guru dan teman-temannya.

2. Ajarkan Si Buah Hati Rasa Tanggung Jawab

Untuk mengajari anak rasa tanggung jawab sederhana saja, misalkan ketika anak bermain dengan peralatan mainannya, maka mintalah ia untuk kembali merapihkan mainannya setelah ia selesai bermain. Atau minta anak untuk kembali menutup kamar mandi setelah ia gunakan.

Dengan mengajarkan beberapa hal ini, anak akan dengan otomatis memiliki rasa tanggung jawab atas segala hal yang ia lakukan. Yang mana, hal ini penting mereka terapkan di sekolah. Ketika anak-anak bermain dengan teman-temannya, anak akan lebih mudah untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Dan meskipun ia melakukan hal tersebut, maka si anak akan dapat bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

3. Kenalkan Anak Makna Sekolah

Saat anda meminta anak melakukan sesuatu, anak perlu tahu alasan mengapa mereka harus melakukan hal tersebut. Dengan begini, si anak akan dapat menangkap makna dan maksud dari apa yang anda perintahkan, termasuk saat anda meminta mereka untuk bersekolah.

Beritahukan pada anak akan pentingnya sekolah, fungsi dari anak bersekolah dan apa tujuan dari sekolah itu. Hal ini tentunya, bisa dilakukan ketika anda bersama dengan anak memiliki waktu berdua.

Sampaikan hal ini dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Selain itu, buat anak mendengarkan dan tertarik dengan obrolan ini, agar makna dan tujuan anda bisa didapatkan oleh si anak dengan lebih baik.

4. Mengunjungi Sekolah Sebelumnya

Sebelum si anak benar-benar menghadapi hari pertamanya bersekolah. Akan lebih baik jika ibu membawa serta si buah mengunjungi sekolah. Perlihatkan pada anak ruangan-ruangan sekolah dan tempat bermainnya. Hal ini akan memudahkan si anak untuk bisa terbiasa dengan lingkungannya yang baru.

Dalam hal ini, anda bisa membawa serta buah hati anda mengunjungi sekolahnya saat anda harus melakukan registrasi atau pendaftaran ke sekolah sembari memperkenalkan si buah hati dengan lingkungan belajarnya nanti.

5. Perkenalkan Anak Pada Calon Gurunya

Terkadang, sosok seorang guru bisa jadi sosok yang menyeramkan untuk si anak. Hal ini biasanya mereka pelajari dari lingkungan teman-teman yang usianya lebih tua dari si anak, dimana teman-temannya tersebut sudah bersekolah dan seringkali menceritakan tentang sekolah dan bagaimana sikap guru yang galak. Selain itu, umumnya adaptasi anak-anak dari tayangan televisi seolah membuat predikat seorang guru menjadi begitu buruk dibenak si anak.

Nah, untuk menepis segala ketakutan dan kecemaan ini dalam diri anak, maka tidak ada salahnya kenalkan si anak terlebih dahulu pada calon gurunya. Ketika si anak melihat calon gurunya adalah sosok yang ramah, maka segala ketakutan tersebut bisa mereka hilangkan.

Anak-anak yang akan menghadapi hari pertama masuk sekolah seringkali membuat orangtua merasa cemas. Selain itu, kecemasan yang sama pun akan mungkin dihadapi oleh si anak. Untuk itu, atasi segala kecemasan ini dengan mempersiapkan mental dan fisik si anak dengan cara di atas. Semoga tips ini bermanfaat.

Sebelum Mendaftarkan Anak Pendidikan Usia Dini, Berikut Tips Persiapan yang Bisa Dilakukan

Bunda, si kecil sudah semakin besar ya sekarang.

Duh..duh...duh... ia juga sekarang sudah semakin cerewet serta rasa ingin tahunya menjadi sangat besar. Melihat teman-temannya yang berusia lebih besar darinya sudah bersekolah, kini ia pun seringkali merengek ingin ikut sekolah. Alasannya pun beragam dari mulai sudah adanya minat dan ketertarikannya dalam diri si kecil atau mungkin karena si buah hati seringkali merasa kesepian saat teman-temannya yang lain pergi ke sekolah. Nah, demikian tidak ada salahnya jika ditahun ajaran baru ini bunda memasukannya ke playgroup.

Continue Reading

Tips Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif Bersama dengan Buah Hati

Dikaruniai dengan keluarga yang utuh dan bahagia, tentu menjadi dambaan untuk setiap orang yang sudah menikah dan berkeluarga.

Betapa tidak, keluarga yang harmonis dan saling memahami serta saling mencintai satu sama lain didalamnya akan menumbuhkan kebahagiaan dan membuat siapa saja merasa betah tinggal dan berada dirumah. Rasanya, fungsi dari rumahku istanaku akan bisa didapatkan dari keluarga yang seperti ini.

Continue Reading

Ketahui Beberapa Cara Ungkapan Sayang dan Cinta Buah Hati Pada Anda

Memiliki buah hati ditengah-tengah keluarga tercinta yang begitu anda banggakan, tentu menjadi kebahagian yang besar.

Apalagi kehadiran si buah hati ini adalah doa panjang yang lewat perjuangan keras baru saja anda dapatkan. Tentu saja, cinta anda kepada si buah hati akanlah sangat besar. Tak heran jika anda akan begitu sangat memperhatikan dan mengawasi si buah hati dengan sangat seksama. Cinta yang begitu besar kepada si buah hati inilah yang membuat anda akan merasa khawatir jika si kecil berada dalam bahaya atau ada suatu hal yang bisa mengancam keselamatannya.

Continue Reading

Saat Anak Mengeluh Sakit dan Tak Mau Sekolah Apa yang Harus Dilakukan?

Bunda, pernahkah anda mendapati si buah hati mengeluhkan sakit kepala dan lantas menganjurkan diri agar ia tak masuk sekolah?

Atau barangkali, saat bunda tengah menyiapkan sarapan di dapur tiba-tiba si kecil merengek menghampiri dan mengeluhkan perutnya sakit dan manyatakan tak ingin pergi ke sekolah? Nah, setelah mendengar keluhan ini, lantas biasanya seperti apa sih respon bunda di rumah?

Ya, tidak sedikit anak-anak yang seringkali mencoba mencari alasan dengan menggali berbagai macam trik agar mereka bisa melewatkan pergi ke sekolah. Jangankan untuk alasan tertentu, untuk disuruh pergi ke sekolah saja, tiap pagi bunda seringkali dibuat kesusahan saat harus membangunkan si buah hati.

Berbagai alasan diungkapkannya supaya orangtua bisa memakluminya untuk tidak pergi ke sekolah. Ada yang menyatakan sakit seperti diatas, atau bahkan tiba-tiba si anak menunjukan sikap kepayahan disertai dengan batuk-batuk ringan. Dari sikap ini, tak jarang, ibu pun memakluminya untuk sekali waktu. Namun, bagaimana jika ternyata setelah alasan ini, esok hari dan seterusnya si anak masih tidak ingin pergi ke sekolah? Bahkan sampai menggali lebih banyak alasan agar bunda bisa mengizinkan mereka untuk tetap dirumah dan tidak pergi ke sekolah. Nah, tentu saja bunda harus bisa mengetahui dengan pasti apa sih penyebab sebenarnya yang membuat si anak tak ingin pergi ke sekolah.

ketika anak tak mau sekolah

Sikap si anak yang tiba-tiba tak ingin bersekolah ini, umumnya bisa datang kapan saja dan terjadi pada berbagai rentang usia, yakni pada anak-anak masih balita, usia TK, di bangku preschool atau bahkan saat anak sudah masuk di bangku Sekolah Dasar yang mana seharusnya mereka mulai terbiasa dengan rutinitas sekolahnya setiap hari. Akan tetepi, bersikap memanjakan anak dengan menuruti keinginannya untuk tidak masuk sekolah, tentunya bukanlah sikap yang bijak dilakukan oleh seorang orangtua. Namun disamping itu juga, memarahi anak yang tidak ingin pergi ke sekolah dan lantas memaksanya untuk tetap pergi tanpa diketahui sebab pasti dari alasan tersebut, bukan pula tindakan yang bijak dan tak lantas membuat membuat anak langsung menurut. Tak ayal, hal ini seringkali membuat para orangtua kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi buah hatinya.

Namun, tahukah bunda, kondisi anak yang tak mau bersekolah ini umumnya bisa disebabkan oleh berbagai alasan dan latar belakang. Penyebabnya bisa jadi dipicu dari faktor internal atau diri sendiri dan faktor eksternal atau dari faktor luar, seperti oranglain. Nah, jika penyebabnya berasal dari faktor internal atau dirinya sendiri alasan yang dituai biasanya seputar, sakit perut, saki kepala, malas atau bahkan si anak yang kelelahan. Sementara itu, jika faktor eksternal bisa jadi dari lingkungannya seperti dijauhi teman, pelajaran sekolah yang sulit dipahaminya, guru yang tidak disenanginya dan masih banyak lagi.

Namun demikian, agar alasan yang dituai bisa diketahui dengan pasti serta ibu bisa menentukan sikap apa yang harus dilakukan untuk menghadapi anak-anak yang mengeluh sakit dan tak mau pergi kesekolah, berikut ini beberapa tips penting yang bisa dipelajari.

1. Lakukan Pemeriksaan Manual Jika Anak Mengeluh Sakit

Ketika anak anda mengeluhkan sakit di pagi hari saat anda meminta anak untuk pergi sekolah. Memang seringkali hal ini membuat orangtua bingung harus menghadapinya. Untuk itulah, ketika anak mengeluh sakit, untuk memastikan alasannya masuk akal dan benar, lakukan pemeriksaan secra manual. Seperti misalkan, ketika anak mengeluh lemas dan kepalanya panas, maka anda bisa langsung memegang kepalanya dan melihat gejala-gejala lain yang mungkin menunjuk pada sakit yang sesungguhnya. Dari sini, anda bisa melihat dan menentukan apakah alasannya tersebut benar atau hanyalah alasan yang ia buat semata karena dirinya malas untuk pergi ke sekolah.

2. Lakukan Konfirmasi dengan Pihak Sekolah

Hal ini penting sekali, tentunya bisa dilakukan setelah anda mengetahui bahwa anak hanya mengungkapkan alasan saja. Tanyakan pada pihak sekolah, baik datang secara langsung maupun lewat telepon jika anda merasa tak bisa datang ke sekolah. Anda bisa menanyakan pada wali kelasnya dan memastikan jika anak tidak memiliki masalah di sekolahnya baik dengan teman-temannya atau dengan guru.

Selain itu, pastikan bahwa tidak ada ulangan atau tes tertentu yang ingin dihindari oleh si anak. Beberapa alasan menyangkut test dan pelajaran yang diberikan dari sekolah bisa jadi membuat si anak malas dan enggan untuk pergi ke sekolah, untuk itulah pastikan jika anda mengetahui dengan pasti alasan ia tak ingin pergi ke seklah.

3. Berikan Tawaran Untuk Memanggilkan Dokter

Biasanya anak-anak yang menjadikan sakit sebagai alasan belaka agar mereka tak pergi ke sekolah, akan cenderung melakukan penolakan saat dihadapkan pada dokter, hal ini tentunya lebih kentara dibandingkan dengan anak yang benar-benar sakit. Dari sini tentunya anda akan dapat menentukan jika anak anda benar-benar sakit atau hanya beralasan.

4. Tindakan Ketika Anak Benar-Benar Sakit

Bukan tidak mungkin alasan yang diberikan si anak adalah kebenaran. Nah, jika anda mendapati si buah hati benar-benar sakit, maka segera berikan informai ke sekolahnya bahwa si kecil tidak dapat mengikut pelajaran. Biasanya anda bisa langsung menghubungi pihak sekolah via telepon atau melalui surat. Dan setelah itu, bawa segera si kecil ke dokter untuk mendapatkan perhatian medis. Penanganan yang lebih cepat tentunya akan mampu membuat segala kemungkinan buruk teratasi.

5. Bicara dengan Si Buah Hati

Saat ini mungkin memang si anak sakit sungguhan, namun disaat bersamaan bisa jadi ia pun menghadapi masalah di sekolahnya. Nah, dari sinilah anda bisa melakukan pendekatan bersama dengan si buah hati.

Bicarakan dan ajak mereka untuk mencurahkan keluhannya. Buat anak jangan sungkan dan jangan takut untuk membicarakan semuanya bersama dengan anda. Ketika anda mendapati anak-anak bermasalah dengan teman-temannya, maka ingatkan anak untuk mau mengalah dan meminta maaf. Jika anda mendapati anak tak suka dengan salah satu guru mata pelajaran, maka berikan pengertian pada anak, perlahan namun pasti anak untuk perlahan lebih terbuka. Bisa jadi, ketidak sukaan anak pada mata pelajaran tersebut dikarenakan sifat guru yang galak atau bahkan menyebalkan. Dari sini minta anak untuk lebih bersabar dan menghindari segala kemungkinan masalah yang akan terjadi.

Anak-anak yang malas untuk pergi ke sekolah memang akan memberikan banyak alasan, mulai dari sakit, malas dan lain sebagainya. Akan tetapi, ketika anak mengeluh dan merengek biasanya bunda dibuat bingung menentukan sikap si anak apakah alasan tersebut ebnar atau tidak. Nah, untuk itulah beberapa hal diatas diharapkan bisa membantu bunda dalam menghadapi anak-anak yang mengeluh sakit dan tak mau pergi ke sekolah. Semoga tips ini bermanfaat bagi bunda dalam menjaga dan menghadapi si kecil.

Bantu dan Ajarkan Balita Atasi Masalahnya Sendiri

Ketika anak bertengkar bersama dengan teman-temannya dan anda mendapati mereka saling marah dan menjauhi satu sama lain.

Maka sebaiknya jangan terburu-buru untuk menghampiri anak dan menanyakan apa yang terjadi, lalu setelah itu melerai permasalahan antar keduanya.

Ya, seringkali sebagai orangtua dari anak balita, kita seringkali dibuat khawatir saat anak-anak terjebak pertentangan dan adu argumentasi, pada akhirnya anda akan langsung menyelesaikan masalahnya dan melerai pertengkaran tersebut dengan alasan anak-anak yang masih begitu kecil belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan beberapa mengatakan bahwa jangankan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, untuk mengurus dirinya sendiri saja anak-anak belum mampu.

ajarkan balita atasi masalahnya sendiri

Namun siapa bilang demikian? Ketika anak besar kelak, mereka dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah sendiri bukan? Nah, untuk itulah tidak ada salahnya jika hal tersebut diajarkan sejak mereka usia dini. Bukankah pengajaran sejak dini akan jauh lebih berguna dibandingkan saat mereka sudah besar kelak? Untuk itulah, saat anda sudah melihat anak-anak sudah memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengalirkan keinginannya, maka tidak ada salahnya melatih dan membantu mereka untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri.

Ketika anda sudah cukup bijaksana untuk mengatasi masalahnya sendiri, anda tentu akan merasa senang. Bukan saja itu, anak anda pun akan belajar berbagai hal seperti bagaimana untuk dapat tetap tenang, berpikir rasional ketika ada masalah dan bahkan bisa menjadi "wasit" ketika menghadapi teman-temannya bertengkar. Dengan demikian, saat anak dibekali dengan kemampuan ini, maka akan lebih tenang bagi anda melepaskan mereka dilingkungan seikitarnya, khususnya lingkungannya bermain.

Untuk itulah, ketika anda bertengkar bersama dengan teman-temannya, jangan lantas terburu menghampiri anak dan menghakiminya. Tidak selamanya pertengkaran ini membawa dampak buruk kok, sebaliknya hal ini bisa dijadikan kesempatan untuk anak untuk belajar bagaimana mengatasi masalahnya sendiri. Hanya saja, pengawasan anda dari anak-anak tentunya tidak boleh lengah, apalagi ketika anak mulai terlihat memanas. Anda perlu sesekali menjadi jembatan anak balita anda agar mereka bisa mengarahkan kekesalannya menjadi sebuah perdamaian yang diharapkan seiring dengan berjalannya waktu kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah bisa menjadi lebih baik.

Anak-anak yang dibekali dengan kemampuan menyelesaikan masalah saat mereka dewasa kelak akan tentu saja melahirkan sikap yang tenang, lebih sabar dan membuat mereka mudah diterima dengan lingkungannya. Selain itu, anak-anak dengan kemampuan ini akan tumbuh menjadi seseorang yang bersahaja dengan tidak senang mendekati sumber masalah dan permasalahan.

Anak-anak yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah tentunya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, yang mana tentunya hal ini akan membuat anda merasa senang memiliki anak yang demikian bukan? Untuk itu, yuk bantu dan dukung anak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

1. Bantu Anak Identifikasi Masalahnya

Langkah pertama yang penting diberikan pada anak anda adalah dengan membantu anak mengidentifikasi masalahnya sendiri. Hal ini adalah hal penting yang perlu dilakukan pertama, dengan mengetahui masalah yang sesungguhnya anda akan dapat membantu anak untuk menentukan hal yang selanjutnya bisa ia lakukan. Misalkan ketika anak bertengkar dengan temannya, minta anak untuk duduk bersabar dan tanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, jika masalahnya dipicu karena salah paham, maka anda bisa meminta anak untuk kembali bersama dengan teman-temannya dan bermain bersama kembali.

2. Usahakan Untuk Tidak Ikut Campur

Ketika anak menengahi pertengkaran teman-temannya. Maka, coba hargai pendapat anak dan berikan mereka kepercayaan bahwa ia akan dapat menemukan solusinya. Berikan anak anda waktu untuk dapat menengahinya. Meski tak jarang hal ini akan membuat ia berlari dan meminta bantuan orang dewasa untuk dapat menyelesaikan konflik, akan tetapi tetap berikan ruang dan kepercayaan.

Ketika anda datang menghampiri anda untuk meminta bantuan agar bisa menengahi pertengkaran temannya, cobalah ajukan beberapa pertanyaan padanya. Dengan begini, umumnya anak-anak akan dapat menerima solusi yang diusulkan oleh orang dewasa. "Kalo kata ibu sih, daripada kalian bertengkar gara-gara ingin satu kelompok, lebih baik bermain bersama-sama sayang."

3. Bantu Si Anak Balita Memiliki Empati

Anak dengan usia 3-4 tahun sudah mulai bisa menunjukan rasa empatinya terhadap oranglain. Jadi, jangan heran ketika ia melihat kucing atau temannya disakiti ia akan menangis atau kesal. Akan tetapi, terkadang juga masih muncul sifat egosentrisnya pada si anak. Nah, untuk mengasah kemampuan si anak mengenali perasaan oranglain, maka ajaklah balita anda untuk mengenali bahasa tubuh dan ekspresi yang dimunculkan oleh temannya. Dari sini, anak-anak akan bisa menghindari dan menentukan perbuatannya terhadap oranglain sehingga masalah bisa dihindari.

4. Asah Kemampuan Si Anak Balita

Asah kemampuan balita anda untuk dapat memilah dan milih situasi dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Hal ini tentunya dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi dan menghindari pertengkaran pada si anak yang akan memicu masalah. Seperti misalkan, tanyakan apa yang terjadi, mengapa masalah tersebut terjadi dan lain-lain.

Nah, jika balita anda masih mengalami kesulitan untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan masalah, maka berikan mereka pilihan solusi. Misalkan, tanyakan apakah anak anda ingin meminta temannya bergantian atau meminta permanan lain yang bisa dilakukan berdua. Selain itu, tanyakan pula alasannya mengapa anak anda memilih cara tersebut.

5. Selesaikan Masalah dengan Ajak Balita Anda Berbicara

Berikan pehaman pada balita anda tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang baik. Tidak perlu ada agresi fisik seperti memukul, mencubit atau bahkan mengigit. Penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan dialog.

Cara ini mungkin akan terdengar sulit dilakukan anak balita, aka tetapi balita akan dapat memilih cara penyelesaian solusi ini jika ada dukungan dari orangtua. Anda juga harus mampu memberikan contoh pada mereka bagaimana menghadapi konflik dengan baik.

Berikan contoh pada anak tentang bagaimana mengontrol sikap. Anda juga bisa menyelesaikan masalah yang melibatkan balita anda dengan membawa mereka dan mengajaknya untuk berdiskusi. Cara ini diharapkan bisa ditiru oleh si balita dan diserapnya untuk kemudian bisa ia aplikasikan dalam kehidupan nyatanya.

Meskipun masih kecil dan tumbuh dalam tubuh balita, bukan berarti anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Asal ada usaha dan bantuan serta dorongan dari orangtua untuk melakukannya, maka perlahan namun pasti si balita akan belajar bagaiman caranya menyesaikan sebuah konflik. Memang hasil yang diraih tidak akan sempurna, akan tetapi proses lah yang harus dinilai bukanlah hasil akhirnya. Demikian beberapa cara diatas semoga bisa menjadi panduan dan referensi untuk anda.

Agar Aman dan Nyaman, Inilah Tips yang Bisa Dilakukan Ketika Bunda Harus Menitipkan Buah Hati

Sebaik-baiknya pengasuhan anak adalah pengasuhan orangtua di rumah.

Terutama dalam hal ini dilakukan oleh ibunya sendiri. Dengan pengasuhan yang langsung dilakukan oleh ibu, semua kebutuhan dan segala perawatan yang diinginkan akan bisa dilakukan dengan baik.

Akan tetapi, bagaimana jika keadaannya tidak memungkinkan seorang ibu untuk bisa menjaga si buah hati dirumah dengan sepenuhnya? Hal ini umumnya banyak dialami oleh ibu yang bekerja, wanita karir atau dalam keadaan dimana seorang ibu rumah tangga terdesak harus pergi keluar rumah yang dengan alasan tertentu tidak bisa membawa serta buah hatinya.

Inilah salah satu dilema yang banyak dialami beberapa wanita yang memiliki kesibukan diluar rumah. Meski rasa cintanya begitu besar kepada si buah hati, akan tetapi apa daya ketika kewajiban dan kebutuhan menuntut mereka untuk berada jauh dari rumah dan meninggalkan buah cintanya. Alhasil, menitipkan anak banyak dipilih sebagai solusi untuk menjaga keselamatan si buah hati.

menitipkan anak

Ibu yang memiliki kesibukan diluar rumah dan terpaksa harus meninggalkan buah hati tercintanya yang masih kecil akan cenderung memilih menitipkan anaknya. Baik itu pada pengasu, orangtua, saudara, tempat penitipan anak atau bahkan pada adik anda sendiri. Hal ini semata-mata membuat anda menyerahkan tanggung jawab pengawasan anak pada orang-orang yang anda pilih.

Akan tetapi, seberapa besar kepercayaan anda terhadap orang yang anda mintai tolong untuk menjaga dan mengasuh anak, tentu saja hal ini memiliki resiko. Hal ini dikarenakan, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri yang tentunya berbeda. Pengasuhan yang kita berikan terhadap buah hati kita jelas tidak akan sama persis dengan pengasuhan kakek-nenek, saudara, tetangga atau bahkan adik kandung kita sendiri.

Untuk itulah, sebelum kita sebagai orangtua memutuskan untuk memberikan tanggung jawab pengasuhan pada oranglain dengan menitipkan si buah hati, maka sebaiknya orangtua perlu memberikan penjelasan secara rinci mengenai detail pengasuhan anda terhadap si kecil ketika berada dirumah. Hal ini penting sekali dalam rangka menjalankan kewajiban dan tanggung jawab seutuhnya seperti sebagaimana anda jalankan sehari-hari pada si kecil.

Selain itu, menjaga ke konsistenan pola pengasuhan yang diberikan kepada si kecil, meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda untuk menghindari kebingungan pola asuhan pada si kecil. Untuk itulah, hal ini penting anda jelaskan pada oranglain yang anda beirkan tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi buah hati anda.

Orang yang diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk mengawasi buah hati anda perlu tahu jadwal keseharian yang biasa anda berikan pada buah hati, seperti kapan anak anda makan, kapan anak anda berangkat ke sekolah, kapan waktunya mandi dan di jam berapa ia tidur. Dengan begini, selepas tanggung jawab pengasuh dan anda kembali mengambil alih tanggung jawab mengasuh si buah hati, maka anak anda akan berjalan dengan aturan yang sama.

Nah, selain beberapa hal diatas berikut ini juga ada poin-poin penting lain yang perlu anda pertimbangkan saat hendak menitipkan buah hati anda pada oranglain.

1. Carilah Orang yang Tepat

Mencari seseorang yang akan anda titipi buah hati perlu dipertimbangkan banyak hal. Bukan hanya asal melihat orang tersebut siap diberikan tanggung jawab ini. Anda juga perlu melihat situasi lain, seperti kekosongan waktunya, tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya yang lain dan lain sebagainya. Hal ini penting sekali, untuk menjaga kenyamanan dan keamanan buah hati anda. Jangan sampai saat tetangga anda menyatakan siap untuk menjaga buah hati anda, namun ternyata ia pun memiliki banyak anak dirumahnya, atau mungkin tetangga anda adalah tipikal orang yang senang mengalihkan sebagian besar waktunya pada hobinya. Jika hal ini terjadi, bisa dibayangkan bagaimana keselamatan buah hati anda, jika tetangga anda yang diberikan tanggung jawab menjaga anak asik mengurus tanaman rumahnya.

Untuk itulah, pertimbangkan banyak hal dan carilah orang yang tepat yang memiliki waktu luang, senang dengan anak-anak dan sebisa mungkin adalah orang yang bisa anda percaya. Ingatlah mengasuh anak adalah tanggung jawab yang besar, untuk itu berikan tanggung jawab ini pada orang yang anda anggap bisa melakukannya.

2. Berikan Penjelasan Aturan yang Jelas dan Terperinci

Saat anda hendak menitipkan buah hati anda, maka berikan peraturan dan kebiasaan yang biasa anda lakukan bersama dengan si kecil setiap harinya. Hal ini perlu dijelaskan dengan jelas dan terperinci. Jika perlu, anda bisa menuliskan jadwal penting kegiatan si kecil. Misalkan jelaskan pada pengasuh kapan waktu anak anda makan, kapan waktunya mandi, sampai berapa waktu bermain dan kapan waktunya mengaji.

Meski anda berpikir bahwa hal ini akan sedikit berlebihan, namun pertimbangkan kembali semua peraturan yang sudah anda terapkan pada si kecil. Jangan sampai aturan-aturan penting ini hancur dan dilupakan oleh si buah hati, karena pola pengasuhan berbeda yang diberikan oleh orang yang mengasuh anak anda. Namun tentunya, anda bisa melakukan hal ini dengan perlahan agar orang yang dititipi anak anda bisa menyimak dan mendengarkan dengan seksama.

3. Berikan Alasan Mengapa Aturan Tersebut Harus Dijalankan

Hal ini penting sekali diberikan baik pada si pengaush maupun pada anak. Gunanya adalah untuk keseragaman aturan yang sudah dibuat terdahulu. Pada pengasuh gunanya adalah agar meskipun anda berada jauh dari anak, namun tanggung jawab dan peraturan yang sama yang anda buat bisa tetap disampaikan dan diterapkan. Sementara itu pada anak gunanya adalah agar anak perlahan mengerti dan paham hal apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.

Misalkan, anda bisa memberitahu pada pengasuh agar membatasi waktu bermain si kecil, hal ini dikarenakan jika si anak terlalu banyak bermain, di malam hari ia malah akan malas untuk belajar, atau mungkin meminta si pengasuh untuk memastikan agar anak anda menggosok giginya sebelum tidur karena si anak memiliki keluhan sakit gigi. Sementara itu pada anak, buat si anak makan 3 kali sehari, karena jika tidak ia akan sakit atau bahkan kelaparan di malam hari.

4. Etika dalam Menitipkan

Meskipun anda menitipkan anak pada tetangga yang tak lain adalah teman anda sejak dulu atau mungkin anda menitipkan anak pada orangtua anda. Namun ingat, segala hal harus dilakukan dengan etika untuk menghindari pembicaraan negatif atau keluhan yang bisa membuat hubungan anda dengan orang tersebut menjadi buruk.

Ketika anda sudah selesai dengan pekerjaan anda dan melihat si anak anteng bermain atau bahkan merasa nyaman berada di tempat orang yang anda titipi, maka sebaiknya anda tidak lantas membiarkannya begitu saja dan merasa senang karena anda bisa bersantai dan beristirahat.

Hampiri anak anda dan ucapkan terimakasih pada tetangga atau orangtua anda. Jika kepergian anda memungkinkan anda membeli oleh-oleh, maka tidak ada salahnya memberikan mereka oleh-oleh sebagai bentuk rasa terimakasih anda atas kebaikan yang mereka lakukan. Atau jika anda membawa pengasuh, maka pastikan sedikitnya anda memperlakukan mereka dengan baik. Jika hubungan yang anda bina baik, maka kemungkinan dilain waktu ketika anda terpaksa harus menitipkan anak pada orang yang sama akan terasa aman.

Kesibukan memang seringkali membuat kita terpaksa untuk jauh dari buah hati dan membuat mereka harus diasuh oleh oranglain. Akan tetapi, poin penting dari hal ini adalah luangkan sebisa mungkin untuk tetap bertemu dan bercengkrama dengan buah hati anda agar hubungan erat anda bersama buah hati tetap terjaga.

Bunda, Si Kecil Pun Berhak Membela Dirinya, Ketahui Sikap yang Harus Dilakukan Orangtua

Bunda, apa yang biasanya bunda katakan pada si buah hati sata mereka disakiti atau dinakali oleh teman-temannya?

Ya, dunia anak adalah dunia bermain, bergembira bersama, tertawa riang, bermain berkelompok adalah hal yang amat disenangi anak-anak. Hal inilah yang akan membuat anak-anak ceria dan gembira. Tak pelak, wajah sumringah dan ekpresi bahagia seringkali tergambar di wajah si kecil saat mereka berada bersama dengan teman-temannya. Sampai senangnya, anak-anak akan merasa kehadiran orangtua yang mengawasi mereka membuat si anak merasa tak nyaman dan meminta kita untuk meninggal mereka bersama dengan teman-temannya.

Memang menyenangkan saat anak-anak bisa bermain dan ceria dengan teman-temanya. Hanya saja, waktu bermain dan kecerian ini hanya berlangsung beberapa menit dan tiba-tiba si anak akan pulang dengan wajah murung dan tangisan di wajahnya. Ketika ditanya apa penyebabnya, si anak akan menyatakan berbagai alasan mulai dari ditinggalkan oleh teman-temannya, dijauhi, dikatai atau bakan sampai disakiti. Nah, jika sudah begini tak jarang kita sebagai orangtua akan merasa khawatir dan kasihan terhadap si buah hati. Selain itu, ketika si anak bermasalah dengan teman-temannya, umumnya si anak akan cenderung rewel. Hal ini pun dipicu berbagai hal mulai dari si anak merasa bosan, kesepian dan lain sebagainya.

anak berhak membela diri

Bnayak orangtua yang melarang anak-anak mereka untuk melakukan "pembalasan" atas apa yang dilakukan oleh teman-temannya dan lebih memilih si anak untuk mengalah bila dipukul atau dinakali oleh teman atau sadudara-saudaranya. Hal ni tentu saja dimaksudkan untuk beberapa hal seperti menghindari pertengkaran yang lebih parah, mengajarkan anak untuk memaafkan dan bahkan membuat mereka belajar bagaimana mengalah. Bukan saja itu, ketika si kecil melakukan pembalasan dengan memukul, kita justru malah akan ketakutan bahwa perilaku ini tertanam dalam diri anak dan yang akhirnya justru si anaklah yang akan di cap sebagai anak nakal.

Namun bunda, tahukah anda. Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun memiliki hak untuk membela dirinya atau melakukan pembelaan diri ketika dirinya merasa dalam bahaya atau merasa hak-haknya dilanggar. Mudah melakukan pembalasan terhadap perbuatan anak nakal lain memang bukanlah perbuatan yang baik, akan tetapi terus-terusan mengalah pun, lebih tidak baik lagi. Apalagi dampak ini akan dirasakan anak saat mereka dewasa kelak.

Ketika anak terus-terusan diminta untuk mengalah, bukan tidak mungkin hal ini akan menumbuhkan pribadi dan karakter yang buruk pada anak, diantaranya adalah mental anak yang lemah, atau kemungkinan membaut mentalnya lebih keras dan menjadikan mereka seorang pemberontak. Hal ini tentunya muncul dikarenakan anak merasa tertekan akibat keluhannya tidak pernah didengarkan.

Selain itu, anak-anak yang tidak pernah diajarkan tentang harga diri atau self esteem bukan tidak mungkin akan melahirkan anak yang tumbuh menjadi anak-anak yang rendah diri, memiliki kepercaya dirian yang rendah, tidak percaya pada kemampuan yang dimilikinya, cengeng dan bahkan tumbuh menjadi seorang pengecut atau sebaliknya anak-anak akan cenderung menjadi pribadi yang egois, menindas anak-anak lemah, pembohong dan lain sebagainya.

Lantas seperti apa sih sikap yang bisa diberikan oleh orangtua saat anak-anak disakiti, dinakali atau bahkan dikerjai oleh teman-temannya? Nah, beberapa hal ini akan bisa anda terapkan pada si kecil.

Sikap yang Bisa Diberikan Orangtua Pada Si Kecil Dalam Rangka Membela Dirinya

1. Cari Tahu Penyebabnya

Ketika anda mendapati buah hati anda pulang dengan tangisan dan ekspresi murung di wajahnya, lantas ketika anda menanyakan apa alasannya, anak lalu menjawab dilatar belakangi karena pertengkaran bersama denga teman-temannya. Dari sini, maka jangan terburu untuk langsung memihak salah satu anak dan memarahi anak yang lain.

Sebaiknya, cari dan telaah terlebih dahulu apa penyebabnya. Untuk melakukan hal ini anda bisa mengajak anak pada teman-temannya dan menanyakan pada teman-temannya mengapa anak anda menangis. Setelah itu, lantas tanyakan pada anak betulkah demikian.

Dari sini anda akan dapat melihat masalah dari dua sudut pandang yang berbeda. Nah, ketika anda sudah tahu penyebab sebenarnya, maka anda bisa menentukan sendiri tindakan anda selanjutnya. Selain itu, cobalah untuk lebih terbuka jangan hanya karena anak anda menangis, anda lantas menyalahkan teman-teman si anak dan bersikap tidak adil.

2. Ajari Anak Untuk Berhitung

Ini adalah cara yang mudah untuk menumbuhkan harga diri pada anak, tanpa harus menjadikan si anak seorang anak nakal.

Tanamkan pada anak, jika ada saudara atau temannya yang mencubit, merebut mainan atau mengolok-oloknya, cegah anak agar tidak langsung marah dan membalas perbuatan temannya tersebut. Akan tetapi, tekankan pada buah hati anda untuk menghitung. Satu kali perbuatan buruk tersebut dilakukan pada anak anda, maka minta ia untuk mengalihkan diri atau menjauh. Dua kali, hal tersebut dilakukan, minta ia untuk diam namun tetaplah waspada. Jika dalam hitungan ketga, perilaku oranglain masih sama padanya, maka ia boleh untuk membalas perbuatan tersebut, satu kali saja, lantas minta mereka untuk pergi dan menjelaskan mengapa ia melakukan itu pada anda.

Dari sini, anak mungkin akan merasa takut jika "pembalasan" yang ia lakukan pada temannya akan dapat menuai protes dari orangtua si anak yang ia pukul. Akan tetapi, jika si anak sudah melakukan apa yang anda ajarkan dengan memberikan excuse pada temannya setelah beberapa kali melakukan hal buruk, maka bertahukan padanya untuk jangan takut.

Anak-anak berhak untuk membela dirinya, jika orangtua teman anak adalah orang yang bijak, maka mereka akan mengerti. Selain itu, pertengkaran anak hanyalah sebatas kekesalan, satu atau dua menit setelahnya anak-anak akan kembali akur dan berteman seperti sediakala.

3. Minta Anak Untuk Tenang dan Bersikap Sabar

Ketika anak marah dan kesal dengan perilaku temannya yang melakukan kenakalan padanya. Maka mintalah anak untuk lebih tenang, siapa tahu hal tersebut dilatar belakangi karena anak sedang dalam mood yang tidak baik.

Ketika anak lain kedapatan mencubit, memukul atau bahkan mendorong anak anda saat anak kita tidak melakukan kesalahan, maka lerai segera dan berikan pengertian dengan lembut terhadap temannya bahwa mereka adalah teman dan tidak seharusnya mereka saling mendorong atau bertengkar. Dengan begini si anak akan merasa dilindungi dan dihargai. Selain itu, berikan pemahaman pada anak untuk waspada agar ia tak menjadi bahan kenakalan anak lainnya.

Pertengkaran pada anak seringkali menjadi hal yang membuat orangtua pusing. Disamping itu juga, seringkali kita sebagai orangtua bingung untuk menentukan sikap seperti apa saat anak kita disakiti oleh teman-temannya. Alasan yang dituai dari masalah ini pun beragam, mulai dari menghindari pertengkaran, mengajarkan anak untuk mengalah sampai menjaga perasaan orangtua teman si anak.

Akan tetapi, tidak baik pula bila terus-terusan meminta si anak untuk mengalah karena hal ini akan berdampak pada kejiawaannya. Nah, cara-cara diatas bisa ibu terapkan pada si anak untuk dapat membela dirinya.

Tips Melatih Si Kecil Berganti Baju Sendiri

Sejak lahir bayi membutuhkan bantuan ibunya.

Semua hal tidak dapat mereka lakukan sendiri tanpa bantuan dari orangtuanya. Mulai dari mengganti diaper, makan, mandi bahkan ketika berganti pakaian atau hendak memakai baju, semua hal ini dilakukan oleh orangtuanya. Akan tetapi, ketika anak memasuki usia yang sudah cukup matang, maka sudah saatnya si anak melakukan segala halnya sendiri. Hal ini tentunya dimaksudkan untuk memperkenalkan anak pada sesuatu hal yang baru dan membuat mereka belajar. Namun disamping itu, hal yang paling penting dalam hal ini adalah mengajarkan anak untuk bisa mandiri.

Continue Reading

Ibu Bijak Tunjang Kualitas Kepribadian Anak, Kenali Ciri Menjadi Ibu yang Bijak

Kecantikan seorang wanita bukan hanya dilihat dari seberapa indah paras yang dimilikinya, bukan pula seberapa putih dan mulus kulit tubuhnya.

Kecantikan sejati adalah kecantikan yang berasa dari hati. Kecantikan inilah yang tidak akan pudar atau luntur oleh waktu. Tugas seorang istri dalam rumah tangga bukan hanya mengurus dan melayani suami. Bagi para istri yang sudah dikaruniai buah hati dalam keluarga kecilnya, kini bertambah pula lah kewajiban anda yang baru, yakni mengasuh, membesarkan dan mendidik putra dan putrinya.

Continue Reading

Bantu Anak Atasi Stress Menjelang Ujian Sekolah

Tak terasa yah, rasanya seperti baru kemarin anak-anak sekolah diberikan libur semester yang panjang dan kini sudah mulai disibukan dengan quiz-quiz untuk mempersiapkan ujian sekolah.

Ya, semester pertama hampir habis dijalani anak-anak yang sekolah, yang mana ini berarti anak-anak akan kembali dihadapkan pada ujian baru yang harus mereka lampaui sebelum naik ke semester selanjutnya. Ini pula lah yang sering kali membuat anak-anak kerepotan mempersiapkan diri untuk ujian yang tinggal menghitung hari.

Continue Reading

Kiat Hebat Mendidik Anak Laki-Laki Agar Tumbuh Menjadi Pria Hebat yang Mengagumkan

Dikarunia buah hati dalam keluarga tentu menjadi kebahagian yang teramat besar untuk para orangtua.

Apalagi mereka yang telah sekian lama menantikan memiliki buah hati yang dengan segala upaya dan usaha rela melakukan apa saja demi kehadiran si kecil di tengah-tengah keluarganya. Tentu saja, hal ini akan menjadi kebahagiaan yang begitu besar untuk sebuah keluarga. Dengan demikian, tak heran jika banyak orangtua akan melakukan hal apa saja dan mengupayakan banyak hal demi menjaga dan melindungi buah cinta yang mereka miliki.

Continue Reading

Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sewaktu Memberikan Larangan "Tidak" Atau "Jangan" Pada Si Kecil

Setiap orangtua didunia tentu menginginkan hal yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Itulah mengapa, ada banyak upaya dan tindakan yang akan dilakukan para orangtua untuk bisa mengendalikan dan membimbing anak-anaknya pada jalan yang mereka kehendaki, tentunya jalan tersebut adalah jalan yang benar yang tidak akan menjerumuskan anak-anaknya.

Nah, dalam rangka mengarahkan dan membimbing anak inilah yang membuat orangtua banyak menerapkan peraturan dan arahan dalam kehidupan seorang anak. Hal ini tentu saja, semata-mata demi membatasi sikap anak agar tidak menyimpang dan berlebihan. Untuk itulah, dalam mendidik anak orangtua akan memberlakukan apa yang boleh dilakukan oleh anak dan apa yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk dilakukan yang mana hal ini seringkali disebut dengan larangan.

Ketika buah hati mereka kedapatan melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka dalam bahaya atau melanggar sebuah peraturan yang sudah dibuat, maka orangtua cenderung akan memberlakukan larangannya dengan mengatakan "tidak" atau "jangan" pada buah hati mereka.

hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengucapkan larangan

Akan tetapi, dua kata larangan ini umumnya tidak disukai oleh anak-anak. Tidak sedikit diantara mereka yang bahkan tidak mengindahkan larangan dari orangtua. Sebaliknya, mereka malah mengabaikan larangan tersebut dengan sengaja melakukannya. Sebuah penelitian menunjukan bahwa banyaknya larangan yang diterima anak-anak akan berpengaruh pada sikap anak-anak di kemudian hari.

Anak-anak adalah sumber belajar untuk menyusun strategi dalam reaksi tindakan mereka. Dalam hal ini orangtua seringkali dihadapkan pada perintah dan larangan atas perilaku anak-anaknya. Padahal keduanya memiliki pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter pribadi anak, yang mana pribadi ini akan terus tertanam dalam dirinya dan terbawa hingga ia dewasa.

Ketika orangtua memberikan larangan dengan penyampaian yang keliru, anak akan dapat meniru kembali cara orangtua menolak permintaannya. Bahkan, anak yang sering menerima kata larangan akan cenderung memiliki kemampuan bahasa yang kurang dibandingkan anak lain yang sering menerima kalimat positif. Untuk itulah, akan lebih baik jika sebelum memberikan larangan pada anak-anak, orangtua mempertimbangan banyak hal semata-mata demi kebaikan buah hatinya.

Memberikan larangan atau berkata “tidak” pada anak-anak sebaiknya memiliki batasan serta aturan agar hal tersebut tidak menganggu perkembangan emosional si anak. Sebab ada dampak yang buruk yang akan berpengaruh pada anak-anak, salah satunya adalah membuat si anak merasa rendah diri dan membuat mereka tidak kemampuan untuk dapat memecahkan masalah sendiri. Akan tetapi disamping itupun, memberikan larangan pada anak, semata-mata bertujuan untuk mendisiplinkan mereka. Lantas, apa sajakah beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh orangtua sebelum memberikan larangan pada anak-anak? Mari kita simak berikut ini.

Berikan Penjelasan Sederhana

Ketika anda memberikan larangan pada si kecil pada sesuatu hal. Sebaiknya, tidak hanya menyampaikan larangan tersebut dengan semata-mata. Anak-anak tentu saja akan merasa bingung, apalagi ketika larangan tersebut disampaikan dengan tiba-tiba. Hal ini tentu saja akan membuat anak terkejut dan sedih. Itulah mengapa anak-anak balita yang diberikan larangan akan cenderung marah dan malah menangis.

Nah, agar anak bisa menerima larangan yang diberikan oleh orangtua, maka cobalah berikan penjelasan pada si kecil agar mereka tidak merasa bingung kenapa dirinya dilarang. Tak perlu penjelasan yang panjang dan bertele, cukup berikan penjelasan yang sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh si kecil. Misalkan, ketika anda melarang si kecil dengan perkataan "Dek, jangan main api, sini bersama dengan ibu. Api berbahaya, Nak," kalimat ini tentunya akan lebih bijak dibandingkan hanya dengan melarangnya "Jangan main dekat api, dek!" Hal ini justru akan membuat benak si anak dibendungi dengan pertanyaan yang pada akhirnya membuat raa penasarannya untuk bermain api akan menjadi lebih besar.

Berikan Alternatif Positif

Ketika memberikan kalimat larangan, sebaiknya sampaikan dengan jelas dan secara sfesifik. Selain menghindari anak kebingungan, kalimat yang jelas akan membuat anak lebih mudah menuruti dan memahaminya. Misalkan, ketika anda melarang anak-anak untuk berlarian didalam rumah sebaiknya tidak katakan "Jangan lari-lari didalam rumah!", sebaliknya lebih baik katakan "Dek, jalan pelan-pelan ya kalau didalam rumah".

Nada larangan ini tentunya terdengar lebih seperti nasihat dibandingkan larangan yang umumnya tidak disenangi anak-anak. Dengan demikian anak-anak akan cenderung lebih mendengarkan dan menerima apa yang kita berikan.

Jangan Sampaikan dengan Nada Keras dan Lantang

Ketika mendapati si kecil melanggar peraturan atau melakukan kesalahan, sebaiknya jangan berikan larangan yang terdengar dengan lantang atau bernada keras. Apalagi jika disampaikan dengan kata-kata yang kasar. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada perkembangan si kecil. Ketika anda menyampaikan larangan dengan kata-kata yang kasar, hal ini bukan tidak mungkin ditiru oleh mereka.

Anak-anak akan mengasumsikan bahwa menyampaikan penolakan yang baik adalah disampaikan dengan nada lantang dan kata-kata kasar. Untuk itulah, sebaiknya perhatikan setiap perkataan dan perhatikan nada anda sewaktu berbicara pada mereka. Yang terpenting dari larangan ini adalah upayakan sebisa mungkin agar anak-anak bisa menuruti larangan tersebut namun dengan tidak mengabaikan hal-hal penting yang bisa mempengaruhi perkembangan si anak.

Tanyakan Kembali Aturan Untuk Mengingatkannya

Ketika anak-anak melanggar aturan yang telah mereka pelajari dan mereka paham betul akan sanksi dan peraturan yang sudah dibuat. Daripada marah-marah, lebih baik kendalikan emosi anda. Siapa tahu anak anda melakukannya dalam rangka mencari perhatian anda. Untuk itu, sebaiknya tanyakan kembali aturan yang pernah anda buat. Hal ini semata-mata untuk mengingatkan anak-anak akan peraturan tersebut. Seperti misalkan "Dek, apa yang mama bilang tentang tidak mengerjakan PR?" atau "Dek, mainan dirapikan lagi ya, ingat kan yang mama bilang?". Hal ini akan membantu anak untuk memperkuat pemahaman aak tentang sebuah aturan dan meraka dapat memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.

Tidak semua strategi dapat berkerja pada setiap anak. Untuk itu, sebagai orangtua kesabaran kita akan diuji untuk dapat mendisiplinkan buah hati. Akan tetapi mengetahui beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum memberikan larangan adalah hal penting sebab dampak dari larangan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak terutama pembentukan kepribadiannya. Semoga tips ini brmanfaat untuk semua orangtunya dimanapun berada.

Agar Mendidik Anak Berhasil, Ajak Pengasuh Kerja Sama Disiplinkan Buah Hati

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan jika buah hati yang kita lahirkan bisa tumbuh menjadi orang yang sukses, memiliki kepribadian yang menyenangkan dan memiliki etika serta budi pekerti yang luhur.

Untuk itulah, segala hal dan upaya akan senantiasa kita lakukan demi memiliki buah hati yang telah kita impikan. Perkembangan buah hati dalam keluarga, tentu akan dapat berjalan dengan baik, jika peran orangtua dalam mendidik buah hati bisa diberikan secara penuh. Dalam hal ini, tentunya akan lebih mudah mendisiplikan dan mendidik mereka, jika orangtua berperan langsung dan mengambil andil secara penuh dalam membesarkan anak-anaknya.

Ketika orangtua, mengambil andil yang besar dalam kehidupan anak-anaknya, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk bisa mengatur, mengendalikan dan mendisiplinkan anak-anaknya. Akan tetapi, lebih sulit tentunya bagi orang tua yang memiliki kesibukan tersendiri, seperti misalkan orangtua karir.

pengasuh mendisiplinkan anak anak

Pada orangtua yang bekerja, maka akan sedikit sulit untuk mereka bisa menghabiskan waktu penuh bersama dengan anak-anaknya. Hal ini dikarenakan, kesibukkan orangtua membuat mereka dituntut untuk menghabiskan sebagian besar waktunya ditempat bekerja dibandingkan dirumah. Pada akhirnya, hal ini membuat kontrolnya terhadap anak-anak menjadi kurang.

Hal ini pulalah yang membuat orangtua karir cenderung dihadapkan pada banyak tantangan yang membuat mereka kesulitan dalam mendisiplikan anak-anaknya dibandingkan dengan orangtua yang dirumah. Dimana mereka bisa mengambil andil penuh dalam kehidupan anak-anaknya. Jangankan untuk bisa mencurahkan segala perhatian pada anak-anak, menyisakan waktu untuk bersama dengan mereka saja, terkadang kita kesulitan.

Orangtua yang bekerja di kantor, umumnya akan memilih menggunakan jasa pengasuh anak untuk menjaga buah hatinya. Dengan menghadirkan pengasuh bayi, orangtua berharap agar buah hatinya bisa dijaga dan diasuh dengan baik.

Namun lain halnya dengan orangtua kandung, tugas pengasuh bayi hanyalah menjaga dan mengasuh. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk bisa mendidik buah hati kita agar mereka bisa menjadi apa yang kita harapkan. Namun demikian, ini bukan berarti anda tidak bisa menjalin kerja sama dengan si pengasuh bayi agar mereka bisa mendisiplinkan buah hati kita. Betapapun, memberikan yang terbaik untuk anak dan mengharapkan anak-anak tumbuh dengan kedisiplinan yang baik adalah hal yang amat didamba-dambakan oleh orangtuanya.

Untuk itulah, tidak ada salahnya jalin kerjasama bersama dengan si pengasuh anak dirumah. Namun demikian, hal ini bukan berarti anda bisa menyerahkan segala halnya pada si babysitter. Bagaimana pun, dalam hal ini harus ada peran orangtua dalam mendidik dan menerapkan kedisiplinan pada anak-anak. Sementara itu, pengasuh bisa meneruskan langkah kedisplinan yang anda terapkan. Lantas, seperti apa sih strategi yang bisa kita terapkan untuk menjalin kerjasama dengan pengasuh anak agar mereka bisa mengaplikasikan dan meneruskan pendidikan kedisiplinan yang kita ajarkan pada anak? Mari kita simak berikut ini.

Terapkan Aturan

Agar tercipta sebuah rutinitas yang baik didalam rumah, terutama pada anak-anak, maka sebuah aturan adalah hal yang penting yang harus diterapkan. Selain itu, sebuah aturan dibentuk untuk membatasi tingkah dan perilaku si anak. Akan tetapi, aturan ini tentunya harus dibuat dengan jelas dan diberlakukan sanksi bagi setiap pelanggaran yang dilakukan.

Ketika orangtua memberlakukan aturan, sebaiknya bertindaklah tegas pada anak-anak. Jangan karena anda merasa kasihan atau "terhibur" dengan kesalahan yang dilakukan oleh si anak, anda lantas membiarkan mereka lolos dari hukuman. Hal ini pada akhirnya, akan membuat si anak bingung. Disisi lain, aturan anda berlakukan, namun disisi lain ada begitu banyak toleransi yang anda berikan. Percayalah, hal ini malah akan membuat anak mengasumsikan bahwa aturan yang anda buat dibentuk semata-mata untuk dilanggar.

Tetapkan aturan dirumah seperti anak tidak boleh mengigit, memukul atau bahkan terlibat dengan perkelahian. Dari sini, anda bisa memberlakukan sanksi yang tegas untuk setiap pelanggaran yang dibuat. Seperti misalkan, tidak memberikan uang saku dan lain sebagainya. Sanksi yang dibuat tentunya haruslah mendidik dibandingkan dengan menghakimi atau menyakiti si buah hati.

Jagalah Agar Tetap Konsisten

Tanpa adanya aturan yang dibuat dengan konsisten antara pengasuh dan orangtua, anak akan merasa bingung. Peraturan yang anda buat dan disepakati bersama dengan pengasuh akan sia-sia, jika pada prakteknya hal ini tidak bisa diaplikasikan dengan jelas pada anak-anak. Meskipun pengasuh adalah pekerja dalam rumah yang diberikan tanggung jawab untuk mengasuh dan menjaga anak, namun berikan pemahaman pada anak bahwa pengasuh diberikan tanggung jawab yang sama dalam hal mendidik dan mendisiplinkan anak. Tanggung jawab ini sama saja dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh orangtuanya. Untuk itu, pastikan jika anda bersama dengan pengasuh tetap bisa konsisten pada apa yang telah diberikan pada anak-anak. Dengan demikian, anak-anak akan memahami dan memiliki rasa hormat yang sama pada anda dan pada pengasuhnya ketika anda memberikan tanggung jawab tersebut pada mereka.

Jangan Berikan Hukuman Fisik atau Kekerasan

Dalam rangka mendisiplinkan buah hati, maka sebuah hukuman atau sanksi seringkali dianggap sebagai cara yang ampuh dalam mendidik anak-anak. Akan tetapi, dalam hal ini hukuman haruslah sesuatu hal yang mendidik. Jangan berikan anak hukuman fisik atau bahkan hukuman yang menuju pada kekerasan. Apalagi hal ini melibatkan si pengasuh anak. Jangan sesekali memberikan kesempatan pada pengasuh untuk mempraktikan hukuman keras pada anak anda. Hal yang dikhawatirkan dalam hal ini adalah timbulnya tindakan kontinue yang mungkin dilakukan si pengasuh.

Sebagai orangtua, hukuman yang kita berlakukan tentu bertujuan mendisiplinkan buah hati dan setelah hukuman tersebut selesai kita akan kembali mencintai dan memperlakukan anak sebagaimana mestinya. Akan tetapi, dipungkiri atau tidak, pengasuh adalah orang luar yang tidak memiliki hubungan saudara dengan kita dan si buah hati. Sekali ia membelakukan hukuman keras pada anak kita, maka dikhawatirkan hal ini menjadi tindakan yang terus dilakukan pada si kecil.

Berdiskusi dengan Pengasuh

Untuk dapat menjalin kerja sama dalam hal mendidik anak, maka orangtua perlu berdiskusi bersama dengan pengasuhnya. Banyak pengasuh dan tempat penitipan anak yang menawarkan beberapa metode untuk dapat mendisiplinkan anak-anak. Akan tetapi, orangtua bisa memutuskan sendiri metode seperti apa yang ingin ia terapkan untuk buah hatinya. Dari sini, segala bentuk kesepakatan akan bisa anda buat bersama dengan si pengasuh dalam rangka membantu anda untuk menerapkan aturan yang anda buat bagi si kecil.

Kerja sama yang baik yang terjalin antara orangtua bersama dengan pengasuh serta guru yang menddik anak akan menjadikan penerapan kedisiplinan dalam diri anak-anak semakin efektif. Dengan demikian, meskipun anda sibuk bekerja dan banyak menghabiskan sebagian besar waktu diluar rumah tanpa berdekatan bersama dengan si kecil, namun demikian tidak serta merta membuat anda tidak bisa mendisiplinkan mereka. Demikian beberapa poin diatas semoga bermanfaat.

Kenali Dampak Buruk Dari Pola Asuh Hyper Parenting Pada Anak

Setiap orangtua tentu menginginkan hal-hal yang terbaik untuk buah hatinya.

Orangtua tentu menginginkan anak-anak yang mereka lahirkan ke dunia dapat tumbuh menjadi anak-anak yang sukses, cerdas dan menjadi pribadi yang menyenangkan untuk lingkungannya. Mereka ingin bahwa anak-anak mereka dapat hidup bahagia, memiliki karir yang bagus, berperilaku menyenangkan dan lain sebagainya.

Sayangnya, tidak semua orangtua memahami bahwa masing-masing anak memiliki kepribadian, karakter dan bahkan cita-cita yang berbeda. Sehingga, tidak bisa jika seorang orangtua memaksakan kehendaknya dan menerapkan pola pengasuhan yang sama rata pada semua anak dengan mengganggap bahwa pola pengasuhan sebelumnya telah berhasil mereka terapkan untuk anak-anaknya.

Seringkali kita sebagai orangtua memkasakan kehendak dan keinginan kita pada anak-anak tanpa mempertimbangkan kemampuan, kesiapan dan perasaan anak-anak dengan dalih ingin jika anak-anak kita mendapatkan hal yang terbaik untuk kehidupannya. Inilah yang terjadi pada orangtua yang menerapkan pola asuh hyper parenting.

dampak buruk hyper parenting

Apa Itu Pola Asuh Hyper-Parenting?

Hyper-parenting merupakan pola pengasuhan yang dilakukan dengan kontrol berlebihan dari orangtua. Dalam pola pengasuhan ini, orangtua memiliki derajat kontrol yang mutlak dan tinggi terhadap anak-anaknya. Pada pengasuhan ini, orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak-anak dan segala hal yang diberikan kepada anak-anak mereka. Tentunya hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengatisipasi berbagai permasalahan yang mungkin dapat terjadi baik saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan dan maksud orangtua yang cederung menerapkan pola pengasuhan seperti ini didasari oleh rasa sayang dan cinta kasih terhadap anak-anaknya. Selain itu, besarnya keinginan orangtua agar sang anak bisa menjadi generasi yang lebih baik, terutama jika mereka bandingkan dengan keadaan dirinya terdahulu menjadi hal yang mendorong mereka untuk cenderung lebih protektif terhadap anak-anaknya. Hanya saja, dalam pola pengasuhan seperti ini, orangtua memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mereka lebih mengejar hal tersebut dengan alasan yang emosional.

Umunya, pola pengasuhan hyper-parenting dipengaruhi karena orangtua mereka merasa tidak puas dengan pola pengasuhan yang mereka dapatkan sewaktu masih kecil. Bisa jadi orangtua merasa tidak puas dengan pencapaian karir atau kehidupannya secara keseluruhan. Akibatnya, hal ini melahirkan semua obesesi ditambah dengan ketidakberuntungan itu yang dibebankan pada anak-anaknya saat ini.

Dengan menerapkan pola pendidikan seperti ini orangtua merasa anak-anak mereka bisa mendapatkan apa yag sebelumnya tidak mereka dapatkan. Akan tetapi, belum tentu hal ini akan sesuai dengan kebutuhan, minat, bakat atau bahan keinginan si buah hati.

Pada orangtua yang menerapkan hal ini, anak-anak akan cenderung merasa lebih cemas dan khawatir. Betapa tidak, pola pengasuhan orangtua yang terlalu mengatur dan memaksakan kehendaknya akan membuat anak-anak tidak percaya diri.

Sebenarnya, wajar saja jika orangtua berharap anak-anak mereka dapat mewujudkan keinginannya. Akan tetapi, kita pun perlu tahu bahwa memaksakan kehendak bukanlah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ada dampak fatal yang akan ditimbulkan pada anak-anak, yakni dapat menghambat pada pertumuhannya, selain itu juga dapat meimbulkan kemarahan yang berlebihan dikarenakan anak-anak merasa tidak memiliki kebebasannya.

Selain beberapa hal diatas, ada pula beberapa hal dan dampak buruk lain yang bisa ditimbulkan pada orangtua yang menerapkan pola pengasuhan hyper parenting. Apa sajakah hal tersebut? Mari kita simak berikut ini.

1. Membuat Anak Mudah Cemas

Dengan menerapkan pola pengasuhan ini, hidup anak akan cenderung menjadi tidak tenang. Betapa tidak, pengaturan yang berlebihan dan pola mendidik anak dengan terus-terusan mengikut sertakan orangtua didalamya akan serta merta membuat anak cemas. Terlebih lagi, anak-anak cenderung seringkali merasa kurang percaya diri atau kurang bebas mengekspresikan dirinya sewaktu orangtua mereka bertindak seolah menyatpaminya.

Untuk itulah, memang wajar memberikan dukungan pada anak dengan terus berada disamping mereka. Akan tetapi, tidaklah bijak jika anda memaksakan kehendak anda pada anak-anak. Biarkan anak memilih apa yang mereka inginkan. Dengan begini anak-anak akan dapat menjalaninya dengan senang hati.

2. Emosi Anak yang Mudah Meledak

Pengaplikasian pola pengasuhan hyper-parenting umumnya lebih cenderung membuat orangtua seringkali mendikte anak dan memberikan banyak perintah dan meminta mereka untuk dapat mematuhi keinginan orangtuanya. Hal inilah yang pada akhirnya, membuat anak menjadi cenderung kaku.

Selain itu, banyak tekanan yang akan mereka dapatkan dari orangtuanya, terutama ketika perintah atau keinginan orangtua tidak sesuai dengan apa yang mereka sukai. Hal ini yang pada akhirnya akan membuat emosi anak cepat meledak.

3. Anak Menjadi Kurang Aktif

Kebiasaan yang selalu "diarahkan" dan "didikte" membuat anak-anak hanya akan terbatasi. Kebiasaan oragtua yang memberikan perintah atau menekankan kehendaknya pada anak, membuat mereka terus-terusan terbatas pada apa yang anda harapkan. Tanpa anda sadari, hal inilah yang membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang kreatif. Berbeda dengan anak-anak yang diberikan pola pengasuhan yang lebih baik, seperti halnya anak-anak yang diasuh dalam pengasuhan demokrasi. Anak-anak dalam hal ini akan cenderung lebih bebas dan lebih ceria, karena diberikan ruang untuk berekspresi namun dengan tidak menghilangkan pengawasan dari orangtua. Anak-anak yang seperti ini tentunya menjadi lebih kreatif dan cerdas.

4. Depresi Pada Anak

Tidak menutup kemungkinan, anak-anak yang seringkali disibukkan dengan berbagai kegiatan dan tugas yang diberikan oleh orangtuanya dalam rangka "me-manage" anak, akan mencetak pribadi yang murung, kurag ekspresif dan bahkan sulit mendapatkan teman. Hal ini tentunya, masuk akal jika mengingat anak-anak yang dibebani dengan tugas dan kegiatan yang menumpuk membuat mereka cenderung lebih sibuk dengan kegiatannya dan membuat mereka perlahan mengabaikan dunia sosialnya.

5. Kesehatan yang Terganggu

Jelas sudah, anak-anak yang diberikan banyak tugas seperti les, bimbingan belajar dan masih banyak kegiatan lainnya, membuat tenaga maupun pikiran anak terkuras. Lambat laun, energi anak akan berkurang dan tak lagi mampu untuk menghadapi kegiatan segudang yang diberikan oleh orangtua mereka.

Meskipun menginginkan yang terbaik untuk anak-anak, namun bukan berarti anda bisa mengabaikan dampak buruk dan sisi negatif yang bisa mereka hadapi dari pola pengasuhan yang seperti ini. Orangtua juga perlu mempertimbangkan hal ini demi kebaikan anak secara keseluruhan.

Menerapkan pola asuh yang terbaik adalah kunci dari keberhasilan orangtua dalam mendidik anak menjadi generasi bangsa yang lebih baik dan berkualitas. Untuk itu, mengenali dampak baik dan buruk yang mungkin ditimbulkan pada sebuah pola pengasuhan adalah modal awal untuk bisa menentukan pola pengasuhan seperti apa yang akan anda berikan pada buah hati tercinta.

Tips Mengajarkan Etika Bermain Sewaktu Si Kecil Berada di Rumah Temannya

Dunia anak adalah dunia bermain.

Memiliki banyak teman dan hari-hari yang diisi dengan penuh candaan dan gurauan bersama dengan sahabat kecilnya adalah hal yang menyenangkan untuk si kecil. Kegiatan inilah yang paling sering menjadi kegiatan yang paling ditunggu untuk si buah hati. Itulah mengapa, anak-anak akan cenderung lebih menikmati harinya jika ada begitu banyak teman-temannya dirumah maupun bermain diluar rumah.

Bermain bersama dengan teman-teman dan lingkungannya banyak memberikan hal yang positif untuk si buah hati. Dengan bermain, ia akan belajar sendiri bagaimana berinteraksi dengan lingkungan dan teman-temannya. Selain itu, kemampuan anak untuk dapat bersosialisasi akan dapat diasah disini. Anak-anak yang memiliki banyak teman akan cenderung lebih aktif dan ceria, pasalnya mereka akan dapat belajar untuk berbagi dan saling memahami. Selain itu, kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan bersosialisasi membuat mereka belajar sejak dini untuk dapat mengasah kemampuannya berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan hanya itu, ada lebih banyak hal positif yang akan didapatkan oleh si anak, diantaranya anak-anak diajarkan untuk berbagi mainan, belajar bagaimana bersabar dalam bergantian permainan, mengantri dan lain sebagainya.

etika anak bermain dirumah

Sewaktu kita ibu mendapati anak-anak bisa bermain dan berbaur dengan teman-temannya. Hal ini akan tentu saja membuat orangtua senang. Anak-anak yang bisa menikmati bermain bersama dengan teman, akan membuat orangtua lebih tenang dalam menyelesaikan dan mengerjakan tugas pekerjaan rumah tangganya. Ketika si kecil menikmati bermain bersama dengan teman-temannya, ibu tentu tidak akan dibuat khawatir dengan rengekan si kecil sewaktu mencuci atau memasak di dapur. Dengan begini pula ibu bisa tetap fokus membersihkan rumah sementara anak-anak tetap bisa bermain dengan gembira.

Mengajarkan sopan santun bukan hanya penting diterapkan pada orang dewasa, pendidikan penting ini pun harus senantiasa diberikan pada anak-anak sejak mereka masih kecil. Begitupun dalam hal bermain, meskipun dunia anak adalah dunia bermain. Akan tetapi, penting juga mengajarkan etika bagi anak agar mereka memiliki aturan yang harus dipertimbangkan, terutama saat anak-anak bermain dirumah temannya.

Kegiatan bermain ini tentu saja harus menjadi hal yang menyenangkan dan menggembirakan untuk anak. Untuk itulah mengajarkan etika pada anak sewaktu mereka bermain dirumah temannya tidak serta merta membuat mereka terbatasi dan merasa tertekan dengan aturan yang kita berikan pada anak-anak.

Yang terpenting dari hal ini adalah anak-anak harus dapat memahami tujuan dari pelajaran etika yang ibu berikan. Dengan demikian, ketika tujuan tersebut ditangkap dan dipahami dengan baik, maka anak-anak akan lebih mudah untuk mengaplikasikan hal tersebut dibanding menerapkannya dengan susah payah.

Nah, untuk membantu ibu dalam memberikan batasan dan mengajarkan etika pada anak-anak sewaktu mereka bermain dirumah temannya, maka kita simak beberapa tips dibawah ini.

Ajarkan Anak Untuk Punya Batasan Waktu

Bermain dan bercanda bersama dengan teman-teman, seringkali membuat seseorang mengabaikan waktu. Hal ini bukan hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun akan cenderung mengalaminya. Apalagi, saat mereka tenggelam dalam asyiknya kegiatan bermain yang mereka jalani. Hal inilah yang pada akhirnya, seringkali membuat si anak kesulitan atau enggan sewaktu diajak pulang.

Respon yang diberikan si anak pun umumnya berbeda, untuk sebagian anak ada yang hanya merengek atau menangis sewaktu diminta pulang. Namun, ada apula anak-anak yang cenderung memberikan respon ekstreme dengan mengamuk dan meronta ditempat bersangkutan. Nah, ketika hal ini terjadi, orangtua atau dalam hal ini terutama ibu, akan kesulitan mengatasi si anak. Belum lagi, hal ini akan mungkin membuat ibu merasa malu, terutama saat si anak mengamuk dihadapan orangtua temannya.

Nah, untuk mengatasi hal ini, maka sebaiknya sebelum anak hendak pergi ke rumah temannya. Berikan kesepakatan bersama dengan si anak agar mereka bisa memiliki batasan waktu. Ajarkan pada anak agar seberapa serunya permainan yang mereka rasakan bersama dengan teman-temannya, namun ketika tiba waktunya pulang, maka saat itu pula mereka harus segera pulang.

Misalkan, ketika anak bermain bersama dengan temannya, berikan batasan waktu untuk mereka selama kurang lebih 3-4 jam. Setelah itu, ingatkan anak ketika waktu telah habis, maka mereka harus segera pulang. Atau sebelum benar-benar habis, anda bisa memberikan waktu misalnya 10 atau 15 menit. Nah, jika anak anda menolak, ingatkan pada anak bahwa ada konsekuensinya. Dengan begini, diharapkan anak-anak merasa jera.

Ajarkan Anak Untuk Tidak Bermain di Kamar atau Melompat di Atas Sofa

Bermain dirumah teman, terkadang tak jarang membuat si tuan rumah mengelus dada sewaktu melihat anaknya dan anak kita bermain didalam kamar atau saat mereka melompat-lompat diatas sofa dengan kegirangan sewaktu mereka tengah bercanda. Nah, untuk itulah upayakan sebisa mungkin  agar anda bisa mengajarkan pada anak, agar mereka tidak memasuki ruangan pribadi tuan rumahnya, seperti kamar atau ruangan lainnya. Beritahukan pula pada mereka bahwa bermain diatas sofa tidaklah diperkenankan.

Ajarkan Anak Untuk Berbicara Sopan

Si kecil perlu diajarkan untuk berperilaku dan berbicara sopan kepada orang yang lebih tua dan oranglain, termasuk dalam hal ini adalah si tuan rumah dan orang-orang yang ada didalamnya. Mungkin ada beberapa kondisi yang membuat si kecil tak dapat bermain didalam rumah si temanya, seperti dikarenakan orangtuanya sakit atau mungkin ada anggota keluarga si temannya yang merasa tak ingin diganggu.

Untuk itulah, usahakan agar anak memaklumi dan mengerti. Buat mereka untuk tidak memaksakan kehendakanya. Sebaliknya, untuk menghargai oranglain buat anak agar bermain di tempat lain selain didalam rumah. Hanya saja, jika anak anda masih terlalu kecil, sebaiknya ketika anda meminta mereka untuk bermain diluar rumah, pastikan jika pengawasan anda terhadap si kecil tetap dijaga. Hal ini semata-mata demi kebaikan dan keselamatan buah hati.

Ajarkan Anak Untuk Tidak Menginterupsi Pembicaraan

Kehadiran anak-anak dirumah oranglain, yakni rumah temannya tidak selamanya dinikmati oleh si tuan rumah. Adakalanya, orangtua teman si kecil tengah sibuk. Ketika si kecil meminta sesuatu pada orangtua temannya apalagi saat mereka tengah sibuk, hal ini tentu akan mengundang masalah. Baik bagi si kecil maupun anda sebagai orangtuanya. Seringkali hal ini akan membuat jengkel si tuan rumah, yang pada akhirnya si buah hati akan mendapatkan predikat buruk seperti misalkan predikat "anak bandel".

Nah untuk menghindari hal ini, sebaiknya ajarkan anak untuk menjaga sikapnya. Ketika mereka membutuhkan sesuatu seperti misalkan meminta minum, minta diantar pulang dan lain sebagainya. Maka ajarkan mereka untuk membaca situasi terlebih dulu.

Ketika si tuan rumah sedang sibuk berbicara di telepon, sebaiknya si anak tidak menginterupsi pembicaraan tersebut. Mintalah anak menunggu sebentar hingga si tuan rumah terlihat santai. Dengan begitu anak-anak akan diajarkan bagaimana caranya bersabar dan melatih etikanya dimasyarakat.

Mengasuh dan merawat anak-anak, terutama mereka yang masih kecil seringkali menjadi hal yang gampang-gampang susah. Belum lagi, kegiatan ini memerlukan kesabaran yang ekstra. Akan tetapi, dengan kerjasama dan pengertian diantara orangtua untuk dapat  saling mendukung perkembangan dan kemampuan sosial di kecil, termasuk dalam hal ini sewaktu mereka bermain dirumah temannya akan membuat mereka bisa menikmati masa kecilnya yang indah dan ceria. Semoga tips diatas bermanfaat untuk anda dalam mendidik si buah hati.

Ciptakan Keluarga Lebih Rukun, Berikut Cara Mengatasi Rasa Cemburu Kakak Beradik

Ada begitu banyak perasan yang terdapat dalam diri manusia, salah satunya adalah perasaan cemburu.

Kecemburuan ini bisa muncul dalam beberapa kasus, seperti salah satunya adalah kecemburuan yang muncul dalam sebuah hubungan. Rasa cemburu yang terjadi dalam hubungan keluarga dapat muncul karena timbulnya perasaan bahwa orang tersebut merasa tidak cukup dengan apa yang ia dapatkan dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh saudaranya, seperti cemburu akan kasih sayang, perhatian dan bahkan cinta dari keluarganya. Perasaan cemburu bukan hanya dirasakan oleh orang dewasa, hal serupa juga bisa dirasakan anak-anak dalam keluarga seperti kakak beradik.

Perasaan cemburu yang tidak terselesaikan pada anak-anak yang masih kecil dikhawatirkan hal in akan berdampak saat merkea tumbuh dewasa kelak. Dampak yang ditimbulkan dari perasaan cemburu ini bukan haya akan tertuju pada adik dan kakak saja, namun juga kelak ketika mereka dewasa, perasaan yang lebih mendalam akan meluas pada keluarga besar dan masyarakat.

menghidnari cemburu kaka beradik

Perasaan cemburu tentu bukanlah sebuah perasaan yang baik, ketika seseorang merasakan cemburu dalam dirinya, maka  kemungkinan kehilangan sesuatu yang kita rasa adalah milik kita karena diambil oleh orang lain akan semakin besar. Pada akhirnya perasaan ini seolah akan terus menerus menghantui kita untuk bisa mendapatkan dan meraih apa yang seharusnya kita rasa menjadi milik kita.

Selain itu, dari munculnya perasaan cemburu dalam diri seseorang, maka orang tersebut cenderung akan memiliki perasaan curiga pada setiap hal, terutama orang yang mereka curigai. Nah, ketika hal ini terjadi pada anak-anak dalam rumah tangga, terutama kakak beradik, bukan tidak mungkin pertengkaran dalam rumah tangga akan terus-terusan terjadi.

Jangankan untuk melihat si buah hati bisa kompak dan sejalan, yang ada malah perselisihan dan pertengkaran yang tak akan bisa dihindari. Anda tentu tidak ingin hal ini terjadi dan menimpa si buah hati bukan? Untuk itulah, dibutuhkan peran orangtua untuk dapat menjadi penengah dalam perselisihan anak-anaknya.

Nah, kali ini kami akan berikan tips bagaimana mengatasi kecemburuan kakak beradik dalam rumah tangga. Namun sebelumnya kita telusuri lebih dalam apa sih penyebab rasa cemburu dalam keluarga terutama pada kakak beradik?

Penyebab Rasa Cemburu Dalam Keluarga

Kecemburuan yang timbul dari seseorang tentunya tidak muncul secara tiba-tiba dan tanpa alasan, selalu ada hal yang melatar belakangi seseorang untuk merasakan perasaan cemburu, begitu pula yang terjadi pada si kakak dan si adik. Umumnya, perasaan cemburu pada kakak beradik banyak dipicu karena warisan/teladan, diajarkan dari keluarga, merasa tidak puas dengan apa yang telah dimiliki, tidak adanya perasaan bangga pada kondisinya saat itu dan lain sebagainya.

Nah, jika kecemburuan ini dirasakan pada anak-anak dan lantas perkara serupa tidak pernah terselesaikan, maka perasaan ini akan terbawa hingga si anak dewasa dan hal yang paling dikhawatirkan dalam hal ini adalah perasaan tersebut akan diturunkannya pada generasi selanjutnya. Ketika hal ini terjadi, maka yang pada akhirnya terjadi adalah pertikaian keluarga yang tidak akan pernah ada habisnya. Selain itu, perasaan cemburu juga bisa dipicu karena adanya perasaan hak yang dilanggar. Kecemburuan ini biasanya melibatkan perasaan memiliki dan orang yang merasa haknya dilanggar atau tidak diberikan akan merasakan kecemburuan yang besar kepala orang-orang yang dianggap mengambil atau merebut haknya tersebut.

Perasaan cemburu yang timbul pada kakak beradik juga bisa disebabkan karena adanya unsur dalam kehidupan seorang anak. Dalam hal ini ada orangtua yang memberikan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kepada salah satu anak  agar anak lain tak mengetahuinya. Perilaku yang dilakukan orangtua ini mungkin beralasan, akan tetapi ketika satu anak mengetahui, maka tentu saja akan timbul rasa cemburu yang besar.

Nah, perasaan cemburu rupanya dapat dipicu oleh beberapa hal diatas. Jika perasaan cemburu dirasakan oleh seseorang maka akan ada dampak yang akan terjadi, seperti apa sajakah dampak tersebut? Kita simak dibawah ini.

Dampak dan Reaksi Cemburu dalam Keluarga

  • Putusnya tali persaudaraan
  • Perasaan curiga. Kakak beradik yang cemburu satu sama lain akan cenderung menimbulkan perasaan baru dalam dirinya yakni perasaan curiga.
  • Memicu kemarahan satu sama lain. Perasaan cemburu yang dirasakan kakak dan adik akan memicu perasaan kesal dan amarah yang meledak, maka tidak heran jika pertengkaran akan mungkin mereka hadapi.
  • Berpikiran negatif dan berbohong. Kecemburuan yang dirasakan pada kakak beradi akan membuat mereka saling berpikiran tidak baik dan kebohongan tidak akan bisa dihindari

Lantas, bagaimana mengatasi perasaan cemburu pada kakak beradik dalam keluarga?

Mengatasi Rasa Cemburu Kakak Beradik

1. Bangun Rasa Percaya Diri

Perasaan cemburu merupakan hasil dari ketidak percayaan akan kemampuan dalam diri si anak. Terkadang perasaan ini terpendam jauh dalam lubuh hati anak-anak dan ketakutan bahwa merekan akan ditinggalkan, atau membuat perasaan cinta orangtua tak lagi bisa mereka dapatkan. Hal ini disebabkan karena anak-anak merasa mereka tak cukup baik untuk orangtuanya tak seperti perlakuan orangtua pada salah satu saudara mereka.

Untuk itulah, sebagai orangtua yang baik, untuk menghidnari kecemburuan pada anak-anak adalah dengan membangun rasa percaya diri dalam diri anak-anak. Berikan pemahan pada mereka bahwa kasih sayang anda akan dapat diberikan dengan sama. Tak ada anak kesayangan dan anak yang diasingkan, semuanya sama.

Selain itu, berhentilah membanding-bandingkan anak anda untuk menghindari rasa percaya diri pada anak-anak menjadi padam.

2. Bangun Kepercayaan Pada Diri Anak-Anak

Kecemburuan yang timbul dalam diri seseorang bisa diindikasikan bahwa kepercayaan mereka pada seseorang yang mereka andalkan sudah lagi tak sekuat dulu. Begitupun yang dirasakan oleh anak-anak, ketika rasa cemburu mereka timbul, anak-anak mengasumsikan bahwa anda tak lagi menyayanginya dan rasa percaya dalam diri mereka terhadap orangtua sudah runtuh.

Nah, untuk mengatasi hal ini, maka orangtua harus mampu mengembalikan kepercayaan anak-anak dan bangun kembali agar mereka bisa menjadikan anda sebagai tumpuannya. Ketika rasa percayanya pada orangtua kembali, maka segala hal yang mereka alami dan hambatan yang mereka alami tidak akan mampu menggoyahkan kepercayaan mereka dan membuat mereka cemburu. Sebaliknya, dengan tumbuhnya rasa percaya akan membuat mereka tetap teguh pada kasih sayang orangtuanya.

3. Bangun Rasa Bangga Pada Apapun Status Anak dalam Keluarga

Seringkali si kakak merasa cemburu pada adik karena kasih sayang yang ibu berikan cenderung lebih banyak diberikan kepada si adik. Hal inilah yang pada akhirnya membuat si kakak kesal menyandang statusnya dalam keluarga. Hal ini bukan tidak mungkin membuat mereka menyesal memiliki adik.

Untuk itulah, buat mereka bangga dengan apapun status mereka dalam keluarga. Seperti dalam hal ini, buat si kakak memahami bahwa statusnya sebagai kakak adalah peran yang penting. Tanggung jawab yang besar ada dipundak mereka dan membuat mereka memiliki peranan yang penting untuk menjaga dan melindungin adiknya.

Membangun rasa percaya diri dalam diri anak-anak adalah cara yang baik untuk mengatasi rasa cemburu pada anak-anak. Sebab kecemburuan umumnya timbul karena anak-anak seringkali merasa dirinya tak cukup. Untuk itu, beberapa cara diatas diharapkan mampu menambah ilmu dan wawasan serta memudahkan bunda mengatasi kecemburuan pada si kecil.

Agar Tidak Stres Atasi Tantrum Si Kecil yang Meledak-Ledak

Banyak orangtua yang mengeluhkan betapa susah dan sulitnya mengasuh anak dimasa saat ini.

Apalagi pola pikir orangtua saat ini sudah mengalami perkembangan yang lebih pesat, dimana mereka tidak hanya menginginkan anak-anak yang pintar, namun juga mengharapakan buah hati mereka memiliki perilaku yang terpuji dan akhlak yang baik.

Hambatan yang dihadapi orangtua dalam mendidik anak, bukan hanya terpaku pada sikap anak yang lebih berani dan "agak" sulit untuk diatur. Namun juga, tantangan globalisasi budaya, informasi dan tekhnologi yang turut andil dalam mewarnai sikap anak-anak, membuat orangtua semakin kelawahan dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Ibaratkan, membangun sebuah istana pasir di dekat pantai, sapuan ombak yang besar seringkali tak terhindarkan yang pada akhirnya membuat bangunan yang telah dengan susah payah kita buat, ambruk dan hancur tak tersisa. Keadaan inilah yang pada akhirnya membuat stres pada orangtua tak lagi dapat dibendung.

agar tak stres hadapi tantrum anak

Repot, kelelahan dan kesulitan adalah beberapa hal yang seringkali dikeluhkan para orangtua, terutama dalam hal ini adalah ibu yang sudah merasa jenuh dengan kenakalan anak-anaknya. Hal ini akan semakin membuat stres yang dirasakan orang tua menjadi memburuk, tatkala anak-anak cenderung berbuat semaunya. Tidak mau diatur, sulit didisiplinkan, rewel, tidak mau makan dan malah akan mengamuk sewaktu diberikan nasihat atau diperingati. Akibatnya orangtua akan dibuat pusing, jengkel dan stres tak lagi bisa dihindarkan.

Stres merupakan reaksi tubuh yang dialami oleh seseorang akibat berbagai persoalan yang dihadapinya. Masalah anak-anak merupakan salah satu persoalan yang dapat menimbulkan stres. Gejala-gejala ini umumnya mencakup, mental, fisik dan sosial. Ciri-ciri yang bisa dinampakan pada orang yang menderita stres adalah sakit kepala, nafsu makan berkurang, sulit tidur atau malah waktu tidur yang berlebihan. Dampak dari stres yang dialami oleh seseorang tentunya tidak boleh disepelekan. Sebab banyak penelitian menunjukan bahwa dampak dari stres yang dialami bisa mempengaruhi daya tahan tubuh dan beresiko terhadap berbagai serangan penyakit. Untuk itulah, perlu kedasadaran setiap orang untuk memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan tubuh, baik secara disik maupun psikis.

Nah, ketika orangtua atau dalam hal ini adalah ibu yang seringkali mendapatkan tekanan dari amukan anak-anak yang sulit diatur. Maka penting sekali untuk ibu bisa mengatasi stres yang dialami. Hal ini tentu saja, semata-mata demi kebaikan ibu dan kesehatan tubuh. Ketika jiwa dan tubuh kita fit, maka kegiatan mengasuh si kecil akan bisa lebih menyenangkan. Lantas seperti apa sih tips yang bisa diterapkan agar tantrum dan kemarahan pada anak bisa diredam sehingga orangtua bisa terbebas dari stres? Kita simak berikut ini.

1. Kenali Potensi Anak

Tuhan menciptakan setiap manusia dengan segala potensi, termasuk pada anak. Dimana didalamnya Tuhan memberikan potensi berupa kebutuhan jasmani dan rohani serta naluri dalam diri seseorang. Pada masa anak-anak, beberapa potensi ini masih akan terus tumbuh dan berkembang. Disinilah pengarah dan bimbingan dari orangtua akan sanagt mereka butuhkan.

Ketidak mampuan orangtua dalam mengenali potensi anak adalah hal yang seringkali menimbulkan masalah. Sebab sejatinya, permasalah manusia, termasuk masalah anak-anak hanya berkisar tentang pemenuhan kebutuhan naluri dan jasmani.

Sebelum anak beranjak dewasa, terkadang mereka akan kesulitan untuk dapat menyelesaikan masalah dan problema dalam kehidupannya. Untuk itulah, ibu dituntut untuk bisa mengenal potensi dan membantu anak-anak membimbing dan mengarahkan mereka pada jalan yang benar. Ketika kebutuhan jasmani dan naluri pada anak terpenuhi, maka tidak akan ada masalah yang timbul dan kemarahan anak pun bisa dihindari.

2. Miliki Rutinitas

Anak-anak membutuhkan rutinitas yang bisa berjalan sekonsisten mungkin dalam setiap harinya. Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa mereka harus mendapatkan jadwal yang serupa yang kaku dan mengikat sehingga membatasi ruang gerak dan kebebasan si kecil untuk bereksplorasi. Untuk itu, cobalah untuk dapat mengatur, jam tidur siang, jam bermain dan jam makan si kecil. Tantrum pada anak akan dapt meningkat atau timbuk ketika ia merasa bertindak diluar kendali, sehingga memiliki rutinitas dapat membaut perbedaan yang signifikan untuk anak-anak.

3. Dapatkan Waktu Istirahat yang Cukup Untuk Anak-Anak

Ketika ibu mendapati anak-anak mudah meledak dan tantrumnya seringkali tak bisa dikendalikan. Bisa mungkin hal ini dipicu karena mereka mengalami gangguan pada jam istirahatnya. Dalam hal ini maksudnya adalah tidur.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak yang mendapatkan waktu tidur yang kurang akan cenderung membuat si anak rewel. Rewel inilah yang akan menyebar dan membuat hari-hari yang mereka jalani terpengaruhi oleh mood yang buruk. Yang pada akhirnya, hal inilah yang membuat frekuensi peningkatan tantrum pada anak-anak menjadi lebih besar.

Untuk itulah, pastikan anak-anak mendapatkan waktu tidur yang cukup terutama dimalam hari. Jangan biarkan anak-anak tidur diwaktu yang terlalu larut. Selain itu, jangan pernah sepelekan manfaat tidur siang. Selain akan membuat anak-anak menjadi lebih fit, tidur siang akan membatasi wakt bermainnya disiang hari agar mereka tidak terlalu aktif.

4. Jangan Biarkan Anak-Anak Kelaparan

Sama halnya seperti tidur, kelaparan yang dialami oleh anak-anak akan membuat tantrumnya meledak. Hal ini dikarenakan anak-anak belum memiliki kemampuan untuk dapat menyampaikan keinginannya dengan baik. Untuk itulah, pastikan jika anda memenuhi jam makan anak-anak. Selain itu, pastikan menyediakan camilan diantara waktu makannya. Pilihlah camilan yang sehat dan hindari makanan ringan yang bertinggi kalori dan terlalu banyak mengandung gula, garam dan perasa yang mana hal ini akan memicu peningkatan tantrum pada anak.

5. Ajarkan Anak Untuk Mengelola Emosinya

Banyak amukan yang terjadi karena anak-anak frustasi. Selain itu, usia anak yang masih begitu kecil membuat mereka belum memiliki kemampuan mengendalikan frustasi dan kekesalan yang dimiliknya. Sehingga hal ini akan membuat mereka tak karuan yang pada akhirnya membuat tantrum pada anak meledak. Untuk itu, bantu anak mengindentifikasi perasaannya dengan cara yang lebih tepat. Selain itu, ajarkan mereka untuk dapat menyampaikan maksud hati dan keinginannya dengan baik.

Berikan pemahaman bahwa jika anak meminta dengan baik-baik, maka anda akan dapat mempertimbangkan keinginannya tersebut. Lakukan hal ini dengan menunjukan empati pada anak dan gunakan cara yang menyenangka bagaimana anak belajar untuk mengendalikan emosinya.

Tantrum yang meledak pada anak seringkali membuat orangtua panik dan kewalahan untuk menenangkannya. Apalagi ketika tantrum ini terjadi ditempat umum. Seringkali orangtua kesulitan untuk meredakannya dan pada akhirnya stres dan frustasi menjadi hal yang tak lagi bisa dihindari. Untuk itulah, beberapa cara meredakan frekuensi tantrum pada anak diharapkan mampu meredakan dan menghindari stres yang mungkin anda rasakan sewaktu menghadapi anak-anak.

Semoga tips diatas bisa bermanfaat dan bisa membantu ibu dalam menjaga dan mendidik si kecil agar mereka bisa mengendalikan emosinya. Dengan begini kegiatan mengasuh si kecil akan menjadi hal yang lebih menyenangkan. 

Tips Agar Anak-Anak Tak Berebut Barang

Si adik dan si kakak adalah dua buah hati ibu yang tercinta.

Sewaktu akhir pekan, ketika semuanya berkumpul dirumah adalah kegiatan yang menyenangkan bisa bercengkrama dan berkumpul bersama dengan semua anggota keluarga. Apalagi, jarang sekali mendapatkan momen seperti ini ketika si ayah harus bekerja dan si kakak sudah mulai masuk sekolah dasar. Dirumah, ibu hanya ditinggal berdua bersama dengan si adik yang masih balita. Itulah mengapa, kegiatan berkumpul bersama-dama menjadi momen jarang yang sangat menggembirakan.

Akan tetapi, ketika si kakak dan si adik disatukan dalam sebuah ruangan dan bermain bersama, selalu ada saja perselisihan yang terjadi. Hal tersebut terjadi tak jarang karena disulut dengan saling berebut barang yang masing-masing bersih kukuh ingin memilikinya. Si kakak yang masih kecil dan si adik yang terlalu kecil, seringkali susah untuk mengatur mereka dan meminta salah satunya mengalah. Alhasil, rumah yang tadinya begitu hangat dengan kebersamaan, berubah menjadi kegaduhan dan pecah seketika dengan perselisihan keduanya.

agar anak tak berebut barang

Jika sudah begini, ibu dan ayah langsung mengusap kening dan menghela nafas seolah sudah terlalu sering dihadapkan pada kondisi demikian. Namun demikian, sebagai orangtua tentunya, kita tidak ingin jika si kakak dan si adik terus-terusan terjebak dalam perselisihan akan hal sepele. Alih-alih, nantinya akan sulit bagi orangtua mengajak serta kedua buah hatinya berpegian keluar rumah. Apalagi saat bertemu dengan sanak saudara atau teman-teman ayah dan ibu. Perkelahian anak-anak yang saling berebut barang akan tentu saja membuat kita merasa malu dan canggung dengan oranglain yang melihat sikap dua buah hati kita.

Anak-anak yang berebut barang atau mainan memang hal yang lumrah. Apalagi jika mengingat ego mereka ketika masih anak-anak masih begitu tinggi dan sikapnya masih meleda-ledak. Disamping itu, umumnya tindakan anak-anak sulit sekali diprediksi, sebentar dia menginginkan itu dan sebentar lagi anak-anak sudah menginginkan barang milik oranglain, termasuk milik saudaranya sendiri. Akan tetapi, jika sikap ini sudah tak lagi dapat dimaklumi dimana keduanya sudah berntindak diluar batas dengan menyakiti satu sama lain ketika berselisih dan berebut barang, maka perlu sekali tindakan orangtua untuk bisa menghentikan perbuatan anak-anak. Apalagi mereka berdua terikat dengan hubungan sedarah. Jangan sampai, sikap dan perilaku keduanya terbawa hingga mereka besar dan dewasa nanti, yang mana dikhawatirkan akan tumbuh persaingan dalam diri anak-anak dan membuat kebencian hadir dalam dirinya.

Adalah hal yang wajar, ketika si kakak dan si adik berebut barang, si adik kecil seringkali menangis dan berteriak, begitupun dengan si kakak. Akan tetapi, tak bijak jika ibu terus-terusan menyepelekan hal ini dengan tidak melakukan apa-apa. Orangtua perlu menjadi penengah dalam pertengkaran anak dan dituntut untuk bisa berlaku bijak menyikapi perselisihan ini.

Nah, agar ibu bisa mengatasi anak-anak yang seringkali berebut barang atau mainan. Kali ini kami akan berikan tips mudah agar mereka tak lagi berebut mainan dan tidak terjebak dalam perselisihan yang tiada akhirnya.

Bersikap Objektif Terhadap Anak-Anak

Ketika ibu mendapati anak-anak sedang berselisih karena berebut mainan, maka jangan lantas menyalahkan salah satu anak yang paling tua untuk mengalah dan membela si kecil dengan alasan adiknya masih begitu kecil untuk memahami semua itu. Sebaiknya, tanyakan terlebih dahulu pangkal permasalahannya pada salah satu. Dan tanyakan pada yang lain apakah benar demikian atau tidak.

Dari sinilah anda akan tahu apa yang harus anda lakukan selanjutnya. Jika barang tersebut memanglah milik si kakak, maka mintalah anak anda yang paling kecil untuk memberikan pada kakaknya. Setelah itu, ajak anak yang paling kecil untuk ikut bersama anda. Dari sini, anda bisa memberikan pengertian pada anak anda yang masih kecil, bahwa mereka harus belajar menghargai milik oranglain. Hal ini tentunya bukan hanya berlaku saat anak menggunakan atau berusaha mengambil barang si kakak saja, namun juga barang-barang miliki orang lain.

Jangan Memaksa

Ketika anak bermain dengan teman-temannya atau saudaranya, sebaiknya jangan pernah memaksa anak untuk membagi semua yang ia miliki. Biarkan anak memilih sendiri mainan atau barang mana yang ingin ia mainkan bersama dengan oranglain. Dengan begini, anak juga akan belajar bahwa tidak semua hal bisa ia bagi dengan orang lain. Selain itu, ketika anak mengikuti nalurinya sendiri untuk dapat memilih apa yang boleh ia bagi, maka ia akan dapat memberikannya dengan lebih lapang dada. Sehingga tidak ada alasan untuknya bisa merebut barang tersebut secara paksa dari teman atau saudaranya.

Berikan Aturan yang Tegas Pada Anak

Salah satu cara untuk menghindari perselisahan karena berebut barang pada anak adalah dengan memberikan atau memberlakukan aturan yang tegas pada anak-anak. Hanya saja, tentunya aturan tersebut sesuai dengan usia anak. Jangan sampai anda memberlakukan aturan yang tagas dengan sanksi yang kejam seperti memukul anak, mengurung anak dan lain sebagainya. Yang terpenting dari poin ini adalah membuat anak jera atau merasa takut merebut barang milik oranglain karena anda telah membuat kesepakatan sebelumnya dengan si kecil. Dengan demikian, perselisihan dan pertengkaran pada anak bisa dihindari.

Tunjukan Sikap Pengertian

Ketika anak mengadukan teman atau saudaranya merebut mainan sendiri atau mereka tidak ingin berbagi dengan anak anda, anda lantas mengatakan "Sudah, biarkan saja." Kata-kata ini justru akan lebih menunjukan bahwa anak juga diajarkan untuk mengabaikan perasaan dan keinginannya untuk memainkan sebuah barang.

Untuk itu, sebaiknya tanggapi curahan hati anak dan tanyakan dulu pada temannya mengapa ia tidak ingin berbagi permainan tersebut atau mengapa ia merebut mainannya. Dengan begini, anak-anak akan merasa dihargai dan diperhatikan.

Ajak Anak Bersosialisasi

Teori mengajarkan anak agar mau berbagi tidak hanya cukup membuat anak mengerti. Pada akhirnya, anak-anak pun akan membutuhkan praktek yang jelas yang akan membuatnya mengalami hal tersebut. Untuk itulah, ibu bisa mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan bermain anak yang baru dimana didalamnya terdapat anak-anak sesuai dengan anak anda, seperti misalkan playgroup atau taman kanak-kanak. Disini anak-anak akan langsung mengalami sendiri bagaimana berbagi dan tidak saling berebut. Mintalah anak-anak untuk bisa berbagi dengan teman dan sahabat-sahabatnya agar mereka bisa bermain bersama dan menikmati hari-harinya.

Berikan Contoh yang Baik

Dalam segala hal orangtua adalah figur yang akan senantiasa ditiru oleh anak-anaknya. Baik dalam segi perilaku maupun sifat. Untuk itulah, orangtua harus mampu memberikan contoh yang baik dan menjadi tauladan untuk anak-anaknya. Ketika anda menginginkan anak-anak tidak selalu berebut barang atau mainan dengan teman-teman dan saudaranya, maka ajarkan pula konsep berbagi dengan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begini, anak-anak secara tidak langsung aka menyerap dan mempraktikan apa yang mereka lihat dari kedua orangtuanya.

Dunia anak adalah dunia bermain yang dihiasi dengan keceriaan. Akan tetapi, ketika keceriaannya terenggut karena sikap anak-anak saling berebut barang, tentu saja hal ini akan membuat kita kewalahan menghadapi anak-anak. Nah, beberapa tips diatas diharapkan mampu membantu ibu mendapatkan solusi agar anak-anaknya tak selalu berebut barang dengan saudara atau teman-temannya.

Jadi Orangtua Pintar, Kenali Beberapa Anggapan Keliru Anak Pada Pola Asuh Orangtua

Sebagai orangtua, sudah tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Tidak ada orangtua yang rela jika buah hati yang telah dengan susah payah mereka lahirkan kedunia tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang besar dari kedua orangtuanya. Untuk itulah, orangtua akan dengan rela mengusahakan segala cara dan upaya untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak peduli susah, tak menghiraukan kesulitan, dan mengabaikan rasa letih adalah pengorbanan besar yang diberikan orangtua sebagai wujud kasih sayang yang tiada tara untuk buah hati yang mereka cintai. Segala pengorbanan dan perjuangan mereka lakukan semata-mata demi sang anak agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah.

Akan tetapi, perjuangan berat yang begitu panjang ini bukan berarti dijalani oleh orangtua dengan tanpa ada rintangan dan halangan. Selalu ada saja hambatan dan halangan yang menghiasi perjuangan itu. Namun demikian, hal tersebut tak serta merta membuat upaya orangtua dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya terhenti ditengah jalan dan memutuskan untuk tidak lagi mencintai sang buah hati.

anggapan anak yang keliru pada pola asuh orang tua

Begitupun saat bunda mengasuh anak-anaknya. Meskipun orangtua sudah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberikan pola pengasuhan yang terbaik. Namun, tak bisa dipungkiri, terkadang ada saja hambatan yang datang. Salah satu hambatan tersebut adalah dengan hadirnya kesalah pahaman anak dalam menangkap maksud dan tujuan pola pengasuhan yang diberikan oleh orangtuanya yang dilihat dari sudut pandang yang keliru. Akan tetapi, kita tidak bisa menyalahkan anak-anak apabila mereka memiliki persepsi yang keliru dalam menangkap pola pengasuhan orangtuanya.

Anak-anak masih memiliki kemampuan penalaran yang belum matang sehingga sulit  bagi mereka untuk dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi keinginan mereka. Terkadang, apa yang diberikan oleh orangtuanya dianggap sebagai sesuatu yang dapat menyalurkan keinginan mereka.

Jika kekeliruan yang terjadi pada anak-anak terus dibiarkan tanpa dicari solusinya. Maka, dikhawatirkan hal ini akan mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian dalam diri si anak. Yang mana, jika kepribadian yang dibentuk menuju pada sesuatu yang negatif, hal ini malah akan tertanam dalam diri mereka dan terbawa hingga anak-anak dewasa. Anda tentu tidak ingin, jika pada akhirnya apa yang anda ajarkan pada si kecil membuat kekeliruan dalam diri mereka dan membuat mereka kesulitan berbaur dan bersosialisasi dengan lingkungannya bukan? Untuk itulah, cari segera solusi jika anda mulai menemukan pertanda anak-anak menangkap kekeliruan pada pola pengasuhan yang anda berikan.

Nah, untuk itu kita kenali terlebih dahulu hal apa saja yang bisa menjadi anggapan keliru anak pada pengasuhan orangtua.

Membeli Barang Untuk Dapatkan Lebih Banyak Uang

Ketika anak-anak sudah cukup usia untuk diberikan uang jajan. Maka ajarkan pula mereka bagaimana mengelola keungan dengan bijak. Memberikan uang jajan pada anak, bukan berarti mengajarkan anak-anak untuk boros dan berfoya-foya. Justru sebaliknya, dengan diberikan uang jajan, anak-anak diajarkan bagaimana mengemban sebuah amanat dengan tanggung jawa yang besar.

Pada umumnya, anak-anak akan berpikiran bahwa uang kembalian nampak jauh lebih banyak daripada uang yang mereka belanjakan. Sehingga hal inilah yang membuat mereka seringkali menghabiskan uang jajan yang diberikan oleh orangtuanya karena mereka berpikir setelah dibelanjakan, mereka akan mendapatkan lebih banyak uag.

Nah, jika hal ini terjadi, maka menjadi tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pehaman pada anak. Buat anak-anak mengerti nominal uang dan mengenal jumlah uang. Selain itu, ajarkan pula mereka untuk membelanjakan keungannya pada hal-hal yang dianggap perlu bukan sesuatu yang bersifat boros.

Waktu Tidur Adalah Waktu Perpisahan

Ketika meminta anak-anak untuk beristirahat dimalam hari dengan memintanya segera tidur, seringkali orangtua dibuat kesulitan. Tahukah anda, mengapa demikian? Terkadang anak-anak merasa bahwa tidur dimalam hari membuat mereka terpisah selama berjam-jam dari orangtuanya. Hal inilah yang pada akhirnya membuat mereka mempertahankan diri sebisa mungkin agar tidak tidur cepat untuk menghindari perpisahan atau dipisahkan dari anda.

Untuk itulah, jangan heran, meskipun anda telah melihat kondisi anak yang sudah mulai kepayahan menahan kantuk, namun mereka tetap bersih keras untuk tetap aktif, hal tersebut semata-mata dipicu karena anak tak ingin berada jauh dari anda.

Nah untuk hal inilah, sebagai orangtua anda harus mampu memberikan cara pandang berbeda pada anak-anak agar situasi tidru , terutama tidur dimalam hari menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Bila perlu dongengkan sebuah cerita sebagai pengantar tidurnya sehingga tidur lelap dimalam hari tidak akan terasa sulit untuk mereka.

Apabila Ia Kehilangan Barang/Mainan, Orangtua Akan Membelikan Kembali

Ketika boneka barbie si kecil rusak atau bola basket si buah hati tiba-tiba kempes dan tak bisa lagi dipakai. Anda lantas dengan mudah mengatakan pada si kecil bahwa anda akan membelikan kembali yang baru untuk mereka.

Meskipun, maksud kita baik agar anak-anak bisa kembali ceria dan mendapatkan mainan mereka. Namun, bukan tidak mungkin anak-anak anda bisa memaknai bahwa anda akan dengan mudah membelikan mereka mainan yang baru, yang apda akhirnya membuat anak-anak seolah tak peduli pada apa yang ia miliki.

Nah, dari sinilah orangtua harus mampu memberikan pehaman baru pada anak untuk dapat merawat apa yang menjadi miliknya. Buat pula anak mengerti arti menghargai pemberian dan menjaga barang-barang pribadnya dengan baik dibandingkan dengan membuang uang untuk membeli yang baru. Anak-anak seringkali mendapatkan mainan baru yang dibelikan oleh orangtua mereka atau didapat sebagai hadian dari paman dan bibinya dan ketika mainan tersebut berserakan dimaana saja, mereka akaSn cenderung acuh dan tidak peduli. Nah, disinilah ibu dan ayah harus bisa mengajarkan kedisiplinan untuk anak-anak agar bisa menjaga dan menghargai pemberian dari orang lain.

Selain itu, beritahukan pada anak-anak bahwa anda tidak akan selamanya bisa membelikan mereka mainan yang baru. Akan ada saatnya, dimana anda dan keluarga harus berhemat dan menabung untuk masa depan keluarga. Yang terpenting adalah buatlah anak-anak mengerti untuk dapat menghargai dan menjaga dengan baik barang-barang pribadi miliknya.

Pandangan atau anggapan keliru anak-anak terhadap pola pengasuhan yang diberikan oleh orangtunya akan berdampak fatal jika terus-terusan dibiarkan. Untuk itulah, mengenali dan mengetahui solusi untuk menindak lanjuti kekeliruan pada anak-anak atas pengasuhan yang diberikan orangtua diharapkan dapat membantu ibu dalam mendidik dan mengasuh anak-anak menjadi pribadi yang berkualitas.

Tips Penting Latih dan Ajarkan Si Kecil Hargai Perbedaan Fisik

Bunda, pernahkah anda membawa si kecil ke sebuah tempat dan ketika anda mendatangi tempat tersebut ada seorang kerabat, teman ataupun saudara anda yang memiliki keterbatasan fisik?

Lalu bagaimanakah reaksi si kecil sewaktu melihat perbedaan fisik dirinya dengan orang yang ia lihat?

Ya, seringkali ketika tak sengaja ketika si kecil dipertemukan atau bertemu dengan seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, mereka akan memberikan respon yang spontan dengan memberikan opini yang mengejutkan. Terkadang opini ini dilontarkan dengan nada lantang dan blak-blakan yang membuat kita sebagai orangtuanya merasa tak enak hati dengan orang tersebut. Ya namanya juga anak-anak, kepolosan mereka sewaktu mendapatkan sesuatu hal yang baru, termasuk saat mereka menjumpai orang-orang yang memiliki perbedaan fisik dengan mereka, maka akan secara spontan mereka memberikan respon yang tanpa beban denagn tanpa mempertimbangkan apa yang mereka ucapkan.

ajarkan anak hargai perbedaan fisik

Umumnya, perbedaan ini akan mulai ditangkap oleh anak-anak dari usia 4 tahun ke atas. Di usia ini, anak-anak sudah bisa memahami kondisi dirinya dengan oranglain. Selain itu, akan tumbuh sikap baru dalam diri anak-anak yakni kemampuan untuk mulai membandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain. Dimana ketika mereka mendapati hal yang dimiliki oranglain tidak sama dengan apa yang ia ketahui, maka dengan otomatis mereka akan bertanya pada kita orang dewasa, begitupun saat anak-anak menyaksikan perbedaan fisik yang dimiliki oleh oranglain.

Hal ini tentunya wajar, jika mengingat pengetahuan anak-anak yang masih begitu terbatas. Selain itu, anak-anak belum mampu mempertimbangkan perbuatan dan perkataannya sebagai hal yang buruk dan bisa menyakiti perasaan orang lain. Untuk itulah, peran orangtua akan dibutuhkan disini.

Sebagai orangtua, sudah tugas kita untuk bisa mendidik dan memanage sikap anak-anak agar ketika mereka dihadapkan dilingkungannya, anak-anak bisa memilah mana yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

Ketika anda membawa anak-anak ke tempat umum dan anak melontarkan pertanyaan "Ma, kenapa bapak itu pakai tongkat?", "Ma, kenapa ibu itu duduk di kursi dorong?" dan lain sebagainya. Maka, sudah saatnya, anda sebagai orangtua harus dapat menjelaskan kepada anak mengenai perbedaan tersebut dan melatih mereka untuk bisa menghargai perbedaan yang dimiliki setiap orang.

Mengajarkan anak tentang bagaimana menghargai orang lain, mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit. Selain itu, tantangan dan halangan akan mungkin anda dapatkan. Seperti misalkan ada begitu banyaknya pertanyaan dari si kecil, kesulitan si anak untuk menyerap alasan dan lain sebagainya. Akan tetapi, jika anda bersabar dna terus berusaha mengajarkan hal ini pada si kecil, maka perlahan namun pasti mereka akan dapat mengerti.

Lalu, seperti apa sih cara melatih dan mnagjarkan si kecil agar mampu menghargai perbedaan fisik pada oranglain? Beberapa tips dibawah ini akan dapat diaplikasikan untuk si buah hati.

1. Tanamkan Sejak Dini Tentang Keagungan Tuhan

Membiasakan anak-anak mengenal dan mengetahui Tuhan mereka adalah pelajaran yang penting yang harus senantiasa dilakukan sejak mereka masih berusia dini. Begitupun ketika anak-anak mulai memahami dan membandingkan perbedaan fisik yang mereka lihat.

Jelaskan pada anak, bahwa Tuhan yang Maha Agung telah menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangan. Beritahukan pula pada anak, bahwa setiap manusia diberikan kekuarangannya masing-masing serta diberkahi dengan kelebihan dalam hidupnya. Dimana kekurangan tersebut haruslah disyukuri dan menerima kelebihan sebagai sebuah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.

Begitupun ketika anak meilihat seseorang yang kehilangan kakinya dan tak dapat berjalan. Mereka mungkin akan langsung bertanya pada anda dengan spontan. Nah, disinilah anda bisa memberikan arahan pada mereka bahwa meskipun orang tersebut tak dapat berjalan, namun ia mahir menggunakan kakinya untuk melakukan banyak hal dengan menggunakan tangannya. Meskipun Tuhan mengambil kakinya, namun Tuhan telah menggantinya dengan kedua tangan yang utuh yang masih dimilikinya. Disini pula lah anak harus diajarkan bagaimana caranya bersyukur.

Selain itu, buat anak mengerti bahwa kekurangan pada oranglain bukanlah sesuatu yang menyedihkan dan harus patut dibicarakan atau dijadikan bahan olok-olok. Sebaliknya, berikan pehaman pada anak bahwa mereka tetap saja sama dengannya dan salah seorang hamba Tuhan yang harus kita hargai.

Ketika anak-anak mulai mengerti, maka meraka akan mampu menghargai oranglain yang berbeda daripadanya. Selain itu, diharapkan anak-anak mampu mempengaruhi temannya untuk bisa menghargai juga.

2. Ajarkan Anak Untuk Bisa Mensyukuri Keadaannya dengan Lebih Baik

Hikmah lain yang juga bisa diajarkan pada anak-anak sewaktu mereka melihat sendiri kondisi perbedaan fisik orang lain adalah dengan mengajarkan anak bersyukur dengan kondisi yang ia miliki. Buat anak memahami bahwa ia masih jauh lebih beruntung diberikan kesempurnaan oleh Tuhan dan diberikan kemampuan untuk melakukan segalanya dengan tubuh yang utuh. Untuk itulah, mereka harus senantiasa dapat menjaganya dengan baik dan melakukannya dijalan yang benar dengan membantu oranglain yang tidak mampu. Dengan begini anak akan memiliki rasa empati untuk bisa saling membantu dengan orang lain.

3. Melatih Anak Agar Mereka Mau dan Berani Memberikan Pengaruh Baik Pada Teman-Temannya

Ketika anak sudah mendapatkan pemahaman baru akan perbedaan fisik oranglain yang mereka saksikan sendiri. Anak-anak juga perlu diberikan pemahaman agar mereka mampu memberikan pengaruh positif pada teman-temannya. Ketika anak bermain bersama dengan temannya dan mereka melihat oranglain yang memiliki keterbatasan fisik, maka tidak sepatutnya mereka mengolok-oloknya. Sebaliknya, mereka harus bisa membantu dan saling berbagi. Tanamkan pula pada diri anak bahwa menghibur dan menyenangkan oranglain adalah pahala.

4. Ajak Anak Melakukan Permainan Empati

Menjelaskan teori menghargai oranglain saja, tidak akan cukup membuat anak merasakan betapa sulitnya menjadi seseorang yang memiliki keterbatasan fisik. Untuk itulah, orangtua perlu mengajarkan anak dan mengajak mereka melakukan permainan empati. Dalam hal ini anda bisa berperan sebagai orang biasa sementara anak menjadi orang yang memiliki keterbatasan fisik. Buat mereka mengerti bagaimana rasanya dan susahnya hidup dengan keterbatasan. Dengan begini mereka akan paham betul bagaimana menghargai.

5. Bacakan Cerita Inspirasi Mengenai Orang Keterbatasan yang Bisa Berhasil

Bacakan cerita pada anak atau anda bisa mengakses media internet untuk memberikan anak inspirasi bahwa orang-orang yang memiliki keterbatasan bukan berarti orang yang tak dapat melakukan apa-apa. Ada begitu banyak kisah inspirasi yang membuat orang keterbatasan bisa sukses bahkan kesuksesannya bisa melampaui orang-orang yang normal. Degan begini anak akan paham bagaimana menghargai oranglain, terutama mereka yang memiliki keterbatasan.

Mengajarkan anak tentang bagaimana menghargai orang lain bukan hanya terbatas pada menghargai orang yang memiliki perbedaan fisik saja. Anak-anak juga perlu dibekali dengan pendidikan menghargai oranglain dalam berbagai aspek kehidupan. Semoga tips diatas bisa membantu ibu menanamkan sikap menghargai pada anak ketika melihat perbedaan fisik pada oranglain.

Loading...

Follow us