Kenali Bahaya Batuk Rejan (Pertusis) Atau Batuk 100 Hari dan Cara Penanganannya

4.73/5 (22)

Mendengar si buah hati atau orang-orang tersayang yang ada disekeliling kita, dibuat kepayahan oleh batuk, tentu akan membuat kita merasa khawatir.

Apalagi bila kondisi ini terus-terusan berlanjut dalam jangka waktu yang begitu lama. Sudah pasti kita yang sehat akan dibuat panik dan merasa tak tega dengan orang upaya yang dilakukan oleh orang yang kita sayangi dalam menghadapi batuk yang membuat mereka begitu kepayahan.

Jangankan untuk bisa melihat tawa diwajah mereka, untuk melihat mereka bisa tertidur dengan nyaman saja, rasanya sudah menjadi hal yang langka tatkala serangan batuk yang “mengkhawatirkan” menyerangnya.

Nah, dengan melihat kondisi ini tentu kita ingin segera mencari solusi guna meredakan batuk yang dialami oleh mereka.

Cara terbaik untuk mengobati penyakit adalah dengan datang ke ahlinya. Bukan pada tabib, orang pintar atau pengobatan alternatif, pengobatan terbaik adalah didapatkan dari dokter guna mendapatkan penanganan medis yang tepat dengan segera.

Nah, bila anda sudah membawa serta keluarga atau si penderita batuk ke dokter dan rupanya dokter mendiagnosa mereka menderita batuk rejan. Maka, penting sekali anda ketahui terlebih dahulu apa itu batuk rejan. Namun demikian, biasanya dokter yang telah mendiagnosa pasien dengan sebuah penyakit akan langsung memberikan tindakan medis yang sesuai.

Namun, mengetahui seperti apa batuk rejan, gejala dan penangannya sendiri menjadi hal penting untuk berjaga-jaga bila orang, saudara atau tetangga anda mengalami beberapa gejala serupa. Sehingga demikian anda akan dapat menentukan tindakan pertolongan pertama yang seperti apa yang dapat anda lakukan.

Untuk mengetahui apakah itu pengertian batuk rejan, gejala, penyebab dan cara penanganannya. Maka artikel ini akan menjelaskan pada anda secara terperinci.

Apa Itu Batuk Rejan?

Batuk rejan adalah istilah bahasa Indonesia yang menggambarkan batuk serupa dengan suara “rejan”. Dalam istilah medis, kondisi batuk ini disebut dengan pertusis, yakni sebuah kondisi kesehatan dimana bagia paru-paru dan saluran pernapasan mengalami infeksi akibat adanya bakteri. Kondisi seperti ini sifatnya dapat menular dan penularannya terbilah amat mudah.

Batuk rejan sempat dianggap sebagai penyakit anak-anak ketika vaksin partusis belum ditemukan. Akan tetapi demikian, batuk jenis ini pun sebenarnya bisa diderita oleh orang dewasa, hanya saja penyakit ini ancaman bisa lebih besar terjadi pada anak-anak dan lansia, khususnya untuk bayi yang belum cukup umur mendapatkan vaksin pertusis. Ancaman terburuk dari penyakit yang satu ini akibatnya bisa sangat fatal bahkan nyawa bisa menjadi taruhannya.

Adapun bakteri yang menyebabkan kondisi seperti ini terjadi adalah baktri jenis Bordetella pertussis.

Selain itu, penyakit batuk rejan pun dikenal dengan sebutan batuk 100 hari, karena memang gejala batuk ini waktu berlangsungnya panjang dan butuh waktu yang lama untuk dapat sembuh dari penyakit ini, walaupun demikian waktu berlangsungnya penyakit ini tidak benar-benar pas selama 100 hari.

Batuk rejan adalah peyakit batuk yang diakibatkan oleh bakteri Brodetella pertussis yang sifatnya mudah menular dan menyebar melalui batuk yang dapat menular dari segala usia. Adapun penyebaran bakteri penyebab batuk ini bisa tersebar melalui tetesan di udara ketika seseorang yang terinfeksi menghembuskan batuk atau bersin. Artinya seseorang yang sehat bisa tertular dengan penyakit batuk 100 hari dengan melalui kontak langsung dengan cairan hidung atau mulut dari seorang penderita.

bahaya batuk rejan

Gejala Penyakit Batuk Rejan

Penyakit yang satu ini memiliki tanda atau ciri rentetan batuk yang keras dan terjadi secara terus menerus yang diawali dengan tarikan napas yang panjang lewat mulut seperti bunyi “whoop”. Pada saat batuk, muka akan terlihat seperti kemerahan, saking kuatnya batuk yang dihembuskan, maka akan terjadi kesulitan mengambil napas pada saat periode batuk, sehingga ketika menghambil napas akan terdengar bunyi yang melengking. Sehingga dalam bahasa Inggris kondisi batuk ini disebut dengan “whooping cough”. Pada kondisi umum, penderita yang mengalami batuk rejan akan mengalami muntah pada akhir batuknya.

Batuk rejan bisa membuat si penderitanya kekurangan oksigen dalam darahnya. Selainn itu, dapat pula terjadi komplikasi, misalnya seperti pneumonia. Bahkan penderita batuk jenis ini bisa secara tidak sengaja melukai tulang rusuk mereka karena hembusan batuk yang terlalu keras.

Gejala batuk yang khas tersebut biasanya terjadi pada masa kanak-kanak. Pada bayi dengan usia kurang dari 6 bulan, suara melengking jarang ditemukan. Gejala yang lebih spesifik biasanya diketahui dengan penurunan berat badan. Akakan tetapi, bayi pada usia inilah yang justru lebih rentan mengalami komplikasi pertusis yang serius sehingga pada umumnya bayi yang menderita batuk jenis ini akan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Sementara bila terjadi pada orang dewasa, batuk 100 hari biasanya hanyalah berupa batuk kering dengan napas yang melengking dan terasa begitu berat. Umumnya, batuk ini akan sembuh dalam 6-8 minggu, meskipun si penderita sebelumnya telah mendapatkan pengobatan berupa antibiotik. Akan tetapi demikian, pada sebagian kasus, batuk pertussis masa berlangsungnya bisa mencapai 3 bulan atau lebih, dari sinilah batuk ini sering disebut dengan batuk 100 hari.

Secara umum, gejala dari pertusis terbagi kedalam 3 tahapan, dimana 2 tahapan yang pertama merupakan periode yang amat menular. Adapun gejala ini akan mulai dirasakan antara 7-21 hari setelah bakteri Bordetella pertussis masuk kebagian saluran pernapasan. Nah, untuk mengetahui perkembangan batuk rejan dalam 3 tahapan, mari kita simak dibawah ini.

Tahapan yang Pertama (Masa Berlangsungnya 1-1 Minggu)

Pada tahapan ini atau yang sering juga disebut dengan masa gejala awal, akan muncul beberapa gejala ringan yang menyerang tubuh anda, seperti halnya hidung tersumbat dan berair, mata berair, radang dibagian tenggorokan, batuk ringan, bersin-bersin sampai demam. Pada tahap inilah si penderita bisa beresiko menularkan pertusis pada orang lain yang ada disekitarnya.

Tahapan Kedua (Masa Berlangsungnya 1-6 Minggu atau Lebih)

Tahapan kedua atau yang juga biasanya disebut dengan masa paroksismal merupakan tahapan yang ditandai dengan mulai membaiknya gejala-gejala flu yang dirasakan. Akan tetapi, disamping itu batuk yang dirasakan justru semakin bertambah parah dan tak lagi dapat dikendalikan. Nah, pada tahapan inilah batuk yang keras dan kesulitan menarik napas panjang mulai terjadi. Usai serangan batuk, biasanya si penderita mengalami muntah (yang mana kondisi ini lebih umum terjadi pada anak-anak) serta tubuh mereka biasanya cenderung mengalami kelelahan.

Tahapan Ketiga

Pada tahapan ini, penderita sudah tak menularkan bakteriya. Selama masa ini, batuk akan secara bertahap menjadi berkurang dibandingkan pada masa sebelumnya dan kondisinya sudah tak lagi separah sebelumnya. Pada tahapan ini, bisa disebut sebagai tahapan penyembuhan dan masa berlangsugnya sekitar 2 bulan lebih atau tergantung dari pengobatan.

Nah, beberapa kondisi diatas adalah kondisi yang pada umumnya dirasakan oleh si penderita batuk rejan. Beberapa gejala diatas umum dirasakan terutama pada anak-anak dan bayi. Ketika menyerang si buah hati, kondisi ini tentu akan lebih beresiko. Untuk itu, bila beberapa kondisi ini terlihat pada si kecil, maka segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

Kapan Harus Membawa Anak Ke Dokter?

  • Tubuh menjadi memerah atau membiru.
  • Anda atau anak kesulitan untuk bernapas.
  • Anda atau anak mengalami komplikasi serius, seperti kejang atau pneumonia.
  • Bayi berusia 0-6 bulan terlihat sangat tidak sehat.
  • Mengeluarkan bunyi saat menarik napas.
  • Muntah akibat batuk rejan yang parah.

Lalu Apakah Penyebab Dari Batuk Rejan Itu Sendiri?

Seperti halnya diatas disebutkan bahwa penyebab utama dari penyakit batuk yang satu ini adalah adanya infeksi bakteri yang dikenal dengan bakteri Bordetella pertussis yang menyebar melalui udara ketika seorang penderita batuk rejan bersin atau pada saat mereka batuk.

Bakteri jenis ini masuk dan kemudian menyerang dinding dari trakea dan bronkus.

Pembengkakan yang terjadi dibagian saluran udara merupakan salah satu cara tubuh memberikan respon terjadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Membengkaknya saluran ini akan dapat membuat si penderita harus menarik napas dengan kuat melalui mulut sebab pada kondisi ini mereka akan cenderung mengalami kesulitan bernapas. Hasil tarikan napas yang kuat inilah yang pada akhirnya bisa menumbulkan bunyi dengkingan (whoop) yang terdengar cukup panjang.

Adapun cara lain yang dapat dilakukan oleh tubuh ketika adanya infeksi dibagian dinding saluran udara adalah dengan memperoduksi lebdir yang kental. Dengan begini tubuh akan memancing si penderita batuk rejan untuk coba mengeluarkan lendir kental tersebut.

Lalu Apa Bahaya atau Komplikasi dari Pertusis?

Ketika kondisi pertussis menyerang anak-anak, inilah hal yang paling dikhawatirkan dan menjadi mimpi buruk setiap orangtua. Pada kasus penyakit ini, bayi berada pada kondisi resiko paling tinggi terjadi komplikasi yang palig serius. Nah, untuk mengetahui bahaya dan komplikasi pertusis atau batuk rejan simak beberapa hal dibawah ini.

Penyakit Pertusis Dapat Menyebabkan:

  • Kerusakan otak
  • Kejang
  • Pneumonia (di lebih dari 1/20 anak)
  • Kematian

Sementara itu, pada seseorang yang memiliki masalah dengan sistem imunitas dalam tubuhnya, maka akan sulit untuknya dalam memerangi infeksi bakteri tersebut. Adapun komplikasi yang terjadi dapat berupa:

  • Pneumonia
  • Masalah pernapasan yang parah
  • Peningkatan nyeri angina
  • Patah tulang rusuk
  • Penurunan berat badan akibat muntah

Cara Mengobati Pertusis

Mungkin banyak diantara anda yang bertanya bagaimana cara mengobati batuk rejan atau batuk 100 hari yang dialami saat ini. Nah, sebagai gambaran berikut ini adalah pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengobati pertusis atau batuk rejan.

  • Batuk jenis ini dapat diobati dengan menggunakan antibiotik
  • Konsumsi antibiotik sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter dan pastikan bila anda menghabiskan obat tersebut
  • Tanpa konsumsi antibotik, penderita akan dapat menularkan penyakitnya selama 3 minggu awal dari timbulnya gejala pada si penderita
  • Seorang penderita tidak akan menularkan bakteri pertusis setelah mengkonsumsi antibiotik yang tepat selama 5 hari
  • Bila konsumsi antibiotik memberikan efek samping bermasalah untuk tubuh, segera hubungi dokter.
  • Selain itu, diperlukan obat yang dapat membantu meredakan atau memulihkan batuk yang dirasakan.

Demikian penjelasan mengenai penyakit batuk rejan yang berbahaya. Semoga bermanfaat untuk anda.

Apakah informasi ini bermanfaat?

1 2 3 4 5

Loading...

Diskusikan Tema Artikel