Ketuban Pecah Pada Usia 20 Minggu, Bayi ini Tetap Lahir Pada Usia 25 Minggu

Mendapatkan keturunan yang normal dan sehat merupakan harapan terbesar bagi orang tua. Normalnya proses kehamilan perlu memakan waktu yang cukup lama yakni sekitar 40 minggu sampai bayi itu siap untuk dilahirkan ke duania. Pada kasus kasus tertentu terkadang ada ibu yang harus mengalami kondisi kehamilan yang cukup lama melebihi waktu normal kandungan, namun banyak juga yang harus melakukan persalinan sebelum mencapai waktu yang normal atau lebih dikenal dengan prematur.

Kondisi persalinan prematur dilakukan dengan kondisi-kondisi khusus di mana umumnya ada alasan kesehatan yang menjadi latar belakang terjadinya persalinan ini. Alasan kesehatan juga tak jarang membuat para ibu dipaksa harus rela menggugurkan anak yang ada di dalam kandungan mereka. Hal seperti itu mejadi pukulan berat yang akan sulit diterima bagi setia pasangan calon orang tua khusunya sang ibu yang mengandung.

Kejadian itu jugalah yang menimpa seorang calon ibu bernama Mhairy. Mhairy yang berusia 34 tahun tengah mengandung, namun diagnosa dokter mengatakan bahwa ia harus menggugurkan kandungannya dengan jalan aborsi karena alasan kesehatan. Tak pelak hal tersebut membuatnya bersedih dan kecewa.

Meskipun demikian seperti lazimnya wanita kebanyakan, keteguhan hati untuk mempertahankan janin hasil buah cinta bersam suaminya membuat wanita satu ini berkeras mempertahankan kehamilannya. Pada akhirnya Mhairy harus melahirkan bayi yang ada di dalam kandungannya pada waktu usia kandungannya menginjak 25 minggu, terpaut cukup jauh dari waktu kelahiran normal.

Baca Juga: Panduan Lengkap Kehamilan dan Persalinan

Mhairy sendiri sebenarnya telah mengalami pecah ketuban pada waktu kandungannya menginjak usia 20 minggu.Dokter sendiri telah menyarankan dan meminta Mhairy untuk segera menggugurkan kandungannya tersebut untuk alasan kesehatan, namun ia dan sang suami, Paul menolak untuk mangambil prosedur aborsi yang disarankan oleh dokter tersebut.

Pasangan ini berkeyakinan bahwa bayi yang ada di kandungan Mhairy dapat bertahan dan dilahirkan dengan selamat serta sehat. Dokter kala itu memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan hati Mhairy. Para doketr mengatakan bahwa bayi yang dikandung olehnya kemungkinan besar akan mengalami kecacatan dan tidak bisa tumbuh dan berkembang secara normal.

Pihak rumah sakit berulang kali menghubungi Mhairy untuk melakukan prosedur aborsi, namun Mhairy berkeras dan tetap berkeyakinan ia dapat melahirkan pada usia kandungan mencapai 25 minggu. Akhirnya ketika kandungan memasuki usia 25 minggu ia benar-baner melahirkan. Ia melahirkan seorang bayi prematur dengan bobot tubuh 1,6 ons. Bayi yang kemudian diberi nama Jet ini mampu bertahan selama 5 minggu berada dalam kandungan Mhairy meskipun air ketubannya telah pecah pada usia kandungan 20 minggu. (Artikel lainnya: Tanda akan melahirkan)

Bayi Jet ini sendiri divonis dokter mengalami kelainan pada hati dan paru-parunya. Kelainan yang di alami Jet itu disebab karena kondisi plasentanya berada di bawah bayi dan bisa menyebabkan pendarahan juga infeksi. Meskipun demikian sepertinya Jet ini mewarisi keteguhan hati dan sikap pantang menyerah dari sang ibu Mhairy. Dengan segala masalah yang dialaminya pada saat itu ia dapat bertahan. Jet harus mendapatkan perawatan medis dan dirawat selama 5 bulan di dalam inkubator rumah sakit.

Selama proses perawatan itu Jet mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat dalam kesehatannya, sehingga setelah 5 bulan perawatan itu dokter menyatakan bahwa bayi Jet dinyatakan sehat baik secara fisik maupun psikis dan boleh di bawa pulang ke rumah oleh ayah dan ibunya.

Kebanyakan bayi prematur biasanya memiliki masalah kesehatan sebagai efek dari proses persalinan yang begitu cepat. Meskipun demikian Jet yang kini berusia 1 tahun tetap dapat berkembang dengan baik selayaknya bayi pada umumnya.

Loading...

Follow us