Karena Menyusui Bayinya, Ibu Ini Dikira Teroris Oleh Polisi Setempat

Ditengah proses menyusui, tiba-tiba seorang manajer perempuan datang dan menyuruh pasangan suami istri tersebut untuk segera pergi, karena menurutnya kehadiran Tom dan Rosaline mengganggu anggota klub lainnya. “Wanita itu meminta kami segera pergi, karena kami dianggap mengganggu,” ujar Tom yang seorang diplomat Belgia itu. Saat diusir oleh manajer, Roseline hanya mengatakan bahwa ia butuh beberapa menit untuk menyusui bayinya. Namun sang manajer tetap keukeuh memintanya berhenti menyusui dan segera melanjutkannya dikamar mandi. Permintaan tersebut sontak membuat Rosaline geram. “Anda tidak akan meminta seseorang makan ditoilet bukan? Jadi kenapa kamu meminta seorang bayi makan siang disana? pungkas Tom kepada sang Manager guna membela sang istri.

Ditengah perdebatan itu, tiba-tiba polisi mendatangi mereka. Seorang detektif bernama Scott Harding lantas berteriak dan meminta untuk menutup pintu. Dan dua orang lain yang sedang menikmati makan diteras diminta meninggalkan tempat tersebut. Mereka diperlakukan seolah-olah orang yang berbahaya. “Petugas itu datang bak seorang koboi. Dengan satu tangan memegang senjata dan tangan lainnya memegangi setrum,”kenang Tom. Petugas tersebut lantas mengatakan bahwa mereka melakukan pelanggaran. Menurut polisi, beberapa orang yang ada di klub tersebut juga beranggapan sama dengan dirinya yakni, menganggap Tom dan Roseline adalah teroris karena tas backpack hitam yang dibawa keduanya.

Roseline yang saat itu panik sampai hampir menangis lantas bertanya pada polisi apakah memang teroris akan menyusui bayi di tengah tugasnya. Polisi kemudian menjawab “kejadian serupa juga terjadi di Srilanka, bahwa bayi kerap dimanfaatkan untuk kegiatan terorisme”. Petugas, batu memelankan nada bicaranya, saat Tom mengungkapkan identitasnya bahwa ia adalah seorang diplomat dari Belgia. Sang polisi lantas merasa begitu malu karena salah mengira, mereka meminta Tom dan istrinya untuk memaklumi hal tersebut, karena belakangan ini klub tersebut dilanda kekhawatiran akan ancaman terorisme yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pasangan tersebut lantas diantar hingga menuju pintu belakang dan petugas merasa menyesal atas aksinya tersebut.

Atas tindakan kurang menyenangkan tersebut. Tom mengirimkan pesan online pada pihak Metropolis Country Club. Ia menuntut permintaan maaf dari pihak klub yang telah memperlakukannya bak seorang teroris. Sampai saat ini pihak klub tersebut masih belum bisa memberikan komentar. Sedangkan petugas menganggap kalau insiden tersebut hanyalah sebuah kesalahpahaman.

Apakah informasi ini bermanfaat?

1 2 3 4 5

Leave a Reply