Chorioamnionitis dan Kehamilan

Terpenting selama kehamilan adalah kesehatan ibu dan janin. Banyak artikel yang menyarankan untuk ibu sehat selama menjalani kehamilan, sehat fisik maupun psikis. Kondisi kesehatan ibu yang akan menentukan tumbuh kembang janin.

 

Pencegahan kesehatan dapat dilakukan sebelum ibu merencanakan kehamilan. Pola hidup yang sehat akan menjadi modal utama pada ibu hamil. Lantas bagaimana ibu yang memiliki masalah kesehatan? Apakah ibu hamil degan riwayat kesehatan tertentu dapat mempengaruhi janin?

Siapa yang mau sakit, semua orang ingin sehat. Meskipun demikian sebagian ibu hamil yang sedang cemas karena dokter menemukan adanya infeksi di dalam tubuh yang akan mempengaruhi kesehatan.Setidaknya dari berbagai infeksi,kali ini tim bidanku akan membahas infeksi mengenai chorioamnionitis pada ibu hamil. Bagaimana chorioamnionitis menyerang tubuh ibu hamil dan bagaimana pengaruhnya untuk janin ?


Video Minggu Ini
Tips untuk mengetahui sisi positif, keunggulan dan bakat anak.

Video courtesy of Bebeclub.


Pengertian Chorioamnionitis

Korioamnionitis atau chorioamnionitis merupakan infeksi pada korion dan amnion. Infeksi ini berhubungan langsung dengan plasenta yang menjadi pelindung penting selama di dalam kandungan. Meskipun hanya terjadi pada 1-2 kehamilan akan tetapi harus tetap waspada karena akan berakibat fatal pada janin.Chorioamnionitis merupakan infeksi yang dapat menyusup melalui pembuluh plasenta yang akan mengganggu janin. Penyebabnya adalah bakteri seperti E.Coli dan grup B streptococi.

Ibu hamil yang memiliki riwayat kantung ketuban pecah sebelum waktunya atau dikenal dengan istilahh premature repture of the membrane yang akan meningkatkan risiko chorioamnionitis dan berisiko pada kantung plasenta sebelumnya. Hal ini tentu saja sangat membahayakan kesehatan janin karena plasenta merupakan sumber kehidupan pada janin di dalam kandungan.

Gejala Chorioamnionitis

Pada ibu hamil yang mengalami infeksi chorioamnionitis maka seringkali ibu mengalami demam dan detak jantung yang memburuk.Perubahan detak jantung tidak hanya pada ibu melainkan berpengaruh pada detak jantung janin. Ibu sering mengeluh rasa sakit pada bagian rahim dan merembes pada cairan plasenta yang akan menjadikannya bau busuk. Apabila plasenta tidak pecah akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya kelainan pada janin.

Dengan demikian gejala yang seringkali berhubungan dengan chorioamnionitis yaitu leukositosis kurang dari 15.000 sel/mm3. Kemudian denyut janting yang kurang dari 160 kali/menit bahkan frekuensi nadi ibu kurang dari 100 kali/menit. Ibu hamil sering mengeluhkan sakit saat tidak berkontraksi dan juga cairan amnion yang berbau.

Penyebab Chorioamnionitis

Penyebab dari terjadinya chorioamnionitis pada ibu hamil memang beragam, pola hidup yang tidak sehat dapat memicu risiko chorioamnionitis yang lebih tinggi pada ibu hamil. Ibu hamil yang pernah mengalami persalinan prematur akan mungkin memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu persalinan yang lama dan ketuban pecah lama dapat meningkatkan risiko chorioamnionitis. Adapula yang disebabkan karena bakteri patogen dan juga pola hidup yang tidak sehat seperti rokok dan alkohol.

Komplikasi Chorioamnionitis

Plasenta memiliki peranan penting untuk kehidupan bayi di dalam kandungan. Selama kehamilan plasenta yang akan membantu memasok kebutuhan bayi. Plasenta menjadi tempat pertukaran ekskresi dimana sisa metabolisme dan nutrisi yang didapatkan oleh ibu hamil. Dengan plasenta maka dapat mengeluarkan zat sisa metabolisme janin menuju aliran darah ibu yang dikeluarkan melalui ginjal.

Selain itu plasenta merupakan jalur nutrisi yang dapat memasok kebutuhan janin untuk tumbuh kembang. Plasenta terhubung dengan aliran darah ibu hamil yang sangat dipengaruhi dengan makanan yang ibu konsumsi. Perbaiki dengan kecukupan gizi dan nutrisi agar tidak memperburuk kondisi janin. 

Plasenta dapat memperkuat sistem imun sehingga memabntu janin terhindar dari infeksi bakteri dan virus. Sistem imun pada janin berasal dari ibu , apabila sistem imun ibu berkurang maka bayi juga akan mengalami gangguan. Terakhir plasenta memiliki fungsi untuk menjadi penyalur oksigen pada janin. Oksigen diperlukan oleh janin untuk perkembangan metabolisme yang berlangsung tiap sel ataupun jaringan. Kekurangan oksigen yang akan menyebabkan gangguan pada perkembangan janin.

Dengan mengetahui berbagai macam fungsi dari plasenta pada tumbuh kembang janin selama di dalam kandungan, sudah pasti sangat berhubungan dengan gangguan kesehatan apabila plasenta mengalami gangguan. Hal inilah yang memperburuk kondisi ibu yang mengalami chorioamnionitis.

Pada ibu yang terinfeksi chorioamnionitis sekitar 95-97% dapat terobati dengan pemberian antibiotik. Pada bayi yang lahir prematur lebih rentan terkena komplikasi yang lebih serius bahkan dapat menyebabkan bayi meninggal karena terjadi infeksi yang lebih serius. 

Sedangkan apabila chorioamnionitis terjadi pada awal kehamilan dan ibu tidak mengalami gejala apapun maka besar kemungkinan ibu mengalami bayi lahir prematur atau meninggal di dalam kandungan.

Pengobatan dan Pencegahan chorioamnionitis

Menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat memang saran yang terbaik. Meskipun seringkali klise, hanya saja ini benar adanya.Bagi ibu hamil kesehatan sangat penting. Terlebih menjaga janin di dalam kandungan. Infeksi yang terjadi pada plasenta akan berkaitan dengan kelahiran yang prematur. Bahkan bayi akan rentan terkena infeksi yang membahayakan keselamatan.

Penanganan dapat dilakukan dengan merujuk pasien ke rumah sakit. Kemudian dokter akan memberikan obat antibiotik dan terminasi kehamilan. Baik pada serviks yang matang dilakukan induksi persalinan dengan oksitosin atau apabila serviks sebelum matang dengan prostaglandin dan infus oksitosin. Apabila dilakukan persalinan pervaginam maka antibiotik setelah persalinan akan diberhentikan. Bahkan apabila persalianan dilakukan dengan seksio sesarea maka antibiotik dan tambahan metronodazol diberikan.

Kondisi ibu dan janin sangat menentukan untuk tindakan yang akan diambil oleh medis. Lebih baik anda memang berkonsultasi ketika mengalami gejala gejala yang berhubungan dengan Chorioamnionitis sehingga dapat menghindari terjadinya gangguan yang tidak diinginkan pada tumbuh kembang janin. Chorioamnionitis berisiko lebih tinggi pada ibu hamil yang pernah mengalami ketuban pecah di kehamilan sebelumnya, apabila anda salah satunya konsultasikan untuk melakukan pencegahan.

Dengan demikian Chorioamnionitis merupakan masalah obstetrik yang dipertimbangkan sebagai penyebab utaman terjadinya kelahiran prematur. Sehingga akan memberikan dampak kesehatan pada janin. Bahkan penyebab kematian prenatal 70% disebabkan karena Chorioamnionitis.

Kejadian Chorioamnionitis berhubungan dengan usia kehamilan hingga kondisi ekonomi yang mengakibatkan nutrisi kurang diperhatikan oleh ibu hamil. Ibu hamil yang kurang mendapatkan nutrisi selama kehamilan maka akan menyebabkan insiden infeksi lebih tinggi. Chorioamnionitis akan menyebabkan kelahiran prematur dan ketuban pecah dini sehingga menimbulkan dampak sakit dan kematian perinatal. Meskipun sampai saat ini ketuban pecah dini belum ditemukan penyebab utamanya. Salah satunya erat kaitannya dengan infeksi bakteri.

Chorioamnionitis seringkali ditemukan pada kehamilan atau intra persalinan. Kondisi ibu hamil yang berhubungan dengan kurangnya nutrisi dan anemia dapat meningkatkan risiko terjadinya Chorioamnionitis. Perilaku yang sehat , kehidupan seksual yang baik dan sehat dan juga konsumsi makanan yang mengandung nutrisi sangat dibutuhkan untuk ibu hamil terhindar dari Chorioamnionitis. Pemeriksaan cultur bakteri dapat dilakukan untuk membantu proses pengobatan yang dilakukan pada ibu hamil yang terserang Chorioamnionitis. Pemberian obat anti infeksi yang akan membantu ibu dari rasa sakit dan neonatal.