Mengenal Penyakit Scabies (Kudis/Gudik), Penyebab, Gejala dan Penanganannya


Diagnosis Penyakit Scabies

Proses diagnosis utama untuk penyakit kulit yang satu ini adalah dengan memeriksakan gejala-gejala yang dialami beserta dengan ruam yang muncul dibagian kulit sebab adanya sarang tungau yang muncul di kulit si penderita. Bila dibutuhkan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan uji tinta serta melakukan uji biopsi pada bagian kulit.

Uji tinta ini dilakukan guna mendeteksi atau mengidentifikasi keberadaan sarang tungau yang sudah masuk kedalam jaringan kulit. Adapun prosedur yang dilakukan dalam pemeriksaan uji tinta ini dilakukan dengan mengoleskan tinta pada ruam yang gatal, kemudian dibasuh dengan menggunakan kapas beralkohol. Apabila terdapat sarang tungau, maka akan terdapat sisa-sisa tinta dan terbentuk garis-garis kecil.

Bukan hanya itu, diagnosis lain yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan mengambil sedikit jaringan kulit untuk diperiksa di laboratorium. Proses ini disebut dengan biopsi kulit.

Setelah pasien dinyatakan positif terkena atau mengidap penyakit kudis, umumnya dokter akan memberikan pengobatan guna mengatasinya, yakni dengan memberikan losion atau krim. Obat-obatan jenis oles ini mengandung insektisida guna membunuh tungau penyebab kudis.

Adapun cara mengaplikasikan jenis obat-obatan tersebut dapat dilakukan dengan mengoleskannya pada bagian ruam di kuit serta daerah sekitarnya yang berada pada bagian leher ke bawah, lalu didiamkan selama sekurang-kurangnya 8 jam.

Ada beberapa contoh obat yang dapat digunakan untuk menyembuhka penyakit kudis yang dialami seperti misalkan lindane, malathion dan juga premethrin yang mana obat-obatan ini harus didapatkan dengan resep dokter agar dosisnya jelas sehingga dapat bekerja dengan efektif dalam mengobati masalah kulit yang anda alami.

Rasa gatal yang dialami bahkan masih dapat berlangsung selama beberapa minggu setelah penderita menyelesaikan pengobatan akibat adanya reaksi alergi terhadap tungau-tungau yang mati. Ketika kondisi ini anda alami, maka sebaiknya kompres dengan menggunakan air dingin dan berikan losion kalamin yang akan membantu anda mengurangi rasa gatal yang diderita.

Terutama untuk mereka yang mengalami gangguan pada sistem kekebalan tubuhnya serta mengidap kudis keropeng, umumnya dokter terkadang akan juga memberikan obat telanivermectin. Apabila rasa gatal yang menyerang tidak kunjung membaik selama sekitar 2 minggu setelah anda menjalani pengobatan yang diberikan oleh dokter, atau bahkan kondisi ruam malah justru bertambah parah, maka sebaiknya anda disarankan untuk kembali menghubungi dokter.

Komplikasi Impetigo dan Kudis Keropeng

Kondisi kudis yang dialami digaruk, maka permukaan kulit tempat ruam kudis akan mengalami luka sehingga akan lebih rentan untuk si pendeirta mengalami infeksi bakteri, seperti misalkan impetigo. Infeksi kulit ini biasaya disebabkan oleh adanya paparan bakteri yang disebut dengan staphylococci dan streptococci.

Komplikasi berupa jenis kudis dengan tingkatan yang lebih parah, seringkali disebut dengan kudis keropeng, juga bisa terjadi. Ruam kudis akan berubah menjadi bersisik, membentuk koreng dengan ukuran luka yang lebih besar. Komplikasi ini umumnya dapat muncul sebab dari jumlah tungau yang sudah lebih banyak. Hanya saja, ruam ini tidak akan menimbulkan rasa gatal.

Ada beberapa kelompok orang yang lebih beresiko terhadap serangan komplikasi ini, yakni ibu hamil, manula serta orang-orang yang sedang mengalami sistem kekebalan tubuh yang menurun. Yang mana ini artinya seorang penderita HIV, orang yang menjalani kemoterapi atau menggunakan obat steroid akan lebih beresiko terhadap kondisi ini.

Leave a Reply