Filipina, Kasus Zika Pertama Pada Ibu Hamil

Pertama, mengegerkan dunia saat otoritas Filipina melaporan ibu hamil pertama yang terjangkit Zika. Simak selanjutnya di bawah ini.

Virus Zika akhir-akhir ini menjadi sorotan dunia medis, Infeksi Virus Zika melalai gigitan nyamuk. Virus ini menginfeksi menimbulkan beberapa gejala seperti nyeri sendi, demam, ruam hingga mata merah. Gejalanya memang mirip seperti chikungunya dan dengue.

Tercatat oleh Menteri Kesehatan Paulyn Ubial yang mengatakan ada 12 virus zika pada bulan September. Satudiantaranya adalah Ibu hamil yang berusia 22 tahun di pulau tengah Cebu, wanita itu sedang mengandung 19 minggu. Ini menjadi cacatan pertama ibu hamil terinfeksi virus Zika.

pp

Baca Juga: Panduan Lengkap Kehamilan dan Persalinan

Pada saat melakukan pemeriksaan, tidak ditemukan adanya gejala di awal kehamilan akan tetapi tetap di kontrol hinga tumbuh kembang bayi tetap sehat di hari persalinan. Ibu hamil yang terinfeksi Virus Zika beresiko melahirkan bayi yang mengidap mikrosefalus, otak dan kepala bayi lebih kecil dibandingkan ukuran normalnya.

Informasi yang didapatkan, internasional.kompas.com (29/9) tengah menyelidiki 4 kasus bayi yang lahir mikrosefalus terkait dengan Virus Zika.Bahkan penyelidikan ini dilakukan kepada tiga bayi dan kandungan usia 36 minggu. Hal ini terkait dengan laporan peningkatan kasus infeksi Virus Zika yang menyerang Asia Tenggara.

Begitupun dengan Filipina, terdapat 12 kasus virus Zika di negara tersebut. Delapan dari penderita yang terinfeksi adalah wanita. Sedangkan rentan usia yang terjangkit 9-55 tahun, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan setempat mengenai kasus Zika di Filipina.

Bahkan Kementerian Kesehatan Filipina menyatakan tidak ada satupun yang terinfeksi melakukan perjalanan sebulan sebelum dinyatakan positif. Bahkan sebelum mereka dinyatakan sembuh mereka dilarang untuk bepergian atau melakukan perjalanan dalam bentuk dinas dan lain-lain.

Kini sudah dibentuk tim khusus yang membantu dalam menanggulangi virus Zika. Bahkan sebuah penyelidikan yang dilakukan untuk menekan penularan virus ini. Termasuk dalam penyelidikan sistem penularan, rekomendasi langkah yang dihadapi dalam penularan gigitan nyamuk dan kontak seksual.

Dalam rangka menekan jumlah warga yang terinfeksi pemerintah setempat melakukan banyak cara. Salahsatu cara dilakukan dengan menghimbau masyarakat untuk menghancurkan pembiakan nyamuk di air tergenang lingkungan sekitar. Lalu himbauan yang tidak kalah penting dalam hubungan seksual bagi mereka yang positif terinfeksi.
Dalam kasus ini upaya menekan risiko pada ibu hamil yang terinfeksi sangat diupayakan. Hal ini untuk menekan risiko kelahiran mikrosefalus yang terjadi yang dihubungkan dengan infeksi Zika.Oleh karena itu tim kesehatan sangat berperan aktif dalam selalu memeriksa kehamilan sampai hari persalinan.
Dalam penelitian baru-baru ini ditemukan adanya keterkaitan virus Zika dengan mikrosefalus yang diketahui pertama kali di Brasil. Bahkan di beberapa negara, ada lebih dari 1600 kasus mikrosefalus yang dikaitkan dengan infeksi Zika pada ibu hamil.
Bahkan Amerika Serikat dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim kesehatan menyimpulkan adanya pengaruh besar dari kelahiran mikrosefalus dengan infeksi virus zika. Ibu hamil yang menderita virus zika akan menyebabkan kelahiran cacat bawaan, dimana ukuran kepala bayi akan lebih kecil.
Dengan demikian tidak hanya Filipina dan Thailand akan tetapi Indonesia harus lebih waspada terhadap virus zika. Apalagi Indonesia sangat rentan terjadinya infeksi virus zika. Selain penemuan virus zika di Jambi pada tahun 2015. Bahkan penyebaran penyakit yang akibat infeksi virus ini di Indonesia masih lemah dalam proteksinya. Sehingga diupayakan untuk melakukan peningkatan termasuk sistem surveilans.

Loading...

Follow us