Sudah Tepatkan Pola Mendidik Anak Kakak yang Harus Selalu Mengalah?

1/5 (1)

Memiliki dua anak atau lebih yang masih kecil dalam sebuah rumah seringkali menjadi hal yang menyenangkan.

Selain rumah menjadi begitu hangat, kehadiran dua malaikat kecil ini seringkali menjadi kebahagiaan dan pelipur lara yang begitu mujarab. Aplagai saat mereka terlihat kompak sewaktu melakukan segala halnya bersama dan mau berbagi hal bersama-sama.

Akan tetapi, semua bayangan indah ini seketika menghilang dan berubah menjadi kegaduhan, ketika si kakak yang masih berusia 7 taun dan si adik yang berusia 4 tahun berkelahi dan berebut sesuatu. Mulai dari suasana hingar bingar, tawa, tangis atau bahkan suara teriakan yang bercampur aduk dengan suara mainan yang terus berbunyi terdengar disetiap pojok ruangan. Rumah tak ubahnya seperti kapal pecah, semua peralatan dan perabotan berserakan dan terporak-poranda dimana-mana. Ketika sudah begini, meskipun ibu sudah memperingati untuk menghentikan perkelahian tersebut, tetap saja rasanya suara peringatan ibu kalah kencang dari teriakan dan histerisnya suara anak-anak.

tepatkah pola didikan kakak mengalah pada adik

Meskipun keduaanya sama-sama anak perempuan, namun tetap saja ketika keduanya sudah terlibat dalam pertengkaran, suara mereka begitt menggelegar dan terdengar hingga keluar rumah, tak ubahnya seperti teriakan anak laki-laki. Ketika ibu sudah dihadapkan pada permasalahan seperti ini, maka rasa pusing dan frustasi tak lagi bisa dihindari. Pada akhirnya ibu akan meminta si kakak untuk mengalah pada adiknya dengan alasan si adik masih begitu kecil dan sudah menjadi tugas si kakak yang lebih besar agar bisa mengalah dengan lapang dada.

Awalnya, semua hal berjalan dengan lancar ketika si kakak yang saat ini berusia 7 tahun lahir kedunia. Bahkan ketika kehamilan kedua si ibu sudah memperkenalkan si kakak pada calon adik bayinya. Dan rupanya, si kakak terlihat begitu antusias menunggu kelahiran sang adik. Ia bahkan terlihat begitu senang sewaktu diminta bantuan untuk menemani ibu pergi ke bidan untuk periksa kehamilan.

Akan tetapi, semuanya berubah ketika si adik lahir kedunia. Kecemburuan mulai ditunjukan dan diperlihatkan si kecil. Entah karena pikirannya masih terlalu kecil dan belum memahami bahwa si adik bayi membutuhkan perhatian yang lebih besar atau mungkin karena dipengaruhi oleh faktor perlakukan ibu yang terlalu terfokus pada si adik. Hal ini membuat si kakak seringkali terlihat kesal, ketika si ibu mulai sibuk dengan si adik. Sehingga ketika si adik mulai betumbuh besar dan mulai bermain bersama dengan si kakak, selalu ada saja pertengkaran dan perselisihan. Masalahnya pun tidak jauh dari berebut barang atau dikarenakan salah satu diantara mereka cemburu dengan barang milik oranglain.

Alhasil, untuk bisa mendamaikan mereka dan mengganggap hal ini sebagai pola didikan, ibu seringkali meminta si kakak untuk bisa mengalah pada si adik kecil. Disadari atau tidak, hal ini sering kita lakukan pada anak-anak terutama pada si kakak. Namun, tahukah ibu ternyata pola mendidik seperti ini akan berdampak pada perkembangan kepribadian si anak dimasa selanjutnya.

Selain memberikan dampak positif, rupanya sikap yang mengharuskan si kakak untuk selalu mengalah pada adiknya juga memiliki dampak yang buruk.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah buku parenting dengan judul “Nyebur ke Dunia Anak”, seorang psikolog menjelaskan bahwa mendidik anak agar selalu bersikap mengalah tidaklah baik bagi perkembangan si anak itu sendiri. Baik perkembangan si kakak maupun perkembangan si adik.

Si kakak yang selalu mengalah pada adiknya dalam segala hal, terutama ketika hal itu tidak datang dari dalam dirinya, akan cenderung membentuk pribadi yang kurang memiliki rasa percaya diri dan sikap optimisme. Bukan hanya itu, hal ini pun akan membuat si kakak seringkali dihinggapi rasa ragu dan takut untuk mengecewakan orang lain.

Selain itu, rasanya kurang bijak jika setiap kali si kakak dan si adik bertengkar, ibu terus-terusan meminta si kakak untuk mengalah tanpa si kakak mengetahui alasan mengapa ia harus melakukan hal itu pada adiknya. Sewaktu-waktu mungkin si kakak perlu untuk mengalah pada adiknya, namun disamping itu pun ia harus mengerti alasan mengapa dirinya harus mengalah. Ketika ia mempertahankan miliknya, ia pun harus mengerti mengapa ia bertahan. Ingat kembali bahwa rumah adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk dapat menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut.

Poin terpenting dalam mendidik anak dikeluarga, bukanlah seberapa berhasil anda bisa menciptakan ketenangan dan kedamaian antara anak-anak, tanpa memahami proses yang anda tempuh didalamnya. Dalam hal mendidik anak, orangtua perlu menciptakan kondisi yang paling nyaman untuk si anak itu sendiri. Yaitu, bila anak mampu belajar kapan ia harus mengalah dan kapan ia bisa bersih keras mempertahankan sesuatu. Dengan begini, anak-anak akan paham simulasi memberi dan menerima yang diharapkan kebiasaan ini bisa terbawa hingga meraka dewasa. Yang mana sebaiknya proses ini dijalani dalam lingkungan keluarga.

Dari sinilah peran orangtua akan menjadi sedemikian penting untuk mendampingi anak dalam proses tumbuh kembangnya. Dalam hal ini, orangtua, terutama ibu harus mampu menjadi penengah ketika terjadi keributan atau masalah diantara anak-anaknya.

Lantas bagaimana sikap yang seharusnya ditunjukan ibu ketika menghadapi anak-anak yang bertengkar dan saling berebut? Mari kita simak berikut ini.

Sikap Orangtua Menghadapi Perselisihan Anak-Anak

Alihkan Perhatian Si Adik

Ketika si kakak bersih keras mempertahankan sesuatu dan anda melihat jika barang tersebut adalah miliknya. Maka, sebagai orangtua anda tentunya harus bisa  berlaku bijak. Ketika anda meminta si kakak untuk merelakan barang miliknya untuk si adik, hal ini akan mungkin membuat si kakak menolak dan bahkan protes.

Nah, ketika masalah seperti ini anda hadapi, maka sikap yang bisa anda berikan pada anak-anak adalah dengan membawa si adik dan mengalihkan perhatiannya agar ia tak terus-terusan menginginkan barang si kakak. Misalkan ketika si adik ingin merebut pensil milik si kakak dan mereka berdua terjebak pertengkaran, maka ambil si adik dan ajaklah ia untuk membantu ibu didapur atau alihkan mereka pada sesuatu yang membuat si adik tertarik. Dengan begini, si kakak akan tetap memiliki barangnya dan si adik pun asik bermain dengan permainan baru yang ibu berikan sehingga pertengkaran bisa dihindarkan.

Buat Si Kakak Memaklumi

Ketika si kakak merasa cemburu dengan perhatian ibu yang cenderung lebih besar pada si adik. Maka, buatlah si kakak mengerti dan memaklumi hal tersebut. Buat ia maklum bahwa sebelum si adik lahir, kasih sayang dan perlakuan yang sama yang didapat si adik sudah lebih dulu didapatkan oleh si kakak dan kini tiba saatnya giliran si adik. Sementara itu, buat mereka mengerti bahwa usia si adik yang masih begitu kecil membuat mereka belum mampu melakukan banyak hal sendiri.

Berikan Pemahaman Bahwa Mereka Berdua Adalah Saudara yang Harus Saling Menjaga

Ketika adik dan kakak terus-terusan bertengkar dan anda sudah tidak tahu harus melakukan apa. Maka, beritahu pada kedua buah hati anda bahwa mereka adalah saudara sedarah, sudah seharusnya kakak dan adik saling menjaga, membantu dan memberi. Jika anda merasa anak sudah cukup paham menangkap nasihat anda, maka beritahukan pula pada mereka bahwa dimasa depan nanti ketika anda tidak lagi bersama dengan mereka, maka sudah menjadi kewajiban mereka untuk saling memberi dan membantu satu sama lainnya. Usahakan buat anak-anak tersentuh dan mengerti bahwa mereka akan saling membutuhkan.

Dalam hal mendidik anak, pertengkaran dan perselisihan anak-anak sudahlah bukah barang tentu dan tidak mudah memang menghadapi dan mengatasi anak-anak yang demikan. Untuk itulah, orangtua harus dapat mengatasi kecemburuan pada anak-anak, yakni dengan mengarahkan mereka agar merasa bangga dan nyaman dengan apapun yang mereka miliki dan apapun status mereka dalam keluarga. Semoga beberapa cara diatas bisa memberikan pengetahuan dan wawasan baru untuk orangtua dalam menjaga anak-anaknya.

Apakah informasi ini bermanfaat?

1 2 3 4 5

Leave a Reply