data-ad-format="auto"

Ketahui Tips Penting Menyalurkan Kemarahan Anak

Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anakpun mengalami kemarahan dan emosi. Bahkan hal ini sudah terjadi sewaktu anak-anak masih bayi. Tentu saja pada saat itu, kemarahan bayi ditunjukan dalam bentuk menangis atau rewel. Sedangkan pada usia batita, ekspresi kemarahan ini umumnya diungkapakan dengan gerak atau perilaku seperti menedang, membanting, memukul dan lain sebagainya. Menginjak usia sekolah, ungkapan emosi kemarahan anak selain dicetuskan dalam bentuk perilaku yang buruk juga disertai dengan nada-nada yang tinggi.

Dan pada usia sekolahlah stereotip gender mulai mempengaruhi ekspresi emosi anak. Ketika anak berada di lingkungan sekolah, misalkan anak laki-laki dituntut untuk tidak menangis atau menunjukan rasa takut. Sementara anak perempuan akan diprotes jika melakukan hal-hal brutal ketika amarahnya muncul. Emosi atau amarah yang muncul pada anak biasanya dipicu karena anak merasa kalah atau digagalkan, banyak anak yang bereaksi amat keras dengan membanting atau merusak benda yang ada disekitarnya.

Hal ini terjadi karena mereka belum bisa mengatasi emosi negatif yang begitu kuat dengan cara yang benar, untuk itulah mereka mereka akan cenderung memunculkannya dengan mengganggu ataupun mencari-cari perhatian orantuanya serta berperilaku dengan cara yang tidak dapat diterima secara sosial. Hal seperti ini tentunya tidak dapat dibiarkan berlalu seperti itu terus-menerus. Karena anak, bisa saja menjadiakn perilaku buruk ini menjadi sebuah kebiasaan ketika amarahnya muncul. Lantas bagaimana cara yang baik yang bisa dilakukan oleh para orangtua untuk menyalurkan kemarahan anak?

Parang orangtua mungkin akan kesulitan mengantisipasi dna menyadari bahwa hal yang mereka anggap sepele bisa justru memicu kemarahan anak dan ketika seorang anak marah mereka akan mengungkapkan hal itu sehingga kemarahannya dirasakan oleh orang lain disekitarnya. Ketika hal ini terjadi, anda mungkin terkejut, namun anda bisa membantu mereka menyalurkan amarahnya dengan melakukan hal-hal berikut :

Baca Juga: Repot Bayi Sering Ngompol? Gunakan Sprei Waterproof, Atasi Ompol dan Bau Pesing

1.    AjakIah Untuk Bermain

Perilaku anak ketika marah terkadang sulit untuk dikendalikan. Berlari-lari, mengganggu orang lain bahkan mencari perhatian orangtua adalah cara yang kerap mereka lakukan untuk menunjukan kemarahannya. Namun ketika orangtua memahami dan mampu memalingkan amarah anak pada sesuatu yang ia senangi akan bermanfaat untuk menyalurkan amarahnya. Ketika perilaku buruk mulai dinampakan, sebaiknya jangan memarahinya didepan umum, hal ini malah akan membuatnya beraksi lebih aktif. Ajaklah ia untuk bermain dengan mainan kesukaannya atau hal yang baru saja dijumpainya. Dengan begitu perhatian anak akan teralihkan dan perlahan amarahnya tersebut akan teredam dan terlupakan.

2.    Izinkan Anak Menampilkan Ekspresi Kemarahan Dengan Baik

Bila anak marah, izinkan mereka untuk mengungkapkan emosi yang tampil didirinya dengan baik, misalkan menampilkan wajah marah sambil berkata 'aku marah'. Biarkan mereka berlaku demikian, hal ini lebih baik daripada membiarkan anak menyealurkan kemarahannya dengan berteriak apalagi memukul-mukul orang yang menjadi sumber kemarahannya.

3.    Mintalah Anak Mengungkapkan Alasan yang Membuatnya Marah dan Berilah Alternatif

Terkadang orangtua tidak menyadari sebenarnya hal apa yang membuat anaknya marah. Tanpa mereka sadari hal yang dianggap sepele bisa memicu kemarahan anak. Seperti salah memilihkan kaus kaki dengan warna kesukaannya atau lupa menjemputnya disekolah. Ketika hal ini terjadi biasanya anak akan tiba-tiba marah dan cemberut. Untuk itu, mintalah anak untuk mengungkapkan apa yang membuatnya kesal, ketika anak berhasil mengungapkan alasannya, tindakan selanjutnya yang bisa anda lakukan adalah minta maaf dan memberikannya alternatif lain dengan berjanji membelikan kaus kaki dnegan warna kesukaannya.

4.    Ajaklah Anak Melakukan Kegiatan Fisik yang Disenanginya

Ajaklah anak bermain bola, berenang, bersepeda dan melakukan kegiatan lain yang ia senangi. Hal ini sebagai media pelampiasan ketika emosinya muncul. Hanya saja, jangan pernah biarkan anak menyalurkan emosinya sendirian, salah-salah ia bisa melakukannya secara bertubi-tubi seperti mengayuh sepeda sekencang-kencangnya yang membuatnya terjatuh. Dengan demikian untuk menjaga keselamatannya, tetap selalu dampingi anak

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan para orangtua untuk menyalurkan emosi dan kemarahan anak. Ketika anak marah, tidak dianjurkan untuk mengajak anak melakukan kegiatan pasif seperti menonton televisi, membaca dan lain sebagainya. Karena hal ini hanya akan membuat mereka menjadi uring-uringan tak jelas. Selain itu, membiarkan anak dalam keadaan emosi dan tidak menghiraukannya bisa menumbuhkan rasa dendam pada anak. Untuk itu, salurkan emosi anak ada kegiatan positif adalah cara yang cerdas yang bisa dilakukan para orangtua.

Loading...

Follow us