Tekanan Darah Tinggi Pada Kehamilan, Gejala, Penyebab dan Penanganan

2/5 (1)

Kehamilan memang dapat membawa berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap kehidupan seorang wanita. Selain itu, tidak semua wanita dapat menjalani kehamilan dengan lancar dan tanpa kendala. Beberapa gangguan atau keluhan kehamilan adalah hal yang wajar dialami oleh seorang wanita pada masa kehamilan. Dari serangkaian keluhan ini, beberapa wanita mungkin mengalami gangguan yang cukup serius dan cukup mengkhawatirkan, salah satunya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi yang terjadi pada masa kehamilan.

Tekanan darah tinggi pada masa kehamilan sebenarnya merupakan sebuah kondisi yang umum terjadi dengan ibu hamil. Sekitar 10 persen ibu hamil aka mengalami kondisi yang sama pada masa kehamilannya. Hanya saja tentunya dengan penanganan yang baik, tekanan darah tinggi tidak akan berkembang atau membahayakan kesehatan dan pada umumnya kondisi ini akan dapat kembali normal dan menghilang setelah usainya proses persalinan.

Lalu seperti apa sebenarnya pengaruh tekanan darah tinggi pada masa kehamilan terhadap kandungan dan kesehatan ibu hamil serta bayi yang ada didalamnya? Mari simak beberapa penjelasan kali ini.

Tekanan Darah Tinggi Kehamilan (Hipertensi Gestasional)

Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang terjadi pada masa kehamilan. Pada umumnya, kondisi ini akan dapat muncul setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu, dan setelah melahirkan kondisi ini akan dapat kembali normal. Selain itu, hipertensi gestasional pun biasanya dialami oleh ibu yang sebelum hamil tidak menderita tekanan darah tinggi.

Ibu hamil yang sudah menderita tekanan darah tinggi pada angka 140/190 mmHg seelum hamil atau sebelum usia kehamilannya 20 minggu dikategorikan sebagai kondisi tekanan darah tinggi kronis. Biasanya kondisi ini tidak dapat menghilang dengan cepat meski ibu sudah selesai menjalani proses persalinan. Adapun beberapa kondisi yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami hipertensi gestasional diantaranya adalah:

  • Apabila anda pernah mengalami tekanan darah yang tinggi sebelum hamil atau pada saat kehamilan yang pertama atau yang sebelumnya
  • Hamil anak pertama
  • Kehamilan anak kembar
  • Usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun pada saat tengah mengandung
  • Ibu hamil memiliki penyakit ginjal atau diabetes

Kondisi tekanan darah tinggi gestasional perlu untuk segera ditangani dengan baik sebab bila tidak, kondisi ini akan berkembang menjadi preeklampsia yang disertai dengan adanya protein yang terdapat pada urin. Selain itu, kondisi tekanan darah tinggi yang dibiarkan begitu saja akan mungkin berkembang menjadi kondisi yang lebih serius yakni eklampsia. Nah, untuk mengenal lebih dalam apa itu preeklampsia dan eklampsia maka mari kita bahas dibawah ini.

Apa Itu Preeklampsia?

Tekanan darah tinggi gestasional atau tekanan darah tinggi yang terjadi pada masa kehamilan yang tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat maka akan berkembang menjadi kondisi preeklampsia. Preeklampsia atau keracunan kehamilan adalah sebuah kondisi dimana terdapat gangguan tekanan darah serius yang dapat mengganggu kerja organ didalam tubuh. Biasanya kondisi ini menyerang pada usia kehamilan 20 minggu dan akan dapat menghilang pada saat selesai proses persalinan bayi.

Kondisi preeklampsia dapat ditandai dengan tekanan darah yang tinggi dan kondisi terdapatnya protein pada urin (proteinuria). Selain itu, kondisi ini pun dapat ditandai dengan gejala lainnya, seperti:

  • Pembengkakan pada bagian wajah atau tangan
  • Sakit kepala yang sulit dihilangkan
  • Kesulitan bernafas dengan baik
  • Mual dan muntah yang tak tertahankan
  • Kenaikan berat badan yang terjadi dengan tiba-tiba
  • Terganggunya organ penglihatan
  • Nyeri pada bagian perut atas dan pada bagian bahu

Ada beberpa kondisi yang dapat meningkatkan seorang ibu hamil lebih beresiko terkena dengan preeklampisa, diantaranya adalah:

  • Jika pada saat kehamilan suami anda mengalami preeklampsia maka besar kemungkinan ibu hamil akan mengalami preeklampsia
  • Jika pada kehamilan sebelumnya ibu mengalmai preeklampsia maka besar pula kemungkinan anda terkena dengan kondisi yang sama pada kehamilan saat ini.

Hingga sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti yang membuat seorang ibu hamil dapat mengembangkan kondisi preeklampsia. Akan tetapi, preeklampsia nampaknya disebabkan oleh gagguan yang terjadi pada pertumbuhan plasenta sehingga aliran darah pada bagian ini tidak dapat berjalan dengan baik dan semestinya.

Perlu diingat sekali lagi bahwa kondisi preeklampsia akan dapat membahayakan kondisi anda dan janin yang anda kandung. Aliran darah dari ibu dan janin pun akan dapat terhambat dan mengalami gangguan sehinga kondisi ini dapat memicu bayi dalam kandungan sulit untuk mendapatkan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan untuk menunjang perkembangannya dengan baik.

Selain itu, preeklampisa pun dapat berpengaruh terhadap kesehatan organ hati, paru-paru dan ginjal. Bagian otak dan mata ibu hamil pun akan dapat beresiko dari pengaruh preeklampsia terhadap kehamilan. Sementara itu, bila kondisi ini tidak segera ditangani maka preeklampsia akan dapat berkembang menjadi eklampsia.

Mengenali Eklampsia

Diperkirakan terdapat 1 dari 200 kasus preeklampisa yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius yang dinamakan dengan eklampsia. Preeklampsia yang semakin buruk akan dapat berpengaruh terhadap kesehatan otak ibu hamil dan dapat menyebabkan kejang dan koma yang berbahaya. Jika kondisi ini terjadi maka inilah yang disebut dengan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang berubah menjadi eklampsia.

Dampak dari eklampsia tidak dapat dianggap remeh sebab kondisi ini akan dapat berdampak fatal dan serius, baik untuk kesehatan ibu maupun janin yang anda kandungan. Preeklampsia dan eklampsia dapat menyebabkan terganggunya fungsi plasenta yang kemudian kondisi ini akan dapat mengakibatkan bayi lahir dnegan berat badan yang rendah. Selain itu beberapa masalah atau resiko berbahaya lain akan mungkin terjadi dengan si kecil seperti halnya masalah kesehatan pada bayi bahkan kondisi terburuk yang jarang terjadi dari hal ini adalah kematian bayi atau keguguran.

Menangani Tekanan darah tinggi dengan Benar

Jika anda mengalami atau terkena dengan tekanan darah tinggi pada saat kehamilan, penting sekali untuk anda senantiasa menjaga kesehatan dengan baik dan benar. Rutin memeriksakan kesehatan diri ke dokter atau dokter kandungan adalah hal penting yang perlu dilakukan untuk memastikan agar kondisi kesehatan anda tetap terjaga.

Sementara itu, ketika anda menderita tekanan darah tinggi maka dokter akan dapat meresepkan penggunaan obat guna menurunkan tekanan darah. Anda tidak perlu khawatir sebab obat yang diberikan tidak akan memberikan pengaruh buruk terhadap janin. Hal ini dikarenakan ada beberapa obat penurun tekanan darah yang memang aman dikonsumsi oleh ibu hamil. 

Selain itu, penting pula untuk anda selalu mengikuti petunjuk penggunaan dan dosiss minimum yang dianjurkan oleh dokter. Hindari pula penggunaan obat-obatan herbal yang diberikan menurut kepercayaan sebab biasanya jenis obat ini belumlah jelas khasiatnya. Yang dikhawatirkan dari penggunaan obat ini malah akan membahayakan kesehatan anda dan si janin didalam kandungan.

Demikianlah beberapa hal yang dapat disampaikan dari pembahasan kali ini. Hal yang terpenting yang dapat dilakukan dalam kondisi ini adalah dengan selalu memeriksa kondisi kesehatan anda ke dokter kandungan untuk berjaga-jaga bila kondisi seperti ini terjadi dengan anda.

Apakah informasi ini bermanfaat?

1 2 3 4 5

Leave a Reply