Sedih, Anak-Anak Ini Terpaksa Mengungsi Tanpa Keluarga

Mengungsi, sebagai tempat sementara bagi mereka yang terkena musibah. Selalu banyak cerita yang mengharukan. Begitupun dengan anak-anak ini yang mengungsi sendiri tanpa adanya keluarga terdekat.

Mengungsi tidak hanya terjadi pada korban bencana alam, situasi yang mengancam keamanan dan keselamatan tempat tinggal mereka bisa menjadi alasan mengungsi. Bahkan yang mengharukan di tempat pengungsian yaitu banyak cerita dari pengungsi yang mengharukan, ia mencari anggota keluarganya.

Seperti konflik yang terjadi di beberapa negara yang memaksa warganya untuk mengungsi, meninggalkan kampung halaman untuk kehidupan yang lebih baik. Seperti yang dilaporkan, bahwa banyaknya yang mengungsi berasal dari dua negara yakni Afghanistan dan Suriah. Pengungsi kebanyakan adalah anak-anak yang mengungsi tanpa keluarga.

gg

Jumlah yang tercatat sekitar 28 juta anak-anak yang berada di seluruh dunia terpaksa mengungsi. Penyebab utamanya adalah konflik dan kekerasan yang terjadi di negara tersebut. Bahkan yang menyedihkan hampir 14 juta yang meninggalkan kampung halaman mereka hanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Laporan tersebut didukung oleh fakta UNICEF, anak-anak yang merupakan sepertiga dari seluruh dunia dan hampir dari mereka hidup di pengungsian. Bahkan dasawarna terakhir, tercatat bahwa jumlah pengungsi anak-anak yang terus naik sampai dua kali lipat. Inilah yang membuat perhatian sangat serius bahkan untuk lembaga dunia sekalipun.

Dalam datanya, laporan UNICEF mengatakan bahwa 45 persen pengungsi anak-anak berasal dari dua negara diana diantaranya adalah Afganistan dan Suriah. Lebih mengharukannya lagi adalah anak-anak yang mengungsi terpisah dari keluarga mereka. Mereka mengungsi sendiri-sendiri tanpa ada orang tua mereka.

Padahal di usia anak-anak kasih sayang dari keluarganya sangat dibutuhkan. Sungguh mengharukan, bahkan mereka tidak memeliki surat-surat keterangan. Bahkan secara psikis mereka mengalami tekanan, diantaranya gangguan dan pelecehan yang terjadi pada mereka. Kondisi ini juga dilaporkan langsung oleh UNICEF.

Laporan UNICEF yang membahas langsung mengenai anak-anak yang mengungsi di laporkan dalam sebuah judul “Krisis Pengungsi dan Migran Anak-Anak”. Dengan kondisi ini UNICEF menyerukan kepada masyarakat untuk memberikan pendidikan, perlindungan dan jaminan kesehatan bagi anak-anak di pengungsian .

Kondisi yang terjadi menimpa anak-anak ini sangat membutuhkan perhatian yang serius. Perhatian yang berhubungan dengan psikisnya. Kehidupan yang layak sehingga mendapatkan dunia anak-anak seperti mereka di usianya. Sehingga pengungsi anak-anak dapat diberikan pendidikan yang layak, jaminan kesehatan dan perlindungan yang layak.

Terpisah tanpa adanya keterangan yang bisa memberikan informasi bahwa keluarga mereka membuat tim relawan kesulitan. Bahkan diantara mereka sangat terpukul, mereka seperti mengalami kondisi yang terpukul sehingga menyebabkan ganguan psikis. Inilah yang harusnya menjadi perhatian serius tidak hanya dari UNICEF tetapi lembaga lain yang peduli.

Mengkhawatirkan apabila konflik di negara-negara tersebut belum reda sehingga mengakibatkan banyaknya terjadi kondisi yang semakin membuat psikis anak-anak terpukul. Sebaiknya yang menjadi perhatian adalah pendidikan di usia mereka yang harusnya terpenuhi. Begitupula dengan kesehatan yang dialami mereka yang perlu diperhatikan.

Bahkan tanpa adanya perlindungan yang layak akan membuat mereka seakan terbebani. Seperti diketahui bahwa mereka datang ke tempat pengungsian tanpa adanya informasi yang mengetahui asal dari keluarganya. Sehingga banyak yang kehilangan data penting mengenai mereka. Ini pula yang membutuhkan perhatian untuk segera mendapatkan bantuan.

Semoga konflik yang terjadi di beberapa negara segera selesai sehingga tidak ada lagi pengungsi anak-anak yang kehilangan informasi mengenai dirinya atau keluarga. Bagaimanapun mereka adalah korban yang membutuhkan pertolongan segera.

Author: Nirmala Adrian

Follow us