data-ad-format="auto"

Tips Menghukum dan Mendisiplinkan Anak Dengan Penuh Cinta Untuk Menghindari Kekerasan Anak

Seringkali perilaku anak-anak yang terlalu aktif dan terlalu lincah membuat para orangtua frustasi dalam mengatur dan mendisiplinkan mereka.

Apalagi, ketika perilaku anak sudah diatas batas normal dengan menyakiti atau merugikan oranglain. Hal ini tentu saja akan membuat orangtua pusing dan bingung menghadapi mereka. Sewaktu anak berperilaku terlalu aktif atau bahkan perilaku ini lebih condong menjadi perilaku nakal, perlu sekali bagi orangtua untuk mengupayakan segala cara agar membuat mereka tidak melakukan kesalahan yang serupa, salah satunya adalah dengan melakukan tindakan mendisiplinkan anak-anak.

Hanya saja, seringkali niat mulia ini bisa tergelincir menjadi kekeliruan yang membuat orangtua mengeluarkan respon yang berlebihan pada perilaku nakal yang dilakukan anaknya, semisal dengan melakuka kekerasan terhadap anak karena emosi yang tak dapat tertahankan. Lantas apakah benar satu-satunya jalan dalam menghukum dan mendisiplinkan anak yang berperilaku nakal hanya dilakukan dengan kekerasan? Jawabannya tentu saja tidak.

Sebuah aksi kekerasan, apapun bentuknya itu, seperti menjewer, mencubit, memukul atau bahkan dengan menampar anak dihadapan umumum adalah perilaku yang tidak seharusnya dilakukan para orangtua dalam hal mendidik anak. Karakter yang dimiliki masing-masing anak berbeda-beda, anda mungkin mendapati lingkungan tetangga anda berhasil membuat anak-anak mereka menjadi seorang penurut dan patuh terhadap orangtuanya setelah ayah atau ibunya menjewer dan memukul anak mereka sewaktu anaknya melakukan kesalahan. Namun ini bukan berarti hal yang sama bisa berhasil pada diri anak-anak anda.

Baca Juga: Repot Bayi Sering Ngompol? Gunakan Sprei Waterproof, Atasi Ompol dan Bau Pesing

menghukum anak dengan kasih sayang

Bisa jadi mental yang dimiliki anak anda tidak sekeras anak tetangga, sehingga ketika mereka melakukan kesalahan dan anda memberikan hukuman berupa tindakan kekerasan, hal ini malah akan membuat mental anak semakin ciut dan membuat jiwa mereka terguncang, alhasil anda akan menjadi sosok yang begitu ditakuti oleh anak anda. Hanya saja, ditakuti disini bukan dalam artian yang baik yang membuat anak-anak patuh dan menjadi penurut, namun lebih kepada melahirkan anak yang tertekan.

Sebaliknya, mungkin saja anak anda memiliki mental yang begitu keras, sehingga ketika anda memberikan tindakan kekerasan pada mereka sewaktu mereka melakukan kesalahan, alih-alih berhasil, justru malah akan semakin membuat anak menjadi pembangkang dan semakin sulit diatur.

Sebenarnya, makna dari mendidik dan mendisiplinkan anak berarti mengajari mereka untuk belajar mematuhi aturan dan tata tertib dalam kehidupan bersama, entah dalam lingkungan berkeluarga, bermasyarakat ataupun saat si anak berada disekolah. Dimana sikap ini penting sekali ditanamkan dalam diri anak-anak untuk membatasi perilaku anak dan menghindari anak yang bertingkah dan berperilaku semau gue.

Sikap disiplin yang ada dalam diri anak juga akan membuat anak belajar untuk mampu mengendalikan dirinya sendiri. Sayangnya, menerapkan sikap yang disiplin pada diri anak seringkali dikonotasikan dengan tindakan "hukuman" atau "ketegasan" terhadap pelanggaran yang dilakukan anak-anak.

Seringkali muncul keluhan anak-anak yang sulit disiplin senantiasa melakukan perlawanan dan berontak terhadap peraturan dan tata tertib yang dibuat. Namun sebuah tindakan kekerasan bukan hanya akan mampu mengubah perilaku anak, hal ini juga akan mampu memperburuk hubungan dengan anak.

Lantas bagaimana cara terbaik dalam mendisiplinkan dan memberikan hukuman pada anak? Jawabannya adalah dengan memberikan kasih sayang dan cinta bukan menganggap kesalahan yang anak perbuat adalah dosa mutlak yang harus ditindak dengan tegas. Nah, kita simak apa saja sih poin penting yang harus diperhatikan dalam mendisiplinkan dan menghukum anda dengan kasih sayang.

Perhatikan! Disiplin Bukanlah Kekerasan

Penanaman kedisiplinan terhadap anak-anak, sementara ini masih diidentikan dengan menerapkan perlakuan kekerasan terhadap anak. Setiap kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan anak, seringkali mengharuskan orangtua memberikan hukuman dan tindakan yang tegas yang berakhir dengan kekerasan. Padahal, tindakan kekerasan seperti menjewer, mencubit, menjambak sampai dengan mengurung anak dalam ruangan tertutup akan mengganggu perkembangan mental mereka yang terbawa hingga anak dewasa kelak.

Terganggunya mental dalam diri anak tidak dapat disembuhkan semudah dan secepat ketika anak mengalami luka gores atau lecet pada tubuhnya. Jika sakit fisik yang mereka derita membutuhkan waktu 1 sampai 2 bulan untuk sembuh, maka luka mental pada anak akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mereka dapat kembali dalam kedaan yang lebih baik, itupun kondisinya tidak akan kembali seperti sedia kala. Sebab gangguan mental akibat kekerasan biasanya akan berkaitan dengan memori pada anak yang mana hal ini akan senantiasa terkenang dan menghantui mereka jika memori tersebut lebih banyak bagian buruknya. Contohnya saja, sebagai orang dewasa kita mungkin masih ingat bagaimana kenangan buruk kita sewaktu masih kecil.

Berikan Contoh dan Jadilah Lingkungan yang Nyaman Untuk Anak-Anak

Sikap nakal dan perilaku kurang disiplin pada diri anak sering kali merupakan hasil dari sebuah proses peniruan yang mereka dapatkan dari lingkungan sekitarnya, termasuk lingkungan keluarga dimana sebagain besar waktu yang mereka habiskan adalah didalam rumah. Apabila contoh perilaku yang ditunjukan orangtua atau orang dewasa lainnya berupa sikap kekerasan, tindakan kejahatan atau bahkan berperilaku semaunya, maka secara tidak langsung hal ini yang akan membuat anak menirunya.

Sebaliknya, jika contoh yang ditunjukan orang dewasa pada anak-anak berupa perilaku positif dan kasih sayang, maka dampak psikologis terhadap anak adalah hal yang baik pula. Untuk itulah, sebisa mungkin jadilah contoh yang baik dan usahakan menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman untuk mereka. Hidup dengan dikelilingi orang-orang terkasih yang senantiasa menebarkan cinta, akan membuat anak merasa aman dan merasa terlindungi. Dengan begini, tidak ada alasan untuk anak bisa membangkang dan tidak mematuhi perintah orang yang mereka cintai.

Jalin Komunikasi yang Baik dengan Anak Untuk Hindari Kekerasan

Umumnya anak-anak dari mulai usia dua tahun sedikitnya mereka sudah mulai memahami perkataan dan pembicaraan yang disampaikan oranglain padanya. Sewaktu perilaku anak bandel dan sulit sekali disiplin, maka jangan terburu menghampiri anak dan memberikannya hukuman kekerasan dengan langsung memukul atau menjewernya.

Sebaliknya, hampiri anak dan peganglah pundaknya sambil berlutut untuk bisa meraihnya, lalu berikan pengertian pada merka bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang terpuji yang tidak boleh mereka ulangi. Selain itu sampaikan dengan halus dengan kata-kata atau bahasa yang mudah dipahami oleh si anak.

Ketika sikap dan perkataan anda halus, maka hal ini akan membuat si anak lebih tenang dan lebih siap mendengarkan dan mematuhi semua perkataan kita orangtuanya. Sebaliknya, tindakan kekerasan bukan hanya akan menyakiti anak, namun juga akan membuat mereka syok. Hal ini tentunya tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat anak menjadi disiplin seketika.

Mendisiplinkan anak memang merupakan pelajaran yang penting yang harus senantiasa ditanamkan saat anak masih berusia dini. Namun ini bukan berarti mengizinkan dan memperbolehkan anda untuk melakukan tindakan kekerasan pada praktek pengaplikasikan didikan kedisiplinan pada mereka.

Loading...

Follow us