Kenali Alasan Orangtua Sulit Mengenali Emosi Anak dan Cara Mengatasinya

Meskipun hidup bersama-sama dalam satu atap dan merupakan darah daging sendiri,

tak jarang sebagai orangtua kita sulit sekali mengenali emosi anak-anak sendiri. Secara tiba-tiba dan tanpa ada alasan tertentu, si anak bisa tiba-tiba sulit sekali diajak berbicara dan berkomunikasi. Yang terlihat dari raut wajahnya seperti mereka sedang kesal dan memendam kejengkelan pada seseorang. Dan ketika ditanya, mereka akan cenderung mengabaikan dan seolah begitu kesal pada kita.

Nah, ketika hal ini terjadi seringkali kita bingung dan dibuat bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan anak-anak kita dan apa kesalahan yang kita perbuat sehingga membuat mereka begitu jengkel, apakah kekesalan tersebut memang disebabkan oleh orangtua atau ada hal lain yang membuat mereka demikian? Umumnya, hal inilah yang seringkali memendam banyak pertanyaan dalam benak orangtua.

hal yang membuat orangtua sulit mengenali emosi anak

Walaupun hidup bersama-dama dan berdampingan setiap hari serta seringkali kita berpikir bahwa rasanya seluruh perhatian kita tercurahkan pada mereka. Namun tetap saja, ada saja momen dimana anak-anak merasa jengkel dan kesal. Jangankan untuk mau ditanya alasannya, ketika baru disapa saja mereka akan memberikan ekspresi muka yang kesal dan cemberut. Ketika sudah begini, rasanya sulit bagi orangtua untuk menetukan hal apa yang bisa dilakukan.

Tanpa disadari, tidak sedikit orangtua didunia ini yang kurang piawai dalam memahami karakter atau sifat anak mereka yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri. Penyebab akan hal ini, juga bisa dipicu oleh alasan yang beragam, seperti kesibukan orangtua, jarang berkomunikasi atau bahkan orangtua sendiri yang mengabaikan perasaan anak karena terlalu menjunjung tinggi aturan dalam keluarganya. Padahal dengan mengetahui perubahan emosi dan mendalami karakter anak dengan baik adalah hal yang penting. Dengan memahami hal ini, maka anak-anak bukan saja merasa dihargai, namun juga  mereka akan merasa nyaman dalam lingkungan keluarganya sebab orangtua mereka tahu bagimana harus bertindak ketika mereka mengalami perubahan emosi. Selain itu, hal ini juga mampu menciptakan rasa saling memahami dan menghormati satu sama lain.

Sayangnya, tidak sedikit orangtua saat ini yang masih memegang teguh prinsip otoriter yang mana mereka menggangap kekuatan terbesar dalam keluarga berada ditangan kedua orangtua. Dalam pola asuh seperti ini, orangtua memegang kendali dan kontrol penuh terhadap diri anak-anaknya tanpa memberikan toleransi apakah aturan tersebut sesuai dengan anak atau tidak. Pada pola asuh ini biasanya lebih cenderung menghasilkan anak yang kaku dan tidak bisa hidup tanpa diarahkan dengan diberikan peraturan, sehingga ketika mereka dihadapakan pada dunia sosial, mereka akan cenderung sulit bergaul.

Nah, anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan? Untuk itulah, menjalin hubungan yang baik dengan memahami emosi anak adalah hal yang penting yang harus anda lakukan. Selain itu, umumnya kesulitan orangtua dalam mengenali emosi anak selain dipengaruhi oleh beberapa faktor diatas. Juga ada beberapa hal yang harus diketahui oleh orangtua. Apa sajakah itu? Kita simak berikut ini.

1. Tidak Saling Bertatap Mata Sewaktu Berdiskusi

Adalah penting sekali untuk seseorang menjalin kontak mata bersama dengan lawan bicaranya. Hal ini penting dilakukan dalam rangka mengenal emosi lewat ekpresi dan raut muka yang ditunjukan oleh si lawan bicara. Dengan menatap wajah dan menjalin kontak mata, seseorang akan dengan mudah menilai ekpresi dan emosi seseorang, apakah ekpresi mereka riang, sedih, biasa saja atau menunjukan ketertatikan.

Nah, pada sebagian kasus orangtua yang sulit mengenali emosi anak-anaknya bisa jadi hal ini dipengaruhi karena orangtua tidak mampu menjalin kontak mata dengan anak. Meskipun anda mengklaim bahwa jalinan komunikasi anda bersama dengan anak-anak tidak mengalami kendala. Namun bila anda belum mampu mengenali emosi mereka dengan baik, anda tidak akan dapat memahami apakah diskusi tersebut di setujui anak atau tidak. Biasanya, persetujuan yang diberikan si anak disampaikan karena anak berada dibawah tekanan seperti takut atau terlalu menghargai anda.

Untuk itulah, tidak ada salahnya ketika anda hendak mendiskusikan sesuatu bersama dengan anak, carilah waktu yang tepat sewaktu mereka terlihat santai dan jalin komunikasi dengan memfokuskan tatap muka hingga tatapan mata didapatkan. Dengan begini anda akan dapat memahami emosi mereka.

2. Seringkali Meremehkan Perasaan Anak

Orangtua terkadang mengabaikan perasaan anak mereka sewaktu mereka marah. Dengan alasan, dalam beberapa waktu amarah mereka akan bisa diredam dan mereka akan kembali seperti biasanya. Namun, tanpa disadari dengan terus-terusan melakukan hal ini, maka anda akan semakin sulit memahami mereka bersama melalui perasaannya. Dalam hal ini, cobalah untuk memahami bahwa setiap anak dalam perkembangan secara mental maupun fisiknya, memerlukan perhatian dari orangtuanya. Bisa jadi, anak anda adalah tipikal orang yang memiliki sifat sensitif, sehingga dirinya menjadi lebih mudah tersinggung akan sesuatu. Nah, jika anda memiliki anak yang demikian, maka sebaiknya diperlukan kehati-hatian dalam bentindak dalam rangka menjaga perasaan anak dan memahaminya dengan lebih baik.

3. Ketakutan Orangtua Itu Sendiri

Terkadang, tidak sedikit orangtua yang merasa tidak mampu atau ketakutan sendiri karena tidak dapat mengatasi perilaku anak mereka yang cenderung tempramental. Sehingga ketakutan ini menjalar jika perilaku anaknya tidak akan dapat diobatai dan diatasi. Sehingga hal ini pada akhirnya membuat orangtua cenderung menolak kenyataan dan mengabaikan perasaan anaknya. Menghindar dan menyangkal, tentunya tidak akan menyelesaikan masalah. Daripada anda terus mengabaikan perasaan sang anak, sebaiknya bawalah anak ke psikiater untuk membantu anda mengatasi masalah pada anak dan upayakan segala cara untuk membuat emosi anak menjadi stabil. Misalkan, dengan tidak menyulut hal atau sumber yang membuat amarahnya bangkit.

4. Terlalu Sibuk Dengan Karir

Sebagaimana dikatakan diatas bahwa orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor adalah salah satu pemicu mereka sulit mengenali emosi anak-anaknya. Betapa tidak, dengan semakin banyak waktu yang dihabiskan dikantor, maka akan membuat waktu ibu, ayah untuk berkumpul bersama dengan keluarga menjadi lebih sedikit. Yang mana hal ini tentu saja akan membuat perhatian yang ibu berikan pada mereka menjadi semakin sulit didapatkan. Jangankan untuk bisa memahami perasaan dan emosi anak-anak, memberikan perhatian saja untuk mereka rasanya akan sulit sekali.

Nah, untuk mengatasi hal ini, tentunya ibu dan ayah harus bisa mengalokasikan dan memanfaatkan waktu untuk bisa dibagi bersama dengan si kecil. Jika ibu kesulitan menyisihkan waktu setiap hari untuk si kecil, maka sebaiknya manfaatkan waktu di akhir pekan untuk bisa dihabiskan bersama dengan mereka. Dimana hal ini bisa ibu manfaatkan untuk memahami anak-anak bersama dengan emosinya dengan lebih baik.

Memahami emosi anak adalah hal yang penting guna menghasilkan hubungan yag baik dan menciptakan sifat saling menghargai antara anak dan orangtua. Nah, semoga beberapa hal diatas bisa ibu hindari guna memahami perasaan anak dengan lebih baik.

Apakah informasi ini bermanfaat?

1 2 3 4 5

Loading...

Diskusikan Tema Artikel