3 Hal Penting dalam Melakukan Induksi Persalinan

Pada dasarnya calon ibu mengidamkan persalinan secara alami. Persalinan yang normal akan memperkecil resiko pada awal dan saat proses persalinan berlangsung. Persalinan secara normal yaitu bagi ibu hamil yang melahirkan di usia kehamilan cukup bulan, yaitu 37-40 minggu. Meskipun demikian tidak selamanya persalinan normal pada calon ibu akan sama dalam penanganannya, diantaranya mungkin saja membutuhkan tindakan induksi.

Induksi persalinan merupakan salah satu cara untuk memberikan stimulasi dalam proses persalinan dikarenakan tidak adanya tanda-tanda melahirkan sehingga dibutuhkan rangsangan untuk menimbulkan his (mulas), sehingga dapat mempermudah bayi keluar secara normal. Meskipun demikian pemberian induksi saat proses persalinan harus memperhatikan beberapa kondisi ibu dan janin. Salah satunya adalah usia kehamilan, usia kehamilan yang melebihi 42 minggu dan belum terjadi tanda-tanda akan memasuki persalinan maka kemungkinan besar akan dibantu dengan induksi persalinan. Adapun dasar pertimbangan memberikan induksi pada saat proses persalinan lewat waktu diantaranya adalah plasenta pada usia kehamilan lewat waktu tidak akan mampu memberikan kebutuhan nutrisi dan pernafasan yang baik untuk janin. Sehingga untuk memperkecil resiko kematian di dalam rahim dilakukan induksi persalinan.

Selain dikarenakan usia kehamilan yang tengah memasuki lewat bulan (melebihi 42 minggu) maka pertimbangan lain yang dapat mengakibatkan pemberian induksi persalinan diantaranya adalah riwayat kesehatan ibu hamil. Bagi ibu hamil yang menderita penyakit ginjal, penyakit jantung, penyakit hipertensi, diabetes melitus, masalah payudara, preeklamsi, eklamsi (komplikasi yang terjadi pada saat kehamilan menimbulkan kejang dan koma). Begitu juga dengan  bagi calon ibu yang memiliki kondisi fisik seperti kesempitan panggul, kelainan dalam bentuk panggul dan kelainan pada bentuk tulang belakang maka akan diberikan induksi berdasarkan indikasi ibu.

Selanjutnya adalah indikasi induksi persalinan berdasarkan kesehatan janin, diantaranya adalah plasenta previa (plasenta yang letaknya abnormalsehingga menutupi jalan lahir), kematian di dalam rahim yang berulang, ketuban pecah dini, kelainan kongenital (kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi) atau terjadinya kematian intrauterin (ditimbulkan karena pertumbuhan janin yang terhambat). Pemberian induksi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara kimia dan mekanik. Pertama secara kimia yaitu diberikannya obat-obatan khusus sedangkan secara mekanik dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya untuk memecahka ketuban saat persalinan. Meskipun pemberian induksi sangat berperan dalam proses melahirkan normal dengan berbagai kondisi yang terganggu, akan tetapi beberapa hal-hal penting dalam melakukan induksi persalinan harus diperhatikan, salah-satunya untuk mengurangi resiko persalinan semakin rendah.

Berikut adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian induksi persalinan :

1.  Serviks uteri sudah matang, ditandai dengan serviks sudah mendatar dan menipis sehingga dapat dilalui oleh jari (sedikitnya satu jari), kemudian sumbu serviks sudah menghadap ke depan.

2.  Tidak adanya disproporsi sefalovelfik (CPD) yaitu keadaan yang mengambarkan ketidaksesuaian kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan panggul ibu hamil yang sempit, kondisi janin yang terlalu besar atau juga kombinasi kesehatan ibu hamil dan kondisi janin yang terlalu besar.

3.  Sebaiknya induksi persalinan dilakukan ketika kondisi kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul kemudian tidak ditemukannya posisi janin yang tidak dapat dibetulkan.

Dengan memenuhi kondisi-kondisi diatas saat akan melakukan induksi persalinan diharapkan akan memberikan hasil yang sesuai dengan harapan dan memperkecil resiko persalinan.

loading...