Sadari, Tak Semua Mainan Mampu Stimulasi Otak Anak dengan Efektif

5/5 (1)

Pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa seringkali orangtua memaksakan anak-anak dan bayi mereka untuk dapat belajar?

Anggapan dan citra yang luar biasa pada anak-anak kecil yang sudah mampu belajar dan melakukan banyak hal yang edukatif diusianya, serigkali membuat orangtua mengharapkan bahwa kecerdasan dan kepintaran ini dapat tumbuh dan ditunjukan oleh anak-anaknya sejak mereka masih begitu kecil.

Membanggakan memang ketika anda membawa serta si buah hati kemanapun anda pergi dan ditengah perjalanan atau pada saat si kecil digabungkan bersama dengan anak-anak lain seusianya dan rupanya ia sudah mulai mampu menampakan kecerdasannya dalam berinteraksi dan belajar, semua orangtua tentu akan memberikan pujian padanya. Termasuk mungkin dalam hal ini anda akan mulai didekati para ibu lain dan menanyakan apa rahasia anda dalam mendidik anak anda menjadi begitu cerdas diusianya yang masih sangat belia.

Lantas sudah tepatkah langkah ini diberikan pada si kecil? Benarkah niat anda mendidik mereka belajar agar mereka pintar? Atau bisa jadi ada keinginan anda yang tidak anda sadari selama ini yang membuat anda dipuji oranglain atas apa yang anda lakukan pada si kecil.

Nah, sebaiknya koreksi kembali niatan anda untuk mengajarkan si kecil belajar saat usia anak masih begitu belia. Bukan sebuah kesalahan memang mengajarkan anak-anak untuk belajar sejak mereka masih kecil. Apalagi bila apa yang bunda ajarkan pada mereka dilakukan demi kebaikan mereka sendiri.

Dengan begini tidak akan terlalu sulit untuk si buah hati bisa beradaptasi guna mempersiapkan dirinya sebelum masuk ke sekolah. Anak-anak yang telah diajarkan untuk dapat mengenal pelajaran dan dasar-dasar dari pengetahuan akan tentu membuat mereka tidak terlalu kesulitan pada saat masuk sekolah nanti.

Akan tetapi tidak bijak juga rasanya apabila anda terus memaksakan kehendak anda agar mereka mau berlajar. Disadari atau tidak, seringkali orangtua memaksakan anak-anak mereka untuk belajar dengan membuka buku, berhitung, belajar menghafalkan huruf dan masih banyak lagi. Padahal, proses belajar tidak melulu didapat dari sebuah buku pelajaran.

Proses belajar lain yang dapat dilakukan adalah melalui mainan yang tepat. Ketika anak-anak bermain dengan game yang mengedukasi anak untuk dapat mengekplorasi kemampuan fisik, sosial, emosional dan kognitifnyaadalah media pembelajaran yang baik yang dapat diberikan pada si buah hati.

Tidak banyak orangtua yang menyadari bahwa bermain sebenarnya merupakan kegiatan yang amat sangat bermafaat untuk perkembangan sosial, emosional, fisik dan juga perkembangan kognitif si buah hatinya. Akan tetapi, fase perkembangan pesat dari lima faktor diatas tidaklah dapat berlangsung terlalu lama. Untuk itulah, sebaiknya orangtua mampu memanfaatkan mainan sebaik-baiknya agar kecerdasan pada anak bisa diasah dengan baik.

Periode Emas Pertumbuhan Anak Terbatas!

Satau-satunya organ tubuh yang tidak berkembang dengan sempurna saat bayi lahir adalah otaknya. Nah, ketika si kecil menunjukan ketertarikan dan antusiasmenya ketika mencoba game edukasi anak, maka hal ini bisa dijadikan media untuk orangtua dalam membantu perkembangan otaknya dengan lebih efektif.

Bukan dengan eksploitasi atau tidak juga dengan membiarkan anak begitu saja. Ingat kembali periode emas pertumbuhan pada si anak terbatas dengan waktu. Hanya lima tahun setelah si buah hati lahir ke dunia. Waktu ini tentu akan cukup singkat untuk anda membantu mereka dalam mengasah kemampuannya. Untuk itu, manfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menstimulasi kemampuan otak anak secepatnya, tanpa harus menunggu si kecil masu sekolah.

Ya, sebagian orangtua tidak sedikit yang memilih mengulur-ulur waktu memberikan pelajaran atau mengajarkan buah hatinya dalam mengasah kemampuan otaknya. Mereka berpikir bahwa adakalanya pelajaran dalam mengasah kemampuan otak diajarkan disekolah.

Padahal hal ini pun perlu diberikan pada si buah hati, apalagi anak-anak mulai menunjukan ketertarikannya terhadap hal ini. Tak perlu melulu melalui buku untuk mengajarkan anak belajar, lewat permainan yang edukatif anak-anak akan dapat belajar dengan lebih baik sehingga kemampuan otaknya dapat diasah dengan baik.

Efektivitas stimulasi otak adalah saat orangtua dapat memberi mainan yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif, fisik, emosional dan sosial si buah hati. Jadi demikian, orangtua tidak boleh sembarang dalam memilih jenis mainan yang diberikan pada si kecil. Setidaknya mainan yang anda berikan untuk si buah hati adalah jenis mainan yang dapat menstimulasi beberapa faktor yang disebutkan diatas dalam waktu hanya lima tahun.

Singkatnya anak tidak perlu dipaksa untuk belajar melafalkan kosa kata dalam bahasa asing, membuat mereka belajar berhitung dan lain sebagainya. Pada dasarnya, anak-anak akan lebih mudah menyerap dan meniru apa yang mereka lihat dan apa yang mereka alami.

Bila apa yang dilihatnya membuat mereka tertarik, maka dengan otomatis anak akan belajar sendiri untuk meniru dan menyerapnya dengan mudah. Perilaku memaksa anak untuk menuruti kehendak orangtuanya malah akan membuat si anak merasa bosan. Pada akhirnya bukan mengerti atau paham,  anak-anak malah akan menolak untuk belajar dan bahkan membenci kegiatan yang satu ini karena trauma yang mereka alami akibat dipaksa.

Secara natural anak-anak memiliki keinginan untuk belajar dan rasa keingin tahuan yang besar. Ketika si anak memiliki inisiatif untuk bermain, mereka akan mengatakan pada orangtuanya tentang apa yang ingin mereka mainkan. Anak juga tidak akan ragu untuk belajar dan mempelajari apa yang ada di sekeliling mereka. Ketika mereka mulai menunjukan ketertarikannya pada suatu hal maka mereka akan dengan otomatis menanyakan pada orangtua tentang hal tersebut.

Nah dari sinilah orangtua bisa memanfaatkan fase penting ini dengan menciptakan lingkungan bermain yang aman untuk buah hatinya agar kegiatan mengeksplor pada anak-anak bisa berjalan dengan baik.

Diakui atau tidak, sebagai orangtua kita pati pernah merasa “sok tahu” dan menganggap bahwa anak harus diajari untuk bermain. Padahal, kenyataannya justru terbalik. Justru orangtua perlu membiarkan anak-anak mereka menuntun kita untuk bermain.

Terkadang saat anak melirik sesuatu yang ada disekitar mereka dan mulai memperhatikan objek tersebut. Orangtua seringkali dibuat gemas dan tak sabaran dengan langsung mengambil objek tersebut dan menjelaskannya pada si anak. Namun rupanya hal ini keliru.

Boleh percaya atau tidak, anak diciptakan dengan kemampuan motorik dan kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa. Maka demikian mereka akan lebih bisa menuntun kita untuk bermain daripada sebaliknya. Dengan begini juga membuat si anak mampu mengenali apa yang menjadi ketertarikan mereka.

Setelah itu, maka orangtua bisa membimbing dan mengarahkan anak serta mengontrol mereka dengan baik. Agar apa yang mereka mainkan tidak membahayakan mereka. Ketika anak mulai dapat belajar tentunya harapan orangtua adalah mampu membesarkan anak dan membimbing mereka dengan sebaik-baiknya.

Ketika fisik si anak berkembang, maka tentunya kita tidak akan membiarkan mental dan pola berpikirnya terkungkung sendiri. Kemampuan kognitif, emosional dan sosial pada si anak harulah seimbang dengan tumbuh kembangnya.

Bila anda sudah mampu mengeksplorasi lingkungannya dengan baik, orangtua bisa membawa mereka pada level yang lebih tinggi seperti memperkenalkan mereka dengan teman-teman seusianya. Agar kemampuan mereka untuk bersosialisasi bisa diasah dengan baik.

Apakah informasi ini bermanfaat?

1 2 3 4 5

Leave a Reply