Kisah Wanita Spanyol yang Hamil Di Usia 62 Tahun

Spanyol, seorang wanita usia 62 tahun tengah hamil delapan bulan. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, bagaimana kisah kehamilannya yang menjadi sorotan publik?

Seorang wanita asal Spanyol, berusia 62 tahun tengah hamil delapan bulan, bahkan diprediksi hari persalinan akan jatuh pada bulan Oktober tahun ini. Bahkan dr Lina Alvarez yang mengatakan bahwa ia sudah mengalami menopause 20 tahun yang lalu. Sedangkan kehamilannya sekarang berkat terapi kesubura yang dilakukannya.

Sebelumnya ia sudah memiliki dua anak lelaki, kini anak pertamanya sudah berusia 27 tahun. Sayangnya anaknya mengalami cedera kepala sebelum dilahirkan, gangguan pemeriksaan yang didapatkannya sehingga membutuhkan perawatan rutin setelah dilahirkan. Sedangkan anak keduanya baru berusia 10 tahun, ia lahir ketika usia ibunya memasuki 52 tahun.

tt

Seperti yang dikutip dari kompas.com, Alvarez menurut kantor berita Spanyo EFE menyatakan ia merasa seperti wanita usia 30 tahun. Ia sangat bangga bisa memiliki keturunan lagi di saat semua orang meragukannya. Bahkan dokter sekalipun tidak menganjurkan ia untuk hamil lagi karena usia yang rentan.

Hasil perjuangannya, akhirnya ia menemukan ahli kebidanan yang bisa membantunya melakukan serangkaian tes. Setelah melakukan serangkaian test dihasilkan kemungkinan dimana hanya enam persen untuk bisa sukses memiliki lagi anak di usianya yang sudah tergolong rentan untuk hamil karena kesehatan ibu dan janin menjadi risiko terbesar dalam menjalankan perawatannya.

Bahkan dalam ungkapannya, ia sangat senang bisa mendapatkan keajaiban di usianya. Ia bisa kembali lagi menjadi seorang ibu walaupun di negaranya Spanyol diperdebatkan. Ia menggunakan cara dengan menanam embrio di tubuhnya pada usia yang sangat rentan, usia 60 tahun. Walaupun banyak orang yang membicarakannya namun ia tidak sama sekali terganggu.

Penanaman embrio penah dilakukan oleh seorang ibu yang melahirkan delapan anak kembar. Dalam sebuah pengakuannya kepada Los Angeles Times, ia menjalankan perawatan kesuburan. Ia sudah ditanam embrio.

Setiap kali melakukan pemeriksaan ia sudah diingatkan bahwa klinik fertilitas ada konsekuensinya. Bahkan setiap ahli etika dan spesial fertilitas menganggap bahwa menanam embiro tidak bertanggung jawab dan juga tidak etis.

Bahkan di beberapa negara di Eropa, khususnya Jerman dan Italia. Batas untuk jumlah embrio yang diperbolehkan untuk ditanam hanya tiga kali. Sehingga tidak akan membahayakan ibu dan janin yang melakukan metode ini. Tentu saja embrio yang ditanam akan membelah dan kemungkinan bayi kembar delapan seperti kisah di atas mungkin terjadi.

Pasalnya delapan bayi yang lahir tidak berarti dari delapan embrio melainkan empat sampai lima perisen bisa membelah sehingga sangat mungkin apabila lima embrio yang ditanam akan menghasilkan delapan embrio. Kondisi yang sulit dipercaya oleh masyarakat, kembar delapan yang dialami oleh wanita muda berusia 33 tahun ini.

Dikabarkan, wanita muda ini diberi pilihan oleh dokter untuk mengurangi jumlah embrio. Hanya saja ia menolaknya. Atas keputusan pribadi inilah yang akhirnya mendukung si wanita untuk bisa menerima banyak embrio. Hanya saja dalam menanamnya dibutuhkan keterampilan untuk menyeleksi embrio.

Perlu diketahui bahwa penyeleksian embrio tidak sama dengan aborsi tradisional. Ada hal yang berbeda, tujuannya juga demi kebaikan dan kesehatan bayi, mungkin mengakhiri/menggugurkan kehamilan itu snediri. Sehingga pro kontra antar negara mengenai tanam embrio sangat ramai diperbincangkan.Misalnya Amerika yang menyebutkan pasien dibawah usia 35 tahun tidak boleh menanam embrio lebih dari dua, kondisi luar biasa.