Diary Campak

Ahad, 6 nov 2011 23:21 @meja setrika

Entah  bagaimana bermulanya, yang aku ingat adalah jumta sore itu (4/11) aku harus ke dokter. Tak sabar melihat perkembangan telur itu. Cuaca memang lebih dingin karena pancaroba ini. Tapi aku tak surut langkah, hanya berbekal mengencangkan jaket. Lapar, rasa lain yang menghampiri. Terpaksa singgah membeli tahu sumedang untuk mengganjal perut, dan sebagai syarat untuk minum vitamin dari dokter sejak senin sebelumnya.

Sudah beberapa pekan memang, nafsu makan itu berkurang drastis. Makan hanya sebagau kewajiban, alias harus makan. Bukan lagi karena ingin makan. Sepeerti selalu tak punya pilihan menghadapi yang satu ini. Terasa kebal lidah. Memang sudah 2-3 pekan ini tidak masak. Seperti dikosan dulu, mungkin ini syndrm masakan luar. Memang masakan sendiri itu lebih menggugah selera.

Dengan berbagai pendukung dan pemicu, jadilah jumat malam itu panas. Seperti biasanya berusaha ditahan tanpa obat. Keesokan pagi kian tinggi panas itu. Aku, hanya kuat menahannya hingga zhuhur. Setelah itu aku menyerah untuk menelan parasetamol. Keinginan yang besar untuk punya baby membuatku lebih enggan  meminum obat. Dan kali ini aku benar2 menyerah... setelah minum parasetamol, panas berangsur turun. Layaknya mentara yang juga mulai luruh dari singgasananya, menuju barat. Sore itu sudah mampu mengangkat kepala. Badanku tak lagi hangat, hanya dikesua pipiku... kelopak mata yang masih sedikit hangat, juga dari hembusan nafasku. 

Baca Juga: Panduan Lengkap Kehamilan dan Persalinan

Namun, lagi2 saat menyentuh air untuk berwudhu... tubuhku kontan terasa dingin. Seperti tersengat listrik, menggigil. Malam itu, tubuhku mulai terasa tak nyaman lagi. Niat semula setelah sholat isya akan mulai menyentuh cucian piring pun kuurungkan. Tak sanggup rasanya menyentuh air yang bagai sengatan listrik. Sendiri...

Aku pun naik ke atas, suamiku belum juga datang. Sementara kening dan wajahku kian memanas. Tubuhku telah lama terbungkus selimut. Setengah sebelas lewat, swamiku datang. Aku pun minum parasetamol lagi. 38,1 derajat. Nyatanya, kian melangsur waktu menuju pagi... aku merasa kian panas. Terpaksa, tahun ini tak sholat ied adha. Pagi saat menuju sarapan ke rumah depan... ternyata wajahku sangat merah, begitu kata orang2 yang melihatku. Kukira tadinya mungkin karena wajahku panas, tentu saja merah. Tapi, bukan itu penyebabnya... campak! Sore tadi dikuatkan oleh bidan, dengan melihat bintik merah diseluruh tubuhku.

Baru kali ini aku kena campak! Pantas saja aku tak tahan dengan panasnya hingga menyerah pada parasetamol, dan itu pun  tidak cukup. Jadilah aku mendapat 5 jenis resep obat. Menyedihkan. Karen a harus menelan obat. Terutama karena aku khawatir pengaruhnya terhadap program baby ini...

Banyak sekali hal yang menari-nari di dalam kepalaku. Hingga selarut ini belum bisa tidur. Tentu faktor lain karena hampir seharian ini waktuku digunakan untuk tidur. Rindu dengan suasana baru.

Lagu kekasoh sejati dai Monita, selalu mengingatkanku pada rumah itu. Rumah sederhana di cigombong saat kami PPL dulu. Rumah bercat putih, dengan dapur, 2 kamar mandi (satu dekat dapur dan satu dekat ruang tamu), 2 kamar tidur, dan sebuah ruang tamu sekaligus ruang keluarga yang mungil. Rumah itu tidak mewah, hanya saja ia tampak cantin dengan taman kecil di depan rumah. Ada banyak tanaman hias, bahkan ada tanaman bunga. Dan aku menambahnya dengan pohon strawberry yang cepat sekali berbuah. Ada garasi kecil, kurasa muat maksimal untuk sebuah mobil. Dan masih ada sedikit tanah di bagian belakang (dekat dapur), bisa ditanami pohon cabe dan lain-lain.

Hal pendukung dari rumah itu adalah udaranya yang sejuk. Seperti selalu menemukan kesegaran baru. Tak bisa dipungkiri, kesan yang mendalam dari rumah sederhana itu. Sampai-sampai saat itu aku terobsesi memiliki rumah seperti itu, suatu saat jika sudah berumah tangga. Rumah yang dekat dengan masjid sebagai pusat ibadah. Ada taman dan area bermain anak-anak yang cukup. Disekitar perumahan pun masih banyak suasana alami, dimana anak dapat bereksplorasi.

Aku, masih tak bisa tidur saat semua hal menari-nari di kepalaku... aku, ingin mengeluarkannya satu persatu... semuanya! Tersadar, ternyata aku masih melankolis!buruknya sang melankolis.

Aku, hanya ingin menulis. Apa saja... tak peduli, apa saja. Memang, rasanya lama sekali aku tak menulis. Lama... lama sekali. Bukankah ini, dulu impianku?

Sudah sejauh ini, aku hanya mampu menulis hingga 2 halaman. Tepat pukul 00.00. pusing sekali. Bukan kepalaku yang pusing... saat di kosan, jika sedang merasa seperti ini, mungkin pulang ke rumah bisa merefresh pikiranku. Aku tahu, tak bisa disamakan... berbeda. Ada banyak kondisi dimana aku tidak bisa membuat penawar yang sama.

Entah, mungkin kondisi sakit ini membuatku lebih melankolis dari biasanya...

Tak mengerti,

Kurasa, hal2 di masa lalu yang memaksaku untuk survive dalam hidup, sudah cukup membuatku tangguh. Ternyata belum, mungkin masih jauh. Mungkin juga terlalu banyak stok air mata.

Lagu Ibu dari Haddad Alwi feat Farhan terus saja mengalun, berkali kali ...

Perutku masih anyep. Berasa penuh obat. Sudah mulai agak lapar. Akhirnya rasa itu ada. Tapi belum untuk rasa ingin makan.

Kepalaku mulai berat, mungkin ini rasa kantuk itu. Tapi, aku masih tak ingin tertidur...  tak ingin semuanya bergelayut dalam tidurku...

Tak ada pilihan, selain mencoba tidur.

Tentu uharap,menulis ini akan kulakukan lagi. Tapi bukan seperti kondisi malam ini... menulis yang bisa lebih menginspirasi... one day. Berharap memiliki temu dari semua persimpangan ini...

 

 

Loading...

Follow us