data-ad-format="auto"

Kehamilan

Mengatasi Hiperemesis Gravidarum (Mual dan Muntah Kronis) saat Kehamilan

in Keluhan Kehamilan by Revina
Seringkali mual dan muntah menjadi tanda awal kehamilan bagi orang awam dikarenakan siklus menstruasi yang panjang sehingga sebagian ibu hamil baru menyadari setelah mengalami mual dan muntah. Mual dan muntah umum terjadi pada saat kehamilan dan beberapa diantaranya justru mengalami mual dan muntah yang sangat kronis yang… Baca Selengkapnya..
10162

Waspadai Diet Ekstrem Menyebabkan Wanita Sulit Hamil

Tubuh yang langsing menjadi idaman setiap wanita akan tetapi seringkali mengabaikan…
5911

Tips Kehamilan Ibu Hamil dan Janin Sehat

Selamat, bagi anda calon ibu yang tengah berbahagia merawat dan menunggu hari kelahiran…
Seputar Masa Kehamilan di Trimester Kedua
66733

Seputar Masa Kehamilan di Trimester Kedua

Memasuki usia kehamilan 4-6 bulan atau dikenal dengan istilah trimester kedua sangat…
Tanda tanda kehamilan bayi laki laki
116276

Tanda-Tanda Kehamilan Bayi Laki-Laki

Bagi ibu yang penasaran dan menduga-duga jenis kelamin bayi. Inilah yang seringkali…

Persalinan

Yang Unik

Tips Menangani Anak-Anak Agresif

Akan tetapi, semuanya solah berubah saat anak beranjak usia yang lebih besar. Dimulai dari usia 2 sampai 4 tahun, anak-anak sudah mulai bisa mengerti dan memiliki kemampuan untuk berpikir dan memiliki otonominya sendiri. Dimana diusia ini, si anak mulai menunjukan apa yang ia sukai dan tidak disukainya. Tak jarang, ketika orangtua memberikan arahan atau larangan pada keinginan si kecil yang mengarah pada sesuatu yang berbahaya, mereka aka mengamuk, marah dan bisa jadi tantrumnya meledak seketika.

menangani anak anak agresif

Tak sedikit pula, orangtua yang mengeluhkan betapa agresifnya anak-anak mereka. Perilaku yang ditunjukan anak-anak yang agresif, umumnya lebih extreme ditunjukan dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Anak yang agresif akan cenderung merebut, mengigit, berteriak dan bahkan menendang. Nah, jika sudah begini orangtua tentunya akan dibuat pusing dan frustasi menghadapi anak-anaknya.

Pada anak berusia 2 sampai 4 tahun, umumnya ke-agresifan ini terjadi. Dan bahkan parahnya, mereka seringkali menunjukan sikap agresifnya ini pada anak-anak dengan usia 1 atau 2 tahun dibawah mereka.

Anak-anak dengan perilaku demikian memang seringkali dianggap nakal, kejam dan bahkan mendapatkan predikat anak yang tidak terdidik. Hal inilah yang pada akhirnya sering kali membuat orangtua merasa canggung sekaligus malu pada orangtua lainnya. Keagresifan pada anak-anak bukanlah sesuatu hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Hal ini perlu segera dicari solusinya agar tidak terus-terusan terjadi. Sebab bila dibiarkan, maka anak-anak yang seperti ini akan dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak mampu untuk mengontrol emosi, bersikap semena-mena, menidas, arogan dan bahkan menyepelekan oranglain. Sikap ini tentunya akan terbawa sampai mereka tumbuh menjadi orang dewasa.

Pada anak-anak berusia 5 dan 6 tahun di usia sekolah, umumnya anak-anak memiliki pemahaman yang masih minim tentang penerimaan sosial dan moralitas. Pada usia ini, ego anak-anak masih begitu tinggi dan mereka belum memiliki kemampuan memaknai arti dan bagaimana mengontorl emosinya. Dengan demikianlah, si anak akan cenderung berperilaku agresif dan hal ini terjadi di luar kesadarannya. Maksudnya, emosi si anak yang meledak tiba-tiba akan mereka salurkan pada tindakan yang random, mereka tidak sadar bahawa hal tersebut akan menyakiti temannya, menyakiti gurunya atau bahkan menyakiti anda orangtuanya.

Untuk itu, penting sekali bagi orangtua untuk dapat mengubah dan mendisiplinkan anak-anak yang agresif dengan sedini mungkin agar perilaku ini bisa mereka redam. Akan tetapi, tentunya hal ini tidak akan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan hal mana hal ini tidak akan dapat diwujudkan dalam waktu satu hari.

Nah, berikut ini ada beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk menghadapi anak-anak yang agresif yang mana hal ini tentunya bersifat subjektif. Tergantung pada bagaimana orangtua melakukan pendekatan dan bagaimana penerimaan si anak. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk melakukan percobaan.

1. Cari Tahu Sebabnya

Setiap permasalahan yang dapat memicu amarah tentu selalu ada penyebabnya. Sebuah pepatah mengatakan bahwa tidak akan ada asap jika tidak ada api, begitupun pada anak-anak. Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun memiliki saat-saat atau masa dimana mereka tak suka diganggu, diusik atau dicampuri oleh oranglain.

Nah, ketika hal ini terjadi dan timbul penyebabnya dengan mereka diusik oleh oranglain, maka akan timbul amarah si anak dan perilaku agresif pada anak akan bisa muncul. Atau bisa juga, sebabnya ditimbulkan saat anak merasa begitu bersemagat dan mereka lepas kendali atau kurangnya kontrol perilaku dalam diri si anak.

2. Kenali Tempramen Buah Hati Anda

Setiap orang lahir dengan tempramen yang unik atau kepribadiannya masing-masing. Antara satu anak dengan anak lainnya tentu saja berbeda. Dengan demikian, ketika anak tetangga dibercandai hanya akan memberikan respon kesal yang sederhana, sementara anak anda akan langsung mengamuk dan menangis serta memberikan serangan yang berarti, maka inilah yang mengindikasikan bahwa tempramen setiap orang berbeda-beda.

Maka dari sini, orangtua perlu mengetahui dengan jelas tempramen anaknya, terutama anak-anak yang agresif. Dengan mengetahui hal ini, maka akan semakin mudah untuk anda bisa mengatasi dan mengontrol emosi dan perasaan si anak dengan lebih baik.

3. Hindari Memberikan Hukuman Fisik

Menghadapi anak-anak yang agresif dengan perilaku yang dianggap "kejam", seperti memukul, memberikan serangan tiba-tiba atau bahkan sampai menyakiti, memang seringkali membuat kita kesal dan tak jarang amarah pun seringkali diuji disini.

Akan tetapi, sebagai orangtua yang bijak, kita dituntut untuk bisa lebih sabar dan berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai perilaku anda yang mudah memberikan hukuman fisik pada anak, bisa mereka tiru yang mana akan membuat perilakunya semakin buruk. Manakala anda sering memberikan hukuman fisik seperti menjewer, memukul, mencubit dan lain sebagainya, maka akan semakin mudah untuk anak meniru hukuman fisik tersebut pada oranglain.

4. Berikan Penghargaan Saat Si Anak Bisa Mengontrol Emosinya

Terkadang butuh sebuah "motivasi" atau alasan untuk anak agar mereka bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh orangtuanya, termasuk bersikap baik. Mungkin beberapa diantara anda menganggap bahwa dengan melakukan hal ini merupakan bentuk "suap" pada anak. Akan tetapi, sebaiknya jangan berpikir demikian. Selain itu, memberikan penghargaan disini bukan berarti anda memberikan barang-barang mewah pada anak sebagai imbalan atas perilaku mereka.

Bentuk penghargaan yang diberikan bisalah bermacam-macam, betuk paling sederhana dari penghargaan ini bisa bernada pujian, kasih sayang lebih dan lain sebagainya.

5. Segera Konsultasikan

Jika anda merasa telah melakukan segala cara untuk bisa meredam sikap si buah hati dari keagresifannya, namun sikapnya masih belum bisa berubah. Maka, sebaiknya anda membawa si kecil dan mengkonsultasikan kondisinya pada dokter.

Hal ini tentunya agar orangtua bisa mendapatkan solusi yang tebat dan lebih baik untuk mengatasi sikap si buah hati. Mengatasi lebih dini tentu akan lebih baik untuk buah hati anda sebelum sikap ini menjalar lebih parah dan tertanam sebagai sebuah kebiasaan.

Menghadapi anak-anak yang agresif memang kerapkali membingungkan dan tak jarang membuat orangtua frustasi. Untuk itu, beberapa poin diatas diharapkan mampu membantu ibu dalam menghadapi buah hatinya yang memiliki perilaku agresif.

Loading...

Follow us