data-ad-format="auto"

Keluhan Kehamilan

Kategori artikel yang membahas mengenai keluhan-keluhan kehamilan yang sering terjadi saat kehamilan berlangsung berikut tips-tips cara mengatasinya. Bermanfaat untuk menjadikan hari-hari kehamilan menjadi lebih menyenangkan

Ketahui Masalah Kulit Yang Rentan Terjadi Pada Saat Hamil

Hamil memang menjadi suatu masa dimana akan dialami oleh wanita. Masa inilah dimana terjadinya suatu perubahan baik secara fisik maupun secara mental. Perubahan yang kerap dialami oleh wanita memang tidak dapat ditolak dan juga dihindari. Hal ini tentunya membuat para wanita harus menerima dengan segala perubahan yang mungkin terjadi pada dirinya.

Tidak jarang wanita hamil yang mengalami berbagai perubahan pada fisik yang tentunya dimulai dari keadaan perut yang mulai membesar. Selain itu, ketika sedang hamil akan terjadi perubahan dan juga ketidakseimbangan hormon. Perubahan hormon inilah yang memicu timbulnya berbagai masalah pada ibu hamil. Seperti misalnya gangguan kulit yang kerap menyerang ibu hamil. Masalah kulit ini tentunya muncul dengan sangat bervariasi mulai dari kulit yang menghitam sampai jerawat yang muncul di wajah maupun bagian tubuh lainnya.

Bagaimanapun juga, gangguan kulit memang menjadi masalah yang cukup besar bagi setiap ibu hamil. Hal ini tentu akan membuat para ibu hamil menjadi tidak merasa percaya diri dengan penampilannya. Akan tetapi, dengan hamil dan juga melahirkan akan menjadi momen yang tentu tidak akan tergantikan dengan sesuatu apapun. Untuk mengetahui lebih lanjut lagi akan masalah kulit yang rentan terjadi pada ibu hamil. Alangkah baiknya, jika kita mengenal terlebih dahulu masalah kulit yang rentan terjadi pada saat hamil. Yuk kita simak berikut ini!

Macam-Macam Masalah Kulit Yang Rentan Terjadi Pada Saat Hamil

Gangguan kulit yang dialami oleh ibu hamil tentunya akan hilang dengan sendirinya ketika wanita tersebut sudah melewat masa kehamilannya. Dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp. Kk menyatakan bahwa alangkah baiknya jika gangguan kulit saat hamil dikonsultasikan pada dokter kandungan agar dapat dengan mudah ditangani dengan cepat dan juga tepat.

Selain dari melakukan konsultasi kepada tenaga kesehatan, tentunya ada baiknya jika kita juga merawat kulit kita dengan cara yang paling tepat. Dengan mengetahui masalah kulit yang terjadi pada ibu hamil, tentu sedikitnya Anda dapat mencegah dan juga mengatasi masalah kulit tersebut dengan sebaik-baiknya. Lantas, apa saja masalah kulit yang rentan terjadi pada saat hamil? Simak penjelasannya pada poin di bawah ini!

Urtikaria

Masalah kulit yang pertama dapat timbul dengan sendirinya ketika sedang hamil. Dalam hal ini Urtikaria dapat diartikan sebagai suatu jenis penyakit yang sifatnya hilang dan juga timbul dengan sendirinya. Wujud dari gangguan kulit ini dapat ditandai dengan bentol-bentol seperti biduran dan juga kaligata. Jika memang Anda mengalami gangguan kulit jenis ini, alangkah baiknya jika Anda mengoleskan krim antialergi yang tentunya aman digunakan oleh ibu hamil. Beberapa obat antialergi yang direkomendasikan bagi ibu hamil diantaranya klemastin, difenhidramin, klorfeniramin maleat dan juga doksilamin. Jika gangguan kulit tersebut tidak hilang juga, alangkah baiknya jika Anda memeriksakan diri ke dokter kandungan agar mendapatkan penanganan yang lebih lenjut.

Herpes gestasional

Masalah kulit yang kedua memang belum diketahui akan penyebabnya, namun gangguan kulit ini kerap dialami oleh beberapa wanita hamil. Herpes gestasional ialah masalah kulit yang berbentuk seperti cacar air yang ditandai dengan rasa gatal dan juga perih pada kulit. Pada umumnya, herpes gestasional akan hilang dengan sendirinya setelah ibu melahirkan. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kulit pada ibu hamil ini dapat diredakan pula dengan obat yang memang aman bagi ibu hamil.

Polymorphous eruption

Gangguan kulit yang terjadi pada ibu hamil ini memang ditandai dengan rasa gatal yang sanngat menyiksa. Bentuk dari gangguan kulit ini seperti ruam dan juga eksim yang tentunya akan muncul terus menerus jika tidak mendapatkan penanganan dari dokter ahlinya.

Kloasma gravidarium

Gangguan kulit ini tentunya dapat terjadi di sekitar leher, ketiak, pusar, dan wajah. Gangguan kulit ini tentunya dapat memicu terjadinya melasma jika terjadi secara terus menerus. Gangguan kulit ini memang akan hilang dengan sendirinya sekitar enam bulan pasca melahirkan. Untuk mengatasi agar gangguan kulit pada ibu hamil tidak bertambah parah tentunya Anda dapat menghindari sinar matahari langsung atau segeralah periksakan ke dokter penanganan yang lebih tepat dan juga cepat.

Iritasi dan gatal-gatal

Masalah kulit yang selanjutnya yakni iritasi dan juga gatal-gatal. Gangguan kulit ini tentunya memang banyak dialami oleh sebagian besar wanita hamil. Gatal-gatal dan juga iritasi biasanya dapat terjadi di area selangkangan, ketiak, perut dan juga payudara. Masalah kulit ini biasanya disebabkan oleh adanya pergesekan pada kulit dikarenakan adanya penambahan berat bdaan pada ibu hamil. Gatal yang terjadi pada ibu hamil dapat timbul beberapa macam seperti paula urtikaria yakni gatal yang terjadi pada bagian perut atas dan juga paha yang disertai dengan bentol-bentol kecil. Kolestatik Obsterik ialah gatal yang disebabkan oleh adanya ganggian hati ketika sedang hamil dan biasanya ditandai dengan munculnya ruam kecil di beberapa bagian tubuh. Sedangkan Prugiro gestationis ialah gatal yang tentunya ditandai dengan ruam-ruam yang biasanya terjadi pada bagian kaki, lengan dan juga tubuh ibu hamil bagian atas. Biasanya untuk mengatasi gatal-gatal dan juga iritasi tersebut, Anda dapat mengoleskan body butter dan juga body lotion. Akan tetapi, jika iritasi tersebut belum sembuh juga, Anda tentunya dapat memeriksakan diri ke dokter agar mendapatkan penanganan yang lebih serius.

Jerawat

Masalah wajah ini memang tidak dapat diragukan lagi akan kemunculannya saat hamil. Tidak sedikit ibu hamil yang mengalami wajah berjerawat ketika sedang hamil. Jerawat tentunya dapat tumbuh baik di wajah dan juga bagian tubuh lainnya. Jerawat memang menjadi salah satu penyakit kulit yang sering dialami oelh ibu hamil. Jerawat tentunya dapat muncul dikarenakan adanya produksi hormon estrogen yang dapat meningkat drastis sehingga memicu timbulnya jerawat.

Strech marks

Gangguan kulit yang selanjtnya memang akan selalu dialami oleh ibu hamil. Seperti yang kita tahu bahwa strechmarks merupakan garis-garis kemerahan dan juga kecoklatan yang pada umumnya muncul di area dada, paha dan juga perut ketika hamil. Gangguan kulit ini memang terjadi yang disebabkan adanya kenaikan berat badan ibu hamil selama proses kehamilan. Strech marks memang dilamai oleh sekitar 90% wanita hamil.

Pasca melahirkan, garis-garis kemerahan dan juga kecoklatan tersebut akan memudar, namun tetap berbekas. Untuk menghilangkan strech marks, tentunya Anda dapat mengoleskan cream ataupun minyak zaitun serta lotion yang mengandung vitamin E agar tetap melembabkan kulit yang terkena strech marks tersebut. Selain itu, lakukan olahraga yang cukup ringan setiap harinya.

Linea Nigra

Masalah kulit yang selanjutnya terjadi pada masa kehamilan. Masalah ini ditandai dengan garis vertikal dari pusar ke bagian bawah yang biasa kita sebut dengan garis kehamilan. Garis ini tentunya berwarna coklat yang terjadi dikarenakan adanya perubahan hormon ketika masa kehamilan yang tentunya meningkatkan produksi melamin.

Beberapa tips dan juga cara mungkin saja dapat Anda lakukan untuk meminimalkan masalah kulit yang terjadi saat hamil. Tips dan juga cara tersebut diantaranya:

- Alangkah baiknya jika Anda tidak menggaruk gatal tersebut, cukup mengelus bagian yang memang gatal. Meskipun cara ini memang sulit, namun tentunya akan membuat kondisi kulit lebih baik dibandingkan dengan menggaruknya.

- Jagalah kebersihan pakaian dan juga alat mandi Anda. kebersihan diri sendiri dan juga rumah memang diutamakan ketika tengah hamil. Anda tentunya disarankan untuk mengganti pakaian dua kali dalam sehari

- Konsumsi makanan yang bernutrisi dan juga bergizi serat yang banyak mengandung vitamin dan juga antioksidan agar kulit tetap terjaga kelembapannya.

- Sisihkan jeli dalam makanan tersebut dan juga hindari makanan lain yang memang memiliki sifat yang dapat memicu gatal dan juga iritrasi.

- Jika sedang terjadi gatal, sebaiknya gunakan krim dan juga obat yang memang direkomendasikan untuk gatal-gatal.

- Untuk mencegah strech marks, ada baiknya jika Anda mengoleskan minyak zaitun ataupun minyak esensial untuk membuat kondisi kulit Anda tetap lembap.

Menjaga dan juga merawat kulit ketika hamil memang sangat direkomendasikan. Bagaimanapun juga, ketika hamil seorang wanita harus tetap berpenampilan cantik dan juga menarik. Untuk itu, Anda tentunya harus melakukan beberapa cara dan juga tips untuk meminimalkan gangguan kulit ketika sedang hamil. Itulah beberapa masalah kulit yang rentan terjadi pada saat hamil. Semoga bermanfaat!

Rambut Rontok Saat Hamil | Fakta & Cara Mengatasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika seorang perempuan hamil, ia akan mengalami yang dinamakan dengan rambut rontok. Kondisi ini memang sering terjadi pada sekitar 40-50% wanita yang tengah hamil. Sebagian besar wanita mengalami rambut rontok justru setelah ia melahirkan. Akan tetapi, tidak jarang juga yang bahkan mendapatkan rambut yang lebih tebal dan juga bervolume ketika ia hamil dan juga melahirkan.

Kondisi rambut rontok yang dialami oleh wanita pada dasarnya hanyalah bersifat sementara. Setelah melewati masa hamil dan melahirkan, kondisi rambut tentunya akan kembali seperti semula. Jika kadar hormon saat hamil tinggi tentunya akan membuat banyak ibu hamil yang memiliki rambut yang lebih tebal dan juga bersinar. Hal ini dikarenakan kadar estrogen dapat merangsang pertumbuhan rambut. Sedangkan, jika kadar hormon menurun drastis setelah melahirkan, maka tidak menutup kemungkinan Anda akan mengalami rambut yang rontok.

Terlepas dari hal tersebut tentunya Anda jangan terlalu khawatir karena rambut rontok yang Anda alami akan berhenti setelah 3-4 bulan seiring dengan peremajaan folikel rambut secara alami. Namun, tetap saja kondisi ini menjadi hal yang membuat Anda merasa tidak nyaman.

Fakta Tentang Rambut Rontok Saat Hamil

Kehamilan memang menjadi masa dimana adanya perubahan yang cukup drastis pada tubuh wanita. Selain perubahan fisik tubuh dan juga kondisi hormonal di dalam tubuh yang ikut berubah dengan cukup drastis. Perubahan juga dapat terjadi pada ibu hamil yang mengalami rambut rontok. Pada umumnya, rambut rontok ini terjadi pada bulan 1-5 ketika masa kehamilan di mulai.  Pertumbuhan rambut biasanya terjadi pada 90% rambut yang sedang rumbuh. Sedangkan 10% nya memasuki fase istirahat setiap 2-3 bulan dengan rambut yang baru.

Kondisi rambut rontok dan juga jumlah rambut yang masuk pada fase istirahat akan bertambah dengan sendirinya. Dimana sekitar 60% rambut berada pada fase memasuki istirahat. Kondisi ini tentunya lazim disebut dengan istilah telogen effluvium. Rambut rontok pada saat hamil tentunya menjadi tanda adanya keurangan mineral dan juga vitamin di dalam tubuh. Kondisi ini juga masih berlangsung meskipun bayi sudah dilahirkan. Tubuh ataupun rambut yang termasuk bagian tubuh lainnya akan kembali pada kondisi yang semula sebelum hamil.

Rambut tentunya menjadi bagian yang paling penting bagi wanita. Untuk itu, memang sangat penting bagi wanita untuk menjaga dan juga merawat rambut dengan baik agar tetap terlihat indah meskipun sedang hamil. Untuk itu, jika Anda sedang hamil sangat direkomendasikan untuk tetap merawat rambut dengan sangat baik.

Cara Meminimalkan Rambut Rontok

Ketika hamil tentunya Anda akan dihadapkan pada rambut rontok. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika hamil rambut akan menjadi mudah patah sehingga menyerupai kondisi rambut ketika sedang hamil. Walaupun bersifat sementara, tentunya ini menyebabkan wanita merasa tidak nyaman dan terasa terganggu. Tentunya, ada beberapa cara yang tentunya harus Anda lakukan untuk meminimalkan rambut rontok, diantaranya:

- Sampo dan Kondisioner

Cara pertama yang dapat Anda lakukan ialah dengan menggunakan sampo dan juga kondisioner. Kandungan lembut yang ada pada sampo tentunya tidak akan membuat rambut Anda iritasi. Jika memang memungkinkan, tentunya Anda dapat memilih jenis kondisioner yang mengandung biotin dan juga silika.

- Rambut rapuh saat basah

Jika Anda tidak ingin memperparah keadaan dengan rambut rontok yang Anda miliki. Tentunya, Anda harus menghindari menyisir dalam keadaan rambut yang sedang basah, terutama ketika menggunakan sisir yang bergigi rapat. Alangkah baiknya jika Anda menyisir rambut terlebih dahulu ketika menggunakan jari tangan. Selain itu, Anda juga harus menghindari terlalu sering menyisir rambut.

- Hindari ikat rambut terlalu erat

Tentunya, mengikat rambut seperti cepol kuda ataupun ekor kuda berisiko menyebabkan rambut lebih mudah patah. Untuk itu, Anda disarankan untuk menggerai rambut jika mengikat rambut memang tidak diperlukan.

- Mengeringkan rambut dengan sangat panas

Selain mengikat rambut, mengeringkan rambut dengan panas yang maksimal tentunya dapat menimbulkan risiko rambut rontok. Mengapliksikan pewarna pada rambut dan juga meluruskan rambut tentunya dapat lebih memperburuk rambut Anda. Anda juga tentunya harus menghindari mengeriting rambut agar tidak terjadi kerusakan yang cukup parah. Jika memang dibutuhkan, ada baiknya jika Anda memakai pelurus dan juga pengering dengan suhu yang tidak terlalu panas.

- Selain kebiasaan, Anda juga tentunya dapat mengonsumsi buah-buahan dan juga sayuran yang kaya akan antioksidan dan juga flavonoid sehingga dapat menjadikan rambut menjadi lebih kuat dan juga melindungi folikel rambut.

- Jika memang Anda sangat memerlukan cara mengatasi rambut rontok, Anda dapat berkonsultasi kepada dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya.

Merawat rambut rontok ketika hamil tentunya menjadi hal yang harus dilakukan bagi Anda. Rambut rontok juga tentunya dapat dipicu oleh ketidakseimbangan hormon estrogen diantaranya metode KB bersifat hormonal dan juga penghentian konsumsi pil KB. Selain itu, kerontokan rambut juga dapat disebabkan oleh keguguran dan juga aborsi. Itulah beberapa cara yang dapat Anda lakukan dalam mengatasi rambut rontok saat hamil. Semoga bermanfaat!

 

Ibu Hamil Darah Tinggi Rentan Melahirkan Bayi Obesitas

Risiko darah tinggi tentunya dapat dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali ibu hamil. Tidak jarang ibu hamil yang menderita penyakit darah tinggi. Hipertensi atau darah tinggi memang menjadi salah satu penyakit yang sangat ditakuti oleh ibu hamil. Hal ini dikarenakan penyakit darah tinggi dapat berdampak buruk pada kehamilannya baik ibu maupun janin.

Risiko yang mungkin dialami oelh ibu hamil yang menderita darah tinggi ialah rasa pusing yang berkepanjangan. Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini telah berhasil membuktikan bahwa ibu hamil yang terkena penyakit darah tinggi memang memiliki peluang lebih besar dalam melahirkan bayi obesitas. Hal ini tentunya bukan menjadi suatu permasalahan yang sepele karena obesitas pada anak-anak juga dapat memiliki risiko yang cukup besar.

Seperti yang kita tahu bahwa obesitas pada anak telah menjadi krisis kesehatan global. Hal ini dibuktikan pada data WHO yang memperkirakan terdapat 42 juta anak di bawah usia lima tahun yang memiliki berat badan ataupun obesitas. Jumlah tersebut tentunya telah meningkat sejak tahun 1990 pada sekitar 32 juta anak. Lantas, apa kaitannya penyakit darah tinggi yang diderita oleh ibu hamil dengan bahaya obesitas pada bayi?

 Ibu Hamil Darah Tinggi Rentan Melahirkan Bayi Obesitas

Tidak dapat dipungkiri bahwa melahirkan bayi obesitas tentunya dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti gaya hidup, faktor genetik, asupan nutrisi, kelebihan berat badan. Salah satu penyebab yang memungkinkan seorang ibu melahirkan bayi obesitas yakni hipertensi yang diderita oleh ibu hamil. Darah tinggi memang kerap menyerang ibu hamil yang tentu saja dikarenakan berbagai faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah naik pada saat hamil.

Kaitan antara penyakit darah tinggi yang diderita oleh ibu hamil dengan bayi obesitas tentunya disebabkan oleh beberapa hal. Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Qingdao dengan menggunakan sampel pada data sekitar 338.413 pasangan antara ibu dan juga anak yang terdaftar dari tahun 1999 hingga 2013. Penelitian tersebut dilakukan pada ibu hamil yang selalu mengunjungi klinik untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur. Dalam pemeriksaan ini, ibu hamil menjalani serangkaian pemeriksaan mulai dari berat badan, tekanan darah dan juga pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan ini juga dilakukan pada anak-anak untuk mengukur tinggi badan dan juga berat badan secara berkala.

Penelitian yang telah dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama tersebut setidaknya ditemukan beberapa ibu hamil yang mengalami darah tinggi ketika memasuki trimester kedua. Fakta membuktikan bahwa tekanan darah tinggi akan meningkat pada ibu hamil yang telah memasuki trimester kedua. Pada umumnya memang risiko tekanan darah yang meningkat jarang terjadi pada ibu hamil yang masih memasuki usia kehamilan trimester pertama. Jika ibu hamil mulai mengalami tekanan darah tinggi ketika usia kehamilan memasuki trimester kedua, hal ini tentu saja meningkatkan peluang sekitar 49% lebih besar untuk memiliki anak yang memiliki berat badan yang berlebih jika dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki tekanan darah yang normal. Selain itu, ibu hamil yang mengalami tekanan darah tinggi ketika usia kehamilan memasuki trismester ketiga akan berisiko 14% lebih besar untuk melahirkan bayi yan obesitas.

Selain penelitian di atas, tentunya kaitan antara penyakit darah tinggi dan juga obesitas pada anak dibuktikan pula oleh sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Penelitian tersebut telah membuktikan bahwa diperkirakan 42 juta anak yang berusia 5 tahun atau kurang berisiko mengalami kelebihan berat badan. Penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa antara ibu hamil, tekanan darah tinggi sera risiko melahirkan bayi obesitas memang saling berkaitan satu sama lain. Untuk itu, memang sangat penting bagi Anda untuk senantiasa menjaga tekanan darah ketika sedang hamil karena kondisi tersebut akan berdampak buruk pada kesehatan Anda dan juga janin.

Penyebab Darah Tinggi Pada Ibu Hamil

Setelah kita mengetahui bahwa darah tinggi pada ibu hamil dan juga obesitas pada bayi sangatlah berkaitan. Tentunya, kita mulai penasaran dan juga bertanya-tanya apa sebenarnya penyebab darah tinggi yang umum diderita oleh ibu hamil. Untuk mengetahui hal tersebut, berikut kami sajikan beberapa penyebab hipertensi pada ibu hamil yang paling sering terjadi diantaranya:

 Kehamilan di usia tua

Penyebab pertama yang tidak dapat diragukan lagi akan kebenarannya ialah kehamilan yang dialami oleh wanita yang sudah berusia lanjut. Tidak dapat dipungkiri bahwa hamil pada usia tua memang berisiko sangat tinggi dan dapat menyebabkan beberapa dampak buruk lainnya seperti keguguran, bayi lahir cacat, bayi prematur, bayi kurang gizi, tidak terkecuali hipertensi yang sering diderita.

Penyebab tekanan darah naik pada ibu hamil tentunya dapat disebabkan oleh kurangnya kadar kalsium pada saat proses metabolisme tubuh. Akhirnya, tubuh akan mengambil kadar kalsium yang terdapat pada tulang serta mengedarkannya ke pembuluh darah serta untuk menunjang pertumbuhan janin di dalam kandungan. Kondisi ini tentunya menyebabkan tingginya kadar kalsium di dalam darah sehingga akan menyebabkan penebalan dan juga penyempitan pembuluh darah yang akhirnya akan memicu timbulnya hipertensi pada ibu hamil.

Pengentalan darah saat hamil

Selain kehamilan pada usia yang sudah senja, hipertensi yang sering dialami oleh ibu hamil juga dapat disebabkan oleh adanya pengentalan darah saat hamil atau yang sering disebut dengan istilah thrombophilia. Jika pengentalan darah terjadi pada ibu hamil, maka akan menyebabkan aliran darah yang akan menuju plasenta akan terganggu sehingga akan memicu terjadinya hipertensi. Selain itu, pengentalan darah yang terjadi pada ibu hamil akan menyebabkan perkembangan bayi terganggu bahkan berisiko mengalami keguguran.

 Obesitas

Kondisi kelebihan berat badan yang dialami oleh ibu hamil tentunya akan memicu timbulnya hipertensi pada kehamilan. Ketika seorang wanita mengalami obesitas, maka akan menyebabkan pengumpulan dan juga tumpukan lemak yang cukup banyak pada tubuh. Jika lemak tersebut terus saja dibiarkan, maka kondisi ini akan membuat jantung memompa darah menjadi lebih keras sehingga sirkulasi darah akan menjadi lebih cepat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

 Kurang olahraga

Satu aktivitas yang dirasa sangat sulit dan juga malas untuk dilakukan oleh banyak orang ternyata memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan kita. Pada wanita yang memiliki kelebihan berat badan serta kurang melakukan olahraga, maka sangat dimungkinkan wanita tersebut akan mengalami tekanan darah tinggi ketika ia hamil. Ketika Anda hamil tentunya bukan menjadi sebuah halangan untuk melakukan olahraga. Tentu saja, Anda dapat memilih jenis olahraga yang tergolong cukup ringan untuk dilakukan oleh wanita yang sedang hamil. Jenis olahraga yang dapat dilakukan oleh ibu hamil seperti berjalan, dan juga senam ibu hamil.

 Mengonsumsi kafein yang berlebih

Jika Anda termasuk pada wanita penyuka kopi yang cukup berat, sebaiknya Anda menghindari atau mengurangi porsi konsumsi kopi sekarang juga terlebih jika Anda sedang hamil. Hal ini dikarenakan mengonsumsi kafein dalam jumlah yang berlebih dapat meningkatkan denyut jantung sehingga akan menyebabkan tingginya tekanan darah pada pembuluh arteri.

 Meminum alkohol

Kebiasaan buruk ini tidak hanya dapat meningkatkan risiko hipertensi. Namun juga akan berdampak buruk pada kesehatan lainnya pada tubuh Anda. Konsumsi alkohol meski dalam kadar yang cukup sedikit tentunya dapat menyebabkan pengentalan pada darah dan juga asam. Jika kondisi ini terus terjadi, maka akan menyebabkan darah sulit untuk dialirkan ke jantung. Jika suplai darah berkurang, hal ini akan membuat kinerja jantung memompa darah semakin keras hingga tekanan darah pada dinding pembuluh arteri menjadi semakin meningkat pula. Kondisi inilah yang menyebabkan seseorang mengalami hipertensi.

 Konsumsi garam yang berlebih

Bumbu dapur yang satu ini memang memiliki peranan yang cukup penting dalam membuat cita rasa masakan menjadi lebih sedap. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa garam dapat memicu tekanan daran menjadi cukup tinggi. Jika garam  dikonsumsi dalam kadar yang cukup berlebih, tentunya hal ini akan mengakibatkan volume darah serta aliran darahnya menjadi lebih cepat. Jika kondisi ini terjadi, maka akan berpeluang besar meningkatkan risiko hipertensi terlebih bagi ibu hamil. Oleh karena itu, jika Anda tengah hamil sebaiknya jangan terlalu banyak dalam mengonsumsi garam.

 Riwayat keluarga

Bagi Anda yang memiliki riwayat keluarga yangd arah tinggi, tentunya akan sedikit berpeluang terkena hipertensi. Hal ini mungkin saja dapat disebabkan oleh faktor genetik yang ada pada tubuh Anda. Jika terdapat keluarga yang sering mengalami hipertensi pada saat hamil termasuk ibu Anda, maka ketika Anda sedang hamil akan sedikit berisiko terkena tekanan darah tinggi. Meskipun begitu, risiko terkena tekanan darah tinggi dapat juga dicegah dengan selalu menjalankan pola hidup sehat dan juga rutin berolahraga.

Bahaya Tekanan Darah Tinggi Bagi Ibu Hamil

Setelah kita mengetahui beberapa penyebab seorang wanita hamil mengalami tekanan darah tinggi. Tentunya juga sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa saja dampak dan juga risiko yang dapat timbul pada ibu hamil yang menderita hipertensi. Terlepas dari bahaya atau tidaknya hipertensi pada ibu hamil, kami juga akan membahas beberapa bahaya hipertensi pada ibu hamil seperti pada beberapa poin berikut ini:

Kelahiran bayi prematur

Risiko pertama yang mugnkin terjadi pada ibu hamil yang menderita hipertensi ialah melahirkan bayi sebelum waktunya. Kondisi ini menyebabkan bayi yang belum memiliki waktu yang cukup untuk lahir terpakas harus terlahir lebih dulu sebelum pada waktunya. Kondisi kelahiran prematur ini mungkin saja dilakukan untuk mencegah bahaya lain yang lebih serius akibat komplikasi dari tekanan darah tinggi yang lebih serius.

Kelahiran bayi berat rendah

Siapa juga yang tidak ingin melahirkan bayi yang memiliki berat badan yang normal. Namun, jika ibu hamil menderita darah tinggi atau hipertensi ketika sedang hamil, maka akan berisiko melahirkan bayi yang memiliki berat badan yang rendah bahkan dibawah rata-rata. Hal ini dikarenakan ibu hamil tidak mendapatkan asupan gizi dan juga nutrisi yang cukup ketika sedang hamil.

Cairan ketuban yang sedikit

Bahaya lain yang dapat terjadi ketika ibu hamil mengalami tekanan darah yang tinggi ialah produksi cairan ketuban yang sedikit. Seperti yang Anda tahu bahwa ketuban berfungsi untuk melindungi bayi ketika berada di dalam kandungan sehingga membuatnya merasa cukup nyaman. Ketika sedang hamil dan tekanan darah menjadi lebih tinggi, maka akan berisiko memiliki cairan ketuban yang cukup sedikit. Hal ini tentunya akan membahayakan keselamatan janin ketika dalam proses persalinan.

Janin meninggal di dalam kandungan

Ibu yang memiliki tekanan darah yang tinggi memang memiliki dampak yang sangat buruk bagi keselamatan bayi. Hal ini dikarenakan bayi akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan asupan nutrisi, oksigen dan juga nutrisi lainnya yang dibutuhkan oleh janin. Hal ini jika ditangani lebih lanjut tentunya akan menyebabkan bayi meninggal di dalam kandungan tanpa sepengetahuan ibu hamil.

 Pembengkakan saraf mata

Bahaya tekanan darah tinggi juga tidak hanya membahayakan janin, namun juga membahayakan ibu hamil. Dalam hal ini, jika ibu hamil mengalami hipertensi, maka akan menyebabkan pembuluh darah yang ada pada retina menjadi terganggu. Tidak menutup kemungkinan ketika melahirkan dalam keadaan hipertensi, maka akan menyebabkan gangguan penglihatan dan juga kebutaan untuk sementara. Ketika saraf yang membengkak tersebut kembali kempes, maka akan membuat ibu dapat melihat kembali dnegan cukup baik.

Risiko Melahirkan Bayi Obesitas Pada Ibu Yang Tidak Menderita Hipertensi

Selain ibu yang mengalami hipertensi, kelahiran bayi obesitas juga dapat terjadi pada ibu yang tidak menderita tekanan darah yang tinggi. Ibu yang tidak mengalami hipertensi tidak akan memiliki pengaruh yang cukup besar pada kelahiran bayi obesitas di usia trimester pertama. Akan tetapi, jika kehamilan memasuki trimester kedua bahkan ketiga, maka setiap peningkatan tekanan darah sistolik akan meningkatkan risiko obesitas pada anak sebanyak 5%. Setiap peningkatan tekanan darah diastolik sebanyak 10mmHg tentunya akan berisiko meningkatkan risiko obesitas pada anak-anak sebanyak 6%.

Risiko kelahiran bayi diabetes juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini:

- Usia ibu hamil yang terlalu muda ketika sedang hamil

- Ibu mengalami menstruasi pertama yang terlalu awal

- Kehamilan pertama

- Anak yang dilahirkan melalui operasi caesar

- Tingkat pendidikan ibu yang rendah

- Ibu memiliki BMI yang tinggi

Penting Menjaga Tekanan Darah Ketika Hamil

Setelah kita mengetahui beberapa penyebab dan juga dampak buruk yang dapat terjadi pada ibu hamil dan juga janin. Tentunya, hal ini menjadi tugas bagi kita untuk mencari cara untuk senantiasa menjaga tekanan darah tetap stabil. Hal ini tentunya berkaitan dengan sebuah penelitian mengenai hubungan antara tekanan darah dan juga risiko melahirkan bayi obesitas. Penelitian terbaru juga membuktikan bahwa peningkatan darah pada trimester kedua dan juga ketiga memmang dapat meningkatkan risiko obesitas.

Penelitian mengungkapkan bahwa memantau dan juga mengendalikan tekanan darah selama hamil sangatlah penting. Selain itu, menjaga tekanan darah tetap seimbang dapat sedikit mencegah melahirkan anak obesitas. Untuk itu, ketika wanita sedang hamil, alangkah baiknya jika Anda memonitor dan juga mengontrol tekanan darah Anda selama kehamilan. Jika Anda mengalami tekanan darah tinggi ketika hamil, lebih baik Anda memeriksakan secara rutin ke bidan dan juga dokter kandungan Anda.

Menjaga keseimbangan tekanan darah yang tinggi tentunya menjadi sebuah tugas bagi kita. Hal ini tentunya dapat menjadi jalan bagi Anda dalam mencegah kelahiran bayi yang obesitas. Itulah beberapa hal yang dapat ketahui mengenai ibu hamil darah tinggi rentan melahirkan bayi obesitas. Semoga bermanfaat!

 

Waspadai Penyebab Sindrom HELLP Pada Ibu Hamil

Waspadai Penyebab Sindrom HELLP Pada Ibu Hamil - Keluhan selama kehamilan memang sangat bervariatif. Hal ini tentunya dikarenakan beberapa faktor dan juga tergantung dari kondisi tubuh ibu hamil. Beberapa gangguan kehamilan tentunya sangat berpengaruh pada kesehatan ibu hamil dan juga janin. Seperti sindrom HELLP yang tidak banyak orang yang tahu mengenai gangguan kehamilan ini. Lantas, seperti apa bahaya dan juga efek yang ditimbulkan dari Sindrom HELLP tersebut. Yuk kita simak saja berikut ini!

Berbicara mengenai sondrom HELLP tentunya tidak semua orang mengetahui akan salah satu gangguan kehamilan ini. Pasalnya, gangguan kehamilan ini merupakan salah satu gangguan yang terbilang sangat jarang terjadi pada ibu hamil. Akan tetapi, dapat terjadi pada siapa saja yang tentunya harus kita waspadai. Bagaimanapun juga, sindrom HELLP dapat mengancam jiwa baik ibu terutama janin.

Jika seorang ibu hamil terkena sindrom HELLP tentunya ini menjadi sebuah risiko yang tidak dapat dikatakan lagi akan bahayanya. Hal ini dikarenakan orang hamil yang terkena sindrom HELLP harus menjalani perawatan. Tentunya, ini menjadi sebuah risiko yang sangat sulit untuk diatasi. Pastinya, tidak semua orang mengetahui apa itu sindrom HELLP, apa dampaknya serta bagaimana bisa terjadi pada ibu hamil. Untuk itu, kami sajikan beberapa penjelasan mengenai sindrom HELLP tersebut berikut ini!

Apa Itu Sindrom HELLP

Dikarenakan sangat jarang terjadi dan langka terjadi pada ibu hamil. Tentunya, ini menjadi sebuah kondisi dimana Anda sebagai ibu hamil harus benar-benar waspada akan terjangkitnya sindrom ini. Meskipun terbilang jarang dan juga langka, namun dari sindrom HELLP ini dapat menyerang siapa saja. Untuk itu, Anda harus benar-benar waspada mengenai sindrom ini.

Sindrom HELLP merupakan singkatan dari Hemolisis, Elevated Liver enzyms dan Low Platelet. Jika diuraikan lebih rinci lagi Hemolisis merupakan suatu kerusakan sel darah merah, Elevated Liver enzyms adalah suatu peningkatan produksi enzim hati akibat gangguan pada sel hati sedangkan Low Platelet ialah jumlah platelet atau trombosit dengan kadar yang terlalu rendah sehingga akan mengganggu proses pembekuan darah.

Jika disimpulkan sindrom HELLP ialah suatu keadaan dimana preeklampsia memburuk dimana dapat didiagnosis dengan menggunakan parameter laboratorium. Sementara itu, proses kerusakan endotel yang terjadi di seluruh sistem tubuh. Sindrom HELLP ialah salah satu gangguan organ hati dan juga darah yang dapat terjadi selama kehamilan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa sindrom ini dapat dikaitkan dengan preeklampsia. Pada umumnya, sindrom ini menyerang dan juga mengancam nyawa ibu hamil dan juga janin ketika kehamilan memasuki usia 20 minggu.

Sindrom ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah sindrom yang terdiri dari beberapa indikasi seperti penghancuran sel darah merah, kerusakan hati, adanya pembekuan darah, serta ditandai dengan mual muntah yang hebat, sakit kepala, rasa lemah dan juga sakit perut yang disertai dengan pembengkakan pada kaki. Sindrom ini juga menjadi salah satu sindrom yang memang sangat ditakuti oleh ibu hamil. Dalam penanganan sindrom ini tentunya harus dilakukan pemeriksaan lebih dini agar dapat mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk lagi.

Penyebab Terjadinya Sindrom HELLP

Sampai saat ini, penyebab sindrom HELLP pada ibu hamil belum diketahui dengan pasti. Namun, dapat dipastikan bahwa ibu hamil yang terkena sindrom HELLP berasal dari wanita yang terkena preeklampsia. Meskipun memang secara jelas, penyebab dari sindrom ini belum diketahui dengan pasti.

Ibu hamil yang terkena preeklampsia dapat disebabkan oleh adanya gangguan pertumbuhan dan juga perkembangan plasenta. Hal ini tentunya dapat menyebabkan adanya gangguan aliran darah dari ibu kepada janin. Bagaimanapun juga, jika plasenta mengalami gangguan, maka akan mengurangi pasokan darah, oksigen dan juga intisari makanan dari ibu hamil. Seperti yang kita tahu bahwa plasenta merupakan salah satu organ khusus yang berkembang ketika seorang wanita mengalami kehamilan. Organ ini tentunya dibentuk saat terjadinya kehamilan.

Ketika plasenta sudah mulai terbentuk, maka ia berperan dalam menyuplai gizi dan juga nutrisi lainnya yang ada di dalam makanan dan juga minuman. Selain itu, plasenta juga mengalirkan oksigen dan juga darah dari ibu kepada bayinya. Untuk itu, jika ibu hamil mengalami gangguan preeklampsia, maka dapat membuat pasokan aliran darah pada janin menjadi sangat berkurang dan juga janin mengalami pertumbuhan yang sangat lambat. Hal ini tentunya dikarenakan adanya plasenta yang tidak dapat bekerja dengan baik yang seharusnya mendukung perkembangan dan juga pertumbuhan janin di dalam rahim.

Tentunya, ada beberapa alasan mengapa plasenta tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini lebih tepatnya disebabkan oleh adanya gangguan ketika sel telur dibuahi oleh sperma. Pada kondisi normal, embrio atau calon janin akan langsung menempel pada rahim sebagai suatu tempat dampai menunggu proses kelahirannya nanti. Pada proses ini, calon janin akan mulai membentuk akar yang berasal dari pembuluh darah seorang ibu, lalu berkembang menjadi plasenta. Dalam pembuatan plasenta ini tentunya membutuhkan gizi dan juga nutrisi yang memang dibutuhkan ketika terjadi perkembangan janin tersebut. Jika tidak ada sama sekali atau sedikit gizi dan juga nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, maka tentunya plasenta juga akan mengalami gangguan sehingga menyebabkan preeklampsia terjadi.

Selain itu, tekanan darah pada ibu hamil yang meningkat dapat menyebabkan adanya gangguan pada ginjal ibu hamil. Oleh karena itu, ibu hamil yang mengalami preeklampsia juga dapat mengalami proteinuria yakni kondisi dimana ginjal tidak dapat menyaring protein dengan sangat baik sehingga dapat menyebabkan protein ada didalam urin. Hal ini tentunya membuat protein terbuang dengan sangat sia-sia. Penyebab sindrom HELLP memang belum diketahui dengan jelas, namun menjaga asupan gizi dan juga nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh menjadi salah satu hal yang perlu Anda lakukan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terkena preeklampsia yang nantinya memicu sindrom HELLP terjadi pada ibu hamil.

Gejala-Gejala Sindrom HELLP Pada Ibu Hamil

Setelah kita mengetahui penyebab terjadinya sindrom HELLP pada ibu hamil serta kaitannya dengan preeklampsia. Kali ini kita akan beranjak pada gejala-gejala sindrom HELLP yang tentunya dapat diketahui lebih dini. Dihubungkan dengan preeklampsia, secara umum gejala yang ditimbulkan pada ibu hamil yang terkena sindrom HELLP ialah mengalami tekanan darah yang cukup tinggi ketika sedang dalam masa kehamilan.

Pada ummunya, ibu hamil yang sangat berisiko mengalami sindrom HELLP ialah wanita hamil yang sudah memasuki usia 34 tahun, hamil bayi kembar, atau riwayat keluarga yang memang memiliki sindrom HELLP. Terutama ibu hamil yang menderita penyakit medis tertentu seperti tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, diabetes, pengentalan darah dan juga obesitas. Selain itu, ibu hamil yang mengalami preeklampsia dapat memiliki kemungkinan terkena sindrom HELLP.

Tentunya, gejala yang ditimbulkan dari seorang wanita yang menderita sindrom HELLP memang sangat beragam pada setiap individu. Hal ini membuat sebuah pemeriksaan memang sangat sulit untuk didiagnosa. Beberapa gejala yang timbul jika seorang wanita mengalami sindrom HELLP, tentunya dapat diuraikan sebagai berikut:

- Mual dan juga muntah yang sangat hebat

- Sering mengalami rasa lelah yang berlebih

- Selalu merasa sakit perut terutama pada bagian perut atas

- Rasa nyeri pada ulu hati

- Terjadi peningkatan berat badan tidak wajar dalam waktu 1-2 hari

- Sakit kepala yang sangat parah

- Mengalami tekanan darah tinggi

- Penurunan frekuensi urin dan juga jumlah urin

- Penglihatan yang tiba-tiba kabur

- Tiba-tiba terjadi pembengkakan pada area kaki, mata, tangan dan juga muka

- Sering merasa kesemutan baik tangan dan juga kaki meskipun tidak ada penyebabnya sama sekali

- Jumlah trombosit yang menurun

- Sesak dada dan nyeri pada bagian dada dalam

- Rasa sakit perut setelah makan

- Kejang-kejang

- Mata berkunang-kunang

- Mengalami pendarahan yang spontan

- Gangguan pencernaan dan juga sakit ketika bernafas

- Adanya protein di dalam urin (terlihat pada saat pemeriksaan urin)

Beberapa gejala lain mungkin saja akan timbul dnegan sendirinya. Untuk itu, jika Anda mengalami beberapa gejala yang sudah kami sebutkan di atas, sangat penting bagi Anda untuk segera berkonsultasi dengan dokter dan juga tenaga medis untuk menangani kondisi tersebut lebih lanjut lagi. Itulah beberapa gejala jika seorang ibu hamil terkena penyakit sindrom HELLP.

Tanda-Tanda Sindrom HELLP

Selain gejala-gejala yang timbul dari seorang wanita yang terkena sindrom HELLP, tentunya ada beberapa tanda yang mendukung bahwa kemungkinan besar seorang ibu hamil tersebut mengalami sindrom HELLP. Beberapa sindrom HELLP tersebut dikenali dengan beberapa tanda berikut ini:

  1. Hemolisis

Hemolisis tersebut ditandai dan juga dapat dilihat dari ekimosis, ptekie, dan secara laboratorik adanya Burr Cells pada apusan darah teri.

  1. Elevated Liver enzyms

ketika SGOT dan SGPT mengalami peningkatan (> 70 iu) dan LDH (>600 iu), maka hal ini merupakan suatu tanda degenerasi hati akibat dari adanya vasospasme luar. LDH > 1400 ui ialah sebuah tanda spesifik akan adanya kelainan klinik.

  1. Low Platelets

Pada tanda ini tentunya ditandai dengan adanya jumlah trombosit <100.000/mm3 yang merupakan suatu tanda adanya koagulasi intravaskuler.

Jika dilakukan pemeriksaan darah tepi tentunya akan terdapat bukti-bukti hemolisis yaitu adanya kerusakan sel eritrosit seperti helmet celss dan juga burr cells. Hemolisis tentunya dapat mengakibatkan adanya peningkatan kadar bilirubin dan juga lactate dehydrogenase (LDH).

Siapa Yang Berisiko Terkena Sindrom HELLP

Secara pasti bahwa seorang wanita hamil akan sangat berisiko terkena sindrom HELLP. Namun, tidak semua wanita hamil akan berisiko besar terkena sindrom HELLP. Ada beberapa wanita hamil yang sangat berisiko terkena sindrom HELLP dengan kondisi sebagai berikut:

- Tekanan darah tinggi

- Stroke

- Gangguan hati dan ginjal

- Usia wanita di atas 34 tahun

- Wanita yang mengalami preeklampsia sebelumnya

Pemeriksaan urin dan juga tekanan darah memang sangat penting selama dalam proses kehamilan. Di Amerika, 5-8% wanita yang sedang hamil mengalami preeklampsia sedangkan 15% mengalami sindrom HELLP. Kesimpulannya bahwa sebanyak 48.000 wanita hamil di Amerika sangat berisiko terkena sindrom HELLP per tahunnya.

Dampak Sindrom HELLP Bagi Janin

Selain berdampak buruk pada ibu, sindrom HELLP juga tentunya memiliki efek yang sangat buruk bagi janin. Hal ini dikarenakan jika sindrom HELLP menyebabkan tekanan darah ibu hamil meningkat drastis, untuk menyelamatkan nyawa keduanya, dengan terpaksa harus mengeluarkan janin. Bagi janin yang lahir prematur atau berat janin kurang dari 2 kg, maka akan diberikan perawatan yang cukup intensif. Meskipun begitu, presentasi keselamatan pada bayi yang prematur hanya sekitar 50 % bahkan sebagian besar bayi prematur tersebut tidak dapat diselamatkan. Jika diberikan pilihan antara menyelamatkan ibu dan juga janin, tentunya nyawa ibu lebih diutamakan.

Penanganan dan Pencegahan Sindrom HELLP

Tentunya memang sangat disayangkan bahwa penanganan dan juga pengobatan wanita hamil yang terkena sindrom HELLP memang belum ada. Akan tetapi, pada dasarnya masa kehamilan memang menjadi masa yang paling rentan terkena penyakit dan juga virus. Selama kehamilan tentunya kita harus menjalani hidup dengan cara yang sehat agar dapat terhindar dari segala kemungkinan penyakit yang akan menyerang tubuh kita. Penanganan yang tepat bagi ibu hamil yang terkena sindrom HELLP tentunya dengan memeriksakan diri Anda ke dokter kandungan. Jika usia kehamilan sudah memasuki usia kandungan 34 minggu, maka dokter kandungan akan menganjurkan untuk melahirkan bayi lebih cepat.

Dengan begitu, bayi akan diberikan korticosteroid supaya paru-paru bayi lebih cepat matang. Akan tetapi, jika usia kandungan belum siap untuk melahirkan, maka dokter akan menunggu sampai janin cukup usia untuk dilahirkan yang nantinya akan dilakukan perawatan dan juga pengobatan lebih lanjut lagi.

Beberapa hal yang perlu dilakukan ketika hendak melakukan pengobatan terhadap wanita hamil yang mengalami sindrom HELLP, diantaranya:

- Melakukan istirahat total atau yang sering disebut dengan bedrest. Istirahat seperti ini tentunya tidak hanya dilakukan di rumah sakit, tetapi Anda juga dapat melakukannya di rumah.

- Mengurangi konsumsi garam agar tidak membuat kondisi lebih parah

- Mengonsumsi lebih banyak air mineral agar terhindar dari dehidrasi

- Melakukan pemeriksaan ke dokter secara rutin

- Menjaga asupan gizi dan nutrisi lebih seimbang

- Hindari hal-hal yang dapat menbahayakan ibu dan juga janin.

- Menjaga kesehatan tubuh selama kehamilan dengan memakan makanan sehat dan juga bernutrisi. Hindari diri dari makanan yang mengandung lemak tinggi untuk menjaga kesehatan fisik sehingga membuat bayi Anda bebas bergerak dan juga memiliki istirahat yang cukup.

- Selalu kontrol secar rutin ke dokter kandungan

- Ceritakan keluhan Anda kepada dokter mengenai riwayat penyakit Anda tentang kesehatan keluarga yang tentunya berhubungan dengan komplikasi pada kehamilan, preeklampsia, dan gangguan hipertensi lainnya.

- Percaya pada insting ketika sesuatu hal yang tidak wajar terjadi pada kehamilan kita

- Mengenali gejala awal kemudian konsultasikan segera kepada dokter kandungan dan juga tenaga medis Anda

Jika preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil tidak terlalu parah, berikut ini kami sajikan beberapa rekomendasi yang dapat Anda lakukan untuk mencegah preeklampsia semakin buruk. Menjaga kesehatan dan juga kondisi kehamilan tetap sehat tentunya menjadi sebuah keharusan bagi Anda. Maka dari itu, hindari hal-hal yang memang dianggap sebagai sesuatu yang dapat membahayakan bagi Anda dan juga kandungan Anda. Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai definisi sindrom HELLP, gejala dan juga dampak yang mungkin terjadi untuk Anda dan juga janin. Semoga bermanfaat!

13 Tanda-Tanda Rahim Bersih Setelah Keguguran

Tanda-Tanda Rahim Bersih Setelah Keguguran - Jika seorang wanita telah mengalami keguguran, tentunya membuat rahim seorang wanita menjadi sedikit terganggu dan juga menyisakan kotoran hasil dari pembuahan embrio yang menempel di dinding rahim. Untuk itu, kami akan sajikan beberapa tanda-tanda rahim bersih setelah keguguran yang wajib Anda ketahui.

Adakah wanita yang menginginkan keguguran terjadi itu terjadi? Tentunya, tidak ada satu wanitapun di dunia ini yang bahkan membayangkan keguguran itu terjadi pada saat masa kehamilannya. Mereka tentunya sangat menghindari keguguran itu terjadi di masa kehamilannya. Pasalnya, keguguran berarti hilangnya calon buah hati yang ada di dalam rahim kita yang seharusnya janin tersebut berkembang.

Keguguran dapat disebut sebagai teror yang begitu saja dapat terjadi pada setiap wanita yang tengah hamil. Keguguran yang terjadi tentunya dapat disebabkan oleh beberapa hal yang bahkan wanita tidak dapat menghindarinya. Faktanya, tidak setiap wanita dapat menghindarkan diri dari terjadinya keguguran. Hal ini disebabkan oleh keadaan tubuh dan juga rahim yang berbeda dari setiap wanita.

Tentunya, jika keguguran terjadi pada seorang wanita. Maka, ia akan mengalami beberapa fase yang mungkin dapat membuat seorang wanita merasa tidak nyaman. Belum lagi ia harus menjalankan proses kuretasi atau sejenisnya yang tentunya membuat seorang wanita merasakan sakit dan juga nyeri yang hebat. Pasalnya, jika tidak dilakukan tindakan kuretasi atau sebagainya, kotoran dan juga sisa janin di dalam rahim dapat menyebabkan penyakit seperti kanker dan juga penyakit rahim lainnya. Rahim yang sehat tentunya rahim yang bersih dari segala macam kotoran dan juga sisa-sisa yang menempel di dalamnya. Untuk itu, kami sajikan beberapa tanda-tanda rahim bersih setelah keguguran yang memang sangat bermanfaat untuk Anda. Baca juga: 9 Cara Membersihkan Rahim Secara Alami Setelah Keguguran

 

Tanda-Tanda Rahim Bersih Setelah Keguguran

Jika seorang wanita pernah mengalami keguguran 1 kali tentunya ini menjadi tugas besar baginya untuk mengembalikan kondisi rahim seperti semula. Hal ini tidak lain bertujuan untuk mempersiapkan kembali kehamilan selanjutnya. Jika rahim sudah bersih tentunya seorang wanita sudah boleh menjalankan program hamil kembali.

Akan tetapi, jika rahim wanita belum bersih atau masih terdapat sisa-sisa kotoran, maka sebaiknya Anda menunda dulu kehamilan selanjutnya. Pastinya, pada kehamilan selanjutnya seorang wanita menginginkan kehamilan yang berjalan lancar dan berharap tidak akan terjadi keguguran untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, memang penting bagi Anda untuk mengetahui tanda-tanda rahim bersih setelah keguguran yang tentunya menjadi acuan bagi Anda untuk melakukan program hamil kembali.

Pada umumnya, tindakan kuretasi dapat membersihkan sisa-sisa kotoran dan juga hasil pembuahan yang menempel di dinding rahim. Namun, jika seorang wanita yang keguguran tidak diberikan tindakan kuretasi atau hanya diberikan obat. Kemungkinan besar masih terdapat sisa-sisa embrio dan juga kotoran yang menempel di dinding rahim. Kotoran yang menempel inilah yang akan menjadi penyebab adanya penyakit lain yang mungkin timbul di dalam rahim.

Lihat juga: 18 Cara Merawat Payudara Setelah Melahirkan

Ada beberapa tanda yang dapat Anda identifikasi mengenai rahim yang sudah bersih dan juga siap untuk proses kehamilan selanjutnya. Jika terjadi pendarahan setelah keguguran, kemungkinan rahim memang sudah bersih. Namun, tetap saja Anda harus mengetahui tanda-tanda rahim bersih setelah keguguran yang akan kami sebutkan di bawah ini!

1. Tidak adanya gumpalan darah

Rahim dikatakan bersih tentunya jika sudah tidak ada gumpalan darah yang keluar dari vagina. Sisa embrio yang sudah menempel di dinding rahim tentunya tidak dapat lepas secara langsung dan begitu saja. Akan tetapi, dibutuhkan waktu dan juga tindakan untuk membuatnya terlepas dari dinding rahim.

Tentunya, jika Anda mengalami keguguran, perhatikan darah yang keluar dari dalam serviks Anda. Apakah masih terdapat gumpalan atau darah seperti saat menstruasi. Tekstur darah yang keluar dari vagina tentunya menjadi tanda apakah embrio dan sisa-sisa kehamilan sudah keluar ataukah belum. Jika Anda menemukan tekstur darah yang menggumpal dari dalam serviks tentunya dapat diindikasikan bahwa proses pembersihan belum selesai. Untuk itu, diperlukan tindakan khusus untuk wanita yang sudah mengalami keguguran yaitu dengan mengonsumsi daun rebusan sirsak dan juga air kelapa muda. Dengan meminum ramuan tersebut tentunya Anda dapat membantu membersihkan rahim secara alami tanpa dengan konsumsi obat-obatan.

2. Siklus menstruasi teratur

Hal yang wajar jika seorang wanita mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur pasca terjadinya keguguran. Ini berarti rahim belum sempurna dan masih dalam proses pembersihan. Jika Anda mengalami siklus menstruasi yang sudah teratur pasca keguguran, tentunya ini menjadi tanda bahwa rahim Anda sudah bersih dan juga normal kembali.

Siklus menstruasi yang teratur berarti rahim sudah siap untuk proses kehamilan kembali. Akan tetapi, jika Anda tidak mengalami siklus menstruasi bahkan tidak menstruasi sama sekali selama 3 bulan bahkan terjadi pendarahan selama 1 bulan. Alangkah baiknya, jika Anda berkonsultasi ke dokter dan juga tenaga medis untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam rahim. Jika hal tersebut terjadi tentunya ini menjadi salah satu indikasi bahwa adanya gangguan di dalam rahim Anda yang sangat berbahaya bagi kesehatan Anda.

3. Tidak merasa sakit pinggang

Tidak dapat dipungkiri bahwa wanita yang telah mengalami keguguran akan merasakan sakit pada area pinggang. Jika hal ini dirasakan oleh seorang wanita pasca tindakan kuretasi, ada kemungkinan kotoran dan juga sisa kehamilan masih ada dan belum keluar dari dalam rahim.

Hal pertama yang harus Anda lakukan ialah dengan berkonsultasi pada dokter kandungan Anda. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah berbahaya atau tidak rasa sakit yang timbul pada area pinggang tersebut. Bagaimanapun juga rasa sakit pada area pinggang akan membuat seorang wanita merasa sangat tidak nyaman. Atau dengan cara lain, Anda dapat mencari cara dan juga alternatif pengobatan secara tradisional yang mungkin dapat membantu Anda untuk membersihkan rahim. Jika rasa nyeri tersebut berlebihan, maka ini dapat mengindikasikan bahwa adanya gejala kista dan juga ginjal di dalam rahim.

4. Tidak merasa sakit pada perut

Rasa nyeri yang berasal dari perut tentunya disebabkan oleh rahim yang mengalami gangguan. Hal ini dikarenakan adanya kontraksi yang terjadi di dalam rahim akibat terjadinya keguguran. Jika Anda mengalami sakit perut dan juga mulas-mulas pasca keguguran, itu berarti rahim Anda belum bersih dan juga masih ada yang tersisa di dalam rahim.

Rasa sakit yang timbul dari dalam rahim tentunya dapat diobati dengan cara yang alami. Anda juga tentunya dapat mengonsumsi obat antibiotik aman yang harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan juga tenaga medis. Terlebih jika Anda merasakan rasa sakit yang hebat disertai dengan haid yang tidak teratur.

5. Tidak pusing

Pendarahan yang terjadi pada seorang wanita yang mengalami keguguran tentunya dapat membuat seorang wanita merasa pusing. Rasa pusing yang dialami oleh seorang wanita memang sangat biasa dan juga wajar terjadi pasca keguguran. Hal ini dikarenakan darah keluar terlalu banyak.

Rasa pusing yang kerap menyerang wanita setelah keguguran tentunya menjadi indikasi bahwa adanya kotoran yang menempel dan juga rahim yang belum bersih. Bisa juga diakibatkan oleh placenta embrio yang masih tersisa di dalam rahim. Cara yang alami juga dapat Anda lakukan dengan cara mengonsumsi madu, minyak zaitun, kapsul kulit manggis dan juga air godokan asam jawa.

6. Tidak merasa mual

Di dalam tubuh seorang wanita tentunya terdapat sebuah hormon HCG yang ikut andil dalam proses kehamilan. Rasa mual kerap menyerang wanita pasca keguguran juga dapat disebabkan adanya gangguan hormon di dalam rahim. Jika Anda kerap merasa mual pasca keguguran, maka berarti rahim Anda belum bersih dengan sempurna.

Jika Anda sudah tidak merasakan mual, ini menjadi sebuah pertanda bahwa rahim sudah kembali bersih. Konsultasikan kepada dokter dan juga tenaga medis untuk mendapatkan perawatan. Tentunya, tenaga medis akan memberikan obat dan juga cara untuk menghilangkan rasa mual tersebut.

7. Tidak ada hormon HCG di dalam tubuh

Hormon ini tentunya dapat diindentifikasi jika seorang wanita hamil bahkan juga keguguran. Jika masih terdapat hormon HCG di dalam tubuh wanita setelah proses kuretasi, itu berarti bahwa rahim Anda belum sepenuhnya bersih. Hormon HCG dapat diidentifikasi dengan cara dilakukan sebuah tes dengan bantuan test pack.

Jika Anda mendapatkan hasil dari tes kehamilan tersebut positif, maka dapat dipastikan bahwa rahim belum bersih. Akan tetapi, jika hasil tes pack negatif, itu berarti rahim Anda sudah tidak ada hormon HCG dan rahim Anda sudah bersih. Dengan kondisi tersebut tentunya Anda dapat mempersiapkan kembali kehamilan selanjutnya.

8. Suhu tubuh sudah normal

Seorang wanita yang mengalami keguguran tentunya dapat membuat suhu tubuh wanita menjadi tidak normal. Biasanya, wanita yang mengalami keguguran mengalami peningkatan dan juga penurunan suhu tubuh. Tidak jarang wanita pasca keguguran yang merasakan demam dan juga pingsan secara mendadak.

Tentunya, jika seorang wanita mengalami demam lebih dari 3 hari, alangkah baiknya Anda untuk berkonsultasi dengan dokter. Jika rahim belum bersih dan juga kembali sempurna, maka suhu tubuh tidak akan normal dan akan mengalami naik turun suhu tubuh.

9. Darah yang keluar berkurang

Seorang wanita mengalami keguguran tentunya akan terjadinya pendarahan yang keluar dari serviks. Banyak atau tidaknya darah yang keluar dari serviks tentunya dapat menjadi indikasi apakah rahim sudah bersih ataukah belum. Jika Anda mengalami pendarahan dalam jangka waktu tertentu, lalu darah yang keluar sudah sedikit. Maka dapat menjadi pertanda bahwa rahim Anda sudah bersih kembali.

Akan tetapi, jika Anda mengalami keguguran, namun darah yang keluar dari serviks sedikit. Ini juga dapat menjadi tanda adanya sebuah masalah yang terjadi di dalam rahim. Pendarahan yang sedikit pasca keguguran tentunya harus diwaspadai. Hal ini dikhawatirkan darah di dalam rahim menggumpal dan juga menempel sehingga sulit untuk keluar. Dengan kondisi tersebut, lebih baik Anda berkonsultasi ke dokter kandungan dengan pemeriksaan USG agar dapat melihat jelas apa yang sebenarnya terjadi di dalam rahim.

10. Sudah tidak merasa lemas

Rasa lemas yang kerap menyerang wanita pasca keguguran tentunya menjadi hal yang cukup wajar. Bahkan terdapat beberapa wanita yang bahkan tidak dapat berdiri sama sekali pasca terjadinya keguguran. Kondisi ini tentunya diakibatkan oleh banyaknya darah yang keluar dari dalam rahim.

Jika Anda masih merasa lemas, itu berarti rahim Anda belum bersih dan masih mengalami pendarahan. Anda tentunya dapat mengatasi kondisi tersebut dengan banyak makan dan juga minum serta konsumsi air kelapa atau minuman yang mengandung elektrolit. Kandungan elektrolit di dalam air kelapa tentunya dapat membuat tubuh menjadi lebih kuat dan juga lebih segar. Selain itu, air kelapa dapat melancarkan pendarahan setelah terjadinya keguguran. Indikasi yang paling mudah tentunya jika tubuh Anda sudah tidak lemas, itu berarti rahim Anda sudah bersih dan sudah aman.

11. Mulut rahim sudah menutup

Untuk mengetahui apakah rahim sudah bersih atau belum, caranya cukup mudah. Pendarahan yang terjadi pasca keguguran dapat ditandai dengan menutupnya mulut rahim. Jika mulut rahim belum menutup itu artinya rahim belum bersih dan kemungkinan dapat terjadi pendarahan kembali.

Untuk dapat mengetahui kondisi tersebut tentunya Anda dapat memeriksakan diri Anda ke dokter kandungan dan juga bidan. Dengan begitu tim medis akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut apakah mulut rahim sudah menutup ataukah belum. Jika sudah mendapatkan hasil dengan mulut rahim yang menutup, itu berarti rahim Anda sudah bersih dan juga siap untuk melakukan program hamil kembali.

12. Tidak ada cairan yang menyengat

Tidak heran jika pasca keguguran, seorang wanita akan mendapat bau yang cukup menyengat yang keluar dari serviks. Cairan bau tersebut tentunya dihasilkan dari sisa-sisa kehamilan seperti placenta dan juga air ketuban. Bau yang cukup menyengat tersebut tentunya membuat seorang wanita merasa sedikit tidak nyaman.

Jika bau yang menyengat tersebut sudah tidak ada, maka dapat dipastikan bahwa rahim sudah bersih dan juga normal kembali. Aroma bau yang menyengat sebenarnya dapat diatasi dengan cara meminum jamu peluntur yang aman atau juga air kelapa untuk memperlancar darah agar keluar dengan cepat. Juga dapat membersihkan rahim secara total tanpa adanya bau yang cukup menyengat.

13. Mood yang baik

Bagaimanapun juga pasca keguguran, seorang wanita akan mengalami tingkat stres dan juga mental yang terganggu. Hal ini disebabkan oleh guncangan mental yang cukup mengganggu akibat gagalnya kehamilan. Tentunya, ini menyebabkan mood seorang wanita menjadi tidak baik.

Tanda-tanda rahim bersih setelah keguguran juga dapat diindikasi dengan mood wanita yang sudah kembali normal. Jika mood pada wanita belum baik, maka dapat dipastikan masih adanya hormon dan juga sisa-sisa kehamilan yang menempel di dalam rahim. Jika sebaliknya, mood pada wanita sudah kembali normal, maka sudah dapat dipastikan bahwa rahim sudah kembali bersih dan juga sempurna.

Tentunya, membersihkan rahim pasca keguguran menjadi sebuah kewajiban bagi Anda. Hal ini dikarenakan rahim yang kotor dan juga meninggalkan sisa-sisa kehamilan dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit di dalam rahim. Memang sangat penting bagi Anda untuk melakukan suatu pembersihan rahim guna mempersiapkan kembali kehamilan selanjutnya.

Demikianlah beberapa tanda-tanda rahim bersih setelah keguguran yang memang harus Anda ketahui. Dengan begitu, Anda dapat mengenali apakah rahim Anda sudah bersih ataukah belum pasca terjadinya keguguran. Satu hal yang pasti rahim yang sudah bersih dapat dengan mudah mendapatkan kehamilan kembali. Semoga bermanfaat!

Demam Saat Hamil Muda | Penyebab, Gejala, Resiko & Pengobatan

Deman merupakan sebuah kondisi dimana tubuh megalami peningkatan suhu yang cukup tinggi. Suhu badan yang meningkat melebihi 37o C merupakan ciri bahwa seseorang terkena demam. Demam merupakan sebuah penyakit yang umumnya disebabkan oleh sebuah peradangan. Peradangan ini menjadi ciri bahwa tubuh sedang melawan suatu virus yang masuk kedalam tubuh manusia.

Tentunya, demam dapat menyerang siapa saja baik orangtua maupun anak-anak bahkan seorang wanita yang tengah hamil. Suatu penyakit demam tidak dianggap berbahaya jika tidak berlanjut lbih dari 3 hari. Pasalnya, demam dengan waktu yang sangat lama akan menimbulkan suatu kondisi tubuh yang lebih parah seperti malaria, demam berdarah atau penyakit lainnya.

Bagaimana jika demam menyerang ibu saat hamil muda? Apakah hal ini sangat berbahaya? dan juga Apa sebenarnya penyebab demam saat hamil muda?

Itulah beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh seorang wanita yang tengah hamil dan mengalami demam saat hamil muda. Untuk menjawab rasa penasaran Anda akan hal ini, berikut kami sajikan beberapa poin terkait demam saat hamil muda mulai dari penyebab, bahaya dan cara mengatasinya.

Demam Saat Hamil Muda

Kehamilan tentunya diharapkan oleh setiap wanita yang sudah menikah. Mereka akan melakukan apa saja agar mereka bisa  mendapatkan kehamilan milau dari program sampai terapi kehamilan. Tentu akna menjadi sebuah kabar yang menggembirakan bagi seorang wanita jika ia mendapati gejala-gejala kehamilan yang biasanya ditunjukan oleh seoranng ibu hamil. Gejala-gejala tersebut tenttu berbeda pada setiap wanita. Hal ini disebabkan hormon dan sistem imunitas tubuh yang berbeda pula. Terdapat beberapa gejala yang ditunjukan oleh seorang ibu hamil baik bersifat aman atau bahkan berbahaya.

Untuk itu kami akan menyajikan sebuah topik mengenai demam saat hamil muda yang rentan terjadi pada ibu hamil.

Penyebab Demam Saat Hamil Muda

Demam saat hamil muda atau pada masa kehamilan dapat dikatakan sebagai tanda bahaya pada kehamilan. Pasalnya, kondisi ini membuat tubuh seorang ibu hamil mengalami peningkatan suhu yang melebihi angka 38o C. Ketika ibu hamil diserang penyakit demam, ini tanda adanya infeksi dalam kehamilan Anda. Jika Anda terserang demam saat hamil muda, Anda harus menanganinya dengan baik agar tidak timbul gejala lain yang lebih berbahaya. Untuk itu, Anda harus mengetahui penyebab-penyebab ibu hamil terserang demam.

  1. Adanya Infeksi Virus

Ketika ibu hamil mengalami demam dengan suhu badan yang sangat tinggi, kondisi ini jangan dibiarkan begitu saja. Terjadinya demam pada ibu hamil dapat disebabkan oleh infeksi virus yang rentan menyerang ibu hamil. Virus yang terkenal rentang menyerang ibu hamil yaitu virus TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes). Virus ini ketika menyerang tubuh manusia akan memberikan gejala seperti demam. Virus ini ketika masuk kedalam tubuh ibu hamil sangatlah berbahaya. Selain menyebabkan kelainan pada organ janin seperti otak, penglihatan, kelainan struktur tubuh dan kelainna jantung bawaan, virus ini dapat menyebabkan kematian pada janin. Maka, Anda harus berhati-hati ketika mendapati tubuh Anda demam saat hamil muda.

  1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Penyebab ibu demam saat hami muda adalah adanya infeksi pada saluran kemih yang dikenal dengan sebutan ISK. Infeksi saluran kemih ini disebabkan oleh infeksi bakteri dan kumam pada saluran kemih. Infeksi ini dapat menyebabkan perubahan hormonal selama hamil sehingga fungsi ginjal mengalami perubahan. Akibatnya bakteri dan kuman tetap ada pada saluran ini sampai waktu persalinan. Jika Anda mengalami demam yang disertai dengan kencing yang sakit atau lebih sering kencing pada malam hari pada saat hamil muda, dimungkinkan Anda mengalami infeksi saluran kemih (ISK). Pada beberapa ibu hamil mungkin tidak ditemukan gejala demam, bahkan kadang-kadang tanpa gejala. Terjadinya infeksi saluran kemih dapat mengakibatkan resiko persalinan prematur dan kelainan pada janin.

  1. Adanya Infeksi Malaria

Penyakit malaria dalam kehamilan biasanya disebabkan oleh protozoa yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Anopheles. Penyakit malaria melalui protozoa merupakan genus plasmodium yang dapat menyerang manusia maupun serangga. Gejala ibu hamil yang terserang protozoa dalam genus ini berbeda-beda setiap ibu hamil. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sistem imunitas tubuh dan intensitas transmisi pada setiap ibu hamil. Selain demam, terdapat pula gejala lain jika seorang ibu hamil terkena infeksi malaria diantaranya anemia dan splenomegali (pembesaran limpa).

  1. Kurang Mengonsumsi Asam Folat

Selain infeksi virus atau ISK, ibu hamil yang terserang demam merupakan ciri bahwa ibu hamil kekurangan asupan asam folat. Kita tahu bahwa asam folat merupakan zat yang sangat diperlukan tubuh terutama ibu hamil dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. JIka ibu hamil kekurangan asam folat, maka akan sangat berakibat buruk pada janin Anda. Seperti kasus yang terjadi pada bayi lahir dengan tengkorak yang tidak menutup sempurna yang ditemukan meninggal ini disebabkan oleh kurangnya konsumsi asam folat.

  1. Perubahan Suhu Tubuh

Penyebab yang paling sering terjadi pada ibu demam saat hamil muda adalah perubahan suhu pada tubuh ibu. Sebuah penelitian membuktikan bahwa suhu tubuh ibu hamil yang sering berubah dan tidak stabil pada awal kehamilan akan menyebabkan bayi lahir cacat atau tulang belakang yang lambat berkembang serta perkembangan otak bayi yang tidak maksimal. Kasus ini sering terjadi pada bayi dengan kolum tulang belakang yang tidak menutup dengan sempurna. 

  1. Infeksi Menular Seksual (IMS)

Selain infeksi saluran kemih, demam saat hamil muda pun disebabkan oleh infeksi menular seksual yang secara langsung menyebar kedalam kandungan ataupun melalui peredaran darah. Jika infeksi pada virus menular seksual ini tidak ditangani, maka akan menyebabkan bayi lahir prematur dan keguguran. Infeksi Menular Seksual (ISM) disebabkan oleh bakteri Gardnerella vaginalis, Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis.

Resiko Demam Saat Hamil Muda

Tentunya, setiap segala sesuatu mengandung resiko yang harus ditanggung oleh seseorang. Seperti halnya demam saat hamil muda yang kerap menyerang siapa saja. Ketika seorang ibu hamil terjangkit demam yang disebabkan oleh beberapa penyebab, tentu inilah resiko yang harus diambil bagi dirinya dan juga janin yang dikandungnya. Berikut ini beberapa resiko yang harus diterima jika Anda mengalami demam saat hamil muda, diantaranya:

  1. Autisme Pada Anak

Pasalnya, demam saat hamil muda kerap dikaitkan dengan resiko autisme pada janin Anda. Penelitian tersebut tidaklah salah, seperti studi yang dilakukan oleh Journal of Autism and Development Disorner menyatakan adanya hubungan deman dengan autisme. Resiko autisme pada janin 2,5 kali keterlambatan perkembangan dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami demam saat hamil muda. Demam saat hamil muda juga dapat berakibat pada perkembangan otak bayi yang terlambat serta penglihatan yang terganggu.

  1. Kelainan Jantung Bawaan

Selain resiko autisme pada bayi yang akan terjadi seiring perkembangan usianya. Demam yang sangat hebat pun memiliki resiko lain yang tidak kalah berbahayanya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, jika seorang ibu hamil terserang demam karena terjangkitnya virus TORCH, tentu ini jangan dibiarkan. Kelainan jantung bawaan saat janin berada dalam kandungan adalah kasus yang biasa terjadi yang diakibatkan oleh virus TORCH ini. Kelainan jantung bawaan atau kelainan jantung bocor pada bayi dapat terjadi dengan gejala demam yang timbul pada ibu.

  1. Bayi Lahir Prematur

Demam pada ibu hamil yang disebabkan oleh Infeksi Menular Seksula (IMS) atau infeksi Saluran Kemih (ISK) dapat mengakibatkan bayi lahir prematur. Hal ini disebabkan oleh bakteri dan kuman yang menempel pada saluran dan vagina Anda yang menyebar masuk kedalam rahim Anda. Jika bakteri dan kuman sudah masuk pada rahim Anda, maka kehamilan Anda akan terganggu dan menyebabkan bayi lahir belum pada waktu yang tepat. Biasanya, bayi lahir prematur ketika kandungan berusia 7 bulan.

  1. Cacat Fisik Pada Bayi

Selain kelainan organ penting pada bayi, demam saat hamil muda juga dapat mengakibatkan cacat pada fisik bayi seperti tengkorak yang tidak menutup sempurna dan tulang belakang yang masih terbuka. Hal ini tentu sangat tidak Anda harapkan, bukan? Pada umumnya, demam yang diakibatkan oleh kekurangan asam folat dapat dihindari untuk mencegah resiko-resiko yang tidak kita inginkan.

 

Gejala-Gejala Yang Timbul Jika Demam Anda Berbahaya

Tentunya, seorang ibu hamil sangat rentan terkena penyakit dan infeksi dari bakteri dan kuman-kuman yang berbahaya. Untuk itu, jika Anda mendapati gejala-gejala lain yang menyertai demam, Anda jangan mengabaikannya terlebih bagi seorang ibu hamil. Karena, hal ini akan mengakibatkan resiko-resiko lain yang tentu tidak kita inginkan. Berikut gejala-gejala yang biasanya menyertai ketika Anda terserang demam:

  1. Mual & muntah yang parah
  2. Sakit ketika buang air kecil dan vagina terasa panas dan perih
  3. Pendarahan pada vagina
  4. Perut nyeri sangat hebat dan terkadang disertai dengan kontraksi uterus yang menyakitkan
  5. Sakit kepala yang intens
  6. Badan terasa lemas
  7. Asam lambung meningkat dan perih pada perut saat Anda makan

Tentu, jika Anda mendapati gejala tersebut, jangan didiamkan, segeralah untuk diperiksa ke dokter kandungan Anda dan sebutkan semua gejala-gejala lain yang sedang alami ketika demam.

Pengobatan Demam Saat Hamil Muda

Pengobatan adalah hal pertama yang harus Anda lakukan ketika Anda terserang demam tinggi. Pengobatan dapat Anda lakukan dengan memeriksakan diri ke dokter kandungan dan ceritakan gejala-gejala yang timbul pada saat itu.Tentunya, dokter akan memberikan dosis penurun panas dan obat untuk menangani gejala lain yang tentu aman bagi ibu hamil. Jika Anda belumdapat pergi ke dokter karena berbagai hal, pengobatan manual yang bisa Anda lakukan adalah memberikan kompres dengan air hangat.

Pencegahan Demam Saat Hamil Muda

Jika Anda tidak ingin terserang demam saat hamil muda, beberapa pencegahan berikut ini bisa Anda lakukan, diantaranya:

  1. Menjaga asupan makanan dan minuman
  2. Menjaga daya tahan tubuh
  3. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
  4. Istirahat yang cukup saat hamil muda
  5. Rutin memeriksakan kehamilan Anda pada bidan atau dokter

Perlu Anda tahu bahwa demam saat hamil muda tidak selalu menimbulkan resiko-resiko yang telah kami sebutkan diatas. tentu, demam dalam kondisi normal dengan pengobatan yang cukup tidak akan menimbulkan dampak yang signifikan bagi kehamilan Anda. Untuk itulah, menjaga asupan makanan dan gizi yang cukup terutama pada saat hamil muda akan membantu Anda untuk mendapatkan sistem imunitas tubuh yang baik. Dengan imunitas yang baik, tubuh Anda dapat melawan virus dan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Semoga bermanfaat!

 

Pertanyaan Saat Hamil yang Mungkin Malu Untuk Ditanyakan Pada Dokter II

Sebelumnya kita sudah pernah membahas mengenai beberapa pertanyaan yang cenderung malu untuk ditanyakan oleh ibu hamil pada dokter di pembahasan 4 Pertanyaan Saat Hamil yang Mungkin Malu Untuk Ditanyakan Pada Dokter. Nah, kali ini kami akan membahas lebih banyak jenis pertanyaan yang pada umumnya terkesan tabu untuk ditanyakan seputar kehamilan kepada dokter atau bidan.

Adalah hal yang wajar untuk para ibu hamil memiliki banyak pertanyaan untuk ditanyakan selama masa kehamilan. Apalagi untuk mereka yang baru saja mengalami kehamilan yang pertama. Selain itu, ada banyaknya pertanyaan bisa mengindikasikan bahwa anda sangat peduli dengan kehamilan anda agar sehat.

Hanya saja, sebagian pertanyaan seringkali dianggap tabu untuk ditanyakan. Kecenderungan rasa malu membuat sebagian wanita memilih untuk memendam sendiri masalahnya. Namun sebenarnya, hal ini adalah hal yang normal dan mungkin semua wanita hamil mengalami kondisi ini.

Nah, untuk mengetahui apa saja pertanyaan saat hamil yang mungkin malu untuk ditanyakan. Maka mari kita simak beberapa informasinya dibawah ini. Baca juga: Waspadai Pregobesity Pada Ibu Hamil

 

Apakah Saya Terlalu Gemuk?

Masalah ibu hamil yang seringkali ditanyakan selama kehamilan adalah ukuran berat badan. Untuk sebagian ibu hamil, pertanyaan ini mungkin dirasa terlalu sensitif untuk ditanyakan ke dokter. Sehingga demikian mereka memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan yang satu ini.

Padahal topik yang satu ini penting sekali untuk didiskusikan dengan baik. Hal ini dikarenakan berat badan ibu hamil selama masa kehamilan akan dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin yang ada didalamnya.

Untuk itulah, jangan enggan untuk menanyakan pertanyaan seputar berat badan anda dengan baik. Tanyakan pada dokter tentang berapa ukuran berat badan ideal selama hamil. Selain itu, pada umumnya takaran berat badan setiap usia kehamilan akan berbeda tergantung dari berat ideal yang diberikan.

Bagaimana Jika Suami Takut Berhubungan Intim Selama Saya Hamil?

Berhubungan intim selama masa kehamilan memang menjadi ketakutan yang nyata untuk para suami selama masa kehamilan sang istri. Mungkin para suami beranggapan bahwa berhubungan selama kehamilan akan dapat membahayakan si bayi dalam kandungan. Hal ini pun dikhawatirkan akan dapat menyakiti sang istri.

Untuk itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai kapan waktu yang diperbolehkan untuk berhubungan dengan pasangan. Selain itu, tanyakan pula apakah kandungan anda memiliki beberapa resiko tertentu sehingga hubungan intim bersama dengan pasangan perlu dihentikan sementara.

Bila dokter mengatakan tidak ada keluhan berarti atau kondisi yang membuat anda perlu menghentikan masalah ini. Maka berhubungan dengan pasangan akan aman anda lakukan. Hanya saja, karena kehamilan tubuh anda akan cenderung mudah lelah. Sehingga posisi berhubungan perlu diperhatikan dengan baik.

Kenapa Mudah Jerawatan?

Beberapa wanita mungkin terkesan malu untuk dapat menanyakan masalah yang satu ini kepada dokter. Dengan alasan kecantikan dan masalah kesehatan maka tidak ada salahnya menanyakan masalah ini dengan baik. Masalah ini dapat anda ketahui dari seberapa rentan serangan jerawat pada tubuh dan bagian tubuh mana yang terkena dengan jerawat.

Adapun pada umumnya serangan dari jerawat lebih sering terjadi akibat dari hormone kehamilan yang terus bergejolak. Jadi demikian sebenarnya masalah ini adalah kondisi yang umum. Belum lagi, kondisi ini sebenarnya tidak membutuhkan penanganan yang serius. Sebab seiring dengan meredanya hormone kehamilan maka masalah jerawat pada tubuh akan dapat kembali normal.

4 Pertanyaan Saat Hamil yang Mungkin Malu Untuk Ditanyakan Pada Dokter

Keluhan yang terjadi selama kehamilan adalah hal yang wajar. Apalagi jika mengingat kondisi kehamilan yang dialami seorang wanita tentu berbeda-beda. Baik dari segi usia, hitungan kehamilan, faktor penyakit yang dialami selama kehamilan dan masih banyak lagi.

Sementara itu, untuk calon ibu baru wajar bila anda memiliki banyak pertanyaan seputar kehamilan. Apalagi ketika usia kehamilan anda sudah hampir mendekati persalinan. Maka mungkin ada banyak hal yang ingin anda tanyakan untuk menjaga bila kondisi tersebut membahayakan kesehatan anda dan bayi dalam kandungan.

Namun sayangnya, dari semua pertanyaan yang membendungi benak seorang ibu hami. Ada banyak pertanyaan yang seringkali enggan untuk ditanyakan setiap kali melakukan checkup kehamilan.

Alasannya karena sebagian ibu hamil merasa pertanyaan tersebut terlalu memalukan untuk ditanyakan ke dokter. Padahal sebenarnya hal ini adalah kondisi yang normal dan dialami oleh sebagian besar ibu hamil. Baca juga: Tips Aman Mengatasi Melasma “Topeng Kehamilan”

4 Pertanyaan Saat Hamil yang Mungkin Malu Untuk Ditanyakan Pada Dokter

Nah, bila anda mengalami beberapa keluhan tersebut namun malu untuk ditanyakan ke dokter. Coba cari tahu apakah keluhan serupa anda alami, sementara itu jawabannya akan kami rangkumkan secara langsung hanya untuk anda.

Mengapa Saya Mengeluarkan Banyak Cairan dari Organ Kewanitaan?

Keluarnya cairan dari bagian organ kewanitaan selama masa kehamilan memang seringkali menjadi keluhan yang banyak dirasakan. Hanya saja, tabu rasanya untuk menanyakan kondisi ini ke dokter.

Namun hal ini bisa jadi disebabkan akibat pecah ketuban. Namun pada kondisi selain penyebab tersebut, dokter pun dapat mengatakan bahwa kondisi cairan yang lebih banyak yang keluar dari organ ini bisa dikatakan sebagai hal yang normal.

Kondisi ini terjadi sebab ibu hamil mengalami perubahan hormon yang cukup signifikan selama kehamilan. Belum lagi aliran darah kebagian panggul meningkat dan membuat kondisi ini dapat terjadi.

Hanya saja, bila kondisi ini disertai dengan rasa nyeri, gatal atau mungkin perih. Maka segera bicarakan dengan dokter. Atau pada saat cairan yang keluarga berbau busuk atau mungkin berair. Kondisi ini bisa menunjukan adanya infeksi pada organ kewanitaan.

Kenapa Saya Sering Kentut Berbau Tidak Sedap?

Masalah ibu hamil yang selanjutnya adalah seringnya kentut dengan disertai aroma bau yang tidak sedap. Kondisi ini adalah hal yang wajar dialami seorang ibu hamil. Dan lagi-lagi, masalah hormon menjadi pemicu utama kondisi yang satu ini.

Kenapa Saya Susah BAB?

Hampir sebagian besar ibu hamil mengeluhkan susahnya buang air besar selama periode kehamilannya. Kondisi ini terjadi akibat dari keluhan kehamilan berupa morning sickness atau mual dan muntah pada awal kehamilan. Bila kondisi ini tidak segera ditangani maka hal ini akan berubah menjadi munculnya asam lambung. Hal ini pulalah yang membuat ibu mengalami susah buang air besar.

Namun tak perlu khawatir untuk mengatasi kondisi ini anda dianjurkan untuk makan makanan kaya akan serat dan konsumsi banyak air putih secara teratur.

Apakah Melahirkan Akan Merusak Vagina?

Tentu saja tidak, karena pada dasarnya bagian organ kewanitaan memang didesain dengan daya lentur yang hebat. Jadi sewaktu masa persalinan, bagian organ kewanitaan akan melebar menyesuaikan ukuran dari bayi anda. Sementara setelahnya, ia akan kembali mengerut karena daya elastisitas yang dimilikinya. Jadi demikian, tidak perlu merasa khawatir dengan kondisi yang satu ini.

Mengetahui Faktor Penyebab Keguguran Pada Trimester Pertama dan Kedua

Keguguran adalah mimpi buruk untuk semua wanita yang tengah mengandung. Apalagi jika kehadiran buah hati dalam perut anda saat ini adalah hasil perjuangan dan penantian yang lama hingga akhirnya dapat berbuah dengan hadirnya malaikat kecil dalam rahim bunda

Ibu mana yang akan senang dengan kondisi keguguran yang terjadi. Semua wanita akan tentu mengalami pukulan dan beban yang berat dari kehilangan buah hatinya yang belum sempat mereka lihat rupanya.

Akan tetapi, sebagai ancaman yang dapat terjadi kapan saja maka penting sekali untuk ibu mengetahui faktor apa saja yang biasanya dapat memicu keguguran pada saat hamil. Dengan begini maka bunda akan dapat lebih waspada dan berhati-hati dengan beberapa kondisi tersebut.

Pada umumnya keguguran seringkali terjadi secara tiba-tiba. Meski bunda merasa sudah menjaga kehamilan dengan baik. Namun masalah seperti ini bisa saja terjadi kapan saja dan dimana saja. Bahkan pada beberapa kasus seorang wanita terlambat mengetahui bahwa janin dalam kandungannya sudah tidak ada. Artikel lainnya: Torch dan Kehamilan

Sekitar 10 sampai dengan 20 persen dari kehamilan akan mungkin berakhir dengan keguguran. Kondisi keguguran sendiri umumnya lebih sering dijumpai pada usia kehamilan yakni di 7 sampai dengan 12 minggu pertama setelah terjadi pembuahan.

Untuk itu, mari kita ketahui faktor penyebab keguguran pada trimester pertama dan kedua yang umumnya sering terjadi. Penasaran seperti apa? Simak beberapa informasi mudahnya dibawah ini.

Mengetahui Faktor Penyebab Keguguran Pada Trimester Pertama dan Kedua

Banyak hal yang dapat memicu keguguran dapat terjadi. Jika keguguran terjadi pada trimster pertama kehamilan. Maka umumnya kondisi ini lebih sering diakibatkan oleh masalah yang terjadi pada janin. Sementara keguguran yang terjadi pada trimester kedua umumnya dipicu akibat dari kondisi kesehatan ibu.

Penyebab Keguguran Trimester Pertama

Masalah Plasenta Pada Bayi

Hal pertama yang akan mungkin memicu keguguran pada bayi usia trimester pertama atau tiga bulan pertama kehamilan adalah adanya masalah plasenta. Plasenta adalah organ yang menghubungkan aliran darah ibu ke bayi sehingga dengan begini si kecil didalam rahim ibu akan bisa mendapatkan nutrisi untuk menunjang tumbuh kembangnya.

Oleh karenanya, masalah atau kerusakan yang terjadi pada bagian plasenta akan dapat mempengaruhi tumbuh kembang bayi didalam rahim ibu. Hal ini pulalah yang akan mungkin memicu terjadinya keguguran.

Masalah Kromosom Pada Bayi

Hal lain yang dapat memicu keguguran pada trimester pertama adalah masalah kromosom pada bayi. Seringnya, sel telur yang dibuahi oleh sperma memiliki jumlah kromosom yang tidak tepat. Baik itu kekurangan atau mungkin kelebihan kromosom sehingga kondisi ini berakibat pada pertumbuhan janin yang tidak dapat berkembang dengan baik. Hal ini pulalah yang dapat memicu timbulnya keguguran pada bayi.

Penyebab Keguguran Trimester Kedua

Kondisi Kesehatan Ibu Hamil

Masalah pertama yang umumnya dijumpai pada keguguran yang terjadi pada trimester kedua kehamilan adalah kondisi kesehatan ibu hamil. Beberapa kondisi yang dapat mengakibatkan hal ini terjadi diantaranya adalah tekanan darah tinggi, diabetes, lupus, penyakit ginjal dan masih lainnya. Kondisi PCOS atau sindrom ovarium polikistik pun dapat mengakibatkan kondisi ini terjadi.

Keracunan Makanan

Asupan makanan bersifat toxic atau beracun pun akan dapat menyebabkan masalah seperti keguguran dapat terjadi. Jadi demikian penting sekali memperhatikan asupan makanan dalam tubuh ibu dengan baik.

Struktur Pada Bagian Rahim

Gangguan dan kelainan yang terjadi pada bentuk rahim ibu pun akan dapat menjadi pemicu keguguran pada janin. Selain itu, adanya pertumbuhan sel non kanker seperti fibroid akan pula membahayakan pertumbuhan janin dalam rahim ibu.

Mengetahui Penyebab Selangkangan Terasa Ngilu Saat Kehamilan 35 Minggu

Kehamilan memang menjadi anugerah yang besar yang terjadi pada setiap wanita yang sudah menikah. Banyak wanita mendambakan mendapatkan kehamilan dengan cepat usai dinyatakan sah sebagai seorang istri setelah pernikahannya. Ketika proses hamil terjadi dengan cepat tentu setiap calon ibu akan merasa senang dengan kabar gembira yang mereka dapatkan ini.

Akan tetapi, pada beberapa wanita yang mengalami kehamilan pertama minimnya pengalaman membuat keluhan kecil seringkali menjadi masalah yang berdampak kekhawatiran yang besar. Tak heran memang, apalagi mengingat bila setiap ibu akan secara naluriah melindungi dan mencintai calon buah hatinya. Bahkan saat mereka belum mampu mengenali wajah bayi dalam kandungannya.

Menjalani kehamilan memang menjadi proses panjang yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Menyenangkannya mengingat dalam waktu dekat untuk pertama kalinya anda akan bisa menyambut calon buah hati anda bersama dengan pasangan. Akan tetapi disaat bersamaan hati anda terus berdebar-debar terutama saat terjadi keluhan kehamilan yang cukup menyiksa.

Salah satunya seperti kondisi ngilu pada bagian selangkangan saat usia kehamilan sudah memasuki trimester ke 3. Tak sedikit ibu hamil dengan usia kehamilan antara 34 minggu ke atas akan mengalami kondisi ini. Namun demikian, tidak sedikit ibu hamil yang tidak merasakan kondisi ini. Baca Juga: Keluhan Kehamilan 7 Bulan

Untuk mereka yang mengalami ngilu selangkangan pada usia kehamilan ini tentu saja mereka akan merasa panik. Banyak yang menganggap bila kondisi ini menjadi pertanda bayi akan segera lahir. Sementara itu, sebagian dibuat khawatir bahwa terjadi sesuatu dengan kandungannya. Namun benarkah demikian? Nah, untuk menyimak jawaban tepat dari masalah ini maka mari simak dibawah ini.

Mengetahui Penyebab Selangkangan Terasa Ngilu Saat Kehamilan 35 Minggu

Usia kehamilan pada trimester ke 3 membuat usia kehamilan ibu sudah semakin matang. Perkiraan kelahiran pun sudah bisa diambil pada waktu ini. Buah hati yang ibu kandung dalam rahim pun kini sudah bergelar bayi bukan lagi seorang janin. Berat tubuh dan panjang tubuhnya yang terus menaik dari hari ke hari membuat ukuran perut ibu semakin membesar. Hal ini pun akan beriringan dengan munculnya keluhan kehamilan yang ibu rasakan pada periode kehamilan di trimester pertama.

Pada usia kehamilan 35 minggu, ukuran bayi sudah semakin membesar dan mereka pun akan mulai mencari jalan dan posisi  yang tepat untuk dilahirkan. Hal ini akan dapat menyebabkan keluhan muncul, termasuk dengan nyeri pada bagian vagina serta rasa ngilu yang timbul pada bagian selangkangan. Sementara itu, nyeri pada bagian vagina dan perasaan ngilu pada bagian selangkangan ini dapat timbul karena dipengaruhi oleh beberapa faktor dibawah ini.

Faktor yang Mempengaruhi Nyeri dan Ngilu Selangkangan

Ada beberapa kondisi yang dapat memicu nyeri vagina dan perasaan ngilu pada bagian selangkangan yang penting untuk anda ketahui, diantaranya adalah beberapa kondisi dibawah ini.

  • Janin yang mulai masuk pada bagian pinggul sehingga kondisi ini membuat kepala janin menjadi turun dan menekan struktur pada bagian dalam panggul ibu.
  • Leher rahim ibu yang ukurannya mulai melebar dalam rangka mempersiapkan kelahiran si jabang bayi.
  • Ukuran rahim yang membesar dan menyebabkan penggantung pada rahim menjadi tertarik kebawah.
  • Gerakan bayi yang semakin aktif dan kuat pada masa inipun dapat menyebabkan rasa sakit dan ngilu muncul.
  • Faktor yang terakhir adalah kelelahan. Kondisi ini bisa saja terjadi saat aktivitas yang ibu lakukan terlalu berat atau terlalu banyak.

Itulah dia beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi  nyeri dan ngilu pada selangkangan dapat dirasakan. Pada umumnya, kondisi diatas adalah hal yang wajar dan normal terjadi. Hanya saja ketika ibu mengalami rasa sakit yang berlebihan berkonsultasilah dengan dokter.

Dampak dan Mencegah Depresi Pada Ibu Hamil

Kehamilan sudah seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam kehidupan seorang wanita. Betapa tidak, untuk pertama kalinya anda akan bisa menyambut buah hati anda bersama pasangan ke dunia. Dan untuk pertama kalinya pula anda akan merasakan pengalaman berharga menjadi seorang ibu dari malaikat kecil yang telah anda impikan.

Hanya saja, tidak semua perempuan yang tengah hamil merasakan kebahagiaan ini dengan baik. Ketika sebagian besar perempuan lain diberkahi dengan suka cita yang besar dan perasaan senang yang tak tertahankan. Sebagian lain justru mengalami masa-masa kehamilan yang membingungkan, menakutkan dan penuhi dengan stress. Bahkan tak sedikit diantara mereka mengalami depresi yang besar.

Depresi merupakan gangguan suasana hati atau mood yang mempengaruhi 1 dari 4 wanita di satu titik kehidupan mereka. Jadi demikian, tak heran bila penyakit yang satu ini pun akan dapat menyerang wanita pada masa kehamilannya. Baca juga: Keluhan Kehamilan Ibu Hamil 9 Bulan

Selama ini mungkin anda hanya mengenali depresi postpartum atau depresi yang melanda ibu setelah melahirkan buah hatinya. Atau kondisi inipun dikenal dengan sebutan baby blues syndrome. Akan tetapi, gangguan mood selama masa kehamilan pun akan sama besar dampaknya dengan baby blue syndrome.

Umumnya kebingungan dan ketakutan ini terjadi dari melihat pengalaman kehamilan orang-orang disekitar. Selain itu, bayangan akan ketidakmampuan menahan rasa sakit pada saat melahirkan pada umumnya menjadi hal yang melatar belakangi kondisi ini. Mari kita simak dampak dan mencegah depresi pada ibu hamil dibawah ini.

Dampak Depresi Pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang mengalami depresi tidak boleh disepelekan begitu saja atau diabaikan menjadi kondisi yang kecil. Penanganan segera untuk dapat meredakan perasaan depresi ini akan sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan dampak dari depresi bukan hanya dialami oleh kesehatan ibu saja. Namun kondisi ini pun akan dapat mempengaruhi janin dalam kandungan ibu. Dampaknya diantaranya adalah

  • Janin akan beresiko mengalami gangguan dan beresiko sama besarnya mengalami depresi saat mereka besar setelah dilahirkan.
  • Kecukupan gizi ibu tidak akan terpenuhi karena nafsu makan yang terganggu.
  • Kondisi ini akan pula secara otomatis mengancam pada perkembangan janin dalam kandungan yang terganggu.
  • Gangguan lambung yang akan dialami oleh ibu hamil akibat tidak mau makan.

Itulah dia beberapa dampak yang akan beresiko dialami oleh janin dan ibu hamil yang mengalami depresi. Jadi demikian, ibu hamil perlu mendapatkan penanganan yang cepat saat mengalami perasaan depresi. Lakukan konsultasi dengan dokter dan pengobatan perlu diutamakan. Dengan begini kemungkinan buruk dari depresi akan dapat dicegah dengan baik.

Mencegah Depresi Saat Hamil

Mengingat pentingnya mencegah depresi selama kehamilan maka penanganan terhadap depresi perlu dilakukan dengan baik. Sebenarnya ada banyak cara yang bisa anda lakukan secara mandiri untuk mencegah dan mengatasi depresi pada masa kehamilan diantaranya mari simak dibawah ini.

Istirahat

Penanganan depresi yang pertama adalah dengan istirahat yang cukup. Terkadang aktivitas yang terlalu padat akan membuat anda mudah jenuh dan merasa bosan. Bila kondisi ini dipaksakan maka depresi akan semakin mudah menyerang anda. Jadi demikian cobalah untuk istirahat.

Yoga

Olahraga sehat selama kehamilan ini akan dapat merelaksasi tubuh dan pikiran anda sehingga anda merasa lebih ringan dan damai. Dengan begini depresi akan cepat menghilang.

Hindari Stress

Menghindari stress dari tekanan pekerjaan atau lingkungan adalah hal bijak dalam menghindari depresi. Upayakan pikiran anda tetap jernih dan perasaan anda tetap nyaman. Dengan begini depresi kehamilan akan dapat dihindarkan dengan baik.

Keluhan Kehamilan Ibu Hamil 9 Bulan

Memasuki usia kehamilan 9 bulan, ibu hamil seringkali mengalami perasaan cemas menunggu kelahiran bayi. Hal ini dikatakan normal terjadi apalagi bagi anda calon ibu pertama. Hanya saja apabila berlebihan dan membuat anda tidak nyaman,stres, depresi dan menganggu aktivitas anda harus segera diwaspadai karena akan menganggu persiapan melahirkan.

Continue Reading

Keluhan Kehamilan 7 Bulan

Memasuki usia kehamilan trimester ketiga dimana ibu hamil mengalami banyak perubahan secara fisik. Bahkan kini ibu hamil memerlukan baju hamil yang dapat membuat ibu merasa nyaman dalam melakukan aktivitasnya. Perut yang semakin membesar akan mengakibatkan terjadinya keluhan yang dialami oleh ibu hamil di usia kehamilan ini.

Continue Reading

Keluhan Ibu Hamil 4 Bulan

Kini, usia kehamilan ibu hamil sudah memasuki usia 4 bulan. Usia ini merupakan tahapan ke dua kehamilan atau trimester kedua. Banyak ibu hamil yang sudah terbiasa menyikapi kondisi kehamilan di usia kehamilan ini, meskipun demikian sebagian ibu hamil lagi masih mengalami kondisi dimana fisik dan psikis menggangu aktivitasnya.

Continue Reading

Keluhan Ibu Hamil 3 Bulan

Dipenghujung usia kehamilan trimester pertama , ibu hamil yang berada di usia  3 bulan mengalami beberapa keluhan yang menggangu aktivitas sehari-hari.Bahkan ibu hamil belum bisa sepenuhnya beradaptasi dengan kondisi kehamilan di bulan ke 3. Perasaan berat menjalani kehamilan dirasakan oleh sebagian ibu hamil.

Continue Reading

Seputar Masa Kehamilan di Trimester Kedua

Memasuki usia kehamilan 4-6 bulan atau dikenal dengan istilah trimester kedua sangat membahagiakan terlabih bagi anda kini yang terus memantau perkembangan dan pertumbuhan janin. Kondisi dimana ibu mengalami mual dan muntah (morning sickness) sudah mulai berkurang dan juga kondisi badan ibu merasa lebih nyaman dari trimester pertama.

Continue Reading

Mengapa Sering Merasa Tegang Pada Perut Saat Hamil?

Ibu hamil mengeluhkan kondisi dimana seringkali merasakan kehamilan semakin membuatnya tidak nyaman. Beberapa keluhan kehamilan yang seringkali dikeluhkan pada usia kehamilan yang semakin membesar yaitu kejang pada bagian otot perut, pada bagian kemaluan dan bagian pangkal paha kanan dan kiri.Normalkah kondisi ini?

Continue Reading

Keluhan Kehamilan Trimester Pertama

Selamat kini anda sudah memasuki usia kehamilandi trimester pertama dimana ibu hamil kini harus lebih menjaga kesehatan ibu dan janin.Ibu hamil akan mengalami banyak perubahan selama 3 bulan pertama kehamilan, dimana perkembangan ibu seringkali merasakan mual, lelah, nyeri punggung, perubahan mood, merasakan kram, sering berkemih, dan mengalami konstipasi. Beberapa ibu hamil sering khawatir dengan kondisi kehamilan yang sering terjadi , ibu hamil dapat membedakan kondisi normal dengan kondisi abnormal.

Continue Reading

Tips Aman Mengatasi Melasma “Topeng Kehamilan”

Ibu hamil seringkali mengalami keluhan-keluhan selama kehamilan diantaranya adalah keluhan yang berhubungan dengan kulit di bagian area tertentu di tubuh. Paling tampak sekali pada ibu hamil adalah keluhan pada area wajah ibu hamil yang terkadang memiliki keluhan kulit pada wajah, misalnya kulit berminyak, berjerawat hingga mengalami melasma atau dikenal dengan topeng kehamilan. Bagaimanakah kondisi yang aman untuk mengatasi melasma pada ibu hamil? Artikel kali ini akan membantu ibu hamil dalam mengatasi melasma “topeng kehamilan”. (Baca : Perubahan Kulit Selama Kehamilan)

Continue Reading

Tips Aman Atasi Kulit Berminyak Selama Kehamilan

Memiliki kulit cantik dan sehat menjadi idaman setiap wanita, akan tetapi seringkali wanita memiliki masalah kulit sehingga membuatnya ekstra melakukan perawatan kulit. Begitu pula dengan wanita yang seringkali mengeluhkan masalah kulit selama kehamilan, salah satunya yaitu kulit berminyak yang dapat memicu timbulnya jerawat selama kehamilan. Bagaimana solusi untuk kulit berminyak selama kehamilan?

Continue Reading

Tips Atasi Hiperpigmentasi Saat Hamil

Keluhan yang seringkali dialami oleh ibu hamil selanjutnya adalah perubahan warna kulit pada bagian tubuh tertentu yang cenderung lebih gelap dibandingkan sebelum kehamilan. Apakah merupakan kondisi normal terjadi pada ibu hamil dan bagaimana mengatasi keluhan yang sering membuat ibu menjadi khawatir terhadap kecantikan kulitnya?

Continue Reading

Tips Aman Atasi Jerawat Selama Kehamilan

Jerawat merupakan keluhan yang umum selama kehamilan. Bahkan, lima dari sepuluh ibu hamil mengalami kondisi jerawat yang sangat parah. Inilah yang menyebabkan ibu hamil seringkali khawatir apabila jerawat semakin merusak wajah dan meninggalkan bekas jerawat. Hati-hati dengan penggunaan obat/cream jerawat saat hamil karena akan bermasalah pada tumbuh kembang janin.

Continue Reading

Tips Atasi Rambut Rontok Selama Kehamilan

Ibu hamil mengeluhkan kondisi dimana rambut semakin menipis dan terjadi kerontokan selama kehamilan. Padahal sebelumnya kehamilan rambut sehat dan tumbuh subur, keluhan ini dialami oleh ibu hamil memasuki trimester akhir bahkan hingga pasca persalinan? Mencoba perawatan rambut di salon justru membuat ibu menjadi khawatir, apakah perawatan untuk rambut rontok mengandung bahan kimia yang berbahaya yang akan menyebabkan gangguan pada janin?

Continue Reading

Mengatasi Nafsu Makan yang Semakin Berkurang Selama Kehamilan

Kebanyakan wanita takut mengalami kenaikan berat badan, termasuk wanita hamil yang was-was apabila berat badannya tidak kembali ke semula. Beberapa wanita hamil membatasi diri untuk mengkonsumsi makanan selama kehamilan padahal nutrisi yang mencukupi kebutuhan gizi harian dapat membantu tumbuh kembang janin. Bagaimana dengan ibu hamil yang justru kehilangan nafsu makan, biasanya dikeluhkan oleh ibu hamil pada minggu-minggu awal kehamilan mereka. Normalkan kondisi kehilangan nafsu makan di usia kehamilan muda?

Continue Reading

Sering Mengeluhkan “Nyeri Punggung“ Saat Kehamilan, Normalkah?

Seringkali mengeluhkan nyeri punggung saat hamil, mengapa ibu hamil sering mengalami nyeri punggung? Kondisi ini dipicu karena uterus yang semakin luas dan menggeser pusat gravitasi dan membentang keluar sehingga melemahkan otot-otot perut Anda, mengubah postur tubuh Anda sehingga menempatkan tekanan pada punggung Anda. Hal ini juga dapat menyebabkan nyeri punggung apabila menekan pada saraf. Selain itu, penyebab nyeri punggung pada ibu hamil dapat terjadi karena kelebihan berat badan selama kehamilan sehingga lebih banyak pekerjaan otot anda dan meningkatkan stres pada sendi.

Continue Reading

Tips Mencegah Stretch Mark Saat Hamil

Ibu hamil seringkali mengeluhkan rasa gatal dan juga kulit yang meregang kering disertai dengan garis yang muncul pada bagian perut, paha dan area tubuh lainnya. Bahkan sangat sulit hilang meski setelah melahirkan. Hampir setiap ibu hamil mengalami kondisi ini dan sulit dihilangkan. Kondisi seperti ini yang disebut dengan Stretch Mark.

Continue Reading

Usir Sakit Kepala Saat Hamil Muda

Keluhan yang seringkali diamali oleh ibu di usia kehamilan muda yaitu sakit kepala yang dapat menganggu aktivitas. Bahkan beberapa diantaranya harus mendapatkan penanganan medis karena sakit kepala yang tidak tertahankan. Ibu hamil yang mengalami sakit kepala tidak boleh sembarangan mengkonsumsi obat karena akan menganggu tumbuh kembang janin. Oleh karena itu kenali sakit kepala saat hamil muda dan juga pengobatan harus sesuai dengan resep dokter.

Continue Reading

Mengapa Leher Hitam Saat Hamil?

Perubahan kondisi fisik saat hamil tidak hanya terlihat pada perubahan perut yang membesar. Perubahan fisik yang terkadang tidak disadari dapat terjadi pada ibu hamil. Meskipun perubahan fisik yang terjadi pada ibu hamil merupakan kondisi normal akan tetapi anda juga harus mengetahui tanda abnormal agar dilakukan pencegahan dini.

Continue Reading

Mengapa Sering Buang Gas Saat Hamil?

Keluhan yang seringkali dialami oleh ibu hamil adalah masalah pencernaan. Umumnya masalah pencernaan akan dialami oleh ibu hamil di akhir trimester ke dua menjelang trimester ketiga. Bahkan pada usia kehamilan trimester pertama sekalipun dapat terjadi keluhan pencernaan seperti mual dan muntah. Beberapa kasus berbeda-beda, ada yang mengalami heartburn, sembelit atau masalah buang gas selama kehamilan.

Continue Reading

  • 1
  • 2
Loading...

Follow us