Difteri

14 Cara Mengobati Difteri Secara Alami Yang Aman Dilakukan

Penyakit difteri memang memiliki beberapa gejala yang tentunya harus Anda waspadai karena akan berdampak buruk dan mengganggu kesehatan Anda. Jika difteri sudah terjadi pada Anda tentunya Anda harus mencari tahu mengenai cara yang bisa Anda lakukan untuk mengobati penyakit difteri. Untuk itu kami sajikan beberapa cara mengobati difteri secara alami yang bisa Anda lakukan di rumah!

Seperti yang kita tahu bahwa penyakit difteri termasuk pada salah satu penyakit yang harus benar-benar Anda waspadai. Hal ini dikarenakan penyakit difteri memiliki dampak buruk yang tentunya sangat mengganggu kesehatan Anda. Pada umumnya, penyakit difteri terjadi pada anak-anak, namun tidak sedikit juga orang dewasa yang mengalami dan terkena penyakit difteri ini. Tentunya penyakit difteri sangat sulit untuk dideteksi karena memiliki ciri yang hampir sama dengan penyakit lainnya.

Difteri merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang terkontaminasi dengan virus. Virus ini tentunya menyerang selaput lendir pada bagian hidung dan juga tenggorokan. Penyakit difteri ini tentunya termasuk pada jenis penyakit yang menular. Difteri sendiri memang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun, tetap saja jika penyakit difteri tersebut sudah menjangkit tubuh kita. Selain itu, ada beberapa cara mengobati difteri secara alami yang bisa Anda lakukan di rumah!

Cara Mengobati Difteri Secara Alami

Penyakit difteri tentunya dapat menyerang siapa saja termasuk Anda. Hal ini tentunya menjadi cara yang paling tepat bagi Anda untuk mencari cara dalam mencegah penyakit difteri agar tidak menyerang Anda. Meskipun memang terbilang sulit untuk mencegah penyakit difteri. Namun, langkah ini memang sangat perlu dilakukan sebagai tindakah pencegahan pada tubuh Anda.

Selain itu, beberapa tindakan pencegahan memang bisa Anda lakukan dengan sangat mudah di rumah Anda. Namun karena tidak banyak orang yang tahu, maka cara ini memang terbilang sulit untuk dilakukan. Bagaimanapun juga, memang penyakit difteri termasuk salah satu penyakit yang memang sangat sulit untuk diobati. Maka dari itu, berikut kami sajikan beberapa cara mengobati difteri secara alami yang bisa Anda lakukan di rumah, diantaranya:

Jeruk Nipis

Car mengobati difteri yang pertama ialah dengan menggunakan jeruk nipis. Seperti yang kita tahu bahwa jeruk nipis mengandung banyak sekali vitamin C yang tentu sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Anda tentunya bisa mencampurkan jeruk nipis dengan air rebusan bunga rosella yang tentunya dapat membantu mengobati difteri secara alami. Campuran jeruk nipis dengan rebusan bunga rosella ini tentunya memiliki khasiat yang sangat baik untuk mengobati radang ternggorokan.

Jus Nanas

Penyakit difteri juga bisa diobati dengan mengonsumsi jus nanas. Seperti yang kita tahu bahwa jus nanas memang memiliki sifat anti radang sehingga sangat membantu membuang sel-sel yang rusak pada tenggorokan. Ini tentu sangat penting bagi Anda dimana kondisi ini bisa menghilangkan membran akibat dari penyakit difteri yang muncul. Selain itu, nanas juga memang memiliki manfaat yang cukup besar yakni senyawa yang terkandung di dalamnya yang ternyata menjadi salah satu zat yang bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh. Nanas juga termasuk buah yang mengandung antioksidan sehingga memang sangat baik untuk kesehatan tubuh.

Mengkudu

Buah yang terkenal memiliki banyak khasiat ini tentunya memiliki manfaat yang sangat baik untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan. Dalam hal ini mengkudu  memang memiliki kandungan anti toksin yang sangat baik untuk membuang racun di dalam darah. Buah mengkudu juga tentunya mengandung anti biotik alami yang mampu bekerja dalam melawan bakteri. Selain itu, di dalam buah mengkudu terdapat beberapa kandungan scolopetin dan terpenoid yang dapat bekerja secara maksimal dan juga efektif sebagai pereda radang sehingga dapat membantu memulihkan sel-sel tenggorokan yang rusak.

Bawang Putih

Bumbu dapur yang memiliki rasa dan juga aroma yang khas ini memang kaya akan anti toksin yang tentu sangat baik sebagai anti bakteri dan juga anti radang. Di dalam bawang juga tentunya terdapat kandungan organusulfida yang dapat menghilangkan membran kelabu yang disebabkan oleh difteri.Selain itu, bawang putih juga memang sangat efektif untuk memperbaiki sel-sel rusak karena mengandung saltivine.

Buah Pinang

Buah yang satu ini juga biasa digunakan sebagai bahan alami yang dipercaya dapat membantu membunuh bakteri dan juga racun di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan di dalam buah pinang terkandung beberapa zat seperti Arecoline yang disebut sebagai metil-tetrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa yang keras. Pada jaman dulu, buah pinang digunakan untuk membasmi cacing pita yang ada di dalam tubuh hewan seperti anjing, kucung dan juga unggas. Sehingga tidak heran jika buah pinang digunakan sebagai bahan alami untuk mengobati penyakit difteri.

Jahe

Bumbu dapur yang memiliki aroma khas dan kerap digunakan sebagai bumbu penghilang aroma amis ternyata dipercaya juga sebagai obat alami dalam mengobati difteri. Hal ini dikarenakan senyawa kimia yang terdapat di dalam jahe terutama jahe merah diantaranya shogaol, zingeron dan jyga gingerol. Manfaat yang dapat Anda ambil dari buah jahe diantaranya meningkatkan sistem kekebalan tubuh,  melancarkan sirkulasi darah, menghangatkan tubuh, penambah nafsu makan, meningkatkan sistem imunitas tubuh dan sifat anti radang.

Kunyit

Bahan dapur yang satu ini kerap digunakan sebagai obat alami yang memiliki sifat anti radang atau yang dikenal dengan anti-inflammasi. Kandungan curcumin yang terdapat di dalam kunyit tentunya memiliki sifat anti inflammasi yang lebih kuat dibandingkan dengan minyak atsiri. Zat curcumin di sini tentunya sebagai agen farmakologis utama yang terdapat di dalam kunyit. Senyawa ini tentunya memiliki peranan sebagai zat anti-inflammasi yang diketahui sama dengan kandungan Motrin.

Campuran madu dan temulawak

Seperti yang kita tahu bahwa madu merupakan cairan manis yang dihasilkan oleh lebah. Bahan alami yang kerap digunakan sebagai obat ini tentu memiliki kandungan yang dipercaya mampu  mengobati penyakit difteri. Sedangkan temulawak memiliki beberapa kandungan seperti minyak atsiri, mineral, seskuiterpen d-kamper, Kurkumin, P-toluilmetilkarbinol, Kurkuminoid, Magnesium, Natrium, besi, Kadmium, Mangan dan juga obat-obatan alami. Kandungan yang ada di dalam temulawak tentunya dipercaya mampu mengatasi peradangan yang disebabkan oleh penyakit difteri.

Getah Pepaya dan Air Hangat

Perlu Anda tahu bahwa getah pepaya memiliki kandungan sekitar 50 asam amino. Kandungan yang ada di dalam getah pepaya inilah yang tentunya memiliki peranan yang cukup penting dalam mengatasi radang, antitumor, anti-virus dan juga anti-kanker. Meskipun memang getah pepaya memiliki tekstur yang cukup lengket, namun tentu tidak ada salahnya jika Anda menggunakan getah pepaya untuk mengobati penyakit difteri. Untuk menggunakan obat alami ini tentunya Anda bisa mencampurkan getah pepaya dengan air hangat.

Mengobati difteri secara alami tentunya paling banyak dilakukan yang tentu tidak kalah ampuh dengan obat yang sudah diracik terlebih dahulu. Mengobati penyakit difteri secara alami memang dibutuhkan waktu yang cukup lama dan tentunya dibutuhkan kesabaran. Itulah beberapa cara mengobati difteri secara alami yang dapat Anda lakukan sekarang juga. Semoga bermanfaat!

10 Gejala Difteri Pada Orang Dewasa. No 1 Jangan Diabaikan!

Tidak hanya anak-anak, tentunya penyakit difteri bisa menyerang siapa saja. Tentunya ini menjadi salah satu wabah penyakit yang perlu diwaspadai karena bentuk penyebaran dari penyakit ini memang terbilang cukup cepat dan juga cukup mudah. Difteri memang kerap dikaitkan dengan gangguan penyakit yang ada ditenggorokan. Namun, ternyata penyakit ini menyimpan berbagai dampak yang tentunya membuat banyak orang merasa takut akan penyakit yang satu ini.

Meskipun memang terbilang penyakit ini bisa diobati, namun tentunya menjaga kesehatan dan juga sistem imun tubuh yang baik setidaknya dapat menghindarkan kita dari penyakit tersebut. Penyakit difteri yang terjadi pada dewasa tentu mempunyai bahaya yang sama seperti pada difteri pada anak-anak. Bahkan di dalam suatu kondisi tertentu, orang dewasa akan mudah terinfeksi dan menjadi agen penularan akan penyakit yang satu ini. Meskipun penyebab dan juga gejala yang hampir sama pada gejala yang terjadi pada anak-anak. Tentunya, ada yang membedakan difteri pada anak-anak dan juga difteri yang terjadi pada orang dewasa. Seperti apakah difteri pada orang dewasa? Yuk kita simak langsung pemaparan kami berikut ini!

Gejala-Gejala Difteri Pada Orang Dewasa

Beberapa tanda dan gejala difteri pada orang dewasa tentunya menjadi salah satu ciri yang paling mudah bagi kita untuk menentukan penyakit tertentu. Berikut ini beberapa tanda dan juga gejala penyakit difteri yang terjadi pada orang dewasa diantaranya:

Sakit tenggorokan

Gejala difteri pada orang dewasa juga tidak bisa lepas dari rasa sakit yang terjadi pada tenggorokan. Tentunya, gejala difteri pada orang dewasa yang ditandai dengan sakit tenggorokan yakni terjadinya peradangan yang terjadi pada selaput lendir di area sekitar tenggorokan dan juga rongga mulut. Mungkin pada awalnya memang sangat sulit untuk membedakan antara sakit tenggorokan dan juga penyakit defteri karena memang memiliki gejala yang hampir sama. Akan tetapi, setelah selang beberapa hari akan mulai menunjukkan tanda dan juga ciri yang cukup khas dari penyakit difteri ini.

Berikut ini ada beberapa ciri yang membedakan antara sakit tenggorokan dengan penyakit difteri, diantaranya:

Dari Segi Penyebab

- Sakit tenggorokan

Jika dilihat dari segi penyebabnya tentunya sakit tenggorokan biasanya disebabkan oleh beberapa hal diantaranya flu, infeksi bakteri, merokok, zat kimia dan juga zat lainnya yang menyebabkan iritasi pada tenggorokan serta udara lingkungan yang cukup kering.

- Difteri

Untuk penyakit difteri tentunya disebabkan oleh terinfeksinya tenggorokan oleh bakteri yang disebut dengan Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini memang sangat menular melalui dahak, lendir, bersin dan juga ingus dari seseorang yang menderita penyakit difteri ini. Intinya, orang yang menghirup udara yang sudah terkontaminasi oleh penyebaran bakteri ini bisa secara mudah tertular akan penyakit ini.

Dalam hal ini tentunya difteri tidak disebabkan secara langsung oleh virus. Namun, virus difteri di sini yakni Lysogenic bacteriophages menginfeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Jadi sebenarnya, bakteri ini juga sudah mengalami infeksi sebelumnya. Hal ini tentunya bakteri Corynebacterium diphtheriae tidak bisa memproduksi toksin tanpa adanya virus yang menginfeksinya tersebut.

Dari Segi Gejala

- Sakit tenggorokan

Untuk gejala pada sakit tenggorokan tentunya bisa ditandai dengan beberapa ciri diantaranya muncul kemerahan mulai yang terjadi pada langit-langit mulut hingga ke tenggorokan yang terkadang terlihat seperti luka. Untuk orang yang mengalami sakit tenggorokan ini tentunya hanya akan mengalami radang tenggorokan seperti biasa tanpa adanya selaput.

Pada orang yang mengalami radang tenggorokan biasa tentunya tidak akan mengalami suara pernapasan bernada tinggi yang tentunya disebabkan oleh adanya sumbatan di tenggorokan dan juga kotak suara. Selain itu, pada orang yang mengalami sakit tenggorokan tentunya tidak akan ada kesulitan ketika ia bernapas, namun pada beberapa kasus akan menyebabkan demam yang disertai dengan badan yang terasa sangat lemas.

- Difteri

Sedangkan untuk penyakit difteri tentunya akan mulai muncul selaput yang berwarna putih hingga abu-abu yang terjadi pada tenggorokan yang bernama pseudomembran. Selaput ini juga bisa muncul di beberapa rongga hidung. Untuk orang yang mengalami difteri tentunya akan mengeluarkan suara seperti sedang bernapas atau yang disebut dengan stridor. Stridor ini tentunya suatu kondisi dimana suara pernapasan bernada tinggi yang tentu dapat disebabkan oleh sumbatah yang terjadi di tenggorokan.

Segi Bahaya

- Sakit Tenggorokan

Jika dilihat dari segi bahayanya, tentunya sakit tenggorokan ataupun radang tenggorokan tidak menyebabkan dampak ataupun bahaya yang terlalu signifikan. Hanya mungkin Anda akan mengalami kesulitan dalam beberapa hal seperti gangguan ketika Anda makan dan juga menelan. Namun, jika tidak ditangani tentunya akan menyebabkan nyeri dan juga kelemahan otot serta kesulitan ketika bernapas.

- Difteri

Untuk tingkat bahaya pada penyakit difteri tentunya tidak bisa diragukan lagi. Hal ini dikarenakan penyakit difteri memang memiliki gejala yang lebih parah dibandingkan dengan sakit dan juga radang pada tenggorokan. Dalam hal ini tentunya penyakit difteri bisa menyerang selaput lendir (mukus) yang terjadi pada saluran pernapasan seperti hidung, tenggorokan dan juga masuk ke dalam beberapa bagian tubuh lain yang terdapat selaput lendirnya. Bakteri difteri ini tentunya bisa menghasilkan racun yang sangat berbahaya yang disebut dengan Eksotosin  yakni racun dengan sifat yang sangat mematikan. Eksotosin juga tentunya bisa menyebabkan neuritis ataupun kerusakan sel-sel saraf sehingga bsia menyebabkan gangguan pada kerusakan sistem pernapasan, gagal pernapasan yang berujung pada kematin serta gangguan penglihatan.

Muncul Pseudomembran

Gejala difteri yang terjadi pada orang dewasa juga ditandai dengan munculnya Pseudomembran. Selaput ini tentunya munculnya selaput berwarna putih dan abu-abu yang terjadi pada tenggorokan. Selaput tersebut tentunya terbentuk dari tumpukan sel-sel yang mati dan juga rusak akibat toksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Selaput lengket yang ada di jaringan tenggorokan dibawahnya jika terkelupas, maka akan mengeluarkan darah.

Demam Ringan

Gejala lain yang menjadi indikasi adanya penyakit difteri ialah seseorang tersebut akan mengalami demam ringan dan tidak terlalu tinggi. Namun ada juga beberapa orang yang mengalami demam yang sangat tinggi berkisar antara 30 derajat celcius.

Leher Bengkak

Pada orang dewasa tentunya ia akan mengalami pembengkakan yang terjadi pada kelenjar limfa. Hal ini tentunya bia diketahui dari pembengkakan bagian leher yang disebut dengan istilah bull neck karena leher tersebut terbilang memiliki ukuran yang cukup besar.

Otot Terasa Nyeri & Tubuh Lemas

Pada orang dewasa yang mengalami difteri tentunya akan juga mengalami nyeri pada otot-ototnya. Kondisi ini tentunya akan menyebabkan tubuh terasa lemas dikarenakan adanya inflamasi pada jaringan otot sebagai penyebab terjadinya rasa nyeri tersebut.

Sesak Napas

Gejala selanjutnya yang menjadi salah satu ciri yang menandai penyakit difteri pada orang dewasa. Hal ini dikarenakan Corynebacterium diphtheriae yakni salah satu bakteri yang cukup berbahaya dan juag menghasilkan racun atau toksin yang bernama ekstoksin. Racun ini tentunya bisa merusak beberapa sel-sel sehat pada tubuh.

Pada awalnya racun difteri ini merusak jaringan pernapasan bagian atas sehingga menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk bernapas. Racun difteri disini tentunya bisa melumpuhkan otot diafragma sehingga berujung pada hilangnya kemampuan menarik dan juga mengeluarkan napas. Ini tentunya yang menyebabkan tahapan bahaya yang terjadi pada penyakit difteri sehingga berujung pada kematian.

Jantung Berdebar

Selain kesulitan untuk bernapas, penyakit difteri juga bisa menyebabkan orang dewasa mengalami jantung berdebar. Ekstoksin yang telah dihasilkan oleh bakteri difteri tentunya tidak hanya menyerang sistem pernapasan bagian atas saja. Namun akan terbawa oleh darah sehingga akan menyerang organ-organ penting lain di dalam tubuh seperti jantung dan juga ginjal.

Dalam hal ini tentunya masuknya racun difteri ke bagian organ jantung bisa menyebabkan gejala jantung yang berdebar-bedar denagn detak yang terkadang tidak beraturan. Kondisi ini tentunya jika tidak segera diatasi, maka akan menyebabkan terjadinya kerusakan otot jantung dan juga gagal jantung. Untuk itu, jika Anda sampai mengalami gejala yang seperti ini tentunya alangkah baiknya jika Anda segera periksakan diri Anda ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Fakta-Fakta Mengenai Penyakit Difteri Yang Wajib Anda Ketahui

Banyak yang menganggap bahwa penyakit difteri memang lebih mengerikan dan termasuk ke dalam salah satu penyakit yang cukup berbahaya. Wabah difteri di sini tentunya akan menyerang suatu daerah dan dengan sangat cepat menyebar sehingga sangat mudah untuk menularkan wabah ini kepada antar individu. Terlebih jika sistem imunitas tubuh di daerah tersebut sangatlah buruk.

Pada kasus difteri yang ada di Indonesia memang terbilang sangat langka. Akan tetapi, karena beberapa faktor kesenjangan sistem imunitas tubuh yang kurang, maka difteri akan kembali mengancam jiwa. Untuk menambah wawasan Anda, berikut kami rangkum beberapa fakta-fakta mengenai penyakit difteri yang dirasa memang sangat menarik untuk kita bahas seperti pada berikut ini:

Difteri Penyebab Kematian

Fakta pertama yang harus Anda tahu mengenai difteri ialah bahwa penyakit difteri ini termasuk ke dalam salah satu jenis penyakit yang sangat mematikan. Hal ini dikarenakan penyakit difteri memang menjadi salah satu penyakit difteri sebagai penyebab kematian. Menurut CDC, 1 dari 10 penderita difteri dilaporkan meninggal dunia meskipun memang sudah mendapatkan perawatan intensif sebelumnya. Jika tidak mendapatkan perawatan dan juga pengobatan dimungkinkan 1 dan 2 penderita difteri akan meninggal dunia. Kematian yang disebabkan oleh penderita difteri tentunya bisa terjadi karena adanya komplikasi seperti kerusakan saraf, kerusakan otot jantung, infeksi paru-paru, dan juga gagal jantung.

Bakteri Dapat Mengalami Infeksi

Fakta penyakit difteri yang kedua tentunya terbilang cukup menarik. Penyakit difteri ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dimana bakteri ini terinfeksi oleh virus. Bakteri ini tentunya tidak berbahaya sampai pada akhirnya terinfeksi dengan virus. Jika sudah terinfeksi, maka akan berdampak buruk bagi tubuh kita. Jika infeksi disebabkan oleh bakteri yang telah terinfeksi oleh virus, bakteri difteri yang belum terinfeksi ini tentunya tidak bisa menyebabkan bakteri menjadi terinfeksi.

Bagaimanapun juga, menjaga tubuh agar tidak terinfeksi oleh kuman dan juga virus memang menjadi sebuah keharusan bagi Anda. Untuk it, memang sangat penting bagi Anda untuk tetap menjaga agar tubuh tetap sehat dan juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang cukup baik. Itulah beberapa gejala difteri pada orang dewasa yang wajib Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

Inilah Gejala-Gejala Penyakit Difteri Pada Anak Yang Wajib Anda Ketahui

Seperti yang kita tahu bahwa penyakit difteri bisa menyerang siapa saja baik dewasa maupun anak-anak. Dalam hal ini dikarenakan bakteri dari penyakit difteri ini bisa menular dan tidak mengenal usia. Mengenai penyakit yang satu ini tentunya kita harus benar-benar berhati-hati karena penyakit ini termasuk ke dalam penyakit menular dan  juga cukup serius. Terlebih jika terjadi pada anak-anak, penyakit ini memang sangat mudah untuk tertular.

Seperti yang kita tahu bahwa penyakit difteri ini termasuk ke dalam jenis penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan dan juga tenggorokan bahkan tidak jarang juga yang terjadi pada kulit. Bakteri penyebab difteri ini tentunya disebabkan oleh salah satu bakteri yang disebut dengan Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini tentunya akan menyebar sehingga menimbulkan kerusakan yang terjadi pada bagian otot jantung dan juga sistem saraf.

Pada umumnya, penyakit difteri yang terjadi pada anak-anak dan juga dewasa memang hampir sama baik mengenai penyebab, gejala dan juga cara mengobatinya. Namun, ada beberapa hal yang menjadi pembeda akan penyakit difteri yang terjadi pada anak-anak. Pada umumnya, penyakit difteri pada anak bersifat ringan, namun jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama tentunya bisa juga menyebabkan kondisi bertambah parah. Terlebih jika kondisi tubuh anak menjadi semakin melemah dan juga sakit ketika menelan. Berikut kami sajikan beberapa hal mengenai penyakit difteri pada anak-anak yang perlu Anda ketahui.

Faktor Pemicu Anak Mengalami Difteri

Pada umumnya, penyakit difteri yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae bisa menyebar dengan sangat cepat terutama di dalam tubuh anak-anak. Mikroorganisme ini tentunya termasuk ke dalam bakteri gram positif. Bakteri ini tentunya bisa tahan di dalam keadaan beku ataupun kering. Akan tetapi, jika dilakukan proses pemanasan suhu sekitar 60 derajat celcius, bakteri tersebut bisa mati. Berikut ini beberapa faktor yang menjadi pemicu anak-anak mengalami difteri diantaranya:

- Kualitas vaksin imunisasi yang rendah dan tidak bagus

- Faktor dari lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat sehingga memudahkan penularan dan juga infeksi bakteri difteri

-  Akses pelayanan kesehatan yang kurang dan juga pengetahuan sang ibu yang rendah mengenai penyakit tersebut

- Tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap

- Sentuhan akan barang yang sudah terkontaminasi oleh penderita difteri

- Sering bertukar alat makan dengan penderita difteri

- Terpapar udara yang sudah terkontaminasi oleh bakteri difteri baik melalui bersin, batuk, ludah ataupun lendir.

Penularan tersebut tentunya berlangsung dalam waktu yang cukup singkat terlebih bagi anak yang sedang bergaul dengan teman-teman dan juga lingkungnan sekitarnya. Bagaimanapun juga, penularan pada penyakit difteri baik melalui ludah ataupun udara bisa berkembang dengan sangat pecat. Hal ini tentunya berkontak langsung dengan penderita difteri memang menjadi salah satu faktor risiko terberat terkena penyakit difteri.

Bakteri difteri ini tentunya bisa memproduksi toksin yang tentu akan membunuh sel-sel yang terjadi pada bagian tenggorokan. Jika sel-sel tersebut mati, maka akan membentuk membrane berwarna abu yang ada di dalam tenggorokan. Pada kondisi yang lebih parah lagi, toksin tersebut tentunya bisa masuk ke dalam darah sehingga berisiko dan juga menyerang penyakit jantung.

Gejala dan Tanda Difteri Pada Anak

Biasanya, difteri pada anak dapat ditandai dengan sesak nafas, sakit tenggorokan, panas, deman & menggigil dan juga munculnya selaput warna putih yang ada ditenggorokan sehingga terjadinya pembengkakan. Adanya kerusakan yang terjadi pada bagian otot, jantung dan juga sistem saraf menjadi salah satu komplikasi yang ditakutkan oleh penderita difteri. Berikut ini kami sajikan beberapa gejala ataupun tanda dari penyakit difteri yang terjadi pada anak, diantaranya:

Sakit Tenggorokan

Tanda pertama yang bisa mengindikasi munculnya penyakit difteri pada anak ialah terjadinya sakit tenggorokan. Sakit tenggorokan pada anak ini tentunya bisa menimbulkan gejala seperti batuk dan juga tenggorokan yang kering. Tanda pertama jika anak terkena difteri ialah mengalami sakit tenggorokan yang cukup hebat sampai si kecil tidak bisa menelan sama sekali.

Meskipun memang tidak semua sakit tenggorokan menjadi salah satu indikasi dari penyakit difteri. Namun, tetap saja Anda harus berhati-hati karena wabah dari penyakit difteri ini sedang melanda di berbagai tempat di Indonesia. Tentu, tidak ada salahnya jika Anda mulai waspada ketika si kecil mengalami sakit tenggorokan dan juga rasa sakit ketika menelan makanan.

Deman & menggigil

Pada anak-anak terjadinya demam dan juga menggigil memang menjadi salah satu peyakit yang sering dialami oleh hampir setiap anak pada masa pertumbuhan. Selain dari sakit tenggorokan, anak juga akan mengalami yang namanya demam dan juga menggigil. Demam yang terjadi pada anak ini tentunya memang sangat khas dimana pada umumnya panas pada anak tidak terlalu tinggi, namun disertai dengan badan yang menggigil.

Leher anak menjadi bengkak

Ketika tenggorokan mengalami peradangan tentunya rasa sakit juga akan timbul ketika kita sedang menelan makanan. Diferti sendiri juga bisa menyebabkan pembengkakan pada limfa dan juga kelenjar getah bening. Hal ini tentunya tidak heran jika penyakit difteri di tandai dengan terjadinya pembengkakan pada leher atau yang sering disebut dengan bull neck.

Muncul ruam pada kulit

Berbagai gejala difteri pada anak tentunya bisa disertai dengan munculnya ruam pada kulit. Ruam yang terjadi pada kulit ini tentunya terjadi akibat penyakit difteri yang cukup khas. Pada awalnya rumah di kulit ini berwarna kemerahan sehingga menyebabkan kulit menjadi semakin meradang. Pada kasus yang cukup parah terutama pada jenis difteri kulit tentunya bisa muncul ulkus yang cukup parah hingga menjadi borok yang tentunya disertai dengan rasa nyeri yang hebat.

Pilek dengan sekret yang khas

Pada anak yang mengalami difteri tentunya dapat mengalami gejala batuk pilek yang cukup khas. Awalnya seperti ingusan setelah dikeluarkan tampak encer. Akan tetapi, lama-kelamaan lendir tersebut menjadi kental hingga berwarna kekuningan ataupun kehijauan yang tentu disertai dengan darah.

Jantung berdebar & tidak teratur

Jika si kecil terkena penyakit difteri tentunya akan ditandai dengan perubahan detak jantung menjadi tidak menentu. Pada anak yang terkena difteri tentunya bisa mengalami jentung berdebar. Kondisi ini tentunya bisa terjadi karena racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri bisa terbawa oleh darah dan juga bisa mengganggu kinerja jantung. Gejala pada penyakit ini tentunya bisa termasuk ke dalam kategori yang cukup berbahaya karena racun difteri sudah sampai ke dalam jantung.

Tubuh menjadi lemas disertai dengan nafsu makan yang menurun

Cara yang paling mudah dalam mengenali penyakit difteri pada anak tentunya tubuh anak akan ditandai dengan penurunan nafsu makan pada anak yang tentu disertai dengan badan yang semakin lemas. 

Munculnya amandel dan selaput berwarna putih abu-abu pada tenggorokan

Ciri difteri yang terjadi pada anak dan juga balita memang sangat umum terjadi. Untuk selanjutnya Anda akan melihat selaput tebal yang berwarna abu-abu atau putih pada amandel dan juga tenggorokan. Selaput di sini disebut dengan selaput pseudomembran. Bagaimanapun juga selaput pseudomembran terbentuk dari berbagai tumpukan sel-sel yang mati karena dirusak oleh racun difteri. Kondisi ini juga terkadang muncul di rongga hidung.

Selaput di sini tentunya juga sangat lekat dengan jaringan yang ada di bawahnya jika dikelupas  atau diangkat tentunya akan berdarah cukup hebat. Munculnya selaput abu-abu pada tenggorokan tentunya bisa menjadi salah satu cara yang paling mudah untuk bisa mengenali penyakit difteri pada anak. Untuk itu, jika Anda menemukan gejala seperti ini, jangan sampai Anda menundanya dalam waktu yang cukup lama. Segeralah periksakan diri Anda ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sulit bernapas

Gejala difteri pada anak yang selanjutnya ialah anak kesulitan untuk bernapas. Hal ini dikarenakan penyakit difteri terjadi sehingga anak terkena difteri yang tentu akan mengalami gangguan sistem pernapasan. Kondisi ini tentunya terjadi karena racun dan juga bakteri difteri akan terus menghancurkan sel-sel sehat di dalam tenggorokan sehingga merusak sistem saraf pernapasan. Pada anak yang terkena difteri tentunya akan terlihat sepertt sesak dan juga cape berat meskipun tidak melakukan aktivitas apa-apa.

Batuk keras & suara serak

Batuk yang terjadi pada anak-anak memang terbilang biasa, namun jika disertai dengan suara yang serak, tentu harus Anda waspadai. Difteri pada anak tentunya bisa ditandai dengan gejala batuk yang cukup keras sehingga menimbulkan rasa nyeri dan terkadang penderita akan mengeluarkan sektret yang terkadang disertai dengan darah.

Selain batuk, tentunya anak juga akan mengalami perubahan suara yang disertai dengan kesulitan ketika bernapas. Pada anak yang terkena difteri juga tentunya akan mengeluarkan suara yang cukup khas seperti mengorok akibat terjadinya penyempitan saluran pernapasan.

Hal Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Tua Ketika menemukan Tanda-Tanda Anak Terkena Difteri

Jika orang tua menemukan beberapa gejala seperti pada tanda-tanda di atas tentunya Anda harus melakukan beberapa langkah diantaranya:

Langkah 1

Jika Anda memang curiga bahwa anak Anda mengalami beberapa gejala penyakit difteri. Alangkah baiknya jika Anda memeriksakan anak Anda ke unit kesehatan terdekat. Hal ini tentunya akan lebih baik untuk waspada daripada terlambat. Meskipun memang penyakit dengan gejala tersebut tidak hanya penyakit difteri, namun tentu tidak ada salahnya bagi Anda untuk memeriksakan ke dokter sebagai sebuah pencegahan.

Langkah 2

Jika si kecil terbukti positif mengalami difteri, tentunya anak Anda harua mendapatkan perawatan khusus termasuk pada prosedur isolasi. Hal ini dikarenakan penyakit difteri termasuk ke dalam penyakit yang menular.

Langkah 3

Setelah Anda mengetahui jika si kecil positif terkena penyakit difteri. Tentunya, seluruh anggota keluarga yang ada di rumah harus ikut juga diperiksa oleh dokter ataupun petugas Kesehatan dengan tujuan memutus rantai penularan. Hal ini tentunya juga bisa diperiksa apakah mereka adalah carrier atau disebut dengan pembawa bakteri namun tampak sehat untuk mendapatkan pengobatan sesuai dengan prosedur.

Langkah 4

Jika si kecil sudah terbukti positif mengalami difteri tentunya Anda bisa melakukan isolasi pada barang-barang bekas yang dipakai oleh si kecil seperti mainan, gelas dan juga benda lainnya. Lalu, lakukanlah pensterilan. Cara yang paling mudah tentunya dengan cara mencuci dan juga menggunakan sabun antiseptik hingga benar-benar bersih.

Langkah 5

Pada anggota keluarga yang tidak menderita penyakit difteri tentunya sangat dianjurkan untuk diberikan jenis imunisasi difteri.

Langkah 6

Jika memang status imunisasi pada anak dan juga anggota keluarga lainnya yang belum lengkap, segeralah lengkapi sesuai dengan usianya.

Langkah 7

Setelah mendapatkan suntikan imunisasi terkadang terjadinya reaksi seperti demam dan juga bengkak. Tentunya jangan panik. Kondisi ini bisa juga diatasi dengan minum obat penurun panas, rajin minum jus buah dan juga susu. Kemudian, periksakan diri Anda ke dokter jika terjadi gejala yang tidak berkurang.

Langkah 8

Langkah terakhir yang harus Anda lakukan ialah dengan mengikuti petunjuk dan juga prosedur dari Dokter dan juga petugas dari Dinas Kesehatan.

Penularan Penyakit Difteri Pada Anak-Anak

Penularan penyakit difteri ini tentunya terjadi seperti pada orang dewasa. Penularan bakteri difteri tentunya bisa melalui percikan ludah dari orang yang menderita infeksi. Selain itu, penyakit menular ini juga bisa ditularkan jika bersentuhan dengan penderita difteri lainnya. Kontak secara langsung dengan penderita difteri tentunya bisa berpeluang besar terkena penyakit difteri. 

Bakteri difteri tersebut tentunya memproduksi toksin yang membunuh sel-sel pada bagian tenggorokan. Sel-sel mati tersebut tentunya bisa membentuk membrane yang berwarna abu terjadi pada tenggorokan. Dalam kondisi yang lebih parah lagi, toksin tersebut bisa masuk ke dalam darah sehingga bisa menyerang jantung dan juga ginjal.

Penularan penyakit difteri yang terjadi pada anak tentunya bisa dicegah dengan beberapa tips dan juga cara sebagai berikut:

- Lanjut imunisasi TD

- Imunisasi DT ketika anak menginjak usia sekolah dasar

- Imunisasi dasar lengkap (DPT-HB sebanyak 3 kali)

Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penularan diantaranya:

- Anda tentunya bisa menghindari kontak langsung dengan penderita difteri

- Menutup hidung ketika bersin

- Menjaga kebugaran tubuh dengan melakukan olahraga

- Menjaga kebersihan badan dan juga lingkungan. Tentunya, biasakan agar anak selalu rajin mencuci tangan sebelum makan.

- Konsumsi makanan bergizi yang tentu sangat baik bagi pertumbuhan dan juga perkembangan  bayi

 Itulah beberapa hal mengenai gejala-gejala penyakit difteri pada anak yang wajib Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

 

Ketahui Apa Itu Difteri, Penyebab & Gejala Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

Mungkin sebagian besar belum mengenal akan penyakit yang satu ini. Istilah ini memang terbilang jarang diketahui oleh banyak orang. Namun, jika dijelaskan akan penyakit tenggorokan, pastinya semua orang sudah tahu akan hal itu. Begitupula dengan penyakit yang satu ini yakni istilah ini merujuk pada penyakit yang menggambarkan akan suatu kondisi dimana adanya ganggguan pada seputar hidung, tenggorokan dan juga leher. Tidak heran jika banyak orang yang menamai gangguan kesehatan ini dengan nama penyakit tenggorokan.

Meskipun memang terbilang banyak terjadi pada kasus seseorang yang memiliki penyakit tenggorokan, namun difteri tentunya berbeda dengan penyakit tenggorokan biasa. Hal ini tentunya difteri menjadi satu penyakit yang terbilang cukup serius dan juga harus segera diatasi karena bisa menyebabkan timbulnya akan komplikasi yang lebih parah lagi. Tentunya, masih banyak juga orang yang bingung akan istilah penyakit yang satu ini. Untuk lebih jelasnya, yuk kita simak saja pemaparan kami berikut ini seputar penyakit difteri yang saat ini tengah di waspadai.

Apa Itu Difteri

Seperti yang kita tahu bahwa belakangan ini masyarakat Indonesia tengah dicemaskan oleh bahayanya penyakit difteri. Bahkan menurut data dari Kementerian Kesehatan hingga bulan November 2017 tercacat sebanyak 11 Provinsi telah melaporkan adanya  kejadian yang luar biasa mengenai maraknya wabah penyakit difteri. Setidaknya tercacat hingga 32 kasus yang meninggal akibat terserang penyakit difteri ini. Daftar dari kasus difteri ini terus bertambah hingga ratusan kasus di berbagai daerah dalam tingkat keparahan yang rendah, sedang dan juga tinggi.

Perlu kita tahu bahwa sebenarnya wabah difteri ini telah terjadi pada taun 2009 dimana diakibatkan oleh kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak akan imunisasi yang memnag seharusnya diberikan kepada anak seiring dengan usianya. Namun, masih ada saja orang tua yang bahkan mengindahkan akan pentingnya imuisasi ini. Lantas, apa yang disebut dengan penyakit difteri serta mengapa difteri disebut sebagai penyakit yang sangat berbahaya pada manusia?

Untuk lebih jelasnya difteri merupakan salah satu jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Umumnya, infeksi bakteri ini menyerang selaput lendir pada hidung dan juga tenggorokan, terkadang juga menimbulkan gejala serius pada kulit. Penyakit ini memang disebut sebagai salah satu penyakit yang serius karena bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian. Dalam kasus yang cukup parah, difteri tentunya bisa langsung menyebar ke seluruh bagian tubuh penting lainnya seperti jantung, paru-paru dan juga sistem saraf. Bakteri ini memang sebagai penghasil racun yang sangat berbahaya jika tersebar ke seluruh bagian tubuh.

Disebut sebagai salah satu penyakit yang serius karena penyakit ini bisa menular dan termasuk ke dalam infeksi penyakit yang bisa mengancam jiwa penderitanya. Difteri ini tentunya bisa dicegah dengan melakukan imunisasi difteri yang termasuk ke dalam salah satu program imunisasi yang diwajibkan oleh Pemerintah Indonesi. Namun, masih saja banyak para orang tua yang bahkan tidak melakukannya sama sekali dan dianggap sesuatu yang tidak terlalu penting bagi pertumbuhan anaknya. Hal ini tersebut memang salah besar dimana seharusnya balita mendapatkan imunisasi, namun karena lalainya orang tua, maka sedikitnya bisa berpeluang anak-anak terserang penyakit difteri ini.

Berdasarkan World Health Organization (WHO) telah tercacat sebanyak 7.097 kasus difteri yang dilaporkan terjadi di seluruh dunia pada tahun 2016. Diantara jumlah tersebut tentunya tercacat sekitar 342 kasus yang terjadi di Indonesia. Kasus ini terjadi sejak tahun 2011 dimana kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri ini masih menjadi salah satu masalah di Indonesia. Sedangkan tercacat sekitar 3.353 kasus difteri terjadi di Indonesia dari tahun 2011 hingga tahun 2016 silam. Angka ini cukup fantastis memang karena Indonesia menempati angka ke-2 setelah India sebagai jumlah kasus difteri terbanyak di dunia. Dari jumlah 3.353 ini dilaporkan bahwa 110 diantaranya meninggal dunia karena penyakit ini. Sedangkan 90% dari orang terinfeksi tentunya tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang cukup lengkap.

Penyakit difteri memang sedikitnya bisa dicegah dengan imunisasi yang dilakukan pada anak usia 1 tahun dan wajib mendapatkan imunisasi DFT sebanyak tiga kali. Penyakit difteri ini memang banyak ditemui ini beberapa negara berkembang seperti Indonesia dikarenakan angka vaksinasi masih sangat rendah serta kesadaran orang tua akan pentingnya imunisasi ini. Penyakit difteri tentunya tidak hanya menyerang anak-anak saja, namun juga orang dewasa. Tentunya, difteri juga bisa dicegahd engan mengurangi faktor-faktor risiko akan timbulnya penyakit difteri ini.

Faktor Pemicu Terkena Penyakit Difteri

Beberapa penyakit tentunya bisa disebabkan oelh adanya beberapa faktor ataupun risiko akan terkenanya penyakit yang satu ini. Faktor-faktor berikut ini tentunya menyebabkan seseorang terkena difteri, diantaranya:

- Tinggal di kondisi dengan cukup padat penduduk ataupun lingkungan yang tidak higienis

- Lokasi dimana tempat Anda tinggal

- Memiliki gangguan sistem imun seperti AIDS

- Memiliki sistem imun yang lemah misalnya pada anak-anak dan juga orang tua.

- Tidak mendapatkan vaksinasi difteri terbaru

Beberapa faktor risiko tersebut memang kerap ada dan juga terjadi di sebagian tempat. Untuk itu, memang sangat penting untuk mengenali lingkungan dimana kita tinggal.

Penyebab Penyakit Difteri

Seperti yang sudah kami jelaskan di atas bahwa penyakit difteri ini bisa disebabkan oleh bakteri Corynebacterium dimana bakteri ini bisa menyebarkan berbagai penyakit melalui pertikel-pertikel di udara dan juga benda pribadi serta peralatan rumah tangga yang sudah terkontaminasi. Ilustrasinya cukup mudah jika Anda menghirup partikel udara dari seseorang yang terinfeksi penyakit difteri ini. Tentunya, kondisi ini berpeluang besar bagi Anda untuk terkena penyakit difteri juga. Tempat yang ramai tentunya bisa menjadi salah satu lingkungan dimana penyakit difteri ini bisa menyebar dengan sangat mudah. Selain bakteri Corynebacterium, tentunya ada beberapa penyebab lain dimana penyakit difteri ini bisa menjangkit tubuh manusia, diantaranya:

- Terhirup percikan ludah dari penderita di udara ketika si penderita bersin ataupun batuk. Hal ini tentunya menjadi cara yang terbilang paling efektif untuk penularan.

- Bersentuhan langsung dengan benda-benda pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan jenis ini tentunya bisa terjadi pada penderita yang berada di lingkungan dengan padat penduduk dan juga kebersihan yang tidak terjaga dengan sangat baik.

- Menggunakan barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri seperti makanan, handuk, alat makan dan juga mainan.

- Memegang tisu bekas orang yang sudah terinfeksi

- Minum dari gelas yang belum di cuci dan terkontaminasi bakteri

- Bakteri juga bisa menyebar ke seluruh peralatan rumah tangga ataupun peralatan yang sering digunakan bersama

- Menyentuh luka orang yang terinfeksi sehingga seseorang tersebut bisa terinfeksi pula.

Bakteri tersebut tentunya berakibat fatal karena menghasilkan racuk yang membunuh sel-sel sehat di dalam tenggorokan sehingga akhirnya menghasilkan sel-sel yang mati. Sel-sel inilah yang membentuk membran (lapisan tipis) berwarna abu-abu pada tenggorokan. Selain itu, racun yang dihasilkan juga memiliki potensi yang cukup besar untuk tersebar di dalam aliran darah sehingga bisa merusak jantung, sistem saraf dan juga ginjal.

Penyakit difteri ini tentunya tidak akan menunjukkan gejala apapun sehinngga banyak orang yang tidak menyadari bahwa sebenarnya ia terkena penyakit difteri. Jika tidak ditangani dengan serius tentunya penyakit difteri tersebut bisa menular ke beberapa orang di sekitarnya terutama mereka yang tidak mendapatkan imunisasi.

Gejala Terkena Penyakit Difteri

Tentunya, setiap penyakit akan menimbulkan berbagai tanda dan juga gejala sehingga penderita tersebut menyadari bahwa ia memang terkena difteri. Bakteri dari penyebab difteri ini akan memiliki masa inkubasi ataupun rentang waktu ketika bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh hingga gejala-gejala tersebut muncul dari 2 hari hingga 5 hari. Namun, banyak juga penderita dari penyakit difteri ini yang bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali sehingga banyak yang tidak menyadari sampai akhirnya penyakit tersebut berkembang menjadi semakin parah.

Meskipun memang bakteri dari penyakit difteri ini bisa menyerang jaringan apa saja di dalam tubuh, namun tentunya ada beberapa gejala yang cukup menonjol dari penyakit difteri ini, diantaranya:

- Terjadinya radang tenggorokan dan juga serak

- Keluarnya cairan pada hidup seperti lendir

- Terjadinya deman dan juga menggigil

- Batuk yang cukup keras

- Perasaan yang tidak nyaman

- Tenggorokan yang dilapisi dengan selaput tebal berwarna abu-abu

- Pembengkakan yang terjadi pada leher

- Terjadinya masalah pada pernapasan ketika menelan

- Adanya perubahan yang terjadi pada penglihatan

- Bicara yang cukup melantur

- Tanda-tanda shock seperti kulit yang berkeringat, jantung berdebar cepat dan juga kulit yang pucat dan juga dingin.

- Tubuh yang lemah dan juga lelah

- Mengalami pilek ketika awalnya cair, namun lama-kelamaan menjadi kental sehingga tercampur dengan darah.

- Terjadinya pembengkakan kelenjar limfe yang terjadi pada leher

- Difteri juga bisa menyerang kulit sehingga menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Meskipun ulkus bisa sembuh dalam beberapa bulan, tetapi biasanya akan meninggalkan bekas yang terjadi pada kulit.

Mungkin masih ada beberapa tanda dan juga gejala yang tidak disebutkan di atas yang tentunya bisa dikhawatirkan sebagai gejala dari penyakit tertentu. Untuk itu, segeralah konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut lagi.

Waktu Yang Tepat Ke Dokter

Setelah kita mengetahui akan gejala dan juga penyebab dari penyakit difteri. Tentunya, kita juga harus mengetahui kapan waktu yang terbaik kita untuk pergi ke dokter. Tentunya, Anda harus segera menghubungi dokter ketika Anda tahu bahwa Anda sudah bersentuhan dengan penderita difteri. Meskipun memang belum menimbulkan gejala apapun, tentu sangat penting bagi kita untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Namun tentunya Anda juga harus segera periksakan diri ke dokter ketika terdapat beberapa gejala seperti yang sudah kami sebutkan di atas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Diagnosa Penyakit Difteri

Dalam mendiagnosa penyakit difteri ini tentunya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami oleh pasien. Selian itu, dokter juga akan mengambil beberapa sampel dai lendir yang ada di hidung, ulkus kulit dan juga tenggorokan untuk diperiksa di laboratorium. Untuk itu, orang yang diperiksa harus menunggu terlebih dahulu hasil yang didapat dari laboratorium untuk memastikan apakah Anda memang terkena penyakit difteri ataukah tidak.

Jika hasil laboratorium menyatakan bahwa Anda positif terkena penyakit difteri tentunya dokter akan menyarankan Anda untuk segera mendapatkan pengobatan. Dalam hal ini tentunya dokter akan menjalani berbagai perawatan di dalam ruang isolasi di sebuah rumah sakit. Hal ini dikarenakan penyakit difteri harus dipisahkan karena menjadi salah satu penyakit yang menular. Dalam langkah pengobatan tentunya dokter akan memberikan dua jenis obat yaitu antioksin dan juga antibiotik.

Dalam hal ini tentunya antibiotik sangat penting untuk diberikan karena bisa membunuh bakteri sehingga menyembuhkan infeksi. Dosis untuk penggunaan antibiotik ini tentunya memang tergantung dari tingkat keparahan akangejala dan juga berapa lama pasien menderita difteri. Sebagian besar orang tentunya bisa keluar dari ruang isolasi setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 hari. Namun, dalam mengonsumsi antibiotik tentunya Anda harus menghabiskannya selama 2 minggu.

Penderita tentunya akan menjalani pemeriksaan di laboratorium untuk melihat ada atau tidaknya difteri di dalam darah. Jika memang masih ditemukan tentunya dokter akan menyarankan Anda untuk melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari. Dalma hal ini pemberian antioksin memang bertujuan untuk menetralisasi  racun atauu toksin difteri yang menyebar ke seluruh tubuh. Sebelum memberikan antioksin kepada pasien tentunya dokter akan mengecek terlebih dahulu apakah pasien tersebut alergi obat ataukah tidak. Jika memang pasien memiliki riwayat alergi terhadap obat tentunya dokter akan memberikan dosis yang rendah sambil melihat perkembangan dari kondisi pasien.

Untuk pasien difteri yang mengalami kesulitan dalam bernapas tentunya akan ada hambatan membran abu-abu di dalam tenggorokan. Dengan kondisi ini tentunya dokter akan melakukan pengangkatan membran. Sedangkan untuk pasien difteri dengan gejala ulkus di dalam kulit akan dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan menggunakan air dan juga sabun secara seksama. Selain penderita dari difteri tentunya keluarga dan juga orang-orang terdekat juga disarankan untuk diperiksa oleh dokter untuk mengetahui apakah tertular ataukah tidak.  Untuk keluarga terdekat tentunya dokter akan menyarankan untuk melakukan tes dan juga mengonsumsi antibiotik sebagai proteksi untuk mencegah penyakit ini muncul.

Pencegahan Penyakit Difteri

Setelah kita mengetahui akan gejala, penyebab dan juga cara mendiagnosa penyakit difteri. Tentunya, kita memerlukan suatu cara utuk mencegah penyakit tersebut agat tidak terjadi kepada kita dan juga buah hati kita. Untuk itu ada beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan yakni dengan vaksinasi. Dalam mencegah dengan vaksin ini tentunya dilakukan dengan pemberian imunisasi difteri yang ada di dalam vaksin DTP.

Jenis vaksin ini meliputi difteri, pertusis, tetanus, dan juga batuk rejan. Vaksin ini tentunya termasuk ke dalam salah satu imunisasi yang wajib dilakukan bagi anak-anak Di Indonesia. Pemberian vaksin ini tentunya harus dilakukan selama 5 kali ketika usia anak 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah bulan hingga 5 tahun. Selanjutnya akan diberikan vaksin sejenis (Tdap/Td) sebagai booster ketika usia 10 tahun dan juga 18 tahun. Vaksin Td ini tentunya bisa diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang maksimal.

Mencegah penyakit difteri tentunya menjadi lebih penting dibandingkan dengan mengobati penyakit ini. Untuk itu, kita harus senantiasa hidup sehat dan bersih agar bisa terhindar dari berbagai penyakit yang bisa menyerang tubuh kita. Itulah beberapa hal yang bisa Anda ketahui mengenai apa itu difteri, penyebab, gejala dan cara mencegahnya. Semoga bermanfaat!

Loading...