we love you, its means letting you go my angel

Selamat jalan malaikat kecilku, tunggu ayah dan ibu di surga.”

 

Itulah status yang aku baca  setelah 2 hari meninggalnya jagoan kecil dedek Haidar Azzam Al Ghifar tercinta, bayi yang hanya sempat melihat dunia selama 30 menit.  Proses kelahiran dilakukan secara Sectio Caesar seminggu sebelum tanggal HPL, dokter tidak mau mengambil resiko karena pengapuran plasenta dan air ketuban yang sudah keruh.

 Kata dokter bayi tidak mampu bertahan, karena sebelumnya keadaan bayi memang sudah lemah, pengapuran plasenta mengakibatkan malfungsi plasenta yang berakibat asupan nutrisi dan oksigen yang semestinya diterima janin menjadi terhambat. Hal ini menjadi berbahaya karena terlambat diketahui oleh si ibu dan pengapuran yang terjadi sudah sedemikian parah mendekati hari kelahiran di tambah dengan jumlah air ketuban yang terlalu banyak dan keruh. Cairan ketuban diproduksi oleh selama kehamilan kemudian akan bertambah dengan produksi cairan janin, yaitu seni janin. Sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkannya kembali dalam bentuk air seni. Jadi ada pola berbentuk lingkaran atau siklus yang berulang dimana si jabang bayi minum air ketuban dalam jumlah yang seimbang dengan air seni yang dihasilkannya. Air ketuban yang terlalu banyak (polihidramnion) mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dengan metabolisme si buah hati, sehingga ada kemungkinan bahwa bayi yang dilahirkan akan mengalami kecacatan.

Baca Juga: Panduan Lengkap Kehamilan dan Persalinan

 Masih jelas diingatanku bagaimana usaha dan keinginan mereka untuk memperoleh momongan, perasaan bahagia mereka mempersiapkan kehadiran bayi mungil yang akan segera memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu.” 

“Setidaknya aku sudah pernah merasakan menjadi ibu selama 30 menit dan apapun jalan yang diberikan oleh Allah, nanti akan menjadi jalan yang terbaik kata-kata luar biasa yang aku dengar dari seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Rasa iklhas, sabar dan keyakinan yang penuh pada Yang Maha Pembuat hidup telah menguatkan mereka.

 Menjadi ibu bukan hanya sekadar memiliki anak dan merawat serta menjaga mereka menjadi besar. Menjadi ibu juga berarti berani dengan penuh cinta melepaskan anak ke tangan nasib atau merelakan anak melangkah di jalan takdirnya. Seorang anak yang kehilangan ibu disebut sebagai anak piatu, atau kehilangan ayah disebut yatim, atau bahkan kehilangan kedua orangtuanya disebut yatim piatu. Tapi tidak ada nama apapun yang dapat diberikan untuk seorang ibu yang kehilangan anaknya, mungkin karena peristiwa ini terlalu menyedihkan untuk dinamai, bagai hantapan kesedihan yang tidak berperi.

 Melepaskan bukan berarti tidak mencintai, tapi melepaskan terkadang menjadi bentuk cinta tertinggi yang bisa diberikan oleh seorang bunda kepada anaknya. InsyaAllah sekarang dedek azam sedang tersenyum di tempat yang terbaik di sisiNya, amin.

 

by : Dyah Ayu Paramita

Loading...

Follow us